NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
50. 1000 Burung Bangau Kertas


__ADS_3

Langkahnya lemas memasuki gedung yang menjulang tinggi di hadapannya, tatapannya kosong mengarah ke depan, tak jarang tubuhnya akan sedikit terhuyung ke samping saat ada yang tak sengaja menabrak bahunya.


Murid lain ada yang menatapnya aneh, ada juga yang menatapnya sedih. Jerga tidak memperdulikan itu, dia terus berjalan menyusuri koridor dan menaiki beberapa tangga. Tubuhnya lemas sekali.


"Jer?"


Kepalanya menoleh ke belakang saat suara itu memanggilnya, dia tersenyum tipis menatap lelaki yang mulai mendekat ke arahnya.


Rasen menepuk bahu itu pelan beberapa kali, seperti menyuruhnya untuk kuat dan ikhlas, hal itu membuat si empu lagi-lagi hanya bisa tersenyum tipis. Keduanya lalu sama-sama melangkahkan kaki untuk ke kelas mereka yang bersebelahan.


Lelaki bermarga Zhou itu tentu saja sudah berangkat sejak beberapa menit yang lalu, dia baru saja kembali dari kantor guru. Berbincang dengan Shandy tadi.


"Lo yang sabar, Jer. Kuat, Nanggala udah tenang." Ujar Rasen.


Jerga tersenyum mendengarnya, "gue bisa nahan, Sen. Tapi kak Jia ..." jawabnya lirih.


Rasen menatapnya sendu dari samping. Benar, Jerga sampai saat ini masih terlihat kuat, meskipun saat di Bandung lelaki itu sempat menangis. Jerga hanya menangis dalam diam, dan dia tahu itu pasti sakit sekali.


Sesampainya di depan kelas 13-B, keduanya menghentikan langkah mereka. Bisa Rasen lihat, Jerga kini tengah menatap kedua bangku kosong di dalam sana. Satu bangku milik Jia, dan satu lagi bangku milik Nanggala yang sejak seminggu ini masih ramai oleh bunga-bunga di atas meja lelaki itu.


Menghela napasnya panjang, Rasen tersenyum saat Jerga berpamitan kepadanya untuk pergi ke kelasnya, pun dengan dia yang mulai melangkah memasuki kelas.


Rasen yang berniat langsung duduk di bangkunya seketika menghentikan langkahnya, saat melihat sosok kembarannya di sana tengah duduk di bangku samping Yora, dan berposisi menghadap ke belakang. Tepatnya tengah menidurkan kepalanya di atas meja milik Jia serta menghadap bangku ke Nanggala.


"Sa." Panggilnya lirih ketika tubuhnya sudah berada di samping lelaki itu.


Tidak. Rasen berdiri di samping Yora yang tengah duduk di bangkunya sendiri, dia menatap Haksa dengan sendu.


Meskipun kembarannya itu anak yang tidak bisa diam dan menjadi happy virus, namun anak itu tetaplah seseorang yang memiliki hati rapuh ketika kehilangan orang yang di sayang.


Seperti ini contohnya. Dia kehilangan Nanggala, sahabatnya.


"Sa." Panggilnya untuk yang kedua kalinya, hal itu membuat Yora ikut menatap si empu dengan sedih.


"Gue kangen Lala, Ras ..." lirihnya masih menatap kosong bunga-bunga di sampingnya.


Ada air mata yang mengalir di tulang hidung itu. Haksa sangat kehilangan Nanggala, meskipun mereka jarang terlihat bersama.


Namun menurut Haksa, Nanggala adalah teman yang asik, sahabat yang baik di saat semua orang tidak ada yang membelanya ketika dia bertengkar seperti anak kecil dengan Rasen maupun Gasta.


Selalu Nanggala yang tersenyum kepadanya, dan memaklumi semua sifatnya.


Rasen mengangkat kepalanya saat murid dari kelas lain tiba-tiba memasuki kelasnya dan berhenti di samping bangku Nanggala. Tidak satu dua, ada beberapa.


"Buat lo, Na."


Rasen tidak bisa berkata apa-apa, dia merasakan tenggorokannya sangat tercekat sekarang ini. Banyak dari murid kelas satu sampai tiga yang berdatangan ke kelasnya untuk ikut menyumbangkan burung bangau kertas.


Ya, karena yang dia dan teman-temannya buat kala itu memang belum sampai seribu, namun sudah terlebih dulu Nanggala pergi meninggalkan mereka.


Sementara lelaki yang beberapa menit lalu berdiri di ambang pintu sana menundukkan kepalanya sejenak, dia menghembuskan napasnya berat lalu mulai melangkah pergi lagi. Entahlah kakinya akan membawanya kemana kali ini.


Bell pelajaran pertama mungkin masih lumayan lama, lelaki itu menatap tempat di depannya, seketika bibirnya tersenyum tipis. Kakinya melangkah menuju ke arah sana dan mendudukkan dirinya.


"Lo nggak bisa duduk disini bareng gue lagi gitu, Na?"


Gasta terkekeh kecil di akhir kalimatnya, matanya memandangi lapangan luas yang berada di hadapannya.


Kini dia duduk sendiri disini, yang biasanya Nanggala akan menemaninya, kini sudah tidak lagi. Ah, kenapa mereka menghabiskan waktu bersama hanya sebentar? Karena jujur, Nanggala memang sosok teman dan sahabat yang sangat baik.


Entah kenapa dia sampai begini kepada lelaki itu. Mungkin karena mereka sama? Mereka sama-sama pernah di bully karena miskin. Dan kehidupan mereka sama pahitnya, meskipun menurut Gasta, hidup Nanggala tetap lebih berat dari hidupnya.


"Makasih udah bantuin gue waktu itu. Mungkin kalo nggak ada lo, gue udah mati di tangan mereka."


"Makasih udah mau maafin gue secepat itu."


"Gue nggak akan pernah lupain kebaikan lo disini, Na."


Gasta menolehkan kepalanya ketika ada yang menepuk pundaknya dari samping, dia terus menatap pergerakan lelaki itu yang kini mulai mendudukkan diri di sampingnya.


Bibirnya tersenyum tipis lalu memandangi ke arah lapangan lagi.


"Masih ada gue."

__ADS_1


Gasta terkekeh mendengar ucapan itu. Yunan kah yang sedang berbicara kepadanya?


Dia sempat tidak menyangka lelaki itu benar-benar berubah. Tidak lagi mem-bully anak lain, tidak pergi ke Cafe lagi, tidak mabuk-mabukan lagi meskipun hanya sekadar bir.


Ya, Yunan sudah tidak akan melakukan itu semua. Cukup sampai Nanggala. Cukup sampai lelaki itu yang sudah menerima banyak kesakitan darinya saat bersekolah disini. Cukup lelaki itu yang di jebak olehnya hanya karena egonya.


Dia tidak ingin ada Nanggala yang lainnya.


Dia sungguh menyesal dan sangat merasa bersalah menyakiti hati sebaik itu.


.......


.......


.......


Jia berjalan menyusuri trotoar seorang diri, gadis itu baru saja keluar dari minimarket. Sebenarnya dia dari rumah Thalia, rindu saja dengan kue strawberry yang biasa Nanggala bawakan.


Ah, lelaki itu ....


Sesaat kepalanya menunduk mengingatnya, namun hanya sebentar, sebelum dia mengangkatnya lagi dan mencoba untuk tersenyum. Matanya lalu memandang sekelilingnya, hari ini panas tidak terlalu terik, sehingga sangat pas untuknya berjalan kaki menikmati angin sore ini.


Hingga langkahnya terhenti saat dirasa tubuhnya berdiri di depan sebuah taman. Kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis. Taman ini yang pernah dia kunjungi bersama Nanggala dulu, hingga keduanya terjebak hujan dan meneduh bersama di bawah pohon.


Taman yang juga menjadi tempat awal pertemuannya dengan lelaki itu.


Kakinya mulai memasuki area taman ini, memandang sekeliling lagi, lalu terhenti di sebuah ayunan berwarna biru dan kuning. Dia lalu mendudukkan tubuhnya di ayunan berwarna biru itu.


"Hey?"


Jia sedikit menolehkan kepalanya ke samping.


"Jia naik, Nala yang dorong dari belakang, oke?"


Matanya memanas mengingat itu, tangannya meremas kuat tali ayunan yang di lapisi seperti bahan karet. Jia dulu tidak merasa takut dengan tali ini, karena memang tidak mengikat, dia hanya takut dengan segala sesuatu yang mengikat.


Kepalanya menunduk ke bawah dan saat itu juga air matanya jatuh membasahi dress di bawah lututnya.


"Nanti kalo hujan, kita pulang ya?"


"Nala juga minta, tetep bersama Nala ... Jangan benci Nala atau tinggalin Nala juga, apapun yang terjadi."


Tangan Jia terangkat untuk mengusap kasar matanya yang baru saja mengeluarkan air itu. Meskipun dia selalu berkata kepada dirinya sendiri jika dia tidak boleh seperti ini, namun masih sulit, air matanya masih sulit dia bendung ketika memikirkan lelaki itu.


Kepalanya perlahan terangkat ketika mendapati dua pasang sepatu yang baru saja tiba di hadapannya, matanya lalu menatap sebuah burung bangau kertas yang di sodorkan kepadanya.


Hingga mata mereka bertemu, dan bisa Jia lihat, kedua anak itu tengah tersenyum manis kepadanya.


"Cleo juga mau kasih burung bangau ini buat kak Nanggala."


"Alji juga!"


Jia sesaat terkekeh kecil, namun juga merasa sedih dan terharu. Kedua anak SMP itu menyodorkan lipatan kertas origami berbentuk burung bangau tadi kepadanya. Dan tidak hanya itu, Alji bahkan membantu Cleo merogoh tas milik anak itu dan mengambil sebuah paper bag.


"Kita buat banyak loh, Kak? Tapi lebih banyak Cleo sih dari pada Alji." Dengusnya sebal di akhir kalimat.


"Alji juga banyak ya!" balasnya tak terima.


"Nggak! Cleo yang banyak, Alji cuma nonton Pororo doang!" sahut anak itu lagi tak kalah seru.


"Sama nonton Anna."  tambah si empu.


"Iya sama nonton Anna!" Cleo mulai kesal mengingatnya.


Jia benar-benar melupakan kesedihannya dan terus tertawa kecil mendengar perdebatan mereka. Cleo dan Alji itu seperti anak kembar yang selalu bertengkar, sama halnya dengan Rasen dan Haksa. Namun mereka ya hanya sepupu.


"Udah udah, ya ampun ... Makasih banyak ya?" lerai Jia menerima paper bag berisi full origami itu dan menatap mereka bergantian.


"Sama-sama, Kak." Jawab Cleo tersenyum sangat manis.


Tangan Jia terangkat untuk mengelus lembut rambut kedua anak itu, sebelum bingung juga kenapa mereka bisa disini.


"Oh iya, kalian kok bisa ada disini?"

__ADS_1


"Kita baru pulang dari rumah temen, Kak. Rumahnya di situ," tunjuk Cleo ke sebuah rumah yang bisa di lihat dari sini, "eh terus pas keluar, liat Kak Jia disini. Yaudah kita sekalian kasih ini." Lanjutnya.


Mereka hari ini memang berniat memberikan hasil lipatan origami mereka kepada Jia setelah pulang dari rumah temannya. Keduanya berniat mengantarkan ke rumah gadis itu, tetapi sudah bertemu disini yasudah. Mereka sendiri pun tidak menyangka.


Jia yang mendengarnya lalu mengangguk mengerti dan tersenyum. Pasti mereka tahu dari Shandy tentang burung bangau kertas itu. Dia pun di beri tahu Jerga, jika teman-teman di sekolah banyak yang menyumbang burung bangau itu di meja milik Nanggala.


Hatinya kembali sakit mengetahuinya.


"Kak?"


Jia menatap ke arah Cleo yang memanggilnya tadi.


"Meskipun burung bangau kertas ini nggak bisa ngabulin permintaan kak Nanggala buat bisa di samping kak Jia lagi, mungkin bisa buat ngabulin permintaan yang lain? Kak Nanggala pasti minta, kak Jia selalu bahagia disini, dan terus di jaga sama orang-orang yang baik."


Matanya mulai memanas lagi mendengarnya. Ah ... Cleo belajar dari mana kata-kata itu? Lagi-lagi Jia merasa terharu dan sedih secara bersamaan. Apalagi melihat senyum manis anak itu yang di tunjukan kepadanya, seperti memerintahkan dirinya untuk selalu kuat.


"Ji, kamu nangis?!" seru Cleo menyenggol lengan sepupunya yang berdiri di sampingnya.


Yang memang terlihat tengah mengusap matanya dengan salah satu lengannya.


Jia yang mendengar itu lantas ikut menatap anak yang di maksud, dia lalu terkekeh kecil dan mengacak pucuk kepala Alji dengan gemas.


"Enggak!" bela Alji.


"Terus itu apa? Mata kamu memproduksi air hujan? Kan enggak!" balas Cleo mulai kesal lagi.


Jia terkekeh saja melihat kelakuan mereka. Kehadiran mereka yang kebetulan benar-benar menghapus sedihnya yang sejak tadi mengenang kebersamaannya dengan Nanggala di tempat ini.


Pandangan gadis itu lalu menatap ke belakang Cleo dan Alji sambil mulai melunturkan senyumnya ketika sosok itu datang. Tentu saja membuat kedua anak itu ikut memutar kepalanya dan menatap perempuan yang tengah berdiri di sana dengan canggung.


"Yaudah, kita pulang dulu ya, Kak? Paman sopir udah jemput." Ujar Cleo dan menggenggam tangan Alji.


Jia mengangguk lembut, "kalian hati-hati, ya?"


Kedua anak itu mengangguk dan melambaikan tangan mereka sambil mulai berjalan menjauh. Jia terkekeh lagi ketika melihat Cleo yang menarik Alji dengan cepat, sehingga membuat sang empu merengek di sepanjang jalan mereka.


Tatapannya beralih pada gadis yang masih berdiri lima langkah darinya itu, senyumnya kembali luntur dengan kepalanya yang mulai menunduk. Sementara gadis itu mulai berjalan ke arahnya dan duduk di ayunan tepat di sampingnya.


Jia masih terdiam dengan wajah yang terkesan tidak ada ekspresi. Jujur memang hari ini dia sedikit lelah. Sedangkan gadis yang duduk di sampingnya itu juga mulai menunduk dan terlihat meremas kuat sling bag-nya.


"Apa yang mau lo bicarain?" tanyanya memecah keheningan di taman ini, karena di rasakannya gadis itu tak kunjung membuka suaranya.


Kheylin masih diam tidak bersuara, gadis itu memainkan jari-jarinya yang dia letakkan di atas pahanya. Matanya kosong menatap ke depan dengan ekspresi wajah yang datar.


Jia menghembuskan napasnya lirih. Tidak ada jawaban atau suara Kheylin yang dia dengar dari beberapa menit yang lalu, gadis itu terus diam tanpa mengatakan apapun.


Dia sudah sangat lelah, tetapi gadis di sampingnya ... Ah, dia lagi-lagi menghembuskan napasnya.


"Kalo nggak ada yang mau lo bicarain, gue mau pulang." Lanjutnya.


Meskipun berkata seperti itu tadi, Jia masih belum beranjak dari duduknya. Masih ingin memberi gadis itu kesempatan berbicara.


"Kalo lo udah ngerasa nyesel, gue maafin lo. Ah, gue nggak pernah marah sama lo, Lin. Gue nggak pernah benci lo ...."


Jia tersenyum menatap gadis di sampingnya. Kheylin yang mendengar semua itu hanya semakin meremas jari-jarinya, napasnya tertahan dan juga mata yang mulai mengabur.


"Nanggala pasti juga udah maafin lo, dia anak yang baik. Dia pasti maafin kalian semua dengan tulus, Lin."


Tersenyum tipis, Jia lantas mulai beranjak dari duduknya. Dia tanpa sepatah kata lagi berjalan pergi meninggalkan Kheylin yang masih diam tak bersuara, hanya suara deru napas gadis itu yang terdengar memburu di telinganya. Dan di lanjutkan dengan suara isakan.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...

__ADS_1


...Lin ... Lin, mau minta maaf kan tinggal ngomong aja ya...


...Jangan lupa tinggalkan komen dan like yaa^^...


__ADS_2