
Pagi-pagi sekali, Nanggala sudah pergi ke rumah Jia. Lelaki itu sudah lima belas menit yang lalu berdiri terdiam di samping pintu putih besar ini. Tidak berani masuk atau bahkan mengetuk pintunya. Hanya terdiam, hanya terdiam sambil menunggu seseorang yang di tunggunya keluar dari dalam sana.
Menghembuskan napasnya kecil, Nanggala langsung terkesiap ketika mendengar suara pintu terbuka. Kepalanya menoleh dan langsung bertemu pandang dengan seseorang yang baru saja keluar itu.
Jerga yang sadar dengan keberadaan Nanggala pun menatapnya sinis, lalu wajahnya dia buang ke sembarang arah agar tidak bertatapan dengan lelaki itu.
Selanjutnya, Nanggala menatap gadis yang berdiri di belakang yang juga tengah menatapnya, namun hanya sebentar sebelum gadis itu menundukan wajahnya ke bawah.
"Lo nggak usah jemput Kak Jia lagi." Dingin Jerga dengan tatapannya masih ke depan.
Nanggala yang mendengarnya langsung menatap Jerga lagi, ia menatap lelaki itu sendu.
"Om Dharma masih mempekerjakan gue disini."
Jerga terkekeh kecil di sana, genggaman tangannya pada tangan kakaknya dia eratkan, membuat gadis di belakangnya itu semakin menunduk.
Dia melirik sinis Nanggala, "tapi gue nggak ngizinin itu."
Jerga menarik lagi tangan Jia dan melanjutkan langkahnya untuk menuju motornya yang masih berada di garasi.
Nanggala sempat menatap sendu Jia ketika gadis itu berjalan melewatinya. Entahlah, dia bisa melihat tidak ada kemarahan di mata gadis itu, karena tatapannya lebih ke sayu saat menatapnya.
Nanggala merindukannya.
Kepalanya menoleh lagi ketika ada yang menyentuh pundaknya dari belakang, dia dengan cepat mengangkat kepalanya untuk menatap seseorang yang lebih tinggi beberapa senti darinya itu. Tatapannya sedikit tidak percaya.
Apalagi lelaki itu menatapnya sambil tersenyum tipis kepadanya.
Hanya sebentar, Nanggala masih menatap anak pertama keluarga Abhicandra yang kini sudah berjalan lagi menuruni teras rumah. Sepertinya lelaki itu akan berangkat kuliah. Dia benar-benar terkejut, ini pertama kalinya Janan tersenyum kepadanya, apalagi sambil menyentuh pundaknya. Meskipun itu hanya senyuman tipis.
Menghembuskan napasnya lagi, Nanggala juga mulai berjalan menuruni teras untuk menuju ke sepedanya berada. Ya, dia akhirnya akan berangkat sendiri ke sekolah.
Jerga benar-benar tidak mengizinkan Jia untuk berdekatan dengannya.
.......
.......
.......
Jam istirahat makan siang, seperti biasa sangat ramai murid-murid yang memenuhi kantin. Tetapi tidak dengan lelaki yang baru saja mendudukkan tubuhnya di tangga bebatuan yang mengarah langsung ke lapangan sepak bola di hadapannya, sebelum tadi meletakkan tempat sampah tak jauh darinya duduk. Dia memang hari ini kebagian piket untuk membuang sampah kelasnya.
Waktu istirahat memang masih panjang, Nanggala akhirnya istirahat sejenak untuk duduk menikmati angin dingin yang menerpa kulit tangan dan wajahnya yang telanjang. Langit benar-benar mendung siang ini. Dia yakin, pasti nantis sore atau malam akan turun hujan.
Dia menghembuskan napasnya panjang. Kepalanya seketika menoleh saat di rasa ada yang baru saja datang dan duduk di samping kirinya.
Nanggala menatap lelaki itu. Tumben juga.
Si empu yang risih dengan tatapan Nanggala pun ikut menolehkan kepalanya, dia membalas tatapan lelaki itu datar.
"Kenapa? Gue nggak boleh disini? Yaudah—"
"Eum, bukan gitu maksud gue." Jawab Nanggala dengan cepat membuat Gasta duduk lagi di tempatnya, yang tadi memang sempat akan beranjak.
Gasta membenarkan posisi duduknya, matanya mulai menatap ke depan, menatap luasnya lapangan di hadapannya itu. Napasnya terhembus pelan, dia sempat melirik Nanggala dengan ekor matanya.
"Angkat kepala lo, kalo lo emang yakin semua itu nggak bener." Kata Gasta memecahkan keheningan mereka.
Nanggala mendongak dan menatap lelaki di sampingnya sayu.
Benar. Dia yakin kalau itu semua tidak benar. Tentang pembunuhan itu Nanggala sangat yakin, jika sang ayah tidak seperti itu.
Nanggala mengulas senyuman tipis dan ikut memandang lapangan di depannya.
"Orang-orang itu sebenernya para rentenir yang terus ngejar-ngejar keluarga gue."
Suara Gasta memecah keheningan lagi. Lelaki itu masih asik menatap hamparan rumput hijau di depannya, sambil berucap seperti itu tadi.
"Lo pasti mikir keluarga gue sama kayak keluarga Yunan, Jerga, dan keluarga kaya lainnya?"
Lelaki itu terkekeh kecil mengakhiri pertanyaan tadi.
"Nggak, Na. Keluarga gue nggak se kaya mereka. Keluarga gue nggak tinggi jabatannya kayak mereka. Keluarga gue banyak hutang. Itu kenapa kita terus di hantui para rentenir yang sering dateng ke rumah, ataupun nemuin gue langsung setelah gue pulang sekolah. Kayak waktu itu."
Nanggala masih menyimak cerita lelaki itu dengan diam. Tetapi jujur dia terkejut. Dia kira, semua anak disini adalah orang kaya. Apalagi Gasta itu bersahabat dengan Yunan bukan?
Yang lebih membuatnya terkejut lagi ya ... Gasta mau duduk sambil bercerita kepadanya seperti ini?
"Gue deket sama Yunan karena dia dulu pernah bantu gue. Dia nggak semurah hati itu mau nerima gue jadi temennya. Gue juga pernah ngerasain apa yang lo rasain dari Yunan." Lanjutnya terkekeh lagi.
Nanggala kini menatap lelaki itu sayu. Dia tidak pernah menyangka hidup Gasta seperti ini di dalamnya, ataupun hampir sama dengannya. Meskipun sudah pasti dia masih berada di bawah lelaki itu.
Dia benar-benar masih tidak menyangka Gasta bercerita seperti ini kepadanya, padahal dia juga dulu sempat di bully oleh lelaki itu.
Gasta menoleh dan menatap Nanggala dengan senyum tipisnya.
"Sorry tangan dan kaki gue sempet ngelukain lo dulu," tatapnya tulus, "sorry juga kalo ucapan gue pernah nyakitin hati lo." Lanjutnya tersenyum manis.
Nanggala tidak bisa menyembunyikan senyumannya, dia tentu saja senang. Bukan senang karena Gasta sudah menyesali semuanya, tetapi karena lelaki itu mempercayainya dan mau bercerita kepadanya seperti ini.
Tidak mudah mengucapkan kata maaf kepada seseorang yang pernah kita sakiti sebelumnya.
"Gue nggak pernah marah sama kalian." Jawab Nanggala dengan senyuman manis.
Kini, Gasta yang merasa terharu dengan Nanggala. Lelaki itu menundukkan wajahnya guna menyembunyikan kedua matanya yang mulai memanas.
"Ah, udah sana lanjutin tugas lo, bentar lagi bell." Gasta mendongakkan wajahnya dan menghembuskan napasnya pendek guna mengurangi sesak di dadanya.
Nanggala terkekeh kecil, kepalanya mengangguk dan mulai berdiri. Dia meraih tempat sampah di sampingnya lalu mulai berjalan pergi, ketika Gasta sudah berjalan pergi mendahuluinya.
Dia masih tersenyum di perjalanannya menuju tempat pembuangan sampah besar di sekolah ini, tempat yang nantinya sampah-sampah itu akan di pisah sesuai jenisnya, baru di buang ke tempat pembuangan yang lebih besar.
"Nanggala!"
Suara keras yang memanggilnya membuat anak itu menghentikan langkahnya. Matanya mendengar mencari sumber suara itu dan berhenti pada seorang guru pria di sana. Terlihat tengah bersama seorang siswi.
"Iya, Pak?"
Tubuhnya kini sudah berada di hadapan kedua orang itu. Dapat Nanggala lihat, siswi yang kini berdiri di atas tangga itu tengah memasang sebuah banner di dinding bagian atas.
"Bisa tolong pegangi ini sebentar? Saya udah nggak tahan mau ke toilet." Pinta guru itu.
Nanggala yang mengerti apa yang di maksud Pak Sasto tadi pun segera meletakkan tempat sampahnya, kemudian berjalan mendekati tangga lalu menggantikan posisi pria itu yang sebelumnya memang tengah memegang kedua sisi kaki tangganya.
"Sebentar ya?" kata Sasto sebelum dia pergi dengan sedikit berlari ke arah toilet.
"Pegang yang bener." Ketus gadis yang berdiri di atas tangga itu sambil melanjutkan kegiatannya.
Ah, adik kelas yang sangat tidak sopan. Nanggala tahu gadis itu adalah ketua OSIS di sekolah ini.
__ADS_1
Ya, mungkin bisa seenaknya berkata seperti itu tadi. Lagi pula, di sekolah ini mana ada yang menyukainya kecuali sahabat-sahabatnya? Nanggala yakin dari kelas 1-3 semuanya memandanya dengan tidak suka.
"Ck, susah banget sih! Anak cowok nggak ada yang bisa di andelin satu pun!" gerutunya sendiri.
Nanggala yang mendengarnya lantas melirik ke kanan dan kirinya. Bukan untuk dia kan?
Sepertinya bukan, mungkin yang di maksud gadis itu adalah rekan-rekan OSIS-nya yang lain. Lagipula dia juga bingung, kenapa tidak Pak Sasto saja tadi yang naik ke tangga dan memasangnya? Atau mereka sudah bergantian karena Pak Sasto ingin ke toilet tadi?
Ah, entahlah. Kenapa Nanggala penasaran sampai sana? Tugasnya saat ini hanya di minta untuk memegangi tangga itu.
"Mau Kakak aja yang pasang?"
"Nggak usah."
Baiklah, Nanggala akan diam saja. Dia hanya berniat membantu gadis itu yang kesusahan namun di tolak. Tidak apa-apa, dia akan memegangi kedua sisi kaki tangga ini saja.
"Akhh!"
Suara dan gerakan cepat itu tentu saja membuat Nanggala terkejut. Gadis yang berada di atasnya itu dengan tiba-tiba terhuyung dan jatuh ke depan tubuhnya, sebelum dengan gerakan cepat dia langsung menangkap dengan kedua lengannya.
Karena teriakan itu tadi membuat murid-murid yang sedang melintas pun mendekat ke arah itu, sama halnya dengan Pak Sasto yang baru kembali dari toilet.
"Aish! Lo pegang apaan!!" seru gadis itu melepaskan kedua lengan Nanggala yang menyangga tubuhnya, lalu mendorong kencang lelaki itu ke belakang.
Nanggala di buat bingung dengan respon itu, apalagi melihat si ketua osis yang sekarang ini sudah menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Matanya lalu melirik orang-orang yang kini mulai menatapnya marah dan terkejut.
"Kakak cuma bantu tadi ... K-kakak bukan—"
"Sialan, hiks." Desis gadis itu yang mulai menatapnya antara menangis dan tajam.
Apa? Nanggala bahkan memegangi dan menyangga tubuh gadis itu dengan lengannya yang dia posisikan di pinggang. Dia tidak menyentuhnya, dia tidak menyentuh apa yang gadis itu maksud tadi.
"Wahh, pelecehan itu namanya!"
"Mesum anjing, gila!"
Lengan Nanggala gemetar sendiri mendengar kata-kata makian yang mulai di serukan kepadanya. Tidak, dia tidak begitu. Meskipun tadi gerakannya refleks karena ingin menangkap dan menyangga tubuh gadis itu agar tidak jatuh, tetapi dia masih tersadar jika yang di pegangnya itu seorang perempuan.
Mana mungkin dia mengambil kesempatan dalam kesempitan?
Nanggala hanya sebatas menolong.
"Dasar, ngelecehin ketua osis kita, cih!"
"Busuk banget sih lo miskin!"
Semua orang bersimpati pada gadis itu yang semakin terisak di sana, membuat Nanggala semakin terasa kelu untuk sekadar membela dirinya lagi.
"Nanggala." Panggil Sasto tajam kepada anak itu.
Nanggala hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, meyakinkan pria itu jika dia tidak pernah menyentuhnya.
Tetapi sepertinya, keberuntungan lagi-lagi sedang tidak berpihak kepadanya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Nanggala berjalan seorang diri di koridor yang cukup ramai ini, dia tidak henti-hentinya mendapat ucapan-ucapan kebencian dari murid-murid yang di lewatinya.
Pandangannya terus menunduk ke bawah guna menghindari tatapan-tatapan sinis itu. Tadi dia sudah ke ruang BK bersama dengan gadis ketua OSIS itu, dan di sana sang gadis masih mengatakan hal yang sama jika dia akan melecehkannya.
Satu jam mendapat kemarahan dari guru BK, Nanggala benar-benar hanya diam dan mendengarkan. Dia tidak pernah membalas atau pun mengelaknya.
Dan satu lagi, Nanggala juga harus meminta maaf kepada gadis itu, yang bahkan bukan kesalahan yang di lakukannya. Ah ... apa mereka sebegitu membencinya seperti ini? Apa dia begitu rendah dan menjijikan bagi mereka?
"Sumpah, gue makin jijik sama dia."
"Ngapain sih dia masih sekolah di sini? Bikin kotor aja."
"Sampah! Miskin! Nggak tau malu!"
"Bapaknya pembunuh, anaknya ngelecehin, haha, mati aja lo!"
"Sifatnya pasti sama tuh kayak bapaknya. Ntar paling habis di lecehin terus di bunuh."
"Miskin mati aja kek!"
Sedikit mengepalkan tangannya, Nanggala terus berjalan tanpa memperdulikan omongan-omongan itu. Telinganya sudah cukup panas.
Dak!
"Ahs!"
Kepala Nanggala sedikit memaling ke samping saat benda keras yang entah datang dari mana itu baru saja menghantam kening kanannya.
Dengan gerakan cepat dia mengangkat tangannya untuk menyentuh kening itu. Terasa basah. Lalu ketika di turunkan lagi, dia pun bisa melihat telapak tangannya sudah di lumuri cairan berwarna merah.
Matanya melirik sebuah batu yang tergeletak di bawah, benda yang sepertinya tadi menghantam keningnya, benda yang juga tidak bisa di anggap kecil.
"Hahahahaha!"
"Mati aja lo miskin!"
"Dasar rendah!"
Tubuh Nanggala refleks terseret cepat ke depan ketika dengan tiba-tiba ada yang menarik lengannya. Tentu saja membuatnya sedikit susah mengimbangi jalan lelaki itu yang begitu cepat. Kepalanya lalu terangkat dan bisa dia lihat siapa seseorang yang menariknya.
"Sen."
Rasen tidak mendengarkannya, dia masih berjalan sedikit cepat sambil terus menarik lengan itu.
Mata Nanggala sempat melirik ke samping lelaki itu yang juga ada Haksa di sana, yang sama-sama tengah mengimbangi jalannya Rasen.
Hingga mereka sampai di parkiran sekolah, Rasen menghentikan langkahnya, dia melepaskan cengkraman tangannya dan membalikan tubuhnya menatap Nanggala.
Nanggala sedikit menunduk melihat tatapan lelaki itu kepadanya sekarang.
"Tegakin kepala lo, kalo lo nggak salah."
Suara itu membuat Nanggala perlahan mengangkat kepalanya. Ah, kata-kata yang Gasta ucapkan kepadanya juga siang tadi.
"Gila emang mereka semua!" decak Haksa kesal ketika melihat kening berdarah lelaki itu.
Nanggala yang tersadar pun segera mengusap darah itu namun langsung di tahan oleh Rasen.
"Jangan, nanti infeksi. bentar," tegur Rasen lalu di lanjutkan dengan lelaki itu yang merogoh anak tasnya untuk mengambil sesuatu.
"Pakai ini, gue selalu bawa karena dia sering ceroboh." Imbuhnya sambil menyerahkan plester ke tangan Nanggala.
__ADS_1
Meskipun tidak di sebutkan namanya, Haksa tentu saja tahu yang di maksud Rasen tadi adalah dirinya. Hal itu membuatnya menatap sinis kembarannya.
"Gue percaya kalo lo nggak mungkin gitu. Lo aja ngejagain Jia dengan baik," Rasen menghembuskan napasnya pendek, "kalo lo cowok kayak gitu, ngapain lo sentuh cewek lain sedangkan Jia yang di deket lo dan terus sama lo?"
Kata-kata itu membuat Nanggala menatapnya sendu. Haksa yang berdiri di samping Rasen-pun menganggukkan kepalanya setuju.
Nanggala menunduk, dia merasa dirinya akan menangis sekarang.
"Makasih, Sen, Sa ... Makasih udah selalu percaya sama gue ..." lirihnya.
Rasen menghembuskan napasnya panjang, di tatapnya sendu kening lelaki itu yang terluka. Plester darinya belum di gunakan, masih di genggam erat di tangan lelaki itu. Bibirnya tersenyum hangat lalu menyentuh pundak si empu.
"Gue percaya kebenaran. Apalagi kebenaran itu adalah sahabat gue sendiri. Gue bakal bantu sebisa gue." Jelas Rasen dengan senyum yang begitu manis.
"Iya, Na. Lo masih ada kita." Sahut Haksa ikut menepuk pundak lelaki itu.
Nanggala tambah terharu. Sekali lagi dia berterima kasih, sudah di pertemukan dengan orang-orang sebaik mereka.
"Masih ada kita, Na."
Ketiganya menoleh ketika seorang lelaki baru saja datang ke hadapan mereka dan langsung berdiri di samping Haksa. Hal itu membuat Haksa dan juga Rasen menatapnya bingung tentu saja.
Seorang Gasta baru saja mengucapkan itu dengan senyuman manisnya?
"Lo ngapain?" tanya Haksa tidak suka.
"Gue temennya dia." Santai Gasta menunjuk Nanggala yang berdiri di depannya.
"Sejak kapan, sialan!"
Rasen menatap Nanggala meminta penjelasan, dan hanya di balas dengan senyuman simpul oleh lelaki itu.
"Lo kok ngatain gue sialan?!" seru Gasta tidak terima.
"Ya kan lo emang sialan, sialan!"
"Sialan!"
"Lo sialan!"
"Lo nggak usah ngatain gue sialan, sialan!"
"Sialan lo!!"
Dan sore mereka di tempat parkir ini di habiskan dengan keributan antara Haksa dan Gasta. Hingga mereka tidak sadar sudah di tinggalkan oleh Rasen dan juga Nanggala yang pulang terlebih dahulu.
Tentu saja mereka tidak pulang bersama. Memang, Rasen sempat menawarkan Nanggala untuk pulang bersamanya, namun anak itu menolak walaupun sekarang ini benar-benar sudah turun hujan.
Langit sudah menggelap, hujan yang turun dengan derasnya juga sejak tadi belum berhenti. Namun Nanggala terus berjalan sambil menuntun sepedanya seorang diri di jalanan ini, dan membiarkan air hujan yang dingin itu membasahi seluruh tubuhnya.
Tubuhnya sudah basah kuyup, tetapi Nanggala sepertinya tidak berniat untuk meneduh dahulu. Lelaki itu memberhentikan langkahnya dan menoleh ke samping kanannya, lalu menatap luasnya danau di sana. Bahunya naik turun, matanya terlihat memerah dan memanas.
Nanggala senang, hujan ini bisa menutupi tangisnya dan membawa air matanya yang sejak tadi terus keluar, membawanya bersamaan dengan air hujan yang mengalir di wajahnya. Lelaki itu menundukkan wajahnya dan memejamkan matanya kuat. Dia terisak, dia bisa mengeraskan suara isakannya karena dia yakin tidak akan ada yang melihatnya sekarang.
"Hiks, bunda ...."
Tangannya terangkat mengusap matanya, meskipun itu percuma. Tidak bisa di bedakan mana air matanya dan mana air hujan.
Menyenderkan sepedanya di pagar pembatas besi jalanan ini, Nanggala mendudukkan dirinya menghadap langsung ke danau. Lelaki itu memeluk kedua lututnya.
"Bunda ... Nangga capek ... hiks, Nangga capek ... Nangga mau ikut ayah ...."
"Kehidupan ini terlalu berat buat Nangga ... Kalian dimana, Nangga kangen ...."
Lelaki itu semakin menangis dan terus mengeluarkan isakannya di bawah hujan ini. Dadanya terasa begitu sakit, tak jarang dia akan terbatuk akibat napasnya yang juga tersenggal karena sesenggukan.
Ah ... luka di keningnya akibat lemparan batu itu menjadi sangat perih, meskipun sudah di tutupi oleh plester yang di berikan Rasen tadi.
Lelah, Nanggala sudah merasa sangat lelah. Berbagai masalah datang kepadanya, dan dia ingin semuanya selesai.
Tetapi dia hanya anak kecil, anak remaja yang harus menanggung semua ini tanpa adanya sosok orang tua di sampingnya sebagai penyemangat dan sandaran.
"Bunda ...."
Nanggala mendongakkan kepalanya saat di rasa tidak ada air hujan yang turun membasahi tubuhnya lagi.
Saat kepalanya mendongak, Nanggala bisa melihat payung merah yang sudah berada di atasnya. Lalu kemudian kepalanya memutar hingga mata merahnya kini sukses membulat. Dadanya tiba-tiba terasa semakin sakit, ingin sekali dia berteriak namun tidak bisa. Tubuhnya saja sampai mematung seperti sangat susah untuk di gerakan.
"Anak Bunda ...."
Masih tidak percaya, Nanggala perlahan memutar tubuhnya ke samping dan masih dalam posisi duduk, dengan seseorang itu yang juga mulai berjongkok di depannya.
Seseorang itu tersenyum manis kepadanya, dia juga seperti habis menangis, tangan cantiknya terulur untuk mengelus rambut Nanggala lembut.
"Anak Bunda udah besar ....?"
"Bunda ...."
Dengan cepat tubuh Nanggala menubruk tubuh wanita itu, memeluknya sangat erat seakan dia tidak ingin jauh lagi dengannya.
Tangisan Nanggala mulai terdengar lagi, dia terisak di pelukan itu. Suara erangannya membuat si wanita tidak bisa menahan tangisnya lagi, dan bahkan payung yang sejak tadi melindunginya dari air hujan kini sudah jatuh begitu saja di sampingnya.
"Bunda ... hiks ...."
"Maafin Bunda, Nak ... hiks, maafin Bunda ...."
Wanita itu mengelus punggung dan rambut belakang Nanggala, sesekali mengecupi puncak kepala anak lelakinya itu dengan sayang. Bahunya juga sudah naik turun sejak tadi, hatinya seperti tertusuk ribuan pedang mendengar tangisan anaknya. Dia sakit.
Mereka tidak peduli air hujan masih terus turun membasahinya, mereka ingin melepas rindu setelah empat tahun terpisah.
Nanggala sangat sulit mengatur napasnya, dia sesenggukan di dalam pelukan sang bunda. Memeluk bundanya dengan erat, seperti tidak memperbolehkan wanita itu pergi jauh lagi darinya.
"Maafin Bunda, sayang ...."
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Say Hi dari bundaa(^v^)...
__ADS_1
...Boom komen setelah membaca yaa♡...