NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
12. Disini Untukmu


__ADS_3

Akhirnya, ujian semester telah usai. Kini, banyak murid-murid yang bisa bernapas dengan lega setelah beberapa hari lalu di sibukan dengan huruf-huruf dan angka-angka yang membuat mereka pusing.


Dan tentu saja akan ada libur semester, untuk kelas tiga sepertinya akan ada liburan usai ujian semester juga. Guru-guru sepakat akan membawa mereka ke Bogor. Liburan di sana selama dua hari satu malam. Ya, sangat singkat.


Jerga tengah menatap kertas nilai hasil ujian semesternya kemarin, matanya menatap kosong kertas itu, secara tak sadar jar-jarinya sedikit meremas kertas bagian ujungnya. Lelaki itu menghembuskan napasnya panjang.


Entahlah, sepertinya Jerga akan di marahi lagi oleh Dharma. Nilainya kurang sempurna, dia tidak tahu harus yang sesempurna apa yang ayahnya inginkan.


"Jerjer kenapa?" Haksa yang baru saja duduk di samping lelaki itu bertanya. Matanya melirik apa yang tengah si empu lihat sejak tadi, dan dia pun langsung mengerti.


"Ya elah, Jer. Itu udah bagus kali, liat nih punya gue?"


Lelaki peternak tahi lalat itu dengan bangganya menunjukkan nilai hasil ujian semesternya kepada Jerga. Yang ya ... jika di bandingkan dengan Jerga sudah pasti sangat jauh.


Jerga terkekeh mendengar itu, "lo kayak nggak tau papa gue aja, Sa."


Haksa melirik lelaki itu sambil memanyunkan bibirnya beberapa senti.


"Iya juga sih, " kepalanya kemudian mengangguk-angguk, "andai papa lo kayak papa Hariz. Hidup lo kayaknya tentram, Jer."


Jerga hanya terkekeh saja mendengar ucapan sahabatnya sejak tadi.


Haksa dan Rasen memiliki sosok ayah yang baik, membebaskan anak-anaknya untuk melakukan hal yang mereka sukai. Meskipun ibu mereka lebih terkesan galak, tapi menurut Jerga wanita itu sungguh lucu. Dan yang seperti itulah yang membuat keluarga mereka menjadi hangat.


Tidak seperti keluarganya.


Jerga lagi-lagi menghembuskan napasnya, matanya melirik Haksa yang sepertinya sejak tadi masih menatap nilai-nilainya sambil tersenyum sendiri. Anak itu sangat bangga, yang katanya memang sedikit ada peningkatan setelah lelaki itu selalu memohon kepada Rasen untuk mengajarinya.


Bibirnya tersenyum tipis. Jika Haksa bangga dengan nilainya yang masih jauh di bawahnya, dia juga harus bangga dengan nilainya yang memang mendekati sempurna. Mendekati. Ya mungkin Jerga bangga, tetapi tidak dengan Dharma.


"Ikut liburan 'kan besok?"


Jerga yang di tanya seperti itu mendongakkan kepalanya lagi, "iya ikut kok."


"Sip."


Haksa tersenyum senang, karena jarang juga dia bisa bermain dengan Jerga. Dia sudah bosan bermain dan membuat ulah dengan Rasen.


.......


.......


.......


Jam istirahat sudah berbunyi, tidak terlalu ramai orang yang berada di kantin atau koridor. Ketiga gadis yang berjalan sejajar itu berjalan menyusuri koridor dengan wajah yang bisa di bilang sedikit angkuh. Banyak tatapan kagum dari murid-murid lain ketika menatap Kheylin yang posisinya di tengah itu. Kheylin yang cantik, mempunyai kaki yang jenjang, putih, dan berjalan bak seperti model.


"Cewek itu di toilet."


Kheylin hanya melirik dengan ekor matanya, senyumnya masih sangat manis menatap murid-murid yang sedari tadi menatapnya kagum di koridor.


Mereka melangkah menuju tempat yang tadi temannya itu sebutkan, toilet. Bisa Kheylin lihat di sana, di samping pintu toilet perempuan tengah ada seseorang yang bersandar di dinding. Dia merubah raut wajahnya menjadi sinis, mereka tetap melangkah hingga masuk ke dalam toilet.


Nanggala yang menyadari mereka masuk ke toilet itu pun menoleh, sepertinya hatinya tidak karuan sekarang. Ingin sekali dia masuk dan dengan cepat menarik Jia keluar, tetapi mana mungkin? Itu toilet perempuan, bisa-bisa di teriaki atau bahkan di laporkan ke guru karena masuk ke toilet perempuan. Dia hanya berdoa, semoga tidak ada apa-apa, semoga mereka tidak melakukan hal yang sejak tadi di pikirkan olehnya.


Sesampainya di dalam, Kheylin belum melihat tanda-tanda adanya gadis itu. Mungkin masih di dalam salah satu bilik di sana?


Gadis itu menyandarkan tubuhnya pada wastafel yang ada di toilet ini, bibirnya terangkat dan tersenyum sinis ketika melihat dua temannya tengah mengisi ember yang biasa di gunakan petugas kebersihan untuk mengepel lantai itu. Mereka berdua mengisinya dengan air sebanyak setengah ember, lalu mengangkat ember itu bersamaan dan berjalan ke arah bilik yang pintunya tertutup itu.


Memang ada orangnya, pintu tertutup rapat menandakan bilik itu sedang terisi. Mereka pun memasuki bilik di sampingnya.


Salah satu dari gadis itu pelan-pelan menaiki kloset duduk di sana, sementara gadis yang satunya membantunya untuk mengangkat ember itu tinggi-tinggi.


Byur!


Kheylin terkekeh sambil memainkan kuku-kuku jari tangannya yang panjang.


Brak!


"Ow~ Biasa aja dong bukanya?"


Gadis berambut panjang itu berjalan mendekat saat seseorang yang berada di dalam sana sudah keluar dari bilik toilet tadi. Tubuhnya sudah basah kuyup akibat air yang teman-temannya tadi siramkan dari atas.


Jia tidak berani menatap Kheylin, saat keluar dari dalam tadi dan mendapati Kheylin beserta teman-temannya, gadis itu langsung menunduk takut. Bahkan tubuhnya pun mulai gemetar.


"Gimana? Enak? Seger, 'kan?"


"Orang kotor kayak lo emang harusnya di siram," lirihnya tajam, "tapi emang orang kotor harusnya di siram sama air kotor juga. Kali ini gue terlalu baik sama lo." kekehnya.


Kheylin meraih dagu Jia ke atas untuk menatapnya, namun sang empu tetap terdiam dan berusaha untuk tidak berkontak mata dengannya. Hal itu membuatnya menarik paksa dagu itu dan di cengkram kuat, hingga membuat Jia mau tidak mau menatap matanya.


Napas Jia terdengar memburu, demi apapun dia benar-benar ketakutan.


"Gue udah muak banget dari dulu sama lo, Jiara." Desisnya menatap mata itu sinis.


"Gue muak sama cewek kayak lo. Sok cantik."


"Nggak usah sok polos."


"Lo beneran kena mental atau pura-pura, ha?"


Plak!


Napas Jia semakin memburu, tamparan itu membuat wajahnya memaling ke samping. Tubuhnya benar-benar bergetar ketakutan.


"Aaaaaa! Nggak, hiks!!"


Seketika tubuhnya duduk di lantai. Seperti biasa ketika Jia ketakutan, gadis itu pasti akan berteriak, menutup telinganya, dan juga menangis.


"Berisik lo, sampah!"


Mata Jia terpejam dengan sangat kuat, hingga dia bisa merasakan ada sesuatu yang jatuh di atas kepalanya, sesuatu seperti bubuk. Matanya sedikit terbuka, dan kini sudah melihat tangan beserta rok seragamnya di penuhi dengan bubuk putih itu. Dari baunya seperti tepung.


Lagi, Jia merasakan sesuatu di pecahkan di atas kepalanya, serta ada rasa sedikit dingin. Sesuatu yang berbau amis itu perlahan juga mengalir, melalui rambutnya, wajahnya dan jatuh mengenai rok seragamnya.


Jia semakin menangis, dan tangisan itu semakin membuat Kheylin tertawa dengan senang. Suasana toilet kini sudah sedikit ramai orang, banyak murid-murid yang ingin melihat apa yang terjadi di dalam. Ya, dan akhirnya hanya melihat, tanpa ada yang mau menolong gadis malang itu.


Sementara Nanggala yang berada di luar itu sudah sejak tadi perasaannya tidak karuan. Apa yang di pikirkannya benar, bahwa Kheylin dan teman-temannya pasti melakukan hal buruk kepada Jia di dalam.


Dia benar-benar ingin menerobos masuk ke dalam, tapi dia sungguh ragu. Namun jika dia seperti ini terus, entah sesuatu apa lagi yang gadis itu terima di dalam sana. Tidak, dia harus masuk.


Baru selangkah Nanggala menggerakkan kakinya, kerahnya sudah lebih dulu di tarik dari belakang oleh seseorang. Kepalanya lalu menoleh dan saat itu juga matanya mendapati Yunan yang tengah tersenyum sinis menatapnya.


"Mau kemana lo? Disini aja."


Nanggala masih berusaha melepaskan tangan Yunan yang bahkan saat ini sudah merangkul lehernya.


"Hiks, jangann!"

__ADS_1


Nanggala membulatkan matanya ketika mendengar itu, batinnya sejak tadi pun terus mengucapkan kata jangan. Jangan menyakiti gadis itu Nanggala mohon.


"Lepas."


Lelaki itu masih berusaha, tetapi Yunan juga terus berusaha menahan tubuhnya sambil tertawa sinis.


Bahkan sekarang murid-murid disini mempunyai dua tontonan. Nanggala, dan juga Jia di dalam sana.


"Lepasin gue!"


"Dengerin dari sini lebih enak, 'kan?"


Nanggala memejamkan matanya saat teriakan dan tangisan gadis itu semakin terdengar dari sini, dadanya begitu sesak mendengar itu.


'Jia ....'


Tangannya dengan kencang mendorong tubuh Yunan ke belakang, sehingga mampu melepaskan tangan lelaki itu yang sejak tadi melingkar di lehernya. Dengan cepat dia berlari dan menembus kerumunan itu tanpa memperdulikan suara keras Yunan yang memanggilnya.


Setelah sampai di dalam, matanya langsung membulat melihat pemandangan di depannya, tubuhnya berlari lagi dan jongkok di depan Jia, melindungi gadis itu.


Kheylin yang menyadari kehadiran lelaki itu pun terkekeh dengan sinis, dia mengisyaratkan teman-temannya untuk menghentikan kegiatan mereka, lalu tanpa sepatah katapun mereka pergi dari sini.


Nanggala tidak memperdulikan itu, yang dia pikirkan sekarang hanyalah gadis yang berada di depannya ini. Dia sendiri meringis melihatnya, tatapannya tidak tega. Tubuh Jia sudah di penuhi dengan tepung dan tidak sedikit yang sudah menggumpal karena telur-telur itu.


Jia juga perlahan menatap lelaki itu.


"Hiks ...."


Nanggala benar-benar tidak tega, tak terasa matanya juga memanas. Dia menghapusnya dengan cepat ujung matanya yang berair dan menggenggam tangan gadis itu lembut.


"Jia berdiri dulu, ya? Duduk di wastafel nanti Nala bersihin seragam Jia," kedua tangannya terulur untuk menggenggam tangan itu, "sini Nala bantu ...."


Jia hanya menurut ketika Nanggala membawanya mendekati wastafel sambil sedikit terisak, gadis itu merasakan Nanggala mengangkat tubuhnya dan di dudukkan di sana.


Nanggala menatap sendu gadis itu, benar-benar terlihat kacau, rambutnya sudah acak-acakan, warna putih dimana-mana, dan tentu saja bau amis itu yang sepertinya akan sedikit lama untuk hilang. Lelaki itu mulai menyalakan kran air di depannya dengan tangannya yang sedikit gemetar, matanya menatap lagi mata yang penuh air mata itu.


"Maafin Nala ...."


"Maafin Nala nggak jagain Jia ...."


Sesak sekali yang Nanggala rasakan. Tetapi sudah pasti rasa sesak dan sakit yang dia rasakan tidak sebanding dengan yang gadis di hadapannya ini rasakan.


"Maafin Nala ...."


Jia hanya bisa terisak, dirinya tidak mampu menjawab itu semua, meskipun batinnya terus berkata jika ini bukan salah lelaki itu.


Nanggala mendongak lagi, ia tersenyum, matanya benar-benar sudah mengabur sekarang. Lelaki itu mulai membersihkan Jia, dari rambut, seragam dan tangannya yang terkena tepung dan telur itu.


"Jangan nangis ...," tangan Nanggala terangkat untuk mengusap pipi itu, "Nala disini sama Jia ...."


Dengan telaten dan lembut Nanggala membersihkan semua itu dengan air. Sentuhannya pelan dan bahkan hanya membersihkan seragam di bagian-bagian yang masih boleh di sentuh oleh lawan jenis. Mungkin nanti dia akan menelepon Yora untuk membersihkannya lagi, dan juga untuk membawakannya sabun atau shampoo, serta meminta tolong untuk mengambilkan gadis itu baju olahraga.


Keadaan toilet kini sudah sepi, murid-murid yang tadi menonton itu sudah pergi bersamaan dengan kepergian Kheylin dan teman-temannya.


"Jangan nangis ... Nala jadi sedih." Tangannya mengusap lagi pipi itu lembut.


Nanggala menghembuskan napasnya panjang. Entahlah, dia jadi sering berbicara seperti itu kepada Jia. Memang benar dia sedih, memang benar dia ikut merasa sakit jika gadis itu menangis.


Tega-teganya gadis-gadis tadi melakukan semua ini kepada Jia? Apalagi Kheylin, yang memang dia dengar dari Rasen kalau mereka dulu adalah sahabat dekat. Tega sekali Kheylin seperti ini kepada gadis yang dulu sangat dekat dengannya. Entah apa yang membuatnya bisa sejahat ini, dia belum tahu jalan persahabatan mereka.


.......


.......


Jia memakai baju olahraga yang tadi di ambilkan oleh Yora ketika Nanggala meminta tolong kepada gadis itu. Yora yang melihat keadaan Jia saat itu hampir saja menangis, apalagi saat menggantikan posisi Nanggala dan membersihkan tubuh gadis itu.


Dan selanjutnya Jerga, Rasen dan Haksa juga datang. Mereka tentu saja tahu, karena memang tadi murid-murid yang melihat ini sempat berbincang-bincang Jia tengah di bully di toilet. Tentu saja membuat Jerga sangat marah tadi, sebelum Rasen dan Haksa mencegahnya untuk meredakan emosinya.


Lalu sekarang, kondisi Jia sudah bersih lagi, sudah wangi dan tidak terlalu bau amis seperti tadi, rambut hitam panjangnya bahkan sudah lumayan mengering.


Jam menunjukan pukul lima sore, karena hari ini tidak ada jam pelajaran tambahan, kan besok juga kelas mereka akan berlibur. Mungkin setelah berlibur nanti, jam belajar akan semakin padat. Maklum saja sudah semester akhir, dan sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian kelulusan juga.


Nanggala ingin sekali kuliah. Semoga dia bisa mencapai semua itu.


Lelaki itu menolehkan kepalanya menatap gadis yang berjalan di sampingnya, bibirnya tertarik ke atas untuk tersenyum. Sepedanya tidak mereka naiki, karena Jia ingin berjalan kaki, tentu saja Nanggala menurutinya.


"Jia laper nggak?"


Sang gadis yang di tanya seperti itu pun menoleh, sejenak berpikir lalu kemudian mengangguk pelan.


Sejak kejadian di toilet tadi, Jia masih banyak diam. Gadis itu menanggapi Nanggala dengan anggukan atau gelengan. Bahkan ketika Yora atau Rasen bertanya, tak jarang gadis itu akan diam saja tidak menjawab.


Mereka mengerti, Kheylin memang tadi sangat keterlaluan. Bisa-bisanya dia melakukan hal kejam seperti itu? Dan bisa-bisanya kejadian itu tidak sampai ke telinga guru? Entahlah bagaimana sekolah ini dengan kasus-kasus seperti itu.


Nanggala yang melihat jawaban itu hanya mengangguk pun tersenyum sendu. Langkahnya berhenti, membuat gadis itu juga ikut menghentikan langkahnya.


"Jia, tunggu disini sebentar ya? Jangan kemana-mana, oke?"


Dengan lembut melepaskan tangan Jia yang memeluk lengannya, lalu menyandarkan sepedanya di tembok sebelahnya.


Setelah tadi gadis itu mengangguk, Nanggala langsung saja berlari kecil memasuki minimarket di sampingnya. Lalu tidak lama kemudian lelaki itu kembali dan tersenyum sangat manis sambil menghampiri Jia.


"Tadaa~"


Jia sedikit terkejut mendengar itu, matanya lalu menangkap apa yang tengah Nanggala tunjukkan kepadanya. Dan detik itu juga matanya langsung berbinar, senyuman yang sejak siang tadi hilang kini sudah kembali.


"Makasih, Nala!"


Lelaki itu hanya terkekeh melihatnya, tangannya terangkat untuk mengacak lembut puncak kepala Jia. Ah, jika memang hanya dengan ini, itu sangatlah mudah, Jia bisa ceria lagi karena susu strawberry yang tadi di belinya di minimarket itu.


Menggemaskan sekali.


Masih asik dengan tatapannya menatap Jia sambil terkekeh kecil, Nanggala mengalihkan pandangannya dan mendongak ke atas, langit sangat mendung, lebih baik mereka cepat pulang. Pandangannya lalu teralihkan lagi ke jalanan di sebelahnya.


Sore ini ramai sekali orang berlalu lalang, dan Nanggala terpaku saat matanya menangkap sesuatu yang terlihat jauh di depannya, terpaku melihat orang yang menyebrangi jalan di sana. Terlihat femiliar.


Memang jauh di tangkap matanya, namun dia masih bisa sedikit jelas melihatnya. Matanya sedikit memincing.


"Bunda ....?" gumamnya lirih.


Jantung Nanggala seperti terhenti, namun selanjutnya berdebar dengan kencang melihat sosok itu. Benarkah? Benarkan itu bundanya?


Tetapi sangat singkat, hingga seseorang yang di lihatnya itu hilang saat ada bus yang melewatinya. Nanggala menghembuskan napasnya, wajahnya sedikit dia tundukan. Apa itu hanya halunasinya karena terlalu merindukan sang bunda? Atau memang benar itu bundanya? Jika benar, dia ingin sekali menghampirinya, dia juga ingin sekali memeluknya.


Lelaki itu tersenyum tipis dan kembali melirik gadis yang tengah asik dengan susu strawberry-nya, "yuk pulang?"


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ

__ADS_1


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


"Susah banget belajar aja, ha?"


"Pa, nilai Jerga cuma kurang 0,5."


"Cuma kamu bilang?! 0,5 itu tetep nilai Jerga! Kalo dalam lomba kurang 0,5 aja kamu bisa kalah!"


"Kamu itu udah enak! Papa cuma nyuruh kamu belajar! Papa nggak nyuruh kamu kerja!"


"Jangan rusak nama keluarga Abhicandra lagi ya, Jerga! Cukup kembaranmu itu yang bikin malu keluarga!"


"Udah Pa, Jerga muak!"


"Bilang sekali lagi?! Dasar anak nggak tahu diri!!"


Plak!


Tangan Nanggala sedari tadi sudah berada di kedua telinga Jia, lelaki itu memejamkan matanya saat mendengar suara tamparan tadi. Sama halnya dengan Jia, gadis itu memejamkan matanya dan sudah mulai terisak.


Mereka berdua baru saja masuk ke dalam rumah, dan suara perdebatan yang cukup keras itu sampai terdengar di telinga keduanya. Sepertinya suara itu lagi-lagi berasal dari ruang keluarga.


"Jia disini aja, ya ....?"


Nanggala melepaskan perlahan kedua tangannya, dan itu membuat gadis di hadapannya membuka matanya.


"Jia ikut ..." dia memegang baju seragam itu dan membuat Nanggala menoleh lagi yang tadi akan melangkah pergi ke sana.


Nanggala menatap Jia sendu, di genggamnya erat tangan itu lalu menganggukan kepalanya. Dia berjalan dengan sedikit berlari untuk menghampiri ruangan itu, dan sesampainya di sana, dia sudah melihat Jerga yang tengah di pukuli dengan stick golf lagi oleh Dharma.


Langkahnya semakin mendekat, tak lupa genggaman pada tangan Jia masih mengerat sejak tadi. Dia bisa merasakan tangan itu gemetar di genggamannya.


Saat sudah masuk lebih dalam, Nanggala sempat menolehkan kepalanya ke samping ketika matanya menangkap sosok Janan yang hanya berdiri dengan wajah tanpa ekspresi. Dia tidak memperdulikan itu, yang harus dia lakukan sekarang adalah menghentikan Dharma di sana.


"Om, udah Om!"


Nanggala berlari ke arah mereka berdua, dan seketika genggaman tangannya dengan Jia pun terlepas. Gadis itu kini hanya mampu menundukkan kepalanya, tangannya terkepal kuat dengan napas yang mulai tercekat.


Bugh!


Ah, seperti de javu. Stick golf yang dulu menghantam lengannya beberapa kali kini dia rasakan lagi. Kali dia menerimanya dipunggung.


Dharma berhenti dan menghembuskan napasnya kasar, "minggir kamu Nanggala!"


"Nggak, Om. Berhenti sakiti Jerga!"


Pria itu terkekeh mendengarnya, "kamu siapa saya tanya?"


"Jerga itu anak Om!"


"Saya tau! Nggak usah menggurui saya kamu!"


Kini Nanggala sudah berdiri, matanya menatap Dharma tajam. Dia sungguh tidak peduli pria itu adalah majikannya, atau pria itu adalah orang yang harus di hormati karena lebih tau darinya.


Nanggala tidak peduli.


Dharma lagi-lagi terkekeh sinis, pria itu ancang-ancang lagi akan memukul anak di depannya dengan stick di tangannya itu.


Bugh! Bugh!


"Akh ...."


Tubuh Nanggala jatuh terduduk. Sungguh punggungnya terasa sangat sakit sekarang.


"Papa jangan! Hiks, jangan!!"


Janan yang sejak tadi diam tak bersuara maupun menggerakan tubuhnya sedikit terkejut melihat itu, tubuhnya bahkan refleks maju selangkah ke depan. Hanya selangkah dan dia urungkan lagi.


Jia yang sedari tadi berdiri tak jauh di depan Janan itu dengan cepat berlari ke arah ayahnya.


"Papa jangann!!"


Gadis itu memegang lengan Dharma erat, mencengkeramnya, meminta ayahnya untuk tidak menyakiti kedua lelaki itu.


"Minggir kamu!!"


Cengkraman tangan Jia pada lengan Dharma terlepas begitu saja, saat pria itu menggunakan tangan yang satu lagi untuk menjambak rambut panjang Jia, dan dengan kencang mendorongnya ke belakang.


Duk!


Jia memejamkan matanya, kepalanya terasa sangat pening sekarang.


Ketiga orang yang melihat itu pun membulatkan mata mereka. Ah, Nanggala ingin sekali menghampiri gadis itu, tetapi kenapa tubuhnya sangat terasa remuk?


Tidak, Nanggala tidak bisa menolongnya. Dharma sekarang ini sudah melayangkan lagi alat itu untuk memukulnya dan juga Jerga secara bergantian, bahkan pria itu tidak peduli apa yang telah dia lakukan tadi melukai putrinya.


"Nggak papa?"


Suara lirih itu membuat Jia yang sejak tadi memejamkan matanya itu perlahan terbuka dan mendongak, sedikit terkejut memang menatap orang di sampingnya. Terkejut dan takut.


Matanya ... ada sedikit rasa khawatir disana.


Mata yang selama ini tidak pernah menatap seperti itu. Wajah yang selama ini tidak pernah berekspresi seperti itu.


Jia masih diam tak bergerak, kepalanya sangat sakit tadi terbentur siku meja saat ayahnya mendorongnya. Benar-benar sakit. Gadis itu masih terdiam ketika orang di depannya dengan pelan mengangkat tubuhnya dan membantunya berdiri, lalu memegang kedua bahunya.


Janan.


Ada tatapan sendu saat menatap adik perempuannya.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...

__ADS_1


...Sampai sini, bagaimana cerita ini menurut kalian? Makin penasaran kah? Atau apa?...


...Ayoo beri masukan kalian dan dukung author yaa!^^...


__ADS_2