NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
35. Semua Tentangmu


__ADS_3

"Pak, dua ya?"


"Baik."


Nanggala tersenyum ramah kepada bapak penjual ice cream di hadapannya. Pandangannya lalu menatap ke sekeliling, sesekali merapikan rambutnya yang berantakan karena angin.


Kini, Nanggala tengah membeli ice cream pesanan Cleo dan Alji yang duduk tak jauh darinya. Mereka sudah menyelesaikan belajar mereka pagi tadi, dan saat ini, ketiganya tengah berada di pinggiran danau yang waktu itu mereka datangi juga untuk bermain.


Ya, Cleo dan Alji yang meminta kesini. Kedua anak itu sekarang tengah beristirahat sejenak setelah cukup lama tadi mereka sangat senang bermain bola yang di bawa dari rumah.


Senyum terukir di bibir Nanggala ketika melihat sepasang remaja lelaki dan perempuan di sana tengah menaiki sepeda bersama. Jadi mengingatkannya dengan Jia. Dia terkekeh kecil ketika mengingat apa yang mereka lakukan di balik cotton candy milik gadis itu yang tinggal setengah.


"Pak, saya satu."


Kepalanya refleks menoleh ketika mendengar suara itu. Nanggala sangat mengenalnya, dia sangat mengenal suara itu.


"Jia ...."


Gadis yang masih tersenyum sambil memandangi ice cream itu pun menoleh ketika namanya di panggil. Dan seketika dia melunturkan senyumnya sedikit terkejut melihat keberadaan Nanggala. Namun tidak lama kemudian dia kembali tersenyum.


"Nala?"


Lelaki itu tersenyum tipis membalasnya, kemudian pandangannya teralihkan lagi ketika ice cream pesanannya sudah jadi. Tidak lama, pesanan milik Jia-pun sudah jadi.


Saling canggung, keduanya masih belum ada yang melangkahkan kaki mereka untuk pergi.


"Nala ... sama siapa?"


Nanggala tersenyum dan menunjuk ke suatu tempat dengan dagunya, "sama Cleo dan Alji."


Mata Jia mengikuti arah pandang lelaki iti, lalu kepalanya mengangguk paham. Dia ingat, hari weekend begini terkadang lelaki itu akan mengajari mereka belajar.


"Nala ... udah nggak marah sama Jia ?" lirihnya menatap Nanggala takut-takut.


Ya, Jia sangat sedih Nanggala mendiaminya seperti kemarin-kemarin. Dia sedih di abaikan olehnya, dia tidak bisa. Dia benar-benar merindukan lelaki itu.


Merindukan kehadiran Nanggala di sampingnya.


Nanggala yang mendengar pertanyaan Jia beberapa detik yang lalu itu menggeleng, dia lalu tersenyum lembut, "Nala nggak pernah marah sama Jia ... Maafin Nala, ya?"


Senyum Jia melebar mendengarnya, kepalanya lalu menggeleng dengan cepat, dengan maksud lelaki itu tidak salah dan tidak perlu meminta maaf kepadanya. Ayahnya. Ayahnya yang salah.


Jia merasa sesak kala mengingat itu.


"Jia boleh ketemu mereka?"


Nanggala mengangguk dan mengacak puncak kepala gadis itu.


Ah ... Jia benar-benar merindukan Nanggala seperti ini kepadanya.


"Boleh dong, yuk?"


Keduanya sama-sama tersenyum manis sambil berjalan berdampingan menuju kedua anak SMP itu berada. Dengan tangan kiri Nanggala yang menggenggam tangan kanan Jia.


Entahlah, sudah biasa seperti itu. Mereka melakukannya tanpa sadar.


"Kak Jia!"


"Kak Jiaa!!"


Alji berlari sangat cepat setelah menyerukan nama itu. Nanggala yang melihatnya dengan sigap menggunakan tangan yang berisi ice cream titipan mereka tadi di depan perut besar Jia.


Dia hanya takut Alji akan memeluk Jia erat, menubrukkan tubuh itu ke perut besar Jia. Karena memang anak itu sempat merentangkan kedua tangannya tadi.


Alji-pun yang melihat itu memberhentikan larinya dan menatap bingung.


"Perut Kak Jia kok besar?" tanyanya menatap perut itu.


Nanggala dan Jia saling memandang, bingung akan menjawab apa pertanyaan anak yang serba ingin tahu itu. Berbeda dengan Cleo.


"Emang nggak boleh?" sahut Cleo yang baru saja tiba di samping Alji, "Kak Jia habis makan ice cream banyak tadi, kenyang, makanya perutnya besar. Duh, betapa pintarnya seorang Cleo." Lanjutnya tersenyum membanggakan diri.


Nanggala dan Jia yang mendengar itu hanya terkekeh kecil. Sementara Alji masih sesekali menatap perut itu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Masih bingung.


Tetapi kata Cleo, dia harus mempercayai apapun yang di ucapkan anak itu.


"Waah. Iya juga ya?" ucap Alji memandang perut itu kagum.


Cleo mengedipkan sebelah matanya kepada Nanggala, lalu bergantian kepada Jia. Ah, sepertinya anak itu memang benar pintar, seketika membuat ketiganya terkekeh bersamaan lagi.


"Jia?"


Kekehan ketiganya seketika terhenti, pun dengan kegiatan Alji memandangi perut itu juga terhenti. Mereka sama-sama menatap kehadiran lelaki campuran yang baru saja sampai dan berdiri di samping tubuh Jia.


"Kok lama banget belinya? Aku cariin."


Senyum Jia yang sejak tadi terukir itu luntur begitu saja. Wajahnya dia alihkan lagi agar tidak bertatapan dengan mata itu.


Maldev menghembuskan napasnya lirih. Momen yang sangat jarang dia melihat Jia tersenyum dan tertawa sangat manis seperti tadi. Sekarang ini sangat jarang untuknya, tidak seperti dulu, sebelum dia menjadi lelaki berengs*k untuk gadis itu.


"Pulang yuk?"


Jia masih terdiam ketika Maldev menarik kecil lengannya yang masih menggenggam ice cream. Jia mengeratkan genggaman tangannya dengan Nanggala, membuat Maldev yang melihatnya sedikit menggertakkan giginya.


"Pulang."


Sama halnya dengan Nanggala, genggaman tangannya pun dia eratkan, matanya menatap Maldev dingin. Dia tidak peduli. Jia, adalah gadis yang di sayanginya.


Ijinkan Nanggala egois untuk kali ini saja.


Duk!


"Aw, ****." Geram Maldev tertahan sambil memegangi kepalanya.


Matanya menatap anak kecil itu antara marah dan bingung. Sedangkan yang di tatap hanya memasang wajah tanpa berdosanya.


"Ah, sorry. Tangan Cleo licin kena ice cream."


Mata Cleo melirik ke samping, lalu merebut ice cream pesanannya yang sejak tadi masih di genggam Nanggala. Dan tentu saja sedikit meleleh.


Alji tertawa lirih di sana. Cleo baru saja melempar kepala Maldev dengan bola miliknya, dengan alasan tangannya licin karena ice cream, yang bahkan anak itu belum menyentuh ice cream yang tadi di belikan Nanggala sedikitpun.


Dasar.


.......


.......


.......


Matahari sudah mulai tenggelam, dan hujan pun baru mereda dari sore tadi. Beruntung, Nanggala mengantar Cleo dan Alji pulang sebelum turun hujan, sementara dia juga pulang sebelum hujan. Meskipun tadi sudah makan bersama di rumah keluarga Shandy.


Dia tidak enak terus menolak, apalagi Cleo dan Alji yang memang terus menariknya untuk duduk di meja makan. Dan juga si cantik dokter Iresh yang saat itu tengah di rumah juga sangat menginginkan dia makan bersama mereka.


Nanggala menghembuskan napasnya dan tersenyum manis kala budhe Thalia berjalan mendekatinya.


"Salam buat bunda kamu, yo?"


Nanggala lagi-lagi tersenyum sangat manis, "siap, Budhe. Nanti Nanggala sampein salam Budhe. Maaf ya, bunda cuma mampir sebentar waktu itu."


Thalia terkekeh kecil melihat raut wajah sedih anak itu. Tangannya terulur mengelus lembut rambut belakang si empu.


"Ndak opo-opo, Budhe ngerti. Bunda kamu kan harus kerja juga," jawabnya tersenyum lembut, "bilangin, ndak usah bilang makasih terus sama Budhe. Budhe sayang kamu kuwi koyok anak Budhe sendiri." Lanjutnya.


Nanggala menatap sendu mata itu. Ya, beberapa waktu lalu dia dan bundanya mengunjungi rumah Thalia. Kala itu saat weekend juga. Dia yang baru pulang mengajar Cleo dan Alji, langsung mengajak bundanya untuk berkenalan dengan Thalia.


Keluarga yang selama ini merawatnya. Benar, seperti anak sendiri. Mereka sangat menyayanginya seperti anak kandung mereka sendiri.


Thalia tentu saja sangat senang Nanggala akhirnya bertemu lagi dengan bundanya. Dan juga Yewina, wanita itu yang tidak berhentinya mengucapkan terima kasih kepada Thalia, Hardi dan juga Yodhan yang telah merawat Nanggala selama ini.


Selama dia tidak ada di samping anak manisnya itu.


"Nanti nginep di tempat bunda?" tanya Thalia lagi.


Dia mengangguk, "bunda bilang mau masak makanan kesukaan Nanggala." Kekehnya kecil.


Thalia yang mendengarnya ikut terkekeh, ada perasaan haru juga di sana. Dia jarang melihat Nanggala sebahagia ini. Tentu saja, anak itu sudah menemukan bundanya yang hilang selama empat tahun, tentu saja Nanggala sangat senang dan bahagia.


Kling!

__ADS_1


Pandangan keduanya teralihkan dengan suara pesan masuk itu. Nanggala merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya dari sana.


"Selamat datang!"


Kepala Nanggala mendongak, lalu melihat punggung Thalia yang sudah menjauh darinya, dan tengah menyapa pelanggan yang baru saja memasuki toko.


Nanggala tersenyum lalu membuka pesan whatsapp yang baru saja di kirim seseorang.


Gasta


| Na, bisa keluar bentar?


| Ada yang pengen gue kasih tau


19.22


Alis Nanggala mengernyit membaca pesan itu. Hal apa yang akan Gasta beri tahu kepadanya?


Namun akhirnya dia membalasnya, dan meng'iyakan ajakan lelaki itu. Ponselnya kembali di masukan ke saku celananya sebelum berbunyi lagi karena pesan masuk.


Gasta


| Ajak Jerga juga


19.25


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


Di sinilah Nanggala sekarang ini. Setelah tadi Gasta memintanya untuk datang ke suatu tempat, dia segera menuju ke tempat yang di perintahkan lelaki itu. Dan sekarang, keduanya tengah duduk bersama memandang luasnya danau di hadapannya.


"Lo inget tempat ini?"


Nanggala menoleh mendengarnya, kepalanya lalu mengangguk. Kemudian terdengar kekehan kecil Gasta di sampingnya.


"Tempat dimana lo di hajar habis-habisan sama kita."


"Yang awalnya Yunan minta Jerga buat dateng, tapi akhirnya lo yang dateng. Dan lo yang kita pukulin." Lanjutnya masih terkekeh kecil.


"Gue minta maaf soal itu, Na."


Nanggala tersenyum tipis mengingat itu. Ya, dulu dia disini, di hajar oleh Gasta, Yunan, Senno dan juga Alwan, karena menggantikan Jerga. Setelah akhirnya Jerga datang menolongnya, dan membawanya pulang di tengah hujan kecil saat itu.


"Gue udah lupain itu semua, Gas."


Napas Gasta seperti tertahan. Nanggala begitu baik memaafkan semua kesalahannya yang dulu.


Hingga kemudian pandangan mereka teralihkan dengan kehadiran Jerga yang duduk di sebelah Nanggala. Lelaki itu tanpa suara ikut menatap danau di depannya.


"Ada apa?" tanyanya singkat.


Nanggala menoleh ke arah Gasta. Lelaki itu yang menyuruhnya dan Jerga kesini, dengan mengatakan ada yang ingin di sampaikan.


Gasta menarik napasnya dalam dan menghembuskannya. Dia sudah tidak ingin menutupi semua ini. Rasanya begitu sesak, sesak karena dia mengingatnya dengan sangat jelas.


Dan mungkin memang hanya dia yang mengingatnya.


"Bukan Maldev."


Jerga dan Nangga mengernyitkan alis mereka mendengar ucapan singkat lelaki itu.


"Bayi itu bukan anak Maldev."


"Mungkin itu anak lo, Na."


Deg


Rasa-rasanya anggota tubuh Nanggala tidak bisa di gerakan saat ini juga. Tubuhnya mematung, matanya sedikit membulat. Sama halnya dengan Jerga, lelaki itu mulai mengepalkan tangannya dan menatap Gasta tajam.


Srek!


"Maksud lo apa?"


Jerga dengan cepat beranjak dari duduknya dan menarik kerah baju Gasta hingga membuat lelaki itu berdiri. Tatapannya begitu tajam.


Nanggala yang melihat itu pun memegang lengan Jerga dan menatap lelaki itu sayu.


Jerga sudah melepaskan cengkraman tangannya pada


Gasta, dia di tarik lembut oleh Nanggala dan di tenangkannya. Meskipun Nanggala lebih terkejut mendengar kata-kata tadi.


"Bukan Maldev yang hamilin Jia. Bukan Maldev yang di ruang karaoke waktu itu." Gasta mengangkat kepalanya, lalu mengarahkan mata sendunya menatap lelaki di samping Jerga.


"Gue inget. Gue inget banget yang di sana bukan Maldev. Tapi Nanggala."


.......


.......


Meletakkan tas sekolahnya di samping lemari kamar ini, Nanggala berjalan lesu dan duduk di pinggir ranjang. Pandangannya kosong menatap lantai yang di pijakinya. Dia baru saja selesai makan malam bersama Yewina tadi, dan berpamitan untuk tidur terlebih dahulu.


Tetapi bukan tidur. Dada Nanggala masih terasa sesak setelah pertemuannya dengan Gasta dan Jerga beberapa jam yang lalu. Bahkan saat tadi makan bersama Yewina-pun, dia mati-matian menahan air matanya agar tidak jatuh.


Lalu kini, di balik pandangan kosong itu, air mata Nanggala perlahan jatuh, menetes membasahi celananya. Lelaki itu memegangi kepalanya yang mulai terasa sakit. Sepertinya kambuh lagi.


Sambil mulai memukuli kepalanya yang terasa begitu sakit, Nanggala masih teringat yang di katakan Gasta tadi.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


Jakarta, malam Halloween.


Seperti biasa, semakin malam Cafe ini akan semakin ramai oleh pengunjung. Tidak beda jauh dengan suasana di ruang karaoke. Mereka yang malas dengan keramaian orang asing, lebih memilih menempati ruang karaoke ini.


"Jiaa~ Ayo dong minum yang banyak lagi??"


Gadis itu tersenyum menerima gelas berisi bir yang di ulurkan oleh sahabatnya, membuat lelaki yang duduk di sampingnya itu mendecakkan lidahnya.


"Udah. Ini yang terakhir."


"Ya elah, Dev. Kita lagi pesta Halloween, malam ini kita harus senang-senang! Iya nggak?"


Nada seru Yunan langsung di jawab teriakan senang mereka yang ada di sini, dengan mata yang tertutup oleh berbagai bentuk topeng pesta.


Maldev mendengus dan menatap kekasihnya yang sudah bersandar di tubuhnya. Gadis itu terlihat kesadarannya sudah semakin berkurang.


"Jia, pulang aja ya?" bisiknya di telinga gadis itu.


"Tenang aja kali? Jia disini sama kita!" seru gadis berambut panjang dengan kekehan sinis di sana.


Dia lalu menoleh ke samping kirinya, "gimana rencana gue? Bagus, 'kan?" bisiknya dengan senyuman sinis.


"Tapi ... gue nggak mau ngerusak dia. " lirih Yunan menatap bingung ke arah Kheylin.


"Ck, gue tau lo sayang sama dia. Tapi dia nolak lo dan milih Maldev, 'kan? Gue tau lo benci mereka." Sinis Kheylin.


"Bukannya lo deket banget sama Jia?" tanya Yunan kemudian dan membuat gadis itu mendengus sebal.


"Nggak, gue benci sama dia. Dia selalu di atas gue, dia selalu di puji dengan baik di atas gue. Bahkan dia ambil Maldev dari gue. Sahabat kecil, dan cinta pertama gue."


Kheylin menatap sinis ke arah Jia yang sudah beberapa kali memejamkan matanya sambil bersandar di tubuh Maldev.


Kheylin benci. Mereka sudah saling mengenal sebelum dia yang tadinya akan memberi tahu Jia soal lelaki yang di sukainya. Maldev, sahabatnya dari kecil.


Keduanya bertemu saat sama-sama di Kanada. Maldev yang tengah mengunjungi keluarganya di sana, sedangkan Jia yang memang pernah tinggal bersama neneknya di sana. Hingga Jia harus pulang terlebih dahulu karena ibunya meninggal.


Sampai mereka akhirnya di pertemukan lagi di Indonesia, saat Jia menginjak kelas dua SMA. Keduanya lebih terkejut ketika tahu Maldev adalah sahabat Kheylin.


Bahkan Kheylin, gadis itu lebih terkejut Maldev dan Jia sudah saling mengenal.


Sampai dia tidak sempat memberi tahu Jia akibat lebih dulu Maldev yang kembali lagi. Sebabnya, karena sepertinya Maldev saat itu juga terlihat menyukai sahabatnya itu.


Kheylin benar-benar benci, dia yang sejak dulu berada di samping Maldev bahkan tidak sekalipun lelaki itu menganggapnya lebih dari sahabat.


Jia selalu lebih tinggi darinya. Selalu di banggakan karena kencantikan dan keramahannya. Kheylin mengakui jika Jia adalah gadis yang sangat baik hati.


Tetapi Kheylin muak. Dia benci, dan lama kelamaan kebenciannya kepada gadis itu menjadi semakin besar.


"Tapi—"


"Ikutin aja rencana gue." Tekannya tajam.

__ADS_1


Yunan hanya menghela napasnya. Matanya menatap Jia sendu di sana, gadis yang di sukainya dari awal mereka satu kelas di kelas satu SMA.


Tubuhnya mendekat ke arah Maldev, dan mendekatkan bibirnya ke telinga lelaki itu.


"Gimana? Orangnya udah nggak sadar juga."


Maldev hanya melirik dengan ekor matanya, kemudian menatap gadis yang masih bersandar kepadanya.


"Gue ... belum siap kalo dia hamil."


Yunan memutar bola matanya, "itu malah bagus, brother! Lo bisa ambil kekayaan papanya nanti. Lo nggak inget gimana om Dharma ngerendahin lo waktu itu? Nggak suka sama lo?"


Maldev terdiam.


"Rusak anaknya."


Tidak. Sungguh bukan itu maksud Maldev mempertimbangkan tawaran sepupunya beberapa waktu yang lalu. Dia menyayangi Jia, tulus. Bukan karena harta, dendam atau apapun. Dia tidak apa-apa soal Dharma yang tidak menyukainya.


Yunan juga sebenarnya berat mengatakan itu. Dia masih menyayangi Jia, dan tidak ingin menyakiti gadis itu. Tetapi, dia juga merasa sakit. Cintanya tidak terbalaskan karena gadis itu lebih memilih sepupunya.


Maka dari itu Yunan menawarkan rencana itu kepada Maldev. Alih-alih menyuruh Maldev merusak Jia dan mengambil kekayaan gadis itu dengan alasan balas dendam, padahal rencana yang asli adalah rencananya bersama Kheylin. Seseorang yang sama sepertinya. Cintanya yang tak terbalaskan.


"Gue pesen bir lagi." Kata Yunan sebelum beranjak dari duduknya dan keluar dari ruang karaoke.


Maldev masih terdiam dengan pikirannya. Keluarganya tengah berada di masa sulit, dan pamannya, alias ayah Yunan sedang tidak bisa membantu. Lagi, pria bermarga


Abhicandra itu tidak menyukainya. Tapi itu bukan berarti dia juga dendam dengan pria itu.


Tetapi jujur, Maldev benar-benar menyayangi Jia bukan karena itu.


Hingga pandangannya teralihkan kepada Yunan yang baru saja memasuki ruang karaoke lagi.


"Nan." Maldev mencekal lengan lelaki itu.


"Gue nggak bisa."


Yunan menghembuskan napasnya kasar mendengar itu. Tangannya dia gunakan untuk mengusap wajahnya.


"Terus gimana?" tanyanya kembali.


"Kalo di gantikan orang lain, bisa juga, 'kan? Lo nggak harus merasa bersalah karena udah ngerusak dia." Sahut Kheylin yang baru saja datang dengan enteng.


Ya, Kheylin tidak peduli dengan siapa yang menyentuh Jia. Yang terpenting, gadis itu hancur.


"Tapi gue juga bakal ngerasa bersalah walaupun orang lain yang ngerusak dia!" geram Maldev menatap tajam gadis itu.


"Gue bakal ngerasa bersalah bikin dia sakit ...."


"Mau kemana, Ra!"


Mereka semua menoleh dengan pertanyaan Senno yang sedikit keras di sana.


"Mau pulang gue. Udah ngantuk." Sahut Yora merapikan tasnya.


Pandangan gadis itu menatap segerombolan orang yang tengah mengobrol.


"Jia belum pulang sekarang? Udah mabuk banget gitu."


"E-eum, dia nanti sama gue kok."


Yora mengangguk mendengar jawaban Maldev, dia percaya dengan lelaki itu. Kakinya lalu mulai melangkah lagi menuju pintu ruang karaoke.


Keluarnya Yora bertepatan dengan seorang lelaki yang masuk dengan tangan yang membawa nampan berisi banyaknya gelas bir. Pesanan Yunan tadi. Semua yang ada di sini mengalihkan pandangan ke pelayan muda itu di balik topeng mata mereka.


Kheylin tersenyum sinis. Tangannya menepuk lengan Yunan, lalu menatap Maldev, menyuruh kedua lelaki itu untuk mengikuti arahan dagunya.


Yunan yang mengerti lalu tersenyum sinis. Lain halnya dengan Maldev. Dia paham, dia mengerti. Dan rasanya dia tidak ingin melakukan itu.


"Gas!" seru Yunan memerintahkan Gasta mendekat. Di ikuti oleh Senno dan Alwan.


Setelah mendapat arahan dari Yunan, ketiga lelaki itu terkekeh sinis dan mulai mendekati pelayan muda tadi. Dengan mereka yang langsung menarik tangan pelayan itu ke belakang, serta Yunan yang mulai mendekat dan meraih gelas berisi bir di meja.


"Uhuk!"


Mereka semua tertawa sinis melihatnya, berbeda dengan Maldev yang merasa sangat bingung di belakang sana.


"Uhuk! Kalian ... apa-apa-"


Lelaki itu tidak bisa menghentikan orang-orang bertopeng mata di depannya yang terus menyuruhnya meminum bir itu dalam takaran yang banyak. Dia terbantuk beberapa kali.


Setelah gelas pertama habis, Yunan meraih satu gelas lagi yang baru saja di letakan oleh Kheylin di atas meja.


"Apa?"


"Tentu saja obat." Jawabnya tersenyum sinis.


Yunan membalas senyuman itu tak kalah sinis, dia meminumkan bir lagi yang sudah di masukan obat perangsang oleh Kheylin tadi.


"Jia tadi udah?" tanya Yunan lagi.


"Tentu saja."


Kheylin terkekeh sinis menatap lelaki yang tenaganya mulai habis itu.


"Stop! Kalian gila?!"


Maldev dengan napas memburu menatap mereka satu per satu, lalu menatap lelaki yang sudah lemas dengan seragam yang basah itu.


"Lo juga setuju, 'kan? Nggak usah munafik, sialan."


Maldev terdiam mendengar pertanyaan Yunan. Matanya mengikuti pergerakan Kheylin yang mulai mendekat ke arah Jia berada. Dan yang membuatnya lebih terkejut, gadis itu mulai melepaskan pakaian Jia dan hanya menyisakan rok dan kaos tanpa lengannya.


"Bawa ke sini."


Gasta mengangguk lalu menyeret pelayan itu mendekat ke sana, mendudukkannya di samping Jia yang sama-sama setengah sadar.


"Ayo tinggalin mereka."


Maldev masih terdiam di tempat ketika Yunan mulai menarik tangannya untuk keluar. Hingga tanpa sadar, tubuhnya yang terasa lemas terseret keluar oleh tarikan sepupunya itu.


"Udah-udah, yuk kita tunggu di luar?"


Hingga mereka semua pergi keluar dan memesan ruang karaoke yang berada di sebelahnya. Melanjutkan acara minum mereka lagi di sana.


Tanpa Jia, dan juga pelayan muda tadi.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


Jakarta, malam ini.


Dadanya semakin terasa sesak mengingat itu.


Nanggala merasa matanya semakin memanas lagi.


Itulah kilasan kejadian-kejadian yang sering muncul di mimpinya selama ini.


Nanggala mengingat semuanya, dia kini mengingat semuanya dengan jelas. Hal-hal dan kejadian masa lalu yang menghantuinya beberapa waktu ini benar adanya.


Dan ternyata memang bukan mimpi. Kejadian itu nyata yang pernah di alaminya dulu.


Lelaki itu adalah dia. Pelayan yang di cekoki bir itu adalah dia.


Dan, dia yang sudah menyentuh Jia ....


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Gimana nih part ini><...


...Jika ada typo nama aduh maafkan yaaa, jujurly saya udah ngantuk banget😩🙏🏻...

__ADS_1


...Boom komen setelah membaca yaa♡...


__ADS_2