
Dentuman musik mengiringi jam dinding yang terus berputar, waktu sudah menunjukan pukul 11.48 malam, hampir tengah malam dan keadaan Cafe ini semakin ramai sejak tadi. Lelaki yang berdiri di belakang meja bartender itu sedari tadi tengah sibuk membuat beberapa minuman. Memang seramai itu.
"Na?"
Kepalanya menoleh ke samping "iya, Kak?"
"Buatin minuman ya, nanti anter ke cowok yang duduk di meja nomer 7 itu." Jari telunjuk Jayden mengarah ke depan.
Nanggala-pun mengikuti arah tunjuk lelaki itu, setelah matanya menangkap seseorang yang Jayden maksud, kepalanya mengangguk lalu mulai membuatkan minuman dan nanti akan di antarkannya ke sana. Dan setelah selesai, dia pun keluar dari meja bartendernya dan berjalan menuju tempat itu.
"Selamat malam," sapanya ramah kepada lelaki yang tadi tengah menatap sekelilingnya, hingga perhatian lelaki itu beralih kepadanya, "silahkan."
Nanggala meletakkan minuman itu di meja sang pengunjung. Memang terlihat lelaki itu duduk seorang diri disini, tidak ada siapa pun yang menemaninya. Kepalanya lalu mendongak, dan bertemu dengan mata lelaki itu.
Nanggala terkejut.
Bukan terkejut dengan lelaki itu, tetapi terkejut karena lelaki itu yang menatapnya sambil melebarkan sedikit kedua bola matanya.
Kenapa dia menatapnya seperti itu? Nanggala ... tidak mengenal.
"Eum, maaf?"
Lelaki itu masih menatapnya seperti tadi, terdiam, tidak ada kata-kata yang dia keluarkan. Tetapi sesaat kemudian pandangannya beralih ke arah lain.
"I'm sorry."
Nanggala menganggukkan kepalanya paham, lantas lelaki itu menatap ke arahnya lagi. Namun tetap saja tidak ada kata-kata lagi yang keluar dari bibir lelaki berjaket hitam di hadapannya ini. Dia hanya bingung dengannya, apakah mereka pernah bertemu sebelumnya? Entahlah. Rasanya tidak pernah.
Hingga Nanggala merasa suasananya jadi canggung, hanya suara musik keras yang mengisi kecanggungan mereka. Sampai dia akhirnya menundukkan kepalanya untuk berpamitan kepada lelaki itu.
Sementara lelaki itu masih menatap kepergian Nanggala dengan tatapan yang sulit di artikan. Rasanya seperti ... Ah, memang benar-benar terkejut. Tangan kanannya mengusap wajahnya kasar, napasnya terasa tertahan, dan dengan cepat meneguk minuman yang tadi pelayan itu bawakan.
"****."
.......
.......
.......
Jia ... sakit.
Gadis itu demam, saat tadi Nanggala pergi ke rumahnya untuk menjemput gadis itu sekolah seperti biasanya, dia di beri tahu bibi kalau gadis itu sakit. Dia lagi-lagi merasa sesak dan menyalahkan dirinya sendiri.
Pasti itu semua karena kejadian yang kemarin.
Sempat menengok Jia tadi sebelum dia berangkat. Memang benar, suhu tubuhnya sangat tinggi, wajahnya juga pucat. Dia sakit melihat Jia sakit seperti itu.
Langkah kaki Nanggala di koridor pagi ini terasa sangat lemas, biasanya saat dia berjalan kemana pun akan ada gadis itu yang memeluk lengannya, namun kini tidak. Kepalanya menoleh ke arah kanannya saat ada yang menyentuh pundaknya.
Nanggala tersenyum.
"Lah, Jia mana?"
Di hembuskan napasnya pendek, "sakit, Sen."
"What?? Jia sakit apa?!"
Bukan Rasen yang berteriak seperti itu tadi tepat di telinga kiri Nanggala, melainkan lelaki yang kini menarik kedua bahu Nanggala paksa untuk menghadapnya.
"Jawab gue dong, Na?!" serunya lagi mengguncangkan bahu itu cepat.
Nanggala sendiri yang merasakan itu hanya memejamkan matanya. Haksa sangatlah heboh.
"Diem lo kambing! Lepas!" Rasen yang merasa kesal langsung saja menghempaskan tangan kembarannya dari bahu Nanggala lalu menatapnya sinis.
"Ihh, kan Acca penasaran!"
"Najis, gue gampar ya mulutnya ya?" Nadanya sudah tidak sekeras tadi, namun tetap saja matanya masih menatap tajam Haksa.
Nanggala terkekeh sejenak, mereka ini ada-ada saja. Hari bahkan masih pagi, jam pelajaran pertama juga belum di mulai namun mereka sudah seribut ini.
Jangan heran wahai Nanggala, dari mereka bangun tidur tadi saja sudah penuh dengan perdebatan keduanya di rumah. Jadi jangan heran dengan kedua saudara itu, yang kadang sang ibu saja ingin menenggelamkan mereka ke sungai.
"Jia cuma demam kok." Jawab Nanggala kemudian setelah melewati perdebatan panjang mereka terlebih dahulu.
"Perasaan yang kemarin bilang pusing lo deh, Na?"
"Ah?" Nanggala tersenyum kikuk mendengar itu, "gue udah sembuh kok, sekarang malah Jia yang sakit." Pungkasnya kemudian.
Ya, sebisa mungkin Nanggala beralibi seperti itu. Dia tidak ingin mereka tahu tentang kejadian kemarin, bahkan sangat menyakitkan untuknya hingga sekarang.
"Kening lo kenapa deh?" tanya Rasen sambil mengangkat tangannya menyentuh kening orang yang di maksud.
Nanggala yang melihat itu refleks sedikit memundurkan tubuhnya, tangannya juga terangkat menutupi kening bagian kanannya. Padahal sudah dia tutupi dengan rambut depannya, kenapa Rasen masih saja sadar?
"Nggak papa, Sen. Gue kejedot semalem, makanya gue bilang pusing." Kekehnya kecil dan berharap Rasen percaya dengan apa yang dia katakan beberapa detik yang lalu itu.
Tidak ada jawaban dari Rasen, dia masih menatap anak itu intens. Rasanya bukan seperti itu, rasanya luka itu bukan di sebabkan karena terbentur sesuatu. Namun saat melihat senyuman manis Nanggala yang dia tahu jika lelaki itu tengah berusaha meyakinkannya, mampu membuatnya mengangguk pasrah.
Tetapi dia sangat yakin bukan itu kejadian yang sebenarnya. Pasti ada sesuatu yang lain yang terjadi kepada mereka kemarin. Sesuatu yang membuat Nanggala pulang terlebih dahulu dengan alasan pusing.
Matanya kini melirik sang kembaran yang tengah senyum-senyum genit sambil mengerlingkan sebelah matanya kepada gadis-gadis yang berada di koridor saat ini.
Rasen merotasikan kedua matanya dan menghembuskan napasnya panjang.
"Aaaaa! Rasen sakittt!"
Hingga selanjutnya, suara Haksa yang keras menggema di koridor, saat dengan tiba-tiba rambutnya tertarik ke belakang dan membuat tubuhnya juga terseret.
Rasen Adlano pelakunya.
Sedangkan Nanggala hanya meringis melihat Rasen menjambak rambut Haksa dan menariknya pergi dari sini.
"Nggak usah tebar pesona lo item!"
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Nanggala menghembuskan napasnya ketika sudah keluar dan menutup lagi pintu UKS. Beruntungnya denyutan di kepalanya sudah tidak seperti tadi, pun dengan perutnya. Memang, jam istirahatnya lelaki itu gunakan untuk pergi ke UKS.
Matanya menatap sekelilingnya, dia akan langsung kembali ke kelas sekarang. Kakinya melangkah menaiki tangga, sedikit sepi karena sepertinya bell masuk mungkin masih beberapa menit lagi berbunyi.
Brak!
Nanggala terkejut mendengar suara dari atas, yang sepertinya memang tepat berada di atasnya.
Langkah kakinya sempat terhenti, lalu mulai melanjutkan lagi menaiki tangga itu pelan. Dari suaranya tadi seperti tubuh yang di benturkan ke pintu.
"Lo marah ke gue? Lo peduli sama si miskin?"
Samar-samar Nanggala bisa mendengar suara itu dari bawah sini.
"Yang buat kakak lo kayak gitu si Kheylin! Lo nggak berhak marah ke gue! Karena gue mukulinnya si miskin, bukan kakak lo!"
Nanggala memberhentikan langkahnya mendengar kata-kata itu, kepalanya lalu mendongak ke atas. Tangannya yang sejak tadi memegang besi tangga itu meremasnya kuat, pun tatapannya kosong menatap ubin-ubin yang di pijakinya kini.
"Tapi gue nggak akan terima tonjokan lo yang tadi ini. Haha, lo salah orang, brother!" tawa itu benar-benar menggema sekarang.
Nanggala tahu itu suara siapa.
"Sedang apa kalian!"
Beberapa dari mereka terkejut mendengar suara itu, dan terdengar suara beberapa langkah kaki yang seperti meninggalkan tempatnya.
"Kita ketemu di deket danau nanti malem."
Lamunannya sejak tadi perlahan buyar, kepalanya mendongak lagi dan langsung mendapati lelaki yang baru saja turun dari tangga dengan berlari.
Sementara lelaki itu yang menyadari keberadaan Nanggala refleks memberhentikan larinya dan sekilas menatapnya sinis.
Nanggala terdiam saat mata mereka bertemu, matanya selalu menatap sendu lelaki tersebut. Hingga akhirnya, dia mengabaikan tatapannya dan mulai melanjutkan langkahnya lagi pergi dari hadapannya. Tak lupa menubruk bahunya juga.
Dari mana lelaki itu tahu?
Dari mana lelaki itu tahu apa yang dilakukan Kheylin kemarin malam? Jia kah yang memberi tahu? Namun Nanggala rasa itu tidak mungkin.
Lalu dari mana ....
.......
__ADS_1
.......
Hari sudah malam, namun suasana toko kecil yang bernuansa pink putih ini masih ada saja yang berkunjung sejak tadi. Entahlah, padahal diluar saat ini tengah gerimis. Banyak orang yang mampir ke sini untuk sekedar memesan kue, camilan kue kering atau minuman hangat.
"Budhe, biar Nanggala aja."
Thalia memberhentikan langkahnya dan menengokkan kepalanya, "ya ampun cah bagus, kamu baru pulang, capek. Mending istirahat aja di kamar Yodhan, yo?"
Anak itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum, lalu mengambil alih nampan berisi dua piring kue dan dua gelas latte panas itu dari tangan Thalia.
"Enggak capek, Budhe. Nanggala cuma belajar sepanjang hari, nggak capek. Lebih capek Budhe, 'kan?"
Thalia terkekeh mendengarnya, tangannya menepuk pelan lengan anak itu.
"Iyo iyoo, Nanggala-nya Budhe sing manis~ Sana anterin."
Keduanya terkekeh bersamaan dengan Thalia yang masih beberapa kali menepuki lengannya, hingga beralih ke punggungnya.
Nanggala sejak tadi menahan wajahnya agar tidak sampai mengeluarkan ringisannya di depan wanita itu. Dia tidak ingin wanita itu tahu lagi jika tubuhnya luka-luka lagi.
Selanjutnya, kakinya mulai melangkah ke meja pengunjung dekat jendela disana. Nanggala tersenyum manis sambil meletakan pesanan mereka di meja, dengan kedua orang itu yang juga tersenyum kepadanya.
Kakinya melangkah untuk kembali ke belakang menghampiri Thalia lagi, namun yang berdiri disana saat ini adalah Yodhan. Lelaki itu tersenyum ke arahnya.
"Budhe?"
"Ke atas sebentar."
Nanggala menganggukan kepalanya paham.
"Gimana sekolah lo?"
Kepalanya menoleh, "baik kok, Mas." Senyumnya manis meyakinkan Yodhan kalau semuanya baik-baik saja.
Yodhan menatap intens Nanggala, namun kemudian menganggukan kepalanya. Dia ini masih penasaran siapa yang membuat adiknya luka-luka seperti itu waktu lalu.
Nanggala menghembuskan napasnya lagi, dia berharap Yodhan percaya kepadanya. Diliriknya jam di tangannya, dia sempat terdiam beberapa saat.
Kling!
Lelaki itu mengernyitkan alisnya yang baru saja mendapat pesan whatsapp itu.
Jiara🍓
| Nala ....
| Besok Jia udah sekolah lagi kan?
| Jia nggak mau lama-lama
| Jia kangen Nala
22.12
Seketika senyumnya mengembang membaca pesan itu. Ya ampun, gadis itu belum tidur?
^^^Iya, besok Jia udah sekolah lagi |^^^
^^^Nala lebih kangen Jia |^^^
^^^Tidur gih, besok Nala jemput |^^^
^^^22.13^^^
Nanggala terkekeh ketika beberapa saat kemudian tidak ada balasan lagi dari gadis disana. Selalu seperti itu, Jia pasti benar-benar akan menurutinya dan langsung tidur.
Dia jadi gemas sendiri.
^^^Sweet dream, cantik .... |^^^
^^^22.16^^^
Nanggala mendongak lagi menatap Yodhan di depannya, syukurlah lelaki itu tidak melihat dia yang sejak tadi tersenyum sendiri. Tubuhnya lalu dia tegapkan lagi kala teringat sesuatu yang tengah di pikirkannya tadi.
"Mas, Nanggala keluar dulu, ya?"
Lelaki yang di panggil itu menoleh, "kemana?"
"Eum, ketemuan sama temen."
Nanggala mengangkat jempolnya dan segera melangkahkan kakinya keluar, meskipun diluar sekarang sedang hujan kecil.
"Na bawa payung!" teriak Yodhan meskipun anak itu sudah tidak terlihat.
Yodhan menggelengkan kepalanya dan terkekeh, kepalanya menoleh ke samping dan mendapati ponsel Nanggala berada diatas meja.
"Na HP-nyaa!!!"
Hingga lelaki itu tersenyum kikuk saat beberapa pengunjung di depannya memfokuskan tatapan mereka ke arahnya.
.......
.......
.......
Jerga menghembuskan napasnya pendek, di tatapnya jam yang berada di atas meja belajarnya itu. Waktu menunjukan pukul 22.30, dia ada janji.
Tidak, bukan janji. Seseorang yang tadi siang itu menyuruhnya untuk menemuinya di suatu tempat. Jerga sebenarnya tidak mau, malas sekali menemui lelaki itu di tengah hujan kecil seperti ini.
Dia tidak peduli lelaki itu akan marah dengannya atau apa. Benar-benar tidak peduli.
Kling!
Ponselnya yang terletak di atas meja yang baru saja menyala itu hanya dilirik dengan ekor matanya, dia menghembuskan napasnya panjang lalu meraihnya.
Yunan
| Lo nggak usah dateng kesini
| Udah ada yang nggantiin lo, haha
22.32
Jerga mengernyit membaca pesan dari lelaki itu. Sejenak berpikir, sudah ada yang menggantikan dia? Maksudnya?
Jerga sejak tadi memang tidak memperdulikan ucapan Yunan tadi siang untuk menemui lelaki itu di dekat danau, dia tidak peduli lelaki itu akan mengamuk atau memukulinya lagi. Dan baru saja dia dapat pesan yang mengatakan dia tidak perlu datang ke sana?
Siapa ....
Matanya terpaku ketika mengingat sesuatu.
Dengan cepat tubuhnya beranjak dari duduknya dan pergi keluar kamarnya, lalu membuka pintu kamar yang terletak di sebelah kamarnya.
Jerga masuk pelan-pelan, kamar kakaknya sudah gelap, dan bisa dia lihat disana memang sang kakak sudah tertidur. Lelaki itu tersenyum tipis, melangkah mendekati ranjang, tangannya terulur untuk membenarkan selimut gadis itu lalu mengusap kepalanya lembut.
Kakaknya sakit. Dan semua ini karena gadis itu.
Kheylin.
Jerga sedikit menggertakan giginya kala mengingat itu. Dia melihat sendiri, melihat bagaimana kakaknya di perlakukan sebegitu kejamnya di gudang kemarin.
Karena Jerga mengikuti mereka.
Dia memang sempat pamit dengan Rasen akan ke toilet juga cukup lama setelah kepergian Nanggala dan Jia. Dia hanya penasaran, kenapa kedua orang itu sangat lama pergi ke toilet.
Hingga saat dia berjalan sambil mencari keberadaan kakaknya, matanya melihat ketiga gadis memasukan kakaknya ke dalam gudang. Dia mengikutinya, lelaki itu semakin membulatkan matanya dan merasa marah melihat dari celah gudang, apa yang tengah ketiga gadis tadi lakukan kepada kakaknya.
Dia juga melihat Nanggala, serta Yunan beserta temannya yang lain. Ingin sekali dia masuk kesana dan menghajar siapa saja yang berlaku kasar kepada kakaknya, namun kakinya terasa berat untuk melangkah maju. Hanya terdiam di balik pintu sambil mengepalkan tangannya sangat kuat.
Bodoh. Dia memang bodoh.
Jerga memejamkan matanya mengingat itu. Mereka sudah sangat keterlaluan, dia sempat menyesal rasanya dulu dia pernah menyukai Kheylin.
Matanya lalu menangkap benda yang menjadi alasan dia disini sekarang ini. Jerga meraihnya dan membukanya, ada notifikasi pesan yang belum terbaca disana.
Nala🐰
| Sweet dream, cantik ....
22.16
Matanya juga membaca beberapa pesan sebelumnya, diliriknya lagi sang kakak yang terlihat sudah nyenyak itu, napasnya di hemembuskan panjang. Dengan cepat ibu jarinya menekan ikon telepon pada room chat itu, hingga tidak lama panggilannya seseorang itu jawab.
__ADS_1
"Dimana lo sekarang."
Seperti bukan pertanyaan, Jerga mengucapkannya begitu dingin. Lantas lama tidak ada jawaban disana membuat dia menggeram kesal.
"Na."
"HP Nanggala ketinggalan, perasaan namanya cewek, kok suaranya cowok?"
Jerga terdiam mendengarnya. Itu memang bukan suara Nanggala.
"Gue adiknya yang punya HP ini."
"Ooooh."
"Dia kemana?"
"Tadi bilang mau ketemu temennya."
"Dimana?"
"Nggak bilang, langsung lari anaknya."
"Oke, thanks, Kak."
Sebenarnya asal saja memanggilnya dengan sebutan 'kak', karena dari suara yang Jerga dengar memang seperti seseorang yang lebih tua darinya.
Jerga menghembuskan napasnya, meletakkan ponsel milik kakaknya lagi lalu dengan cepat keluar dari sini. Lelaki itu kembali masuk ke kamarnya, dan tidak lama kemudian keluar lagi sambil mengenakan jaket hitamnya dan ada kunci motor juga di tangannya.
"Mau kemana."
"Jerga!!"
Jerga benar-benar mengabaikan teriakan ayahnya di belakang sana, dia terus melangkah dengan langkah yang cepat menuju keluar rumah.
Ah, sial, masih saja hujan kecil.
Lagi-lagi mengabaikan itu, Jerga mengeluarkan motornya dari garasi, dan dia tidak peduli hujan kecil atau hujan lebat yang akan jatuh menabrak tubuhnya.
.......
.......
Bugh!
"Akh!"
Tubuh itu jatuh tersungkur ke bawah dengan cepat, matanya terpejam meringis, tangannya memegangi perutnya yang sejak kemarin sudah nyeri, kini semakin terasa nyeri. Dia sampai tidak peduli dengan tubuhnya yang sudah basah kuyup karena hujan itu.
Memang tadi hujan kecil, namun kini hujan semakin deras saja.
"Bangun lo miskin."
Yunan menarik kerah hoodie Nanggala hingga membuat lelaki itu berdiri, bahkan sekarang hoodie putihnya itu sudah sebagian berwarna cokelat.
Lelaki bertubuh tinggi itu tersenyum sinis menatap wajah Nanggala yang sepertinya tubuhnya mulai melemas itu. Dia tidak banyak memukuli Nanggala pada bagian wajah, hanya beberapa kali saja. Karena dia lebih suka memukulinya di bagian perut atau punggung.
"Ck ck ck, lo mau jadi pahlawan, ha?" senyumnya masih menyeringai sinis, tangannya terangkat mencengkram dagu itu, "Nanggala, miskin nggak tau diri pahlawan si kembar, haha."
Matanya sayu menatap Yunan yang tengah tertawa di hadapannya.
Sungguh, seluruh badannya terasa sangat sakit, bahkan Nanggala merasakan tubuhnya mulai lemas seperti tidak bertenaga. Memang, sejak tiga puluh menit yang lalu, dia hanya diam ketika Yunan dan teman-temannya tidak berhenti memukulinya.
Tidak apa-apa. Asalkan bukan Jerga.
"Cocok banget sih kalian bertiga? Haha, kumpulan orang nggak berguna." Gasta berjalan mendekat dan mendorong kening Nanggala.
"Pukul gue sepuas lo ... hhh ..," napasnya terengah, "sakitin gue sepuas lo ..." matanya sayu menatap lelaki di hadapannya.
"Asal jangan Jerga ..." Sambungnya, matanya terpejam meringis menahan sakit di perutnya.
Yunan terkekeh sinis mendengar itu.
"Emang itu yang gue mau."
Lelaki itu menarik kerah belakang hoodie Nanggala dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya sudah ancang-ancang memukul perut itu lagi.
Bugh! Bugh!
Beralih ke rambut Nanggala, Yunan menariknya kencang ke belakang, lalu tangan kanannya melayang memukul pipi itu dua kali.
Namun kalau sudah begini, Yunan tanpa sadar juga akan memukuli wajah Nanggala.
"Akh ...."
Nanggala memejamkan matanya kuat, tubuhnya sudah jatuh tersungkur lagi ke bawah. Posisi mereka saat ini berada di bawah jembatan danau. Bukan tepat di bawah, melainkan memang sedikit diluar.
Lagi pula sekarang juga hujan, tidak mungkin ada orang yang lewat dan melihat mereka.
"Uhuk, uhuk ..." suaranya bergetar, sementara di sekitar dagunya kini sudah memerah karena darah.
Hanya terdengar ringisan dan suara kesakitan Nanggala, serta suara tawa ke empat lelaki yang sepertinya belum puas memukulinya sejak tadi.
Nanggala menyentuh bawah hidungnya yang seperti ada sesuatu mengalir. Di lihatnya dengan mata yang semakin berkunang-kunang itu, ada darah yang kini bercampur dengan air hujan. Dia meringis lagi, napasnya terengah-engah dan matanya menatap lurus ke langit hitam yang berada di atasnya.
Kepalanya berdenyut, seluruh tubuhnya seperti remuk, rasanya seperti akan berakhir.
Bugh!
Suara itu tentu saja membuatnya terkejut, kepalanya dengan susah payah menoleh ke samping, dan langsung melihat tubuh Yunan yang sudah tersungkur di sampingnya.
Kepalanya mendongak.
Sementara Yunan terkekeh sinis mendapatkan pukulan itu, di usapnya ujung bibirnya yang sudah mengeluarkan darah.
"Sialan."
Hal itu tentu saja juga membuat Gasta, Senno dan juga Alwan terkejut dengan kedatangan seseorang itu.
Dengan cepat tubuh tingginya berdiri dan akan melayangkan pukulannya kepada lelaki di hadapannya, sebelum suara sirine mobil polisi menghentikannya.
"Argh, sialan!!"
Yunan menatap sinis seseorang itu, dia mengisyaratkan teman-temannya untuk lekas pergi dari sini. Lampu sirine itu terlihat berada di atas jembatan sana.
Nanggala berusaha mendudukan tubuhnya, namun terasa sangat sulit. Seluruh tubuhnya benar-benar remuk, wajahnya meringis beberapa kali.
Sementara seseorang yang masih berdiri di depan sana, tengah menatapnya dengan tatapan dinginnya. Napasnya terlihat memburu, tubuhnya lalu perlahan mendekat dan jongkok di depannya.
Tangannya terulur untuk memegang lengannya, membantunya berdiri.
"Cepet. Lo mau ke tangkep polisi?" nadanya dingin.
Nanggala menatap mata itu, mata yang masih menatapnya sinis, namun Nanggala merasa ada sedikit kekhawatiran disana. Dia dapat melihat itu. Hingga tubuhnya kini sudah duduk, dan selanjutnya yang membuat dia sedikit terkejut adalah, ketika lelaki itu membalikkan tubuhnya membelakanginya, namun masih posisi jongkok.
"Naik."
Nanggala masih terdiam melihat itu.
"Ck, naik!"
Terlalu lama, kedua tangan Nanggala ditarik untuk memeluk lehernya dari belakang, lalu perlahan mengangkat tubuh kurus itu dan menggendongnya, kemudian dengan cepat berlari menuju motornya yang dia parkirkan tak jauh dari sini.
Dia mendudukkan tubuh Nanggala di jok belakang motornya, lalu di lanjutkan dengan dirinya yang mulai menaiki jok depan. Tanpa sepatah kata yang lelaki itu ucapkan, tangannya dia gerakan lagi untuk mengambil kedua tangan Nanggala, dan di posisikan melingkar di pinggangnya.
Nanggala masih terdiam melihat dan merasakan apa yang sedari tadi lelaki itu lakukan kepadanya.
Seketika dadanya terasa sakit, tenggorokannya juga tercekat, matanya sudah memanas dan air mata sudah berlomba-lomba untuk turun dari kedua bola matanya.
"Jer—"
"Diem."
Hingga motor itu melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat ini, dengan Nanggala yang memeluk tubuh Jerga dari belakang, dan tidak terasa lelaki itu mulai menangis kecil dibalik punggung Jerga.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...• To be continued •...
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
__ADS_1
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ