
Nanggala menghembuskan napasnya panjang, kepalanya mendongak dan bisa dia lihat di depan sana toko budhe Thalia masih buka. Bibirnya tersenyum lalu menuntun lagi sepedanya dan berjalan ke sana.
"Selamat malam, Budhe?"
Thalia yang merasa ada yang memanggilnya pun membalikkan badannya yang tadi tengah sibuk membersihkan meja di luar tokonya.
"Eh, cah bagus? Baru pulang?" tanyanya menghampiri anak itu.
Sedangkan yang di tanya dengan cepat mengangguk dan tersenyum manis, "iya, Budhe."
"Ya ampun, pasti kamu capek yo? Yuk masuk? Makan malem bareng?"
"Ah, nggak usah Budhe makasih, Nanggala udah makan kok."
Thalia menatap anak itu tak percaya, ia tersenyum lagi sambil menarik lengan Nanggala untuk masuk ke rumah.
"Udah ayoo, udah lama Budhe ndak liat kamu, sibuk sekolah." Wanita itu terkekeh sementara tangannya masih memeluk lengan Nanggala.
"Tapi Nanggala bener udah makan, Budhe."
Kriuk
Mereka sama-sama terdiam dan saling menatap. Thalia menatap Nanggala dengan senyum kemenangan, sementara Nanggala yang di tatap seperti itu hanya tersenyum kikuk.
"Uwis, kamu itu ndak iso bohong karo Budhe."
Langsung saja Thalia menarik lengan anak itu untuk masuk ke rumah, tak lupa ia tutup toko dulu. Memang masih jam sembilan, tapi wanita itu sudah ingin menutupnya, rasanya tubuhnya lelah sekali hari ini.
Thalia membalikkan tubuhnya dan tersenyum, "yuk, Nanggala?"
Yang di panggil mengangguk, tangan wanita itu kembali menuntunnya sampai ke lantai atas. Mereka memasuki pintu bersamaan, dan bisa Nanggala lihat di sana Hardi beserta Yodhan tengah menonton tv bersama.
Thalia melepaskan tangannya yang menuntun Nanggala lalu menyuruhnya untuk pergi menghampiri suami dan anaknya, sedangkan wanita itu berjalan ke arah dapur untuk membawa makanan.
"Loh, Nanggala?"
"Lama banget nggak liat lo."
Nanggala tersenyum menatap kedua orang itu, Yodhan mengajaknya untuk duduk di sampingnya. Memang, dia pikir juga lama, dengan Yodhan, kalau dengan pakde dan budhe setiap hari saja Nanggala bertemu mereka.
"Makanan datang~"
Suara yang datang itu membuat ketiga lelaki yang berada di ruang tv langsung menoleh bersamaan, Nanggala dengan cepat beranjak dari duduknya dan membantu menerima beberapa piring atau mangkok yang Thalia bawa.
"Waah, enak nih?"
Thalia yang baru saja duduk langsung memukul punggung tangan anak lelakinya.
"Itu buat Nanggala!"
Yodhan yang mendengar itu langsung mengerucutkan bibirnya beberapa senti, membuat Hardi dan juga Nanggala terkekeh kecil melihatnya.
Dua ikan segar yang tadi pagi Thalia beli di pasar, katanya memang ingin sekali memasak untuk Nanggala. Tadi berniat akan menyuruh anak lelakinya itu untuk mengantarkan ke kost-an Nanggala, tetapi kebetulan tadi anak itu menghampirinya, jadi makan bersama saja.
"Nah, maem sing banyak yo cah bagus?" Thalia tersenyum sambil menepuk-nepuk punggung Nanggala.
"Ahs ...."
Tepukan Thalia pada punggung Nanggala yang masih terasa nyeri itu, membuat si empunya meringis kecil. Meskipun kecil, ringisan itu mampu membuat ketiga orang itu menatapnya.
"Nanggala kenopo?"
Thalia tentu saja menatap anak itu dengan khawatir, karena memang dia rasa tepukannya tadi tidaklah terlalu keras, tetapi Nanggala sampai meringis.
Nanggala menoleh dengan cepat, "ah, enggak apa-apa, Budhe." Dia lalu menegapkan lagi punggungnya, tersenyum ke arah mereka bertiga seperti mengatakan kalau dia benar-benar tidak apa-apa.
Tapi Thalia tidak percaya itu, tangannya terangkat untuk menyentuh punggung Nanggala. Dan lagi-lagi anak itu memejamkan matanya, refleks punggungnya juga sedikit maju ke depan.
Wanita itu menghembuskan napasnya, "Budhe liat."
Nanggala menoleh sedikit terkaget. Hardi dan Yodhan yang duduk berhadapan dengan mereka juga penasaran.
"Enggak apa-apa, Budhe. Nanggala cuma jatuh dari sepeda."
Thalia merubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan Nanggala. Lelaki itu sedikit takut juga melihat tatapan Thalia seperti itu.
"Ndak, waktu itu juga kamu bilang kamu jatuh dari sepeda. Coba Budhe liat."
Mau tidak mau akhirnya Nanggala merubah posisi duduknya menghadap ke kanan, membelakangi Thalia. Dia hanya menghembuskan napasnya pasrah ketika merasakan seragam bagian belakangnya itu terangkat perlahan.
"Astagfirullah al adzim ...."
Lelaki itu tidak berani menoleh ke belakang, dia hanya melirik dengan ekor matanya, wajahnya benar-benar dia tundukkan.
Thalia jelas terkejut ketika ia menarik seragam Nanggala ke atas, luka memar dimana-mana, namun membentuk garis. Sama halnya dengan Hardi dan Yodhan, mereka sudah menghentikan makan mereka sejak tadi guna ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.
"Na, lo kenapa??!" tanya Yodhan khawatir dengan nada sedikit keras.
"Nanggala ... Luka koyo gini ndak mungkin jatuh dari sepeda ..." Thalia menatap khawatir dan sendu punggung itu.
"Ngomong karo Pakde, sopo sing nyakitin kamu?" Hardi-pun ikut bersuara.
Nanggala yang mendengar itu hanya mampu menunduk, tubuhnya lelaki itu balikkan lagi perlahan lalu menatap satu per satu mereka. Dia bingung.
"Bilang sama Mas, biar Mas hajar orang itu!" seru Yodhan.
"Eum, nggak Mas. Nanggala cuma berantem sama temen kok." Senyumnya manis lalu menoleh ke arah Thalia, wanita itu masih menatapnya sendu.
"Kamu kenopo berantem, Nak ...."
Kenapa hatinya sesak sekarang? Nanggala benar-benar merasakan sang bunda sendiri yang tengah bertanya seperti itu kepadanya.
Kepalanya menunduk.
"Maafin Nanggala, Budhe ...."
"Pakde, Mas Yodhan, maafin Nanggala...."
Mereka bertiga hanya menatap lelaki itu sendu.
Tidak mungkin juga Nanggala mengatakan yang sebenarnya, jika dia dipukuli oleh majikannya. Sudah pasti pakde dan budhe tidak akan terima itu, jadi sebisa mungkin dia menutupinya.
Beberapa detik kemudian Nanggala merasakan ada yang memeluknya. Wanita itu memeluknya lembut, tentu saja tidak erat. Dia tidak ingin membuat anak itu lebih sakit, "kalo ada opo-opo cerita sama kita ...."
Jujur Nanggala ingin sekali menangis, dia benar-benar ingin menangis. Pelukan Thalia selalu terasa hangat untuknya. Kepalanya lalu mengangguk pelan dengan senyuman manisnya.
"Yowis, lanjut makan yo?" Thalia mencoba tersenyum, dia merenggangkan pelukannya dan menyentuh lembut telapak tangan Nanggala yang dia taruh di atas karpet.
"Cah bagus, kamu ganti baju dulu pake punya Yodhan, nanti biar lukanya di obati sama Budhe."
Ibu dan anak itu yang mendengarnya langsung menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Hardi.
"Tidur disini aja malem ini."
"Nah, Budhe setuju sama Yodhan."
"Tapi, Nanggala besok ada wisata sekolah, Budhe."
"Yo bagus to? Budhe jadi iso masak bekal buat kamu."
Nanggala lagi-lagi hanya bisa pasrah, mereka cerewet sekali kepadanya, tetapi dia senang. Dia senang mereka sangat perhatian dengannya.
__ADS_1
Hingga mereka melanjutkan makan malam dengan hikmat, dan tak sedikit di bumbui bercandaan satu sama lain.
Dan sekarang ini, Nanggala tengah berada di kamar Yodhan untuk mengganti pakaiannya, setelah tadi luka-lukanya di obati oleh Thalia. Tubuhnya lelaki itu dudukkan pelan di ujung ranjang milik Yodhan, kepalanya menatap kosong ke depan, seseorang yang dia lihat tadi sore benar-benar terus mengganggu pikirannya.
"Apa bener itu bunda ....?"
"Kalo bener itu bunda, Nangga udah deket sama bunda ... Nangga pengin ketemu bunda."
Tak terasa kini ujung matanya sudah berair. Nanggala sesak, jika benar seseorang tadi adalah bundanya yang selama empat tahun ini menghilang, dia benar-benar ingin sekali memeluknya. Memeluknya dengan erat, menangis di pelukan sang bunda, menciumi wajah cantik sang bunda, dan banyak cerita lagi yang ingin Nanggala ceritakan.
"Punggung Nangga sakit, bun."
"Nangga sakit ...."
"Nangga kangen bunda ... Hiks."
Lelaki itu menangis di dalam kamar ini sendirian, beruntung tadi juga dia sudah mengunci pintu karena akan berganti baju. Bahunya naik turun sekarang, Nanggala menangis sambil menutupi matanya dengan lengan tangan kanannya.
Percayalah, menangis sambil menutup mata dengan tangan adalah tangis yang paling menyesakkan dan menyakitkan.
"Akh!"
Tangannya kini beralih memegangi kepalanya. Sakit itu datang lagi, kepalanya benar-benar berdenyut dengan sangat kuat. Yang benar saja, Nanggala tidak bisa disini terlalu lama, bisa-bisa pakde, budhe dan juga Yodhan akan khawatir kepadanya.
Duk! Duk!
Anak itu sampai menggunakan kedua tangannya untuk memukuli kepalanya, dengan harapan sakit itu akan cepat mereda. Dia tidak mungkin membenturkan kepalanya ke dinding saat ini, akan ketahuan kalau dia keluar nanti. Mungkin dengan memukulinya menggunakan kedua tangannya bisa membuat sakit itu cepat mereda.
Pandangannya mulai buram. Benar-benar sakit. Ah, bodoh sekali. Obatnya kan ada di tas sekolahnya!
Nanggala berlari dengan cepat menuju tas sekolahnya yang tergeletak di samping lemari, dengan cepat juga membukanya dan merogoh botol obat yang selalu dia bawa kemana-mana.
Meskipun terkadang jika sakit itu datang, Nanggala pernah tidak meminumnya, karena memang jujur setelah dia meminum obat ini sakit kepalanya menjadi luar biasa, akan terasa sakit dua kali lipat. Jadi dia biasanya memilih untuk membiarkannya tanpa meminum obat.
Lelaki itu dengan cepat memasukan beberapa butir obat ke dalam mulutnya, lalu meneguk air yang berada di meja kamar Yodhan dengan cepat juga. Napasnya terengah, dan Nanggala memohon agar sakitnya cepat hilang.
.......
.......
.......
Lapangan sekolah kini sudah ramai oleh murid-murid kelas tiga dan beberapa guru yang akan pergi berwisata ke puncak Bogor. Semua murid sangat antusias pagi ini, setelah beberapa hari lalu telah melewati ujian semester, kini mereka akan me-refreshing kan otak sejenak.
Dan puncak Bogor adalah pilihan akhir pihak sekolah khusus untuk kelas tiga. Mereka bisa berlibur dengan tenang, dan juga jarak yang tidak terlalu jauh dari Jakarta.
Setelah menempuh waktu yang cukup lama menggunakan bus, kini mereka sudah sampai di puncak Bogor. Bus sudah sampai di penginapan, semua orang yang baru saja keluar dari dalam bus langsung menghirup dalam-dalam udara segar yang sudah jarang mereka rasakan di Jakarta. Disini benar-benar sejuk dan segar. Segar yang alami.
Satu kamar akan nanti diisi oleh satu kelas. Maksudnya perempuan dan laki-laki terpisah, namun satu kamar di peruntukkan untuk satu kelas. Nanggala bersyukur satu kelas, tidak dibagi menjadi beberapa kelompok, dia khawatir saja jika dibagi menjadi kelompok, dan Jia tidak satu kelompok dengan Yora.
Cukup lama beristirahat selepas sampai, siang menjelang sore ini mereka akan masuk ke hutan pinus. Mungkin akan sampai malam hari, sekalian mengadakan api unggun kecil-kecilan di sana. Karena hanya malam ini mereka bermalam disini, kan hanya dua hari satu malam. Rasanya memang benar-benar singkat, tetapi tidak apa-apa, segini saja bisa me-refreshing kan otak mereka.
"Jia mau makan?"
Sang gadis yang sejak tadi menatap anak-anak lain yang berjalan-jalan di depannya itu menoleh, bibirnya tersenyum menatap lelaki yang duduk di sampingnya. Dia lalu mengangguk dan membuat lelaki itu tersenyum. Mereka kini tengah duduk bersama di kursi kayu disini.
Nanggala membuka tas ransel yang masih dibawanya. Memang, tadi semua di perintah untuk meletakkan tas atau koper mereka di penginapan, dan berangkat ke hutan dengan tas kecil mereka untuk membawa barang yang di butuhkan saja.
Lelaki itu mengambil kotak bekal makanan berwarna biru langit dari dalam tasnya. Bekal yang di buatkan oleh budhe Thalia, kan semalam juga dia mau tidak mau benar-benar menginap disana, dan wanita itu juga sudah mengatakan akan membuatkannya bekal untuk berwisata.
"Nala bawa makanan kesukaan Jia." Ujarnya.
Nanggala bisa melihat, gadis itu yang sedari tadi menatap kegiatan tangannya kini semakin tersenyum lebar ketika dia mulai membuka kotak bekal itu. Sangat rapi, sangat cantik, dan sangat terlihat menggiurkan makanan yang Thalia buat. Tetapi Nanggala sedikit terkekeh ketika melihat bekal itu, tatanannya seperti membuat bekal untuk anak TK.
Seperti itulah Thalia, selalu memperlakukannya seperti anak kecil.
"Jia mau yang mana, hm?"
Tangannya dengan cepat menunjuk gulungan telur yang sangat cantik, telur yang di kocok dan di campur dengan wortel dan beberapa sayuran lain. Ada beberapa selain omelet telur tadi, tentu saja ada nasi, oseng sayur, telur puyuh, buah-buahan dan yang lain lagi.
Nanggala terkekeh, Jia ini sangat suka omelet telur, apalagi di tambah dengan sayuran. Langsung saja dia mengambil makanan itu dengan garpu dan menyuapkannya kepada Jia. Gadis itu langsung memakannya dengan senang.
"Nala yang buat?"
Nanggala mendongak dan menggeleng, "bukan, budhe Thalia yang buat."
Gadis itu hanya mengangguk dan menerima lagi suapan Nanggala ketika mulutnya sudah kosong.
"Salam buat pakde sama budhe."
Nanggala lagi-lagi terkekeh, "iyaa, nanti Nala bilang ke mereka."
Tangannya terulur untuk menyentuh puncak kepala itu dan mengelusnya lembut. Nanggala juga sesekali menyuapkan telur puyuh dan makanan lainnya ke mulutnya. Thalia membuatnya sangat banyak.
"Na?"
Suara itu membuat kedua orang yang tengah menikmati makan mereka pun menoleh ke sumber suara. Hari sudah semakin sore, tadi mereka sudah melakukan beberapa game, dan sekarang waktunya mereka istirahat sambil menikmati matahari tenggelam.
"Boleh bantuin gue nggak?"
Nanggala mengangguk menanggapi ucapan Rasen yang meminta tolong bantuannya untuk membawakan beberapa makanan untuk makan malam kelasnya nanti.
"Jia disini aja dulu, ya? Nala sebentar kok, nanti Nala kesini lagi."
"Iya, nanti Rasen suruh Yora buat kesini, oke?"
Gadis itu mengangguk dan tersenyum, seolah mengatakan tidak apa-apa dan menyuruh Nanggala pergi untuk membantu Rasen.
"Makan yang banyak." Nanggala mengelus lagi puncak kepala itu sebelum dia benar-benar pergi untuk membantu Rasen.
Jia masih tersenyum sambil menatap kepergian lelaki itu. Sebenarnya dia takut, takut ditinggal sendiri. Namun tidak apa-apa, mereka semua tidak jauh dari dirinya. Pandangan gadis itu beralih ke rimbunnya pohon pinus yang berada di sekelilingnya. Memang sangat segar disini.
"Mama?"
Tubuhnya mulai beranjak dan perlahan berdiri, perlahan juga kaki itu melangkah menjauhi tempat yang dia duduki tadi.
"Mama ... Jia mau ikut."
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Hari sudah semakin gelap, namun mereka belum menemukan seorang Jiara Abhicandra hingga sekarang.
Ya, saat Nanggala kembali setelah membantu Rasen, dia tidak menemukan adanya Jia di tempat mereka duduk tadi. Bahkan kotak bekalnya masih terbuka dengan garpu dan sendok yang tergeletak begitu saja di meja kayu.
Kembalinya Nanggala dan Rasen yang tidak menemukan Jia membuat mereka sangat terkejut, terlebih saat Yora mengatakan kepada mereka jika dia memang tidak melihat Jia duduk di sana.
Wajah khawatir mereka membuat Haksa dan Jerga yang memang berdiri tak jauh dari mereka menghampirinya. Dan saat itu juga Jerga begitu emosi, lelaki itu hampir saja memukul wajah Nanggala kalau saja Rasen dan Haksa tidak mencegahnya.
Dan Nanggala merasa sangat bersalah sudah meninggalkan Jia sendirian.
"Maafin gue, Jer. Kalo aja gue nggak minta tolong Nanggala buat bantuin gue, dia nggak akan ninggalin Jia." Ujar Rasen menatap Jerga sendu.
"Maafin gue juga, telat samperin Jia." Lirih Yora menunduk.
Nanggala-pun menatap Jerga sendu. Dia tahu, pasti rasa khawatir Jerga lebih besar dari dirinya. Kembarannya hilang, dan itu karenanya. Seseorang yang sangat di benci oleh lelaki itu.
"Jer ..." suara lirih Nanggala membuat lelaki itu menoleh dan menatapnya sinis.
__ADS_1
"Maaf kalian nggak bisa ngembaliin waktu." Dinginnya.
Ini sudah satu jam lebih mereka mencari dan belum menemukan sosok Jia. Memang saat ini tengah istirahat sejenak, nanti akan mereka lanjutkan lagi. Itu kata Shandy.
Orang-orang yang mencari Jia tidak lain tidak bukan hanya mereka saja, anak lain sudah pasti tidak ada yang mau. Nyatanya semua asik berkumpul di depan api unggun, tanpa mau mencari salah satu temannya yang hilang. Hanya kelima anak itu dan di tambah lagi dengan Shandy, selaku wali kelas.
Kini mereka semua berpencar lagi untuk mencari dan masuk ke beberapa hutan.
.......
.......
Matanya menatap sekeliling dengan pandangan takut, tubuhnya gemetar dengan tangan yang memeluk kedua lututnya. Dia kedinginan.
"Nala ...."
Matanya memanas dan mengabur. Jia tidak tahu dia berada dimana sekarang, yang pasti dia berada di tengah hutan yang jauh dari tempat mereka tadi. Pohonnya pun bukan lagi pohon pinus.
Kakinya melangkah jauh untuk menemukan jalan kembali, tetapi nyatanya hanya berputar di situ saja. Hingga dirinya merasa lelah dan berakhir duduk di bawah pohon cukup rindang sambil terus menggumamkan nama Nanggala ataupun juga Jerga.
Srrkk ....
Kepalanya menoleh cepat ke samping kanannya. Jia menenggelamkan kepalanya pada lipatan kedua tangannya yang memeluk lututnya itu, dia hanya takut jika suara tadi berasal dari hewan.
Hingga telinganya menangkap suara yang kian mendekat, membuatnya benar-benar ketakutan dan meringsut di balik pohon.
"Nala ... hiks."
Gadis itu memejamkan matanya, sampai sentuhan di lengannya membuat dia harus membuka kedua bola matanya lagi. Dia terkejut dan refleks memundurkan tubuhnya.
"Jia ..." lirihnya.
Suara itu membuat yang di panggil perlahan mendongak, dengan tubuh yang masih gemetar ketakutan.
Lelaki itu menghembuskan napasnya lirih, kepalanya menoleh ke kanan dan kirinya lalu berjongkok tepat di hadapan Jia. Mematikan senter pada ponselnya dan menaruh lagi di sakunya, tangannya dengan pelan terangkat ingin menyentuh kepala yang kini sudah menunduk lagi, tetapi dia urungkan.
Matanya menatap mata gadis itu teduh.
"Ayo ikut gue." lembutnya.
Jia yang mendengar itu masih diam tak bergeming, tubuhnya dia geser sedikit ke samping membuat sang lelaki lagi-lagi menghembuskan napasnya.
"Lo mau disini sampe pagi?" tanyanya mulai kesal tidak selembut tadi.
Gadis itu menggeleng pelan, "Nala …."
"Iya gue bakal bawa lo ke si miskin, ayo cepet." Ujarnya lagi sambil mengulurkan tangan.
"Nala ..." lirihnya bergetar.
Lelaki itu memutar bola matanya dan berdecak kecil, "iyaa gue bakal bawa lo ke Na- hhh ... Nanggala." Dia kesal saja rasanya.
Dan meskipun dia mengatakan seperti itu tadi, belum juga membuat gadis di hadapannya ini bergerak menerima uluran tangannya ataupun berdiri sendiri.
Srak!
Bruk!
"Ah ...."
Suara yang sedikit keras itu mampu membuat keduanya menoleh secara bersamaan ke samping kiri mereka. Dan juga membuat Jia ada perasaan senang kala melihat sosok yang baru saja jatuh dari atas tadi. Seperti dirinya, dia pun beberapa waktu yang lalu jatuh dari sana.
Nanggala meringis saat merasakan badannya terasa nyeri sekarang ini, kakinya baru saja tersandung sebuah akar pohon besar yang menyembul ke atas tanah, dan membuatnya terjerembab ke depan yang ternyata sepertinya adalah jurang kecil.
Lelaki itu memegangi kakinya yang terasa nyeri. Beberapa bagian tubuhnya juga terasa sakit saat mengenai ranting-ranting tadi, tangannya mengusap sweater dan celananya, beberapa daun kering menempel disana.
"Nala ...."
Suara lirih itu dapat di dengar olehnya. Panggilan itu, hanya gadis itu yang memanggilnya seperti itu.
Kepalanya mendongak ke depan, dan matanya sedikit melebar ketika melihat siapa yang tengah menatapnya sendu di sana. Bersama dengan seorang lelaki. Tubuhnya langsung berdiri, memang sedikit meringis saat berdiri, tetapi dia tidak memperdulikan itu, yang dia pedulikan sekarang adalah, gadis itu sudah ketemu.
"Nan." Panggilnya menghentikan langkah lelaki itu yang baru saja pergi setelah dia sampai di hadapan keduanya.
"Makasih udah nemenin Jia."
Lelaki yang di panggil nampak berdecak kecil lagi, "ck, siapa juga yang nemenin dia."
Tanpa mau memutar tubuhnya, Yunan hanya melirik sinis dengan ekor matanya. Tidak ada sepatah kata lagi dia mulai melangkahkan kakinya menjauh.
Nanggala tersenyum tipis sambil masih menatap kepergian Yunan dari sini, kepalanya lalu menunduk dengan tubuh yang juga berjongkok di samping gadis itu.
"Jia ...."
Grep
Nanggala dengan cepat menarik tubuh itu ke dalam pelukannya, sementara Jia juga langsung membalas pelukan lelaki itu erat dengan isakkan kecil. Benar-benar membuatnya merasa sangat bersalah sekarang ini.
Dia berjanji tidak akan meninggalkan gadis itu lagi.
"Hiks, Nala ...."
Tangannya menepuk pelan punggung gadis itu, "Nala disini ... Maafin Nala ...."
Pelukan Jia mengerat, Nanggala bisa merasakan kalau gadis itu sangat ketakutan. Dia tidak peduli dengan sakit di punggungnya karena gadis itu memeluknya erat. Lukanya masih terasa sakit.
Lelaki itu melepaskan pelukan mereka lalu menatap mata Jia sayu, hatinya kembali sesak menatap mata itu. Rambutnya berantakan, terdapat beberapa noda tanah di wajahnya, dan juga terlihat seperti air mata yang sudah mengering, namun sekarang basah lagi. Gadis itu menangis lagi.
Lalu selanjutnya matanya menyusuri pakaian yang di kenakan Jia. Baju putihnya terlihat kotor. Apa dia terjatuh? Apa gadis itu terjatuh seperti dirinya tadi?
"Maafin Nala ...."
Nanggala menangkup pipi itu dengan kedua tangannya, dan menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata Jia serta noda tanah di wajahnya.
"Jia takut ...."
Matanya menatap hangat, "iya, Nala disini ... Maafin Nala." Tangannya lalu merapikan rambut panjang itu yang juga terdapat beberapa daun kering kecil.
Dia menggenggam lembut kedua tangan Jia dan di usapnya lembut, ada noda tanah juga di kedua tangan itu. Dan selanjutnya Nanggala membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukannya lagi. Dia memeluknya erat, di elusnya kepala belakang gadis itu lembut, lalu punggung itu pelan untuk menenangkannya.
"Nala akan terus disini sama Jia ...."
"Nala nggak akan ninggalin Jia ...."
"Makasih Nala ... Jia sayang sama Nala ...."
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Komennya dong buat penyemangat author (^▽^)...
__ADS_1