
Sore hari yang mendung, angin berhembus cukup dingin mengenai kulit, gadis berambut panjang itu baru saja keluar dari rumahnya untuk menuju ke suatu tempat.
Jia terdiam sejenak di teras rumah, pandangannya lurus ke depan. Kenapa dia ingin sekali menangis sekarang?
Mengelus perutnya yang hanya di balut dengan dress di bawah lututnya dan berlengan sampai siku, gadis itu menarik napasnya dalam dan mengembuskannya untuk menghilangkan rasa cemas dan khawatir dalam dirinya.
"Kak."
Jia menoleh lalu tersenyum menatap kembarnya yang baru saja membuka pintu utama di belakangnya itu.
"Nggak papa, Kakak sendiri aja."
Jerga hanya bisa menatap gadis itu sendu. Hatinya sangat sakit melihatnya seperti itu, biar bagaimana pun, ikatan batin anak kembar sangat kuat.
"Hati-hati, ya? Pulangnya juga, minta dia anterin Kakak."
"Iyaa, Jerga." Kekeh kecil Jia menutupi wajah sedihnya.
Jia tidak ingin Jerga juga merasa sedih karenanya. Sudah cukup lelaki itu selalu menerima sakit di pukuli sang ayah karena membelanya atau melindunginya. Dia tidak ingin Jerga sakit lagi.
Setelah mendapat anggukkan dari Jerga, Jia-pun mulai melangkah menuruni tangga teras rumahnya, dan berjalan keluar dari halaman rumah seorang diri. Tangannya meremas kecil tas selempang soft blue miliknya.
Memang sedikit dingin, tetapi Jia tidak memperdulikan itu. Kakinya terus melangkah sampai keluar dari gerbang dan berniat langsung menuju halte bus. Ya, dia bertemu di sana dengan seseorang yang akan di temuinya.
"Jiaraa~! Mau kemana??"
Suara yang keras melengking itu membuat Jia menolehkan kepalanya ke belakang, di lihatnya Haksa yang kini tengah berlari ke arahnya.
Dari pakaiannya yang memakai kaos biasa dan celana training, dia dapat menebak jika lelaki itu baru jogging sore.
"Mau jalan-jalan sebentar. Acca habis jogging, ya?"
Haksa yang di tanya pun mengangguk, "ohh, mau jalan-jalan. Iya nih, capek." Keluhnya sambil mengusap pelipisnya yang masih di banjiri keringat.
"Accen? Di tinggal?"
Pertanyaan kedua Jia membuat Haksa mendengus sebal, hingga membuatnya terkekeh kecil.
Jia ingat, dulu kalau dia ikut mereka jogging bertiga, pasti sepanjang jalan isinya hanya perdebatan Haksa dan juga Rasen.
Kadang kala mereka akan saling menabok satu sama lain dari berangkat hingga pulang lagi. Dan itu membuat keduanya malah kejar-kejaran bukan jogging.
"Bukan Acca yang ninggalin, tapi si Accen tuh yang ninggalin Acca. Kan nyebelin." Sungutnya dengan wajah cemberut.
Jia hanya terkekeh mendengarnya. Kan, seperti itulah mereka.
"Oh iya, emang Jia jalan sama siapa?"
Gadis itu tersenyum manis menanggapinya. Haksa yang mengerti lalu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum jahil.
Hingga selanjutnya mereka saling melambaikan tangan dan pergi ke arah tuju masing-masing. Jia yang melanjutkan langkahnya untuk menuju halte bus, dan Haksa yang juga melanjutkan langkahnya untuk pulang ke rumah.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Kedua orang itu baru sampai di tempat tujuan setelah tadi mereka menaiki kereta untuk sampai di sini. Mereka saling menautkan tangan masing-masing sambil berjalan-jalan kecil.
"Jia suka?"
Gadis yang di tanya itu menoleh dan mengangguk, "Jia suka."
Senyumnya begitu manis, membuat Nanggala yang melihatnya juga melebarkan senyumannya. Dia mengusak pelan poni tipis gadis itu dan ikut memandang sekitar.
Tempat ini di buka 24 jam dan juga tidak ada biaya masuk alias gratis. Jia ingin berjalan-jalan saja katanya di sekitar sini. Memang suasananya sejuk, nyaman, apalagi sore ini memang sedikit mendung. Banyak pohon-pohon juga yang menjulang di sepanjang jalan.
__ADS_1
"Kenapa Jia nggak pake jaket, dingin."
Gadis itu lagi-lagi menoleh dan tersenyum hangat, matanya kembali memandang ke jalanan panjang di depannya.
"Nggak papa, Nala. Kan udah hangat pakai sweater punya Nala." Kekehnya dengan tangan kiri di gunakan untuk mempererat sweater milik lelaki itu yang di pakainya.
Nanggala terkekeh kecil. Ya, tadi memang saat mereka bertemu di halte bus, dia melihat gadis itu hanya memakai dress dan tidak mengenakan luaran sweater atau cardigan. Jadi dia memakaikan sweater yang di pakainya untuk gadis itu.
Beruntung Nanggala memakai kaos berlengan sampai batas siku, jadi dia pun tidak akan merasa dingin meskipun ya memang tidak menutupi semua lengannya. Tak apa, yang terpenting Jia tidak kedinginan.
"Nanti kalo udah capek bilang, hm? Terus cari tempat duduk."
"Iyaa, Nala. Jia mau ke atas dulu, mau liat pemandangan dari atas." Kekehnya kecil.
"Siap." Balas Nanggala ikut terkekeh.
Entah kenapa, aura Jia sekarang ini lebih lebih cantik dari biasanya. Dress vintage sunmi floral berwarna peach yang di kenakannya sangat manis di wajahnya. Apalagi seperti biasa, rambut panjang itu di ikat setengah dan hanya menyisakan beberapa anak rambut di kening dan pelipisnya.
Tidak ada jepit rambut berbentuk strawberry lagi disana, juga tidak ada lagi Bonny yang selalu di peluk gadis itu selama ini.
Dia berhasil. Dia berhasil membuat gadis itu sembuh dan perlahan terlepas dari hal-hal yang di takutinya.
Nanggala berhasil.
Lelaki itu tersenyum lembut menatap Jia yang masih sibuk memandang ke segala arah dan sesekali mengangumi tempat-tempat yang indah di matanya.
Dan setelah di rasa mulai lelah dan hari semakin sore, Jia meminta turun lagi dan mencari tempat duduk yang berada di pinggiran jalan.
Jalanan sore ini sangat cantik yang di hiasi banyak lampu. Tidak terlalu ramai hari ini. Entahlah, mungkin cuaca yang memang mendung dan dingin, membuat mereka malas keluar rumah karena bisa saja nantinya akan terjebak hujan.
"Capek?" tanya Nanggala merapikan rambut panjang Jia di sampingnya.
Gadis itu menggeleng dengan senyuman, lalu menaruh botol air mineral yang di belinya tadi di samping dia duduk.
"Hm?"
Nanggala menunggu ucapan Jia selanjutnya yang pandangannya masih mengarah ke depan. Dia dapat melihat senyuman tipis di bibir gadis itu.
Jia tidak seceria tadi. Gadis itu di sepanjang jalan-jalan mereka tadi sangat ceria dan bercanda banyak hal dengannya. Namun sekarang, dia terlihat murung dan banyak diamnya. Apa dia sangat kelelahan?
"Jia sayang Nala ..." lirihnya.
Nanggala masih terdiam mendengarnya. Gadis itu kini mulai menundukkan kepalanya dan terdengar helaan napas panjang di sana, membuatnya semakin bingung.
"Jia sayang banget sama Nala ..." masih lirih, suaranya mulai purau.
Tangan Nanggala dengan cepat meraih kedua bahu itu, menyuruh untuk menatapnya, "hey? Kenapa ... hm?"
Suara Nanggala begitu lembut membuat hatinya hangat, namun secara bersamaan juga membuat hatinya sesak.
Jia mulai menatap lelaki itu dengan pandangan yang sudah mengabur. Mata Nanggala begitu indah, sungguh membuatnya nyaman. Sakit, rasanya dia tidak ingin mengatakannya.
Tangannya kemudian merogoh tas selempangnya yang berada di sampingnya dia duduk, lalu mengambil benda dari dalam sana pelan, seperti tak ingin.
Matanya kembali sendu kepada Nanggala. Lelaki itu yang mengerti apa yang baru saja di sodorkan Jia-pun tersenyum hangat. Dia lalu meraih kertas itu dan membacanya per kata, meskipun sudah tahu maksud isi dari kertas itu.
"Na ...."
Jia menggelengkan kepalanya pelan dengan mata berairnya. Sedangkan Nanggala membalasnya dengan senyuman.
"Nala nggak papa ... Udah jangan sedih." Ujarnya mengusap bawah mata gadis itu yang kini sudah basah karena air mata.
"Tapi Jia nggak mau ... Jia nggak mau sama dia. Jia maunya sama Nala, hiks." Isaknya kecil.
Nanggala tersenyum begitu manis dan kembali menggenggam kedua tangan gadis itu, sebelum menaruh undangan pertunangan tadi di kursi mereka duduk. Matanya menatap lembut, mengusap lagi air mata gadis itu.
__ADS_1
"Tapi bukan Nala yang papa Jia mau." Jawabnya tersenyum.
Tolong. Tolong jangan tersenyum seperti itu. Jia sangat sakit melihatnya.
Nanggala selalu menutupi kesakitannya dengan senyuman manis itu, seolah-olah dia baik-baik saja selama ini. Namun nyatanya tidak ... Jia tahu lelaki itu sangat rapuh.
"Maafin Jia ... hiks, maafin Jia ... Jia cuma bisa buat Nala sakit, Jia cuma bisa buat Nala nggak bahagia ...."
Nanggala tersenyum lembut lagi, tangannya terangkat untuk merapikan rambut gadis itu yang sedikit berantakan.
"Jangan ngomong kayak gitu ... Nala seneng sama Jia. Nala seneng kenal Jia," tangannya menggenggam lembut tangan kiri gadis itu, "Jia tahu? Nala nggak pernah sebahagia ini sebelum ketemu Jia."
Si gadis yang mendengar itu semakin terisak. Beruntung suasana jalan di depan mereka kini tengah sepi, tidak begitu ramai.
Dia pun sebenarnya tidak peduli jika mereka melihatnya menangis seperti itu, sesaknya sudah tidak bisa dia tahan lagi.
"Tapi dia anak Nala ... Dia juga pasti mau sama ayah kandungnya ..." lirihnya menatap Nanggala sayu.
Dadanya begitu sakit. Nanggala begitu sakit mendengar kata-kata itu. Anaknya ... Ya, itu adalah anaknya. Dia pun sebenarnya tidak mau anaknya mengenalnya sebagai orang lain nanti, bukan sebagai ayah kandung.
Tetapi mau bagaimana lagi ....
"Jia, Nala juga nggak bisa janji bakal terus bisa nemenin Jia ..." Nanggala benar-benar tidak ingin mengatakan itu.
"Kenapa ...? Kenapa? Nala pernah bilang Nala bakal terus sama Jia." Tanyanya mengerutkan kedua alisnya.
Nanggala menghembuskan napasnya panjang. Sepertinya dia harus bilang, dia tidak ingin menutupinya lagi dengan gadis itu. Dia tidak ingin membuat gadis itu sedih lagi.
Senyuman lembut kembali terukir di bibirnya, "Nala sakit. Nala punya penyakit. Jia pernah liat itu, 'kan? Iya ... Nala bakal nyakitin diri sendiri kalo sakit itu kambuh."
Mata berair Jia kini mulai membulat menatap lelaki di sampingnya itu. Iya dia ingat, dia pernah melihat lelaki itu yang seperti kesakitan dan berakhir dengan menarik rambut serta memukuli kepalanya sendiri.
"Na ..." panggilnya bergetar.
"Cluster Headache," senyum Nanggala begitu manis, "Nala nggak tau akan dengan apa lagi Nala ngatasin sakit itu. Tarik rambut, pukulin kepala, benturin kepala ke tembok, semuanya udah Nala lakuin tapi sekarang ... sakitnya makin kerasa jadi dua kali lipat. Nala nggak tau harus dengan cara apa lagi biar sakitnya hilang."
"Nala nggak tau cara apa yang akan Nala lakuin nanti, besok, dan seterusnya. Yang pasti ... bakal bikin diri Nala sakit."
Jia kini sudah menutup mulutnya dengan telapak tangan kirinya, matanya menatap Nanggala dengan pandangan mengabur karena begitu banyak air yang menggenang di disana.
Sejak tadi mendengarkan cerita Nanggala dia tidak kuat. Benar, lelaki itu begitu rapuh di dalam, tetapi selalu menutupi semuanya dengan senyum manisnya.
"Sebenernya Nala nggak mau bilang sama Jia, karena takut Jia bakal gini ...," ucapnya mengusap lembut air mata gadis itu, "tapi Jia harus tahu. Nala nggak janji buat bisa terus nemenin Jia. Maafin Nala, ya?"
Jia tentu saja semakin terisak.
"Na ... hiks."
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Terus dukung author yaaa^^...
...Boom komen setelah membaca yaa♡...
__ADS_1