NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
16. Hari Lainnya


__ADS_3

Nanggala mendudukkan tubuhnya di ranjang tidurnya pelan-pelan, helaan napasnya terdengar panjang. Kepalanya menunduk, serta kedua tangannya terangkat untuk membuka kancing seragamnya satu per satu hingga terlepas semua, lalu selanjutnya menarik kaos putihnya ke atas secara perlahan.


Lagi-lagi Nanggala menghembuskan napasnya panjang. Di bagian perutnya ada beberapa luka memar berwarna merah, dia yakin besok pasti akan terasa sangat nyeri dan warnanya berubah menjadi ungu ke hitaman.


Anak itu meringis memijat lengan atasnya pelan, tangannya juga terasa sakit. Pandangannya kosong ke depan, beruntung tadi saat dia pulang melewati toko budhe Thalia, tidak ada seorang pun yang tengah berada diluar atau melihatnya, jadi luka-luka ini tidak sampai di ketahui oleh mereka.


Nanggala hanya tidak ingin mereka khawatir lagi dan lagi.


"Bunda ...."


"Nangga pengin liat bunda lagi ...."


Napasnya tercekat, terasa sangat sulit untuk berbicara. Tangannya terangkat lagi untuk mengusap ujung matanya yang mulai berair.


"Semua orang tau, Bun ... Semua orang tau ayah pembunuh."


"Semua ... Benci sama Nangga ...."


"Bun, nggak bener, 'kan? Ayah bukan pembunuh, 'kan?"


"Bunda jawab Nangga ... hiks."


Kepalanya kembali menunduk dan membiarkan air mata itu mengalir membasahi kedua pipinya. Rasanya terlalu sesak untuk dia tahan selama ini.


Nanggala ingin mengeluarkan semuanya, dia ingin mengeluarkan semuanya di pelukan bundanya. Keluarganya yang dulu harmonis, yang dulu penuh canda dan tawa, canda yang di berikan sang ayah, dan tawa yang akan terdengar dari suara dirinya dan sang bunda.


Kenapa ... Kenapa semua itu terasa hanya sebentar? Kenapa semua itu terasa sangat singkat bagi keluarganya?


Setelah ayahnya menjadi tersangka pembunuhan kala itu, keluarganya hancur. Semuanya pergi meninggalkannya, semua orang-orang di sekitar membenci keluarganya. Hanya bersama neneknya, Nanggala mendapatkan perlindungan hanya dari neneknya. Yang bahkan tak jarang, rumah mereka juga mendapat lemparan batu dari tetangga-tetangga di daerah rumahnya.


Di sekolah Nanggala di bully, tidak ada yang mau berteman dengannya. Mungkin yang dia dapatkan di sekolah dulu, sama dengan yang lelaki itu dapatkan juga saat ini. Tidak jauh beda.


"Ahs ...."


Nanggala memejamkan matanya, kedua tangannya terangkat dan memegang kepalanya yang mulai berdenyut. Semakin berdenyut, semakin kuat juga remasan pada rambutnya. Dia menjambaknya dengan kuat, terasa sakit sekali untuknya.


Denyutan yang awalnya terasa pelan dan biasa saja, kini lama-kelamaan terasa sangat cepat dan sangat menyakitkan. Nanggala memejamkan matanya saat dirasa kamarnya berputar. Lelaki itu kemudian bangkit dan melangkah mendekati dinding kosong di samping lemari bajunya.


Dak! Dak!


Masih terasa sakit, denyutannya terasa semakin cepat dan dalam. Nanggala masih memejamkan matanya kuat, dan sesekali memukuli kepalanya sendiri dengan tangannya.


Dak!!


Nanggala tidak merasa sakit saat membenturkan kepalanya ke dinding, yang dia rasa terkadang puas, dan berharap bisa meredakan sakitnya.


Kegiatannya lalu berhenti ketika lelaki itu merasakan ada yang mengalir di pelipisnya dan ada juga yang mengalir di belakang telinganya.


Ah, berdarah lagi.


Tubuhnya merosot ke bawah dan jatuh terduduk, matanya menatap kosong ke depan dan pandangannya terasa seperti mengabur dan berkunang-kunang.


Air mata mulai mengalir lagi membasahi pipinya. Matanya terasa sayu dan berat.


"Bunda sakit ...."


.......


.......


.......


Kantin siang ini terlihat ramai, bagaimana tidak? Yang mereka dengar menu kantin hari ini adalah Donkatsu, siapa yang tidak suka? Maka dari itu kantin sangat ramai sekarang ini.


Nanggala tersenyum manis kepada Jia yang berjalan di depannya. Mereka baru saja selesai mengantri untuk mengambil makanan, dan setelah selesai, Nanggala segera mengajak gadis itu untuk mencari tempat duduk.


"Jia, jalan sama Yora dulu, ya?"


Gadis itu menoleh dan mengerutkan keningnya, namun beberapa detik kemudian mengangguk.


"Yaudah yuk?" Yora tersenyum manis dan menggenggam tangan Jia untuk melangkah bersamanya.


Nanggala tersenyum menatap kepergian gadis itu, lalu perlahan tangannya terangkat dan meremas seragam bagian perutnya. Sakit, nyeri sekali seperti kram.


Lelaki itu lalu menghembuskan napasnya panjang. Dia menyuruh Yora membawa Jia terlebih dahulu agar Jia tidak melihat ini. Dia tidak ingin gadis itu khawatir.


Brak!


Baru saja akan melangkahkan kakinya lagi, tubuh Nanggala sudah jatuh tersungkur ke depan saat ada yang menghalangi langkah kakinya tadi. Nampan makanannya pun jatuh dan makanannya berserakan di lantai, tentu saja seragamnya mengenai makanan itu.


Suara keras berasal dari alat makan berbahan stainless yang jatuh ke lantai itu mampu membuat seluruh perhatian orang yang ada disini menatap anak itu. Suasana pun menjadi hening, sama halnya dengan Jia dan Yora, mereka berdua membalikan tubuhnya dan langsung terkejut melihat lelaki itu sudah jatuh tersungkur di sana.


Nanggala mendongakan kepalanya, di tatapnya beberapa anak yang tengah menertawakannya tanpa peduli apa yang baru saja mereka perbuat.


"Makanya, kalo jalan tuh liat-liat, miskin! Hahaha!" seru Gasta yang tadi menjulurkan kakinya ke samping saat Nanggala melewati mejanya.


"Bukan itu!" sahut Senno.


"Terus apa? Anak pembunuh?" tanya Gasta terkekeh.


"Pencuri!"


"Eh, semuanya tuh cocok sama dia! Hahahaha!" seru Alwan membuat ketiganya tertawa bersamaan.


Yunan tersenyum sinis mendengarnya, matanya menatap tajam mata anak yang sejak tadi menjadi pusat perhatian itu.


Nanggala menundukkan kepalanya, tubuhnya mulai bangkit dan sedikit membersihkan noda-noda makanan di seragamnya. Matanya menatap Yunan dengan sedikit sinis, dia ingin sekali melawan, tetapi bagaimana mungkin? Dia pasti akan lebih di bully jika itu terjadi.


"Nggak usah melotot sama gue lo, miskin!"


Plak!


Semua yang melihat itu ada yang nyaris berteriak saat melihat Yunan memukul kepala kiri Nanggala kencang dengan telapak tangannya, lelaki itu juga sudah bangkit dari duduknya sambil menatap si empu penuh emosi.


Nanggala yang mendapat itu hanya mampu memejamkan matanya. Yunan memukulnya di bagian kepala yang dia benturkan semalam, ah telinganya seketika terasa berdengung.


"Jangan!!"


Suara keras itu membuat semua orang menatap ke arah gadis yang kini tengah berlari menghampiri objek mereka sejak tadi. Nanggala sama terkejutnya, dia membuka matanya dan menatap ke depan.


Tidak-tidak, tatapan Nanggala langsung ke bawah, semakin terkejut melihat apa yang tengah gadis itu lakukan sekarang.


"Jangan ... hiks, jangan sakiti Nala ..." lirihnya bergetar.


Yunan juga membulatkan matanya menatap gadis yang kini sedang memeluk kaki kirinya sambil menangis.


"Apaan sih lo gila!"


Dorongan Yunan baru saja ini membuat pelukan gadis itu di kakinya seketika terlepas dan membuat tubuhnya sedikit terdorong ke belakang.


"Jangan kasar sama cewek!"

__ADS_1


Nanggala dengan cepat berjongkok di samping Jia dan memegang kedua bahu gadis itu yang kini sudah gemetar.


Yunan terkekeh sinis, "haha, cewek gila maksud lo?"


"Jangan!! Hiks, jangann!!"


"Jia tenang ... Ini Nala ...."


Gadis itu meremas kuat lengan Nanggala yang setengah memeluknya, masih dengan isakan yang membuat semua orang yang melihatnya malah tertawa.


Dan beberapa detik kemudian, semua orang beramai-ramai kembali ke tempat masing-masing saat mendengar suara menyeramkan guru BK yang mulai mendekat. Yunan berdecak kesal lalu berjalan pergi meninggalkan kantin, di ikuti oleh teman-temannya di belakang.


Nanggala menatap Jia lagi, sudah tidak seperti tadi, tetapi dia tahu gadis itu masih ketakutan. Kedua tangannya membantu gadis itu berdiri, dan saat itu juga Yora mendekat ke arahnya. Dia memerintahkan Jia bersama Yora terlebih dahulu, sementara dia akan membersihkan seragamnya ke toilet. Dan beruntungnya Jia langsung mau.


Dan sekarang ini, Nanggala berada di toilet, dengan lelaki itu yang tengah membersihkan seragamnya di wastafel. Kepalanya mendongak dan menatap pantulan dirinya di depan cermin. Tatapannya sayu, wajahnya terlihat kacau. Hingga pandangannya teralihkan dengan seseorang yang baru saja memasuki toilet dan berdiri di sampingnya.


Nanggala menoleh menatap lelaki itu yang hanya dibalas dengan tatapan datar. Bisa dia lihat, lelaki itu sempat melirik ke bagian seragamnya yang kotor, lalu menatapnya lama. Helaan napas pendek dapat dia dengar di toilet yang sunyi ini.


"Kalo lo ada urusan sama Yunan, jangan pernah libatin kakak gue."


Suara dingin itu membuat Nanggala menatapnya sendu.


"Jer—"


Panggilnya terputus ketika Jerga sudah melangkahkan kakinya lagi dan pergi meninggalkannya sendiri. Dia hanya terdiam menatap punggung itu yang sudah hilang di balik pintu, kepalanya dia tundukkan lagi, tangannya sedikit meremas perutnya. Ah ... sakit sekali.


.......


.......


Gadis berambut panjang itu terlihat tengah menopang kepalanya di atas lipatan tangannya yang di letakkan di atas meja, sambil memandangi lelaki yang masih membersihkan beberapa kaca disana.


Lelaki itu menoleh, lalu menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum manis.


"Jia ngantuk?"


Gelengan dan senyuman tipis gadis itu membuat Nanggala terkekeh kecil. Dia melanjutkan lagi kegiatannya yang baru saja terhenti. Masih ada beberapa kaca yang harus dia bersihkan sore ini.


Nanggala bersyukur hari ini kelasnya tidak ada kelas tambahan. Karena jika ada, mungkin akan sampai malam dia membersihkan beberapa ruangan di sekolah ini.


Dan tentu saja dia akan merasa kasihan dengan Jia yang memang kemarin bilang, kalau gadis itu akan menemaninya ketika dia mengerjakan hukumannya. Ya, hukuman soal mencuri sepatu Javan kemarin.


Hingga tidak terasa jam sekarang sudah menunjukan pukul enam sore, langit semakin menggelap, dan Nanggala baru selesai mengerjakan hukumannya. Kini mereka berdua tengah duduk di atas sepeda untuk perjalanan pulang, dengan Nanggala yang mengayuh di depan, dan Jia yang duduk di belakang sambil memeluk pinggang lelaki itu.


Nanggala sejak tadi sedikit meringis menahan sakit di perutnya karena tangan gadis itu yang melingkar disana. Namun tidak apa-apa, pelukan Jia terasa hangat, karena gadis itu menyenderkan kepalanya ke punggungnya.


Tidak ada suara Jia sejak tadi, karena saat beberapa kali Nanggala bertanya tidak ada jawaban dari gadis itu. Di usapnya punggung tangan Jia yang memeluknya, dan dia bisa merasakan gadis itu semakin mengeratkan pelukannya. Lagi-lagi dia meringis menahan sakit.


"Hiks ...."


Nanggala sedikit membulatkan matanya mendengar suara itu. Kayuhan kakinya juga seketika dia hentikan, ekor matanya melirik ke belakang.


"Jia? Kenapa??" tanyanya khawatir.


Ingin sekali Nanggala memutar tubuhnya ke belakang, tetapi gadis itu masih memeluknya erat dan membuatnya sedikit kesusahan.


Tetapi akhirnya dia melepaskan lembut kedua tangan yang memeluk pinggangnya itu, di tuntunnya agar gadis itu berdiri. Dan sepertinya Jia mengikutinya, gadis itu berdiri di sampingnya.


Nanggala yang melihat itu pun ikut turun dari sepeda, lelaki itu membawa Jia untuk menuju kursi panjang yang tidak jauh dari sini lalu mendudukkannya di sana. Sementara sepedanya dia senderkan ke pohon yang berada tak jauh dari kursi juga.


Tubuhnya perlahan jongkok di depan gadis itu, gadis yang masih menundukkan kepalanya sambil meremas tangannya kuat.


"Jia kenapa ... hm?"


Sudah berapa lama gadis itu menangis dibalik punggungnya?


"Nala ... hiks."


"Ssttt ... Nala nggak papa, Jia jangan nangis ..." senyum Nanggala manis, sebelah tangannya terangkat dan mengelus pipi itu lembut. Pipi yang basah dengan air mata.


"Nala ... sakit, hiks ... Nala sakit ...."


Ucapan Jia mulai berulang dan terlihat cemas, menandakan gadis itu memang tengah ketakutan atau baru saja melihat dan merasakan sesuatu yang mengingatkannya dengan hal yang membuatnya trauma dulu.


Lelaki itu tersenyum manis dan menghapus air mata Jia, lalu menatapnya lembut, "Nala nggak papa ... Selama ada Jia di samping Nala, Nala nggak papa ...."


Mata mereka bertemu, masih di tatapnya lembut mata cantik yang penuh air mata itu. Usapan lembut selanjutnya Nanggala gerakan di rambut gadis itu, merapikannya.


"Nala seneng ada Jia ...."


Gadis itu masih terdiam, sudah tidak menangis seperti tadi namun bahunya masih sedikit naik turun.


"Jia sayang Nala ...."


Senyum Nanggala mengembang lembut, mengusap lagi rambut panjang Jia dan beralih ke leher belakang gadis itu, menariknya lembut untuk lebih mendekat ke arahnya.


Dan selanjutnya, Jia merasakan kembali sesuatu hangat itu menempel di keningnya untuk yang kedua kalinya.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


Setelah mengantar Jia pulang, di sinilah Nanggala sekarang, di depan rumah bernuansa putih yang sangat besar di hadapannya. Hampir sama seperti rumah milik keluarga Jia, namun sepertinya lebih besar ini.


Ya ampun, kenapa Nanggala jadi memikirkan itu?


Anak itu menggelengkan kepalanya, kakinya melangkah lagi untuk menuju ke pintu utama disana. Diliriknya samping kanan dan kirinya, halaman rumah mereka sangatlah luas, dia saja beberapa kali berdecak kagum.


Sesampainya di depan pintu, tangannya lalu membunyikan bell rumah ini. Sekilas melirik ke tubuhnya yang masih memakai seragam sekolah, juga di balut dengan hoodie putihnya.


"Eh, Nanggala? Ayo masuk?"


"Terima kasih, Pak."


Pria berkulit putih itu merangkul pundaknya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Dia adalah orang kaya, tetapi sangat baik kepadanya.


Dan baru saja melangkahkan beberapa langkah masuk, suara bising yang entah dari mana asalnya mampu membuat Nanggala sedikit memejamkan kedua matanya.


Sangat keras, dan bising.


"Hhh ... Anak-anak itu susah sekali di atur, bikin Bapak pusing aja."


Nanggala mendongak, "mereka anak-anak Bapak?"


Dia menoleh lagi ke arah dua anak yang tengah berlarian itu. Sepertinya mereka tengah bermain kejar-kejaran, dan suara tawa dari anak yang memakai kaos putih disana sungguh-sungguh memekakkan telinga.


"Iya, yang baju putih itu anak Bapak, terus yang baju biru itu keponakan Bapak."


Nanggala mengangguk paham mendengarnya, jadi mereka itu sepupu?

__ADS_1


"Eh, ayo duduk dulu Nanggala?"


Anak itu mengangguk dan tersenyum ketika pria yang masih merangkulnya itu membawanya untuk duduk di sofa ruang tamu.


"Santai aja ya, Nanggala? Anggap rumah sendiri."


Yang di maksud hanya tersenyum kikuk disana, mereka orang-orang yang baik.


Matanya menatap luasnya rumah ini, sangat luas, dan sangat terlihat elegan. Nanggala yakin barang-barang disini tidak ada yang murah, hingga pandangannya teralihkan dengan seorang wanita yang baru saja datang dengan nampan minuman dari belakang.


Bidadari kah? Kenapa cantik sekali?


Wanita itu terkekeh kecil saat melihat ekspresi anak disana yang menatapnya seperti itu, lalu dia pun ikut mendudukkan diri di samping suaminya.


"Nah, ini istri saya, namanya Iresh."


"Ah?" Nanggala dengan cepat bangkit dari duduknya dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu meraih tangan itu dan bersalaman punggung tangan.


"Dia yang pernah kamu bilang anak pintar dan baik itu?"


Pertanyaan itu membuat Nanggala yang baru saja duduk mendongak dan menatap Iresh, selanjutnya beralih menatap pria di samping wanita itu.


"Iya, dia muridku di kelas. Pintar dan baik."


Seperti itu kah dia di mata wali kelasnya? Nanggala diam-diam tersenyum dalam hatinya.


Shandy memang orang yang baik, sepertinya dia memang tidak pernah memandang orang dari kastanya. Dan bisa Nanggala lihat, Iresh juga wanita yang baik, melihat bagaimana wanita itu tersenyum ke arahnya benar-benar lembut.


"Nanggala udah makan?"


"Eum, saya sudah." Jawabnya dan menunduk sopan, membuat Iresh lagi-lagi tersenyum hangat melihatnya.


Shandy-pun mengangguk, "jadi, dia yang nanti akan mengajari mereka."


"Bukannya kamu pernah cerita Rasen yang paling pintar di kelasmu?"


"Iya, sebelum Nanggala masuk," Shandy terkekeh sejenak, "dia sama pinternya sama Rasen, tapi aku mikir dua kali buat minta Rasen ngajar mereka, dia galak."


Ucapan terakhir Shandy tentu saja membuat Iresh dan juga Nanggala terkekeh mendengarnya.


Benar, ingat kan saat Shandy meminta pertolongan kepada Nanggala ketika sekolah mereka berlibur ke kota Bogor? Tepatnya saat mereka tengah berada di Taman Bunga Nusantara. Ini yang Shandy minta tolong kepada anak itu.


Shandy mempunyai anak tunggal, dan satu lagi adalah keponakannya yang tengah tinggal bersamanya, mereka berdua masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Dan mereka, adalah anak yang sangat susah di atur.


Dia meminta Nanggala untuk mengajari mereka, membimbing mereka belajar. Meskipun dirinya juga seorang guru, tetapi dia benar-benar sudah angkat tangan mengajari mereka. Bisa-bisa dia mati muda.


Jadi, dia yang beberapa kali memperhatikan Nanggala, dan merasa kalau lelaki itu adalah anak yang baik, ramah, dan sabar, sehingga dia berpikir dan akhirnya meminta Nanggala untuk membimbing mereka.


Memang sesibuk itu. Shandy seorang guru, dan Iresh seorang dokter. Waktu mereka terbilang sedikit dirumah. Meskipun sepertinya lebih banyak Shandy yang bertemu dengan mereka, tetapi pria itu benar-benar sudah angkat tangan. Mereka berdua selalu membuat keributan di rumah.


Apalagi teriakan anaknya yang seperti petir itu, rasa-rasanya seluruh kaca dirumahnya akan pecah saat itu juga. Lain lagi dengan keponakannya, dia yang selalu mendapat kejahilan anaknya, dia yang pada dasarnya anak penakut, jadi sering dijahili oleh anaknya dan akan berakhir menangis.


Yang satu menangis kencang, yang satu tertawa dengan kencang. Ya, seperti itulah, meskipun mereka sudah duduk dibangku SMP, sifatnya bahkan masih seperti anak TK.


Namun mereka kompak, kompak dalam hal membuat Shandy stres.


"Cleo! Alji! Kesini sebentar!!"


Panggilan keras Iresh membuat kedua bocah di sana perlahan berlari kecil menghampiri ruang tamu.


"Piuw! Piuw piuw!!"


"Yeyy, Cleo menangg!!"


"Ih, Cleo ngalah dong sama Alji!!"


"Ya nggak bisa dong! Pokoknya Cleo menang!!"


"Huwaaa, Cleo nyebelin!!"


Shandy memijat pelipisnya mendengar suara yang saling bersahutan itu, dia tersenyum tidak enak menatap Nanggala.


Karena memang, kedua anak itu yang tadi berlari dari arah belakang, kini berhenti ditengah-tengah mereka, disisi meja saling berseberangan, lalu langsung berteriak seperti itu tadi.


Nanggala terkekeh kecil dibalik punggung anak yang bernama Alji, sedangkan Shandy dan Iresh masih dengan senyum tidak enaknya dibalik punggung Cleo.


"Cleo, Alji, sini dengerin Mamah dulu."


"Apa???"


Jawab mereka dengan senyum ceria dan menghampiri Iresh.


"Kenalan dulu sama Kakak itu," Iresh memutar tubuh kedua bocah itu untuk menghadap ke arah yang di maksud, "namanya Kak Nanggala, dia yang akan belajar sama kalian nanti."


"Halo, Kak Nanggala!"


"Halo, Kak Nanggala!"


Sapa kedua anak itu dengan senyum cerianya, melambaikan tangannya kepada Nanggala dan membuatnya tersenyum di sana. Dan semuanya melambaikan tangan yang tengah memegang mainan tembak-tembakan.


"Halo kalian!" Nanggala terkekeh kecil.


"Aku Cleo!"


"Aku Alji!"


Ah ... Suara mereka. Lagi-lagi Nanggala ingin terkekeh, mereka menggemaskan sekali.


"Belajar sama Kak Nanggala mau?"


Shandy dan Iresh sempat was-was, karena beberapa kali mereka pernah memanggil guru les privat untuk kedua anak itu, dan berakhir sang guru yang menyerah mengajarinya, karena kedua anak itu terlalu rusuh dan bandel.


"Mau!!"


"Ayo Kak, let's go ke kamar kitaa!!"


Kedua suami istri itu hanya melongo melihat kepergian Nanggala yang di tarik oleh Cleo dan Alji.


Secepat itu?


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...

__ADS_1


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Semoga kalian masih suka yaa sampai sini~...


__ADS_2