NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
11. Melewati Hatimu


__ADS_3

Hari ujian tengah semester sekolah-pun tiba, semua di sibukkan dengan belajar. Sama halnya dengan Jerga, hari seperti inilah yang seperti neraka untuknya, karena Dharma pasti akan memintanya terus belajar, belajar dan belajar.


Meskipun hari-harinya juga seperti itu, tetapi jika ujian akan datang, ayahnya pasti akan semakin memperketat belajarnya, bahkan bisa di hitung berapa kali dia keluar kamar ataupun keluar rumah.


Jerga-pun tidak boleh sakit. Karena apabila itu terjadi, sang ayah pasti akan membuatnya lebih sakit lagi. Dalam artian lain adalah 'menghukumnya'.


Dia sudah lelah kalau boleh jujur.


Hari ini masih sangat pagi, Jerga menghembuskan napasnya pelan dan di senderkan punggungnya di kursi yang sejak tadi di dudukinya itu. Matanya melirik ke laci mejanya, menarik sedikit benda itu hingga dia bisa melihat apa-apa saja yang berada di dalamnya.


Jerga ini sangat rapi, lelaki itu menempatkan barang-barang miliknya dengan sangat rapi. Sama dengan penataan kamarnya tentu saja, sungguh kelihatan rapi, dari pada kamar milik Haksa yang sudah mirip seperti warnet dua puluh empat jam.


Dulu, Jerga sering bermain game, dia sangat menyukai game. Tetapi saat Jerga menginjak kelas dua SMP, Dharma menyita itu semua. Dan sejak saat itulah pria itu hanya mengijinkannya memegang buku, tidak ada game lagi.


Dharma sudah begitu sejak dia SMP, atau bahkan sejak kecil dia bisa merasakan ayahnya itu memperlakukannya berbeda. Tetapi jika Jerga melihat kakak-kakaknya yang lain, ayahnya seperti biasa-biasa saja, tidak pernah seketat pria itu memperlakukannya dan kembarannya.


Janan? Mana pernah di marahi oleh Dharma. Meskipun dari yang Jerga lihat, Janan tak jarang berlaku sinis kepada ayahnya, atau tidak menanggapi apa yang pria itu ucapkan. Entah kenapa. Janan memang sangat cuek.


Jerga dan Jia tidak pernah di perlakukan lembut sejak kecil. Dia tidak mengerti lagi.


Tangan lelaki itu mulai mengambil benda yang berada di dalam laci mejanya, mengambil benda pipih itu dan menariknya ke atas.


Sebuah foto. Foto dimana dirinya masih SMP dulu. Di dalam foto ada dirinya dan juga sahabatnya. Di sana Jerga tersenyum sangat manis, bahkan eye smile yang sekarang sudah benar-benar jarang lagi terlihat, lelaki itu memperlihatkannya di sana.


Serta sahabatnya yang juga tersenyum tak kalah manis itu, senyuman yang benar-benar manis. Sahabat yang dia temui saat dia baru pindah ke desa itu. Sebenarnya kotanya masih sama, hanya berbeda desa.


Anak pindahan sepertinya dulu sulit untuk mendapatkan teman, dan hanya anak itu yang berani mendekatinya lebih dulu. Hingga entah apa yang membuat Jerga akhirnya luluh juga dengan anak lelaki itu. Dia saja lupa ceritanya bagaimana.


Mereka hanya bersahabat tidak lebih dari satu tahun. Jerga yang saat itu mengikuti Dharma untuk pindah lagi, dan perpisahan mereka yang memang terasa sangat pahit kala itu. Sampai sekarang yang Jerga rasakan. Dia membencinya hingga sekarang.


Entahlah, masih sulit tersenyum lagi, bercanda lagi atau bercerita lagi dengan lelaki itu.


Jerga menatap lamat-lamat fotonya. Meski kenangan saat itu buruk, tetapi entah kenapa dia tidak pernah berpikir untuk melenyapkan foto itu. Buktinya saja foto itu masih tersimpan rapi di laci meja kamarnya.


Lelaki itu menghembuskan napasnya panjang.


"Lo emang baik, Na. Tapi gue tetep benci sama lo."


Sorot matanya yang sedari tadi sendu itu berubah tajam, tangannya dengan gerakan cepat mengembalikan foto itu lagi ke laci dan menutupnya dengan kencang. Jerga memejamkan matanya dan memegang kepalanya yang sedikit berdenyut, matanya lalu melirik jam yang terletak di meja belajarnya.


Ah, sudah selama itu? Waktu sudah menunjukkan pukul enam pagi saja.


Tubuhnya lalu berjalan keluar kamar, sepertinya kakaknya itu belum bangun. Karena biasanya gadis itu akan ke kamarnya, tetapi ini belum juga ke kamarnya. Memang masih pagi, tetapi kakaknya memang biasanya di jam segini sudah bangun.


Kamar Jia terletak di sebelah kamar Jerga, jadi tidak perlu jauh-jauh lelaki itu melangkah. Di bukanya pintu berwarna putih itu, Jerga tersenyum. Memang benar kakaknya belum bangun, tetapi bisa dia lihat di sana di meja sang kakak, masih berserakan dengan buku-buku sekolahnya.


Jerga berjalan mendekat, setiap dia menatap wajah itu, pasti akan merasa sedih dan juga sesak. Tangannya terangkat untuk mengelus kepala itu lembut.


Gadis yang sangat baik, sahabat yang sangat baik, kakak yang sangat baik untuknya. Kenapa gadis itu harus begini? Jerga benar-benar benci kepada seseorang yang membuat kembarannya menjadi seperti ini.


Jerga membencinya. Dia membenci lelaki itu.


Kriet


Kepalanya seketika menoleh saat mendengar suara pintu yang di buka. Ya, memang tadi dia tidak menutupnya rapat, lagi pula hanya berniat menengok kakaknya.


Wajah Jerga berubah datar melihatnya, sedangkan lelaki di sana juga masih diam tak bersuara.


Nanggala, mengurungkan langkahnya yang tadi akan memasuki kamar ini.


"Eum, gue ke bawah dulu." lelaki itu menghembuskan napasnya dan tersenyum tipis, tangannya kembali menutup pintu itu.


Nanggala membalikkan tubuhnya dan berniat menuruni anak tangga lagi. Sudah ada Jerga di sana, pasti sebentar lagi Jia bangun. Jadi selagi menunggu gadis itu siap berangkat sekolah, membantu bibi tidak ada salahnya bukan?


Langkahnya sudah dekat dengan tangga, namun ada sesuatu yang membuatnya menghentikan langkahnya lagi. Matanya menangkap sang tuan rumah dan anak pertamanya tak jauh di depannya. Dengan posisi Dharma akan menuruni tangga, dan Janan yang menaiki tangga.


Janan hanya menatap Dharma tanpa ekspresi, sedangkan Dharma yang di tatap seperti itu pun menghembuskan napasnya.


"Muka kamu kenapa?"


Janan yang diberi pertanyaan seperti itu hanya melirik sinis dengan ekor matanya, lalu melangkah pergi dari hadapan sang ayah tanpa menjawabnya.


Pasalnya, bisa Dharma lihat di wajah anak pertamanya itu ada luka ungu di sekitar bibirnya, apa lelaki itu berkelahi?


"Janan!" seru Dharma.


Nanggala masih terdiam, dia pikir meskipun Janan orang yang jarang berbicara, lelaki itu akan mengeluarkan suaranya kepada Dharma. Tetapi dari yang dia lihat tadi tidak seperti itu, ada tatapan benci saat menatap ayahnya.


.......


.......


Ujian pertama mereka tadi matematika, semuanya di sibukkan dengan angka-angka dan rumus-rumus yang sepertinya sejak tadi berputar-putar di kepala mereka. Dan kini jam sudah memasuki istirahat, banyak dari mereka yang menuju ke kantin untuk mengisi kekosongan perut. Sama halnya dengan anak berlima itu.


Nanggala, Jia, Yora, Rasen dan Haksa. Mereka tengah menikmati makan siang mereka di kantin. Tidak ada Jerga, Haksa juga tidak tahu lelaki itu kemana.


Jam istirahat sebentar lagi akan usai, semua murid yang masih melakukan aktivitas mereka di luar kelas pun bergegas masuk ke kelas mereka masing-masing, untuk menyiapkan ujian mata pelajaran kedua yaitu Bahasa Inggris.


Nanggala merasakan ada yang aneh dengan perutnya, wajahnya sedikit meringis namun dia membiarkan itu. Hingga tak lama mereka saat ini tengah berjalan di koridor, akan kembali ke kelas.


"Jia, Nala ke toilet bentar ya?" panggilnya membuat ketiga orang itu menoleh, "Jia ke kelas sama Yora sama Rasen, ya?"


Tidak, Nanggala tidak memperlihatkan jika perutnya sakit. Dia tidak mau membuat gadis itu khawatir.


"Udah mau bell, Na." Ujar Rasen.


"Iya, Sen. Gue cepet kok." Balasnya tersenyum.


Rasen hanya menganggukkan kepalanya mendengar itu. Sama halnya dengan Yora, gadis itu meraih tangan Jia yang berada di sampingnya dan menggenggamnya.


Setelah mendapat anggukkan dari Jia, Nanggala bergegas untuk menuju ke toilet dengan langkahnya yang sedikit berlari. Memang benar kata Rasen tadi, bell pasti sebentar lagi berbunyi, maka dari itu dia berlari. Tidak, dia sedang tidak ingin buang air besar, ini sakit yang lain.


Sesampainya di depan toilet, samar-samar Nanggala mendengar pembicaraan orang dari dalam. Tidak satu orang, melainkan sepertinya ada beberapa. Kakinya melangkah masuk, dan baru beberapa langkah lelaki itu bisa melihat adanya seseorang yang kerap kali mem-bully-nya itu.


Yunan dan teman-temannya. Kedatangan Nanggala juga membuat ke empat orang disana menolehkan kepalanya menatapnya.


"Wah, ada siapa nih?" Senno mendekat.


"Eh, ada si miskin? Haha!" Sahut Alwan juga disana.


"Si miskin kayaknya mau jadi pahlawan nih?" kekeh Gasta sambil mendekat ke arah Nanggala dan memukul kepala belakang lelaki itu.

__ADS_1


Nanggala yang baru saja memejamkan matanya karena refleks dengan pukulan Gasta beberapa detik yang lalu, kini dia mengernyitkan alisnya. Maksudnya apa tadi?


"Jer, malaikat lo udah dateng nih!" Kekeh Gasta lagi sambil siku tangannya dia gunakan untuk mendorong salah satu pintu bilik toilet.


Nanggala yang mendengar nama itu seketika membulatkan kedua bola matanya, tubuhnya langsung mendekat ke pintu bilik yang disitu tentu saja masih ada Yunan dan yang lainnya.


"Eits," tangan Yunan mencengkram seragam Nanggala dan mendorongnya ke pintu di sampingnya, lelaki itu tersenyum sinis, "gue udah bilang 'kan, jangan lakuin hal yang nggak gue suka."


Nanggala menatap Yunan tajam, tentu saja membuat lelaki itu terkekeh sinis. Dan tiba-tiba bell masuk kelas berbunyi membuat pandangan mereka semua teralihkan.


"Oke, karena gue baik sama lo, gue bakal lepasin."


Tangan Yunan yang sejak tadi mencengkram kerah seragam Nanggala dia lepaskan, serta menepuk sedikit keras pada bagian seragam yang di cengkramnya tadi. Lalu seketika wajahnya mendekat, tatapannya berubah menyeramkan.


"Nggak usah natap gue kayak gitu, sialan." Bisiknya di telinga Nanggala.


Bugh!


"Akh!"


Nanggala meringis dan memegangi perutnya yang beberapa detik lalu itu di hantam kepalan tangan Yunan dengan begitu kencang. Lelaki itu memejamkan matanya, merasakan perutnya yang terasa sakit sejak di kantin tadi, sekarang bertambah sakit lagi akibat pukulan itu.


Bekas pukulan lelaki itu saat di lapangan basket saja masih terasa nyeri di perutnya. Nanggala sedikit terbatuk. Dari sebelah matanya yang terbuka, bisa dia lihat Yunan dan teman-temannya meninggalkannya disini. Seketika tubuhnya berbalik ke belakang, menatap pintu bilik itu dengan khawatir.


"Jerga!"


Cklek


Pintu itu terbuka. Karena memang kan pintu toilet kuncinya dari dalam, bukan dari luar. Hanya memang tadi mungkin Jerga di tahan oleh Yunan dan teman-temannya dari luar, sehingga lelaki itu juga tidak bisa keluar.


Nanggala menatap Jerga khawatir, dan mata mereka bertemu. Namun Jerga hanya menatap lelaki di depannya ini dengan tatapan sinisnya, tubuhnya mulai berjalan keluar dan menubruk pundak lelaki itu.


"Jer." Panggil Nanggala mencekal lengan lelaki itu.


Nanggala sungguh tidak peduli dengan bell yang sudah bunyi beberapa menit yang lalu itu. Di tatapnya wajah dingin Jerga di hadapannya, tatapannya turun ke bagian perut lelaki itu. Sepertinya sama dengan dirinya, namun pada seragam bagian depan lelaki itu sedikit kotor, seperti bekas sepatu.


Entah apa yang Yunan lakukan kepada Jerga. Entah apa juga yang membuat Yunan melakukan ini semua kepada Jerga. Nanggala pikir, orang pintar seperti Jerga, dan orang yang juga terpandang seperti Jerga, tidak akan membuat Yunan berlaku kasar kepada lelaki itu. Tetapi tetap saja.


Jerga dengan cepat menepis lengan yang tadi di cekal Nanggala. Matanya melirik lelaki itu sinis.


"Gue bilang nggak usah sok peduli sama gue." Tatapannya tajam.


Nanggala hanya menatap mata itu sendu, bahkan dia rasa matanya mulai memanas.


"Gue minta maaf, Jer," lirihnya menundukkan kepalanya, sedangkan Jerga tengah tersenyum sinis disana, "tapi gue bener-bener peduli sama lo."


Kali ini Jerga terkekeh sinis.


"Bener-bener peduli?"


"Lo dimana saat gue butuh lo dulu?"


"Lo dimana saat gue panggil nama lo?"


"Lo nggak pernah ada buat gue ...."


"Itu yang namanya peduli?"


Hati Nanggala benar-benar sesak mendengar semua yang keluar dari mulut itu. Sakit.


Tatapan Jerga menatapnya dengan tatapan kecewa. Dia tahu Jerga kecewa, dia tahu dia salah, tetapi dia mempunyai alasan. Dan belum sekarang dia menceritakannya. Dia saja masih sakit dan belum bisa melupakan alasan apa yang membuat Jerga berpikir jika dia mengabaikannya atau meninggalkannya.


Lalu selanjutnya, Jerga melangkah pergi dari hadapan Nanggala lagi. Dan lagi-lagi lelaki itu menubruk tubuh Nanggala yang sejak tadi di tatapnya sinis.


Nanggala hanya menatap sendu kepergian lelaki itu.


"Jer ...."


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


Malam yang begitu dingin, malam yang tiba-tiba turun hujan dari jam tujuh tadi, namun menjadi malam hangat yang menemani kedua orang di kamar bernuansa pink ini.


Nanggala dan Jia, saat ini mereka tengah belajar di kamar gadis itu. Mereka berdua tengah duduk di atas karpet bulu yang terdapat di kamar si gadis. Nanggala terkekeh, sejak tadi dia menatap wajah serius Jia yang tengah belajar.


Jika di lihat seperti ini, gadis itu tidak seperti orang yang terkena gangguan mental. Jia seperti gadis normal lainnya, tenang, serius dengan belajarnya. Dan benar-benar cantik menurut Nanggala.


Hatinya hangat.


Hingga ketika mata gadis itu mulai menatap ke arah Nanggala saja lelaki itu masih diam tak bergeming.


"Nala?"


"Hum?"


"Nala kenapa ....?"


Nanggala menurunkan tangan kirinya yang sejak tadi dia gunakan untuk menyangga dagunya, dia tersenyum sangat manis.


"Cantik."


Jia nampak bingung dan mengangkat alisnya, "hung?"


Nanggala terkekeh, gadis itu menggemaskan sekali, "kamu cantik."


Jia terdiam sejenak, beberapa detik kemudian dia menundukkan kepalanya dengan senyuman malu. Dasar Nanggala ini. Tidak biasa juga lelaki itu memakai 'kamu'. Biasanya kan memanggil gadis itu dengan nama.


Jia masih menunduk malu tanpa mau menatap Nanggala, dan Nanggala juga bisa melihat gadis itu tengah mencoret-coret asal bukunya di sana.


Sebenarnya Nanggala juga bingung, apa Dharma tidak pernah membawa gadis itu ke dokter untuk terapi?


Karena dia tahu mental seperti Jia itu bisa sembuh. Asal di dukung atau selalu di ingatkan sesuatu yang potitif, sehingga dia perlahan lupa dengan hal negatif atau hal tidak menyenangkan yang gadis itu alami dahulu. Agar gadis itu perlahan lupa atau bisa melewatinya, dan gadis itu perlahan akan sembuh.


Tetapi kalau Nanggala lihat lagi dengan keadaan keluarga ini, memang sulit. Dharma yang sibuk bekerja, dan tentu saja tidak terlalu memperhatikan dan memperdulikan Jia. Kedua kakaknya yang sama saja, mereka seperti masa bodoh adiknya sendiri sembuh atau tidak. Mungkin hanya Jerga. Tetapi lelaki itu terlalu sibuk dalam kekangan ayahnya.


Huff ... Nanggala ingin sekali membantunya. Dia ingin sekali membuat gadis itu sembuh dan menjalani kehidupan normalnya lagi.


Dia yakin dia bisa.

__ADS_1


Dan dia yakin Jia juga pasti bisa.


"Yang paling Jia nggak suka apa?"


Tubuhnya sedikit condong ke depan, membuat gadis itu terkejut dan mendongakkan kepalanya.


Mata cantiknya menatap Nanggala yang tengah tersenyum manis. Tetapi hanya sebentar, setelah itu dia merubah raut wajahnya menjadi antara sedih dan takut.


"Papa ...," gadis itu menunduk, "kak Janan, kak Jihan ...."


Nanggala menatap sendu Jia. Dia hanya berniat bertanya tentang 'apa' yang gadis itu tidak suka, bukan 'siapa' yang gadis itu tidak suka. Tetapi jawaban gadis itu adalah mereka, Nanggala sungguh tidak bermaksud. Lelaki itu mencoba untuk tersenyum lagi, dia tidak ingin membuat Jia bersedih jika dia ikut bersedih seperti ini.


"Terus, yang paling Jia suka, siapa?"


"Mama, Jerga ...."


Nanggala tersenyum hangat menatapnya. Jia mulai mendongakkan wajahnya lagi dan mulai tersenyum.


"Nala."


Nanggala mengangkat alisnya mendengar itu.


Dia? Dia kenapa?


Jia mengangguk pelan, "yang Jia suka juga."


Kedua sudut bibir lelaki itu terangkat, kini dia yang tersenyum malu menatap gadis di hadapannya ini. Ah, kenapa jantungnya berdebar lebih cepat mendengar itu?


Sebenarnya Nanggala senang juga, bisa tertawa bersama dengan Jia. Dia senang gadis itu tersenyum seperti ini, dia senang gadis itu bisa tertawa bersamanya, dia senang gadis itu berada di sampingnya.


Tidak Nanggala sadari memang, dia senang berada di samping dan di dekat Jia. Hatinya hangat.


Baru kali ini dia merasakan itu semua, baru kali ini ada seseorang yang membuatnya terus tersenyum dan membuat hatinya terasa hangat, bahagia, dan lain lagi. Baru kali ini dia seakan lupa dengan kepahitan hidupnya. Baru kali ini, dan karena gadis itu.


Dan Nanggala berjanji akan terus di sampingnya hingga gadis itu sembuh. Ya, dia berharap seperti itu.


"Jia, Nala punya sesuatu buat Jia."


Gadis itu hanya tersenyum dan melihat Nanggala yang sepertinya tengah mengambil sesuatu dari dalam tas ransel abu-abunya.


"Tada~ Buat Jia."


Nanggala tersenyum sambil menunjukkan benda yang tadi dia rogoh dari tasnya. Tentu saja sudah dia keluarkan dari dalam paper box. Tenang, meskipun dia masukan ke dalam tasnya, dia membawanya sangat hati-hati saat perjalanan kesini tadi.


Sebuah kue berbentuk bundar berwarna pink putih, sangat manis dan terlihat cantik dengan selai strawberry disela-sela tumpukan cream putih itu. Di atasnya juga terdapat beberapa buah strawberry yang menjadi pelengkap. Jia pasti suka.


Nanggala sengaja membelinya tadi sebelum kesini di toko budhe Thalia. Sebenarnya dia tahu jika dia beli di sana akan seperti apa. Ya, tentu saja wanita itu tidak mau dibayar, dan menyuruhnya untuk membawa saja kue itu untuk teman cantiknya itu.


Beberapa hari yang lalu dia sempat mengajak Jia kesana. Gadis itu berkenalan dengan Thalia dan juga Hardi. Meskipun masih sedikit takut, tetapi Jia masih bisa tersenyum karena bercandaan Hardi.


Kini, Nanggala bisa melihat mata gadis itu berbinar senang menatap kue yang masih ada pada genggamannya. Namun yang membuat raut wajahnya berubah bingung adalah saat dengan tiba-tiba Jia memundurkan tubuhnya, memejamkan matanya kuat dan menutup kedua telingannya.


"Aaaaaaa!!"


Nanggala membulatkan matanya dan menaruh kue itu di meja yang sejak tadi mereka gunakan untuk belajar, lalu dengan cepat menghampiri Jia. Dia jongkok di samping gadis itu dan memegang kedua pundaknya.


"Jia kenapa??"


"Hiks, aaaaa nggakk!!!"


Tubuh Jia memberontak hingga Nanggala dengan cepat menarik tubuh itu ke dalam pelukannya. Gadis itu masih menangis, dan sesekali masih memberontak meskipun dia sudah memeluknya.


Teriakannya mulai mereda, tetapi Jia masih menangis di dalam pelukannya. Dia bisa merasakan tubuh itu bergetar hebat, kedua tangannya saja masih gadis itu gunakan untuk menutupi telinganya.


"Ssstt, Jia ... Nala disini ...," Nanggala semakin memeluknya erat, "Nala disini ...."


"Hiks ...."


Nanggala juga merasa sakit mendengar isakan dan erangan kecil gadis itu. Jia sangat ketakutan.


"Hiks, Nala ... tali ...."


Kepalanya sedikit menunduk untuk melihat wajah gadis itu. Apa? Tali? Tali apa maksudnya?


"Nala ... tali ...."


Tangan Jia terangkat dan menunjuk sesuatu, dan membuat Nanggala langsung mengikuti arah tunjuk gadis itu yang menunjuk kue yang tadi dibelinya. Nanggala masih tidak mengerti.


Lalu matanya menangkap sesuatu disana. Apakah itu yang Jia maksud? Itu hanya sebuah pita penghias mika yang membungkus kue yang di bawanya tadi. Pita penghias berwarna pink yang melingkari bagian atas mika bening itu.


Tali ....


Nanggala yang mulai mengerti langsung melepaskan pita itu dan memasukannya ke dalam saku hoodie-nya, tubuhnya kembali memeluk Jia erat yang tadi sempat sedikit terlepas saat dia mengambil pita itu. Dia bisa merasakan tangan gadis itu meremas hoodie bagian pinggangnya erat, serta masih menangis kecil dengan tubuhnya masih gemetar.


"Nala disini ... maafin Nala, ya?"


"Jangan nangis ... Nala jadi sedih."


Tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Jia. Setakut ini gadis itu ... Apa yang sebenarnya membuatnya takut dengan pita?


Tidak. Tidak.


Jia tadi menyebutkan kata tali. Lalu apa? Apa yang membuat gadis itu takut dengan tali?


Nanggala merasa tidak tega mendengar isakan Jia dalam pelukannya.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Humm, apa aja ya masa lalu mereka? Jadi makin penasaran nggak nih?...

__ADS_1


...Terus dukung author ya!...


__ADS_2