NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
48. Sosok yang Baik


__ADS_3

Beruntung sekali hari ini memang weekend, jadi sesuai yang Jerga katakan kemarin, jika hari ini mereka akan bertemu dengan Nanggala.


Jia pikir, lelaki itu akan pulang hari ini ke Jakarta, ternyata bertemu yang Jerga maksud adalah mereka menemui Nanggala di kampung halaman lelaki itu, yaitu di Bandung. Tidak apa-apa sebetulnya menurut Jia dimana saja itu, yang terpenting dia akhirnya bisa bertemu lagi dengan lelaki itu.


Janan melirik ke belakang dengan ekor matanya, sang adik terlihat sangat ceria sejak kemarin Jerga mengatakan akan bertemu Nanggala. Dalam batinnya dia terkekeh kecil, sebegitu sayangnya adiknya itu kepada Nanggala. Nanggala memang anak yang sangat baik.


Tidak mungkin Janan membiarkan adik-adiknya pergi sendiri ke Bandung, dia yang kebetulan tidak ada jadwal kuliah memutuskan untuk menemani mereka menggunakan mobilnya ke tempat itu.


"Seneng banget ya?"


Jia menoleh ketika Yora yang duduk di sampingnya bertanya seperti itu tadi, kepalanya lalu mengangguk dengan senyum yang begitu manis.


"Seneng. Akhirnya bisa ketemu sama Nala lagi." Jawabnya dengan senyum yang masih mengembang disana.


Jerga-pun merasa senang mendengar kakaknya sudah ceria lagi. Dia menghembuskan napasnya panjang membuat Janan yang tengah mengemudi itu menoleh ke arahnya. Lelaki itu tersenyum lembut kepadanya sambil mengangguk kecil.


Hingga tidak terasa mobil milik Janan sudah berhenti di depan sebuah rumah, tentu saja rumah milik Nanggala. Ah tidak, dua rumah, ada rumah satu lagi yang tepat berada di samping rumah Nanggala.


"Huwaaah, sejuk banget disini!"


Yora yang baru saja turun sambil membantu Jia-pun menoleh ke belakang ketika mendengar suara keras tadi. Gadis itu meliriknya sinis. Dasar Haksa, dimana-mana lelaki itu selalu yang paling heboh.


Rasen yang baru turun dari mobilnya langsung menendang bokong Haksa dari belakang karena lelaki itu menghalangi jalannya, hingga membuat sang empu hampir saja terjerembab ke depan diiringi dengan dengusan sebal.


Ya, seperti inilah. Semuanya minta ikut berkunjung ke kota kelahiran Nanggala setelah kemarin mendengar apa yang di sampaikan Jerga.


Bahkan di tambah dengan Yodhan, lelaki itulah yang mengendarai mobil milik Rasen. Janan yang mengajak agar ada teman yang seumuran saja, lagi pula lelaki itu kan juga sangat dekat dengan Nanggala.


"Rumahnya yang mana?" tanya Gasta sesampainya di samping Jerga.


Lelaki itu yang mendengarnya lantas menunjuk sebuah rumah di samping kanannya menggunakan dagunya, lalu membuat yang bertanya tadi langsung menganggukkan kepala mengerti.


"Ayo, Kak?"


Suara Jerga membuat Jia yang sejak tadi memandangi rumah itu dengan senang akhirnya mengangguk dan mulai berjalan di sampingnya.


"Gue duluan." Celetuk Haksa yang langsung menerobos tubuh Gasta yang berjalan di depannya, tentu saja membuat lelaki itu melotot tidak terima.


"Gue duluan, sialan!" Geram Gasta tertahan dan ikut berlari mengejar Haksa.


"Shh! Nggak di Jakarta nggak disini, ribut terus kalian!" seru Rasen yang sudah tidak habis pikir, matanya beralih menatap sinis anak yang berjalan di sampingnya.


"Gue nggak." Ucap Yunan tak kalah sinis.


Janan dan Yodhan yang berjalan di paling belakang hanya mampu menggelengkan kepala mereka melihat kelakuan para anak-anak itu, keduanya saling melirik dan terkekeh bersamaan.


"Bundaaaa~!"


Tidak lain dan tidak bukan yang berteriak seperti itu tadi adalah Haksa.


Yewina tersenyum disana, wanita itu turun dari teras rumahnya yang masih seperti rumah jaman dulu. Dia menyambut hangat teman-teman putranya dan melemparkan senyum satu per satu kepada mereka. Tatapannya beralih pada Jia yang berjalan semakin mendekat ke arahnya.


"Jia kangen Bunda ..." lirih gadis itu setelah menubrukkan tubuhnya pelan dan memeluk wanita di hadapannya.


Yewina tersenyum mendapat pelukan itu, di usapnya lembut punggung Jia yang terbalut cardigan panjang, "Bunda juga kangen banget sama Jia."


Jerga merasa tenggorokannya tercekat sekarang ini. Entahlah, matanya tiba-tiba memanas. Lelaki itu menundukkan kepalanya sejenak, lalu mengangkatnya lagi sambil menghembuskan napasnya lirih. Bibirnya tersenyum tipis.


Setelah itu, semuanya di ajak masuk oleh Yewina, mereka sesekali berkata jika rumah ini sangat nyaman. Jerga sempat terkekeh kecil, dulu dia pernah di ajak Nanggala bermain ke rumah ini saat mereka masih sama-sama tinggal disini.


"Nala kemana Bunda?" tanya sang gadis yang masih berdiri memeluk lengan Yewina.


Yewina tersenyum, "Nala lagi istirahat ... Jia nunggu sebentar nggak papa, kan?"


Gadis itu mengangguk mengerti. Matanya ikut melengkung sangat manis saat tangan Yewina mengusap lembut puncak kepalanya. Ah ... Dia sudah tidak sabar Nanggala melakukan seperti ini juga kepadanya.


Tidak apa-apa, biarkan lelaki itu istirahat terlebih dahulu. Suara lirih Nanggala ketika terakhir berbicara kepadanya lewat telepon waktu itu membuatnya sedih, lelaki itu seperti sangat kesakitan dengan Cluster Headache-nya.

__ADS_1


"Kalian pasti laper, 'kan? Bunda masak dulu ya?"


Ada rasa tidak enak sebenarnya, namun jika boleh jujur mereka ya memang lapar. Perjalanan dari Jakarta ke Bandung tadi menempuh waktu sekitar 2-2.5 jam. Berhenti pun hanya di tempat pengisian bensin tanpa makan atau apapun. Karena mereka setuju akan makan setelah sampai saja.


Sampai sini juga bukan berarti berniat makan di rumah Nanggala, tentu saja mereka akan mencari tempat makan yang dekat dengan rumah Nanggala nantinya.


Akhirnya mereka hanya menganggukkan kepala saja menjawab pertanyaan dari Yewina tadi. Wanita itu tersenyum dan berpamitan untuk menuju dapur, sebelum langkahnya terhenti ketika dua orang gadis yang tadinya duduk di sofa itu menghampirinya.


"Jia mau bantu Bunda."


"Yora juga!"


Keduanya terkikik bersamaan membuat Yewina tersenyum. Wanita itu lantas mengangguk, "iyaa, let's go bantu Bunda!"


Mereka berdua lagi-lagi tersenyum senang. Jia mulai memeluk lengan Yewina lagi, serta Yora yang sudah berjalan lebih dulu di depan seperti tahu saja letak dapur rumah ini dimana.


"Ya ampun Bunda lupa belum belanja sayur." Cetus Yewina seketika teringat, lantas salah satu tangannya membuka kulkas, dan benar saja. Ucapan itupun membuat kedua gadis disana menoleh ke arah wanita itu.


"Yora aja Bun yang beli?"


Yewina menoleh ke arah anak itu, bibirnya tersenyum lalu mengangguk, wanita itu berkata sebentar untuk ke kamar dan mengambil dompet miliknya.


"Ada semacam toserba di deket sini kok, Yora minta antar anak cowok aja ya?" Ucap Yewina sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada anak itu.


Dia mengangguk, "iya Bunda, tadi Yora liat pas di perjalanan," jawabnya tersenyum manis, "Yora sendiri aja, lagian deket juga."


Melihat senyum manis gadis itu yang seolah berkata kepadanya jika dia tidak apa-apa pergi sendiri, Yewina-pun akhirnya mengangguk lalu mengucapkan hati-hati kepada gadis itu. Dan sepeninggal Yora, kini hanya menyisakan dirinya dan juga Jia.


Jia tadi sempat melirik kamar yang pintunya tertutup. Kamar Nanggala kah? Sepertinya iya. Gadis itu tersenyum dan mulai membantu Yewina memasak.


"Jia seneng bisa kesini?" tanyanya di samping kanan gadis itu.


Yang di tanya menoleh dan tersenyum, "Jia seneng. Jia seneng ketemu Nala lagi. Walaupun Nala sekarang lagi istirahat, nggak papa, Jia bakal tunggu Nala keluar."


Yewina tersenyum mengulum bibirnya mendengar nada ceria anak itu. Kenapa hatinya sakit sekali? Wajahnya dia palingkan lagi ke kanan untuk melihat ke arah yang lain. Di usapnya lengan gadis itu lembut, dia mencoba untuk tersenyum lagi.


"Jia tau? Jia adalah perempuan pertama yang di sukai dan di sayangi sama Nangga." Ujar Yewina membuat gadis itu menoleh lagi.


"Kesini dulu, sayang?"


Jia menoleh bingung, wanita itu menepuk kursi panjang yang terdapat di dapur dan menyuruhnya untuk duduk di sana, hingga ia pun akhirnya menurut dan duduk di sampingnya.


"Kabar kamu gimana, um? Sehat, 'kan?" tanya Yewina mengelus lembut perut besar gadis itu.


"Cucu Bunda juga sehat-sehat, 'kan?"


Yewina terkekeh kecil menatap perut itu dan di ikuti anggukkan dan juga kekehan kecil sang empu.


"Nangga pernah janji dulu sama Bunda, kalo dia nemuin perempuan yang bisa bikin dia nyaman, dia nggak akan pernah nyakitin perempuan itu dan akan terus menjaga dalam lindungannya."


Yewina kembali tersenyum hangat menatap mata cantik itu dari samping, "Bunda seneng karena perempuan itu adalah Jia."


Jia yang sedari tadi menyimak penuturan wanita itu hanya mampu ikut tersenyum dengan sendu. Ada rasa haru dan bahagia juga. Dia pun sangat senang menjadi perempuan yang di sayangi oleh Nanggala, di lindungi olehnya seperti apa yang Yewina katakan tadi.


Jia merasa beruntung menjadi perempuan itu.


Nanggala adalah lelaki yang lembut, manis, baik dan penuh perhatian. Dia sangat nyaman berada di samping lelaki itu, di pelukan lelaki itu. Dia benar-benar sangat nyaman.


Sudah di katakan, Nanggala adalah malaikat baik yang pernah di temuinya.


"Jia juga seneng. Jia seneng ketemu sama Nala ...," ucapan gadis itu terhenti ketika kepalanya mulai menunduk, "tapi Nala jadi sakit ketemu Jia ... Nala sakit karena Papa ..." suaranya melirih di akhir kalimat.


Sama halnya dengan Yewina, wanita itu juga menunduk sedih. Tangannya terus mengusap lembut punggung tangan Jia di genggamannya, "Jia jangan ngomong kayak gitu sayang ...."


"Kamu kebahagiaan Nangga, dia pasti seneng ada kamu dan bakal lupa bahkan nggak peduli sama rasa lain yang dia rasakan," Yewina tersenyum mengelus tangan gadis itu, "dia bakal lebih mikirin hal yang buat dia bahagia."


Penjelasan wanita itu membuat Jia tidak bisa lagi menahan air matanya. Air mata yang sejak tadi di tahan itu terjun bebas membasahi kedua pipinya, tentu saja membuat wanita di sampingnya ini langsung menghapusnya lembut.

__ADS_1


Dia rindu Nanggala.


Meskipun sekarang dia sudah lebih dekat dengan Nanggala, dia tetap merindukan lelaki itu karena belum melihat sosoknya.


Dia ingin sekali berhambur ke pelukan lelaki itu dengan kencang bila nanti sudah bertemu, dia ingin menumpahkan semua rasa rindunya di sana. Ah, tetapi dia berpikir lagi, dia ingat Nanggala pasti masih lemas, dia ingat kondisi perutnya yang juga besar.


"Nangga itu anak yang baik, dia anak baik bagi Bunda dan juga ayahnya. Anak yang sangat penurut dan nggak pernah marah walaupun keinginannya dapet jawaban tidak dari kita."


Wanita itu terkekeh lirih mengingat Nanggala kecil dulu. Nanggala kecil memang sedikit berbeda dengan anak yang lainnya, sangat penurut dan pendiam. Tidak akan marah atau merengek walaupun tidak di belikan atau di berikan.


"Nangga sayang banget sama ayahnya, begitupun sebaliknya. Mereka deket banget."


"Bunda tau dia nahan untuk tetap kuat di hari dimana ayahnya jadi tersangka pembunuhan kata polisi, kabur dan bunuh diri, dan nggak pernah di temuin lagi sampai sekarang." Lanjutnya dengan suara yang sudah bergetar.


"Maafin papa ... Maafin kita ...."


Yewina menggeleng pelan, "nggak sayang ... Perbuatan papamu, bukan berarti kamu juga bersalah. Bunda udah maafin buat semuanya."


Meskipun masih terasa sesak dan sakit hingga sekarang, Yewina tetap berusaha mengikhlaskan yang sudah terjadi dan pergi. Mereka sudah beristirahat dengan tenang.


"Nala pernah bilang, Bunda itu malaikatnya Nala," gumam gadis itu, "dan Nala, adalah malaikatnya Jia ..." imbuhnya lirih hampir tidak terdengar.


Yewina tersenyum sendu, wanita itu mengangguk lalu membawa tubuh gadis itu pelan ke dalam pelukannya.


"Jia kangen mama ..." isaknya kecil meremas dress milik Yewina.


"Mama selalu sama Jia, mama ada di samping Jia sayang."


Yewina juga merasa kasihan, bagaimanapun gadis itu juga di tinggalkan oleh sosok ibu di usianya yang masih muda. Apalagi saat itu posisinya sedang tidak bersama bukan? Pasti gadis itu sangat terkejut dan juga hancur.


Merenggangkan pelukan itu, Yewina kembali mengusap pipi Jia yang sudah semakin basah. Wanita itu terkekeh, "jangan sedih, hm? Bunda juga disini sama Jia."


Gadis itu mengangguk dan mulai tersenyum lagi, "sama Nala." Tambahnya.


Yewina menatap mata itu dalam, tidak, dia tidak boleh ikut mengeluarkan air matanya. Tangannya terangkat lalu di usapnya rambut panjang itu lembut.


Gerakan tangannya lalu menghapus sisa-sisa air mata di pipi gadis itu lagi, dia hanya mampu menahan rasa sakit di dadanya sejak tadi, entah dia harus bagaimana. Putranya terlihat sangat menyayangi dan mencintai gadis ini. Begitupun sebaliknya.


"Ahs ..."


"Kenapa sayang?" Yewina sedikit terkejut kala mendengar ringisan dari Jia dan melihat gadis itu memegangi perutnya.


Gadis itu tersenyum lembut, "dedenya nendang, Bun. Dia juga nggak sabar ketemu sama ayahnya." kekehnya kecil di akhir.


Yewina tersenyum lega mendengarnya, tangannya beralih mengusap perut besar Jia lagi pelan dengan lembut. Dia sendiri terharu setiap melihat Jia dan cucu pertamanya itu yang masih di dalam perut. Mereka begitu kuat.


"Jia sama temen-temen aja, ya? Bunda masak sendiri aja, sambil nungguin Yora pulang. Jia kan capek." Lembutnya.


Jia yang mendengar itu hanya bisa mengangguk. Jujur memang lelah, perutnya mulai terasa sedikit sakit. Tetapi dia yakin setelah bertemu Nanggala nanti, rasa lelahnya akan hilang.


Lalu, gadis itu pun beranjak dari duduknya dan melangkah keluar, ke ruang tamu yang berisikan teman-temannya tengah saling bercanda.


Serta ada yang melanjutkan pertikaian antara Haksa, Gasta, Rasen dan juga Yunan. Entah kenapa sekarang mereka berempat sering sekali bertengkar seperti anak kecil, namun mereka juga menjadi dekat karena itu.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...

__ADS_1


...End kapan nih? hshsh...


...Semoga masih suka yaa sama ceritanya, jangan lupa tinggalkan komenn...


__ADS_2