
Langkah kaki Nanggala berjalan lunglai menyusuri jalanan sepi ini. Benar-benar seperti tidak bertenaga, beberapa kali tubuhnya seperti terhuyung ke samping, dengan matanya yang juga hanya menatap kosong jalanan yang di pijakinya. Lemas, tubuhnya lemas. Matanya juga terlihat sayu, dadanya masih terasa sesak meskipun sudah beberapa jam berlalu.
Wajahnya meringis ketika dengan tiba-tiba kepalanya mulai berdenyut.
Ah, jangan sekarang!
Tangan kanan Nanggala terangkat untuk memegang kepala sebelah kanannya. Sempat meringis lagi, dia baru ingat ada luka di sana.
Pandangannya menatap sayu lagi ke depan. Nanggala jadi teringat dengan kejadian beberapa jam yang lalu, dia benar-benar tidak tega melihat Jerga di pukuli oleh ayahnya seperti itu. Jerga tidak melawan, lelaki itu hanya diam ketika ayahnya berkali-kali memukul punggungnya dengan stick golf.
Kata bibi, Jerga yang biasanya pulang les di atas jam enam, tadi sudah pulang di sekitar pukul lima sore. Tentu saja hal itu membuat Dharma yang saat itu sudah di rumah marah kepada anak itu. Jerga menjawab jujur saja kalau dia memang tidak berangkat les.
Sampai itu bibi bercerita kepada Nanggala tadi, tentang alasan apa Jerga sampai tidak les, bibi tidak tahu itu. Karena katanya saat lelaki itu di pukuli ayahnya memang dia diam saja, tak mau menjawab apa yang membuatnya tidak berangkat les.
Yang membuat Nanggala tidak menyangka adalah, kata bibi, Jerga memang sering mendapat pukulan dari Dharma seperti ini. Kesalahan sedikit saja pria itu akan menghukumnya.
Pria itu benar-benar ... argh.
Hal yang lebih membuat Nanggala terkejut lagi, tadi saat dia melihat kejadian itu dengan matanya langsung. Ya. Saat pria itu menarik rambut Jia yang tengah posisi jongkok, menariknya ke atas hingga membuat gadis itu berdiri. Sekuat itu tarikan tangannya pada rambut anak perempuannya.
Benar-benar tega.
Dharma sampai bisa memperlakukan anak perempuannya sendiri seperti itu. Mungkin, mungkin memang anak pertama dan kedua pria itu benar-benar mewarisi sifatnya. Ketika melihat Dharma seperti itu memang itu yang bisa Nanggala simpulkan.
Masih ingat bukan ketika Jihan beberapa kali juga menjambak rambut Jia? Dan juga Janan yang dengan tiba-tiba memukul wajahnya saat dia benar-benar tidak tahu dimana letak kesalahannya.
Ah, benar-benar menakjubkan mereka ini.
"Nanggala?"
Suara memanggilnya membuatnya yang sejak tadi berjalan sambil sesekali menunduk itu mendongak, matanya menangkap wajah yang kini tersenyum ke arahnya.
"Budhe?"
Wanita itu menarik bibirnya untuk tersenyum lebih manis, tangannya terangkat mengelus rambut hitam Nanggala, "kamu baru pulang kerja?"
Nanggala tersenyum kikuk menatap Thalia, karena sejujurnya dia tidak berangkat bekerja hari ini. Pulang dari rumah Jerga saja jam sepuluh tadi, terlalu asik bercerita dengan bibi, dan berakhir membantu wanita paruh baya itu melakukan beberapa pekerjaan rumah.
Sudah di larang, namun tetap saja Nanggala lakukan.
"Eh, iya Budhe."
"Ya ampun, kenapa ndak ganti baju dulu to? Kok yo masih pakai seragam sekolah begini?"
Sudah pasti Nanggala masih memakai seragam sekolah, dia tidak sempat berganti baju saat tadi akan pulang. Karena memang tujuannya langsung pulang, tidak bekerja.
"Eum, Nanggala lupa nggak bawa baju tadi, Budhe." Kekehnya kecil.
Jawaban itu tentu saja membuat Thalia juga terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
"Loh? Iki kenopo? Tangan kamu kenopo?" tanyanya sedikit terkejut.
Wanita itu dengan pelan membalikkan lengannya beberapa kali, Nanggala sebenarnya sedikit meringis. Memang masih terasa sakit.
"Kok luka gini? Kamu kenopo, Nak?"
Tatapannya begitu khawatir saat menatap mata anak di hadapannya, dan juga menatap khawatir garis merah yang berada di tangan itu.
"Tadi Nanggala keserempet mobil waktu mau nyebrang, Budhe." Jawabnya tersenyum tipis. Dia sangat meminta maaf sudah berbohong lagi dan lagi.
"Astagfirullah, kok iso? Nanti Budhe obati yo di rumah?"
Ingin menolak rasanya bagaimana, sudah tertangkap basah begini Thalia melihat lukanya. Nanggala bilang tidak mau pun pasti wanita itu akan tetap menariknya ke rumahnya untuk di obati. Jadi, dia menurut saja.
"Lain kali hati-hati yo kalo mau nyebrang ...," tangannya masih sibuk mengusap lembut luka itu, "jadi ndak luka koyo gini."
"Iya, Budhe. Lain kali Nanggala bakal hati-hati." Balasnya dengan senyuman manis.
"Yowis, makan bareng yuk dirumah? Tadi Budhe masak banyak, buat ngerayain hari pertama kamu sekolah lagi. Kebetulan ketemu kamu disini."
Hatinya tersentuh mendengar itu.
Thalia, Hardi, dan juga Yodhan, merawatnya dengan sangat baik. Bukan hanya sekadar merawat, mereka juga merawatnya dengan kasih sayang. Yang lagi-lagi membuatnya sangat rindu dengan keluarganya.
Tanpa sadar ujung matanya kini sudah berair.
"Eh, ojo nangis? Cah bagus kok nangis?"
Thalia menangkup kedua pipi Nanggala dengan tangannya, dengan gerakan lembut juga dia usap air mata anak itu. Meski masih di ujung mata.
Sentuhannya hangat, benar-benar hangat yang Nanggala rasakan. Thalia dengan gemas mengacak rambut itu pelan, Nanggala ini sangat menggemaskan menurutnya. Sang empu yang merasakan itu pun terkekeh pelan. Ah, untung saja jalanan sepi, jadi tidak ada yang melihatnya yang tadi akan menangis itu.
Sebenarnya Nanggala juga tidak ingin menangis, tetapi sentuhan wanita itu benar-benar menghangatkan hatinya. Mirip sekali dengan sentuhan sang bunda.
"Nanggala ... Budhe tau kamu ki wis kangen banget sama bunda kamu," lirihnya menatap anak itu hangat, "sing sabar yo? Kamu pasti ketemu lagi sama dia ...."
Air bening itu kini sudah benar-benar turun membasahi pipi Nanggala, bahunya sedikit naik turun saat Thalia membawa tubuhnya ke pelukannya.
Nanggala menangis di sana, dia menangis di pelukan Thalia. Nanggala tidak peduli, dia memang benar-benar merindukan sang bunda. Empat tahun tidak ada sosok bunda di sisinya, membuatnya harus menjalani kehidupan pahit ini seorang diri.
Sulit, sakit. Sangat menyesakkan yang dia rasa beberapa tahun ini. Dia rindu bundanya, dia rindu keluarga kecilnya.
Dalam dekapan itu, Nanggala bisa merasakan tangan Thalia sesekali mengusap dan menepuk pelan punggungnya. Sungguh membuatnya semakin sesak. Tangannya juga sejak tadi sudah terulur membalas pelukan wanita itu, memeluknya erat, seakan yang di peluknya saat ini adalah seseorang yang di rindukannya selama ini.
Jujur ini pertama kali Nanggala menangis sampai seperti ini, mungkin Thalia dapat mendengar erangan kecilnya dibalik pelukan mereka. Sekali lagi dia tidak peduli.
Nanggala benar-benar merindukan sang bunda.
"Bunda ... hiks ..." suaranya tercekat mengucapkan kata itu.
Harus kemana lagi dia mencari bundanya?
.......
.......
__ADS_1
.......
Pagi hari yang lumayan dingin, sama halnya dengan suasana meja makan di rumah ini, dingin, tanpa suara. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar.
Lelaki yang memakai seragam sekolah dan dibalut dengan jaket cokelat susu itu hanya menatap datar makanannya, dia benar-benar tidak berselera makan rasanya. Untuk mengambil makanan di piring-piring di depannya saja tangannya terasa nyeri.
"Masih kurang, Jerga?"
Lelaki yang di beri pertanyaan seperti itu hanya melirik dengan ekor matanya.
"Kalau kamu kayak itu lagi, Papa bakal hukum kamu lebih dari ini."
Kedua orang yang duduk berhadapan dengan Jerga juga mendongakkan kepala mereka dan menatapnya dengan tatapan datarnya. Ya, sudah pasti mereka akan tetap diam, memangnya kakak-kakaknya itu akan membantunya bila dia tengah di hukum sang ayah seperti ini?
Sama sekali tidak pernah.
"Bunuh Jerga aja kalo gitu, Pa."
Dharma menoleh lagi ketika mendengar itu.
"Bilang sekali lagi Jerga."
Matanya memanas, tangannya terkepal, giginya bergemeletuk di dalam mulutnya. Bukannya Jerga menyerah, bukannya dia tidak kuat, dia hanya sudah muak dengan kata 'hukuman'. Jerga sudah lelah dengan itu, dia lelah dengan semuanya. Lebih baik ayahnya membunuhnya saja sekalian, dari pada dia harus tersiksa dan malah akan membuatnya mati perlahan-lahan.
Plak!
Ah, pipinya sudah terasa sangat kebas. Kemarin sebelum tubuhnya di pukul oleh stick golf, beberapa tamparan sudah lebih dulu mengenai pipinya.
Jerga masih terdiam, menunduk. Dapat dia rasakan gadis yang duduk di sebelahnya itu meremas ujung jaketnya. Kakaknya pasti mulai ketakutan.
"Papa udah cukup baik biarin kamu masih hidup sampai sekarang ya, Jerga Abhicandra."
Tangannya kembali terkepal, hatinya benar-benar sakit mendengar itu. Kepalanya mendongak perlahan, ayahnya sudah melangkah pergi dari sini. Dan bisa dia lihat disana kedua kakaknya tengah menatapnya dengan tatapan tanpa ekspresi.
Jerga membenci Janan. Lelaki itu seperti patung, bisa di hitung berapa kali ia mengeluarkan suaranya di rumah ini. Janan tidak pernah berbicara kepadanya, lebih sering mengabaikannya. Sekalipun berbicara, ucapan lelaki itu adalah ucapan kebencian terhadapnya.
Sifat pendiam Janan lebih parah ketika sang ibu meninggal. Memang, sejak dulu sifat Janan sudah seperti itu, tetapi ketika ibunya meninggal, lelaki itu jadi lebih pendiam.
Lalu Jihan, perempuan iblis itu. Jerga juga benar-benar membencinya. Gadis yang sangat mirip dengan ayahnya.
Mereka boleh membencinya, tetapi tolong jangan membenci kembarannya ... Dia sudah pernah bilang, sakit mental gadis itu juga bukan kemauannya. Memangnya ada orang yang menginginkan mentalnya terganggu?
Tidak ada.
Jia seperti itu karena dia trauma, trauma dengan kejadian beberapa bulan yang lalu. Mungkin bukan hanya trauma, gadis itu dulu sempat stres, depresi, apalagi ayahnya yang memang saat itu juga sering memukulinya. Membuat gadis itu benar-benar stres dan tertekan.
Maka dari itu, sekarang kakak kembar Jerga sering ketakutan atau berteriak ketika dia melihat atau mengalami kekerasan.
Kala itu, Jerga sangat terkejut saat dengan tiba-tiba Jia sering berteriak, menangis, menyakiti dirinya sendiri, dan menjadi pendiam. Lalu ketika kondisi gadis itu semakin parah, dia seorang diri membawa gadis itu ke dokter. Tentu saja seorang diri, keluarganya tak sekalipun memikirkan kondisi Jia, mereka tak sekalipun peduli apakah Jia bisa sembuh atau tidak.
Dan, setelah mendengar apa yang di katakan dokter saat itu, benar-benar membuat Jerga juga menyalahkan dirinya sendiri. Menyalahkan karena tidak bisa menjaga kembarannya dengan baik, karena tidak bisa di sisi kembarannya saat itu.
Kata dokter, Jia menderita PTSD, atau post-traumatic stress disorder.
Dengan arti lain adalah gangguan stres pascatrauma. Gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan.
"Siap-siap berangkat sekolah, kamu Papa anter, pulang nanti di jemput pak Soleh biar kamu nggak absen les lagi."
Suara dingin itu kembali memasuki ruang makan ini. Dharma sudah siap dengan jas hitamnya disana.
"Nanggala udah dateng di depan, Jia berangkat sekarang."
Gadis itu masih terdiam dan belum beranjak dari duduknya. Tangannya masih dengan erat meremas ujung jaket milik Jerga.
"Jiara!"
"Kenapa Kak Jia nggak ikut sama kita sekalian?" sahut Jerga dengan cepat saat tangan ayahnya mulai menarik lengan gadis itu untuk berdiri.
"Papa mempekerjakan Nanggala buat jaga dia. Kamu nggak perlu ikut campur."
Dharma menarik lengan Jia lagi dengan cepat membuat gadis itu berdiri dan berjalan sedikit terseret, karena pria itu berjalan dengan langkah yang cepat menuju keluar.
Sesampainya diluar, di sana sudah ada Nanggala yang menunggu dan berdiri di samping pintu. Lelaki itu juga terkejut kala dengan tiba-tiba mereka muncul dengan Dharma yang menghempaskan kecil tubuh Jia ke arahnya.
Tidak ada sepatah kata pun yang Nanggala dengar dari pria itu, membuatnya langsung meraih tangan Jia untuk memegang lengannya. Gadis itu menurut, wajahnya masih menunduk takut.
Apa ada kejadian di dalam sana sehingga membuat gadis itu sudah ketakutan di jam yang masih pagi ini? Ah, Nanggala jadi teringat kemarin, dia sepertinya harus meminta maaf karena mengajak Jia keluar tanpa izin dulu kepada Dharma.
"Eum, Om. Saya minta maaf kemarin pulang terlalu sore, dan tidak izin dulu."
Mata pria itu beralih menatap Nanggala. Auranya benar-benar dingin.
"Saya hanya menyuruh kamu jaga dia. Untuk hal lainnya yang terjadi di luar sana itu bukan urusan saya."
"Dan untuk dia pulang hanya dengan nama pun, itu bukan urusan saya."
Nanggala menatap Dharma tak percaya. Kata-kata itu dengan gampangnya keluar dari mulut pria di hadapannya.
Maksudnya apa? Gila. Benar-benar gila.
Nanggala masih terdiam dengan tatapan tak percaya sampai pria itu berjalan memasuki rumah lagi. Kepalanya lalu dia tengokkan untuk menatap gadis yang sejak tadi mencengkram erat lengannya. Wajah gadis itu menunduk, tangannya di rasakan semakin gemetar. Dia tidak tega melihatnya.
Tangan kanannya terulur untuk menyentuh pipi itu, membawanya naik agar mata mereka bertemu.
"Jia ... Papa cuma bercanda. Jangan sedih, hm? Nala disini ...."
Gadis itu menatap mata lelaki di hadapannya dengan air mata yang sudah menggenang. Perlahan kepalanya mengangguk dengan pelan, membuat lelaki itu tersenyum hangat.
"Berangkat naik bus nggak papa, 'kan?"
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Sudah jam istirahat sekarang namun lelaki itu, begitu juga dengan gadis yang duduk di sebelahnya, sejak tadi belum beranjak dari duduknya. Jia tidak mau makan, gadis itu sedari tadi lebih banyak diam, meskipun apa yang Nanggala suruh gadis itu tidak menolaknya.
__ADS_1
Nanggala berpikir, pasti Jia masih teringat yang tadi pagi, kata-kata ayahnya. Bagaimanapun gadis itu masih paham.
Kepalanya lalu melirik ke samping, Jia masih dengan pandangan kosongnya menatap meja sejak tadi. Rasen dan Yora sudah pergi ke kantin, dan Yora pun katanya akan membawa beberapa makanan untuk di makan Nanggala dan juga Jia. Nanggala sangat berterima kasih untuk itu.
Suasana kelas tidak terlalu ramai, sebagian sudah pergi keluar, menyisakan beberapa anak yang tengah belajar, tidur, dan yang lain lagi di dalam kelas.
Buk!
Nanggala terkejut dan memejamkan matanya saat dengan tiba-tiba ada yang menghantam kepalanya dari belakang. Dia bisa melihat bola basket mengelinding di sampingnya.
"Heh, miskin. Lo nggak denger gue suruh lo buat ke rooftop?"
Belum sempat Nanggala menoleh, sudah lebih dahulu ada tangan yang merangkul pundaknya dari belakang.
"Lo budek atau goblok?"
Kepalanya terdorong maju kala tangan lelaki itu mendorongnya dari belakang.
"Miskin 'kan dia?" sahut lelaki lainnya.
"Oh iya, orang miskin semuanya goblok." Kekehnya kemudian.
Nanggala melirik Jia di sampingnya dengan ekor matanya saat dia merasakan gadis itu mencengkram lengannya. Tolong jangan di depan gadis itu, dia masih ketakutan dengan kejadian yang tadi pagi.
"Ikut gue sekarang."
Lelaki itu sedikit menarik kerah Nanggala ke belakang, namun yang di perintahkan masih duduk terdiam di bangkunya.
"Ikut gue atau gue bakal sakitin cewek itu ..." bisiknya lirih di telinga kanannya.
Tidak. Jangan gadis itu lagi!
Nanggala menoleh ke belakang, menatap seseorang yang tengah tersenyum miring menatapnya. Belum sempat dia mengucapkan kata kepada Jia, seragam bagian pundaknya sudah ditarik ke belakang oleh lelaki itu. Tubuhnya pun ikut berdiri dan berjalan tidak seimbang menuju keluar kelas.
Jia yang melihat itu semakin ketakutan, tubuhnya gemetar, matanya melirik kesana-kemari, pun dengan kedua telapak tangannya yang saling meremas kuat. Tidak ada siapa-siapa disini, tidak ada Yora dan juga Rasen.
Sementara keempat lelaki yang tadi menghampiri Nanggala di kelas itu membawanya ke rooftop sekolah. Sesampainya di sana, seseorang yang sejak tadi berjalan sambil merangkul pundak Nanggala, mendorong tubuhnya hingga lelaki itu terjatuh.
Tubuh Nanggala sedikit mundur ketika lelaki itu mendekat ke arahnya dan jongkok di depannya.
"Ayo, lawan gue lagi kayak kemarin?"
Nanggala merasakan kulit kepalanya terangkat ketika salah satu tangan lelaki itu menarik rambutnya ke belakang. Dia hanya diam mendengar itu.
"Heh, lo bisu?"
Yunan terkekeh kecil dan melepaskan tangannya yang menarik rambutnya tadi.
Dugh!
Sedetik kemudian Nanggala merasakan kepalanya sangat pening.
Matanya terbuka perlahan dan melihat kaki itu akan menghantam kepalanya lagi.
Dugh! Dugh!
Di tendangan ketiga Nanggala baru mulai mengangkat tangannya untuk melindungi kepalanya.
Kepalanya benar-benar terasa pening, tangannya juga sekarang sudah menjadi korban tendangan dan injakkan ke ketiga orang di atasnya, hingga membuat tangannya mulai terasa sakit lagi. Tangan yang kemarin di hantam stick golf oleh Dharma.
Yunan dari jarak satu meter di belakang sana hanya tersenyum sinis melihat itu. Dia tidak suka ada yang melawannya di sekolah ini.
Nanggala mulai merasakan tendangan di tubuhnya itu menghilang, tangannya dia buka perlahan, sama halnya dengan matanya. Wajahnya mendongak ke atas dan kedua matanya menatap lelaki yang berdiri menjulang tinggi di atasnya.
"Kalo lo berani sok hebat lagi, siap-siap aja."
"Atau bahkan, cewek itu juga bakal kena."
Kaki Yunan menendang kepalanya lagi sebelum melangkah pergi dari sini.
Kepalanya mulai berdenyut, wajah dan seragamnya juga sudah kotor dengan cap sepatu di beberapa bagian. Tubuhnya perlahan dia dudukkan dengan kedua tangan yang mulai memegangi dua sisi kepalanya.
"Arghh!"
Sungguh sakit. Kepalanya berdenyut dengan kuat.
Hal yang di lakukan Nanggala selanjutnya adalah, dia mulai memukuli kepalanya dengan kedua tangannya. Pukulannya keras, bahkan bunyinya sampai terdengar. Pandangannya lalu beralih ke tembok yang berada di belakangnya, hingga beberapa detik kemudian, terdengar lagi suara yang sungguh menyakitkan.
Kepalanya Nanggala benturkan beberapa kali ke tembok, beberapa kali seakan sakit di kepalanya itu bisa hilang dengan cepat. Obatnya ada di tas, tidak mungkin juga dia kembali ke kelas dengan keadaan yang seperti ini. Apalagi ada Jia, gadis itu pasti akan sangat ketakutan nanti.
Baiklah, Nanggala membiarkan dirinya disini dulu beberapa saat, sampai rasa sakit yang luar biasa di kepalanya itu mereda.
Lelaki itu menghentikan kegiatannya dan menunduk, bisa dia lihat tetes-tetes darah mulai membasahi lantai yang berada di bawahnya. Tangan kanannya pun mengusap bagian di bawah hidungnya itu.
Ah, lagi-lagi hidungnya berdarah. Sekencang itukah benturannya hingga membuat hidungnya berdarah?
Nanggala memejamkan matanya sebentar, menikmati rasa sakit di kepalanya yang belum juga mereda, dan darah yang masih mengalir dari hidungnya.
Sampai kapan semua ini berakhir?
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Kalian kasihan sama siapa disini? 🥺...
__ADS_1
...Jangan lupa vote dan juga komen yaa...