
Lelaki berjaket hitam itu dengan langkah lunglai memasuki tempat yang lumayan ramai ini, banyak orang dimana-mana yang tengah duduk ataupun berlalu lalang, Menghembuskan napasnya panjang, kakinya berjalan mendekat ke arah segerombolan anak muda yang tengah duduk di kursi sebelah kaca.
Dia mendudukkan dirinya di sana, seketika membuat yang lain terkejut dengan kedatangannya.
"Dari mana aja lo, Dev?"
Lelaki yang di sebut 'Dev' itu masih terdiam, dengan cepat tangannya meraih cola yang terdapat di atas meja dan meminumnya, membuat mereka menatapnya bingung.
"Pelan-pelan, woy!" seru salah satu dari mereka berusaha menurunkan gelas itu.
Yunan mengernyitkan alisnya melihat sudut bibir Maldev yang terdapat bekas luka, seperti darah yang sudah mengering.
"Kenapa muka lo?" tanyanya terkekeh membuat lelaki itu menghembuskan napasnya kasar.
"Berantem sama anjing lo?" sahut Gasta yang juga ikut terkekeh.
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat sang empu mendecakkan lidahnya kesal, dia meletakkan lagi gelas yang sudah habis tak tersisa itu di meja, mengatur napasnya yang sedikit memburu karena menegak minumannya terlalu cepat. Apalagi itu minuman bersoda.
"Kenapa? Udah ketemu sama cewek lo?"
"Dia bahkan takut ketemu gue." Lirihnya menundukkan kepalanya.
Mendengar itu membuat mereka yang mendengarnya terkekeh bersamaan, Senno menepuk-nepuk pundak itu cukup keras, "ya gimana nggak takut, sekarang aja mentalnya begitu, gila." Ujarnya terkekeh.
Hal itu tentu saja langsung membuat Maldev menatapnya tajam, dia tidak terima dengan kata-kata yang Senno ucapkan beberapa detik lalu.
"Jaga ya mulut lo." Desisnya begitu dingin.
Senno hanya menatap malas lelaki itu, meraih gelas berisi cola miliknya di atas meja dan meminumnya.
"Emang faktanya gitu." Sahut Yunan santai.
Maldev beralih melirik Yunan sinis, dan dengan cepat menarik kerah baju sang empu untuk membawanya mendekat ke arahnya.
"Lo nggak usah sok lupa sama kejadian itu." tandasnya.
Yunan yang mendapat tarikan tiba-tiba hanya terkekeh sinis, "bukannya emang salah lo ya? Kalo lo nggak kabur dan ninggalin dia, dia juga nggak mungkin sampe gila kali." Balasnya tak kalah tajam.
Yunan menghempaskan kencang tangan yang tadi mencengkram kerah bajunya, membuat lelaki itu menunduk lagi dan menghembuskan napasnya panjang.
Kata-kata itu terus menghantui pikirannya. Seolah membenarkan semua itu, Maldev mengakui kebodohannya, dia mengakui jika dia yang salah telah meninggalkan gadis itu. Dia mengusap wajahnya kasar, pipinya masih terasa sakit akibat pukulan Jerga beberapa jam yang lalu. Matanya terbuka lagi dan berhenti pada meja bartender yang tak jauh darinya.
Matanya menatap intens lelaki di sana, lelaki yang waktu itu pulang bersama Jia, lelaki yang bertemu dengannya juga beberapa hari yang lalu di sini.
Bibirnya terkekeh sinis menatapnya.
Tempat ini semakin malam semakin ramai yang datang, jam sudah menunjukkan waktu tengah malam, ramai dan sangat berisik.
Maldev pandangannya masih terus menatap seseorang di balik meja bartender itu, dia mengikuti pergerakannya yang terlihat baru mengganti pakaiannya dengan hoodie serta menggendong tas sekolahnya, sepertinya akan pulang.
"Kemana?"
Lelaki itu menoleh, "pulang."
"Baru jam segini juga." Sahut Gasta di sana.
"Pusing gue."
Tanpa berkata apa-apa lagi, lelaki itu berlalu pergi menuju pintu keluar.
Hingga akhirnya tubuhnya sudah keluar dari Cafe, pandangannya mengendar, lalu terhenti ketika mendapati sosok yang di carinya tadi tengah berjalan menjauh sambil menuntun sepeda. Kakinya mulai melangkah mengikuti lelaki itu dari belakang, tatapannya tajam.
Jalanan sudah lumayan sepi, hanya beberapa pengendara mobil yang melewati jalan ini. Angin yang berhembus juga cukup dingin.
Bugh!
Langkahnya harus terhenti ketika ada yang menarik bahunya dari belakang, membuat sepeda yang sejak tadi di tuntunnya terlepas begitu saja dari genggaman kedua tangannya, lalu tubuhnya pun jatuh tersungkur di trotoar jalan. Nanggala membuka matanya dan langsung menampakan seorang lelaki yang berdiri di hadapannya sambil menatapnya sinis.
Nanggala memegangi area pipinya yang terasa nyeri lalu menatap bingung lelaki itu.
"Jauh-jauh lo dari Jia." perintahnya dingin.
Mendengar itu, Nanggala langsung mengerti dan teringat lagi.
Iya, lelaki di depannya ini adalah lelaki yang di depan gerbang sekolah kemarin, dan juga lelaki yang menatapnya aneh di Cafe beberapa waktu yang lalu.
Lelaki yang di takuti Jia saat pertama melihatnya. Maldev Liam.
"Lo siapa?"
Lelaki itu terkekeh, "harusnya gue yang tanya, lo siapa?"
Nanggala hanya memasang wajah datar, tanpa membalas lagi tubuhnya mulai berdiri, dan berjalan ke samping meraih sepeda yang tergeletak begitu saja di trotoar.
Melihat Nanggala yang mulai pergi tanpa menjawab lagi pertanyaannya, membuat Maldev menggeram dan berjalan mendekat, menarik lagi bahu itu untuk menatapnya.
"Gue tanya lo siapa!"
Suaranya begitu keras di jalanan yang sepi ini. Nanggala masih menatapnya tanpa ekspresi.
"Gue yang ngelindungin dia, gue yang sayang sama dia."
Jawaban itu sukses membuat Maldev semakin menatapnya tajam, Nanggala tidak peduli, memang itu kenyataannya. Dia yang akan terus menjaga Jia, melindungi Jia, dan menyayangi gadis itu tentu saja.
Mungkin terdengar egois, padahal Nanggala juga belum tahu lelaki itu adalah siapa. Siapa lelaki itu untuk Jia, apa keperluannya menemui Jia kemarin, dan apa yang membuat Jia takut dengan lelaki itu.
Nanggala tidak peduli.
Yang pasti, melihat reaksi Jia kemarin yang takut bertemu dengan lelaki itu, artinya ada sesuatu lain yang terjadi pada mereka dulu yang belum dia ketahui.
Tatapannya tidak kalah tajam menatap lelaki itu, dia mulai menuntun lagi sepedanya dan pergi dari sini.
Sedangkan Maldev masih menatap kepergian Nanggala dengan mata tajam, napasnya sedikit memburu dan tangannya terkepal kuat.
.......
.......
.......
Koridor terlihat sedikit sepi, banyak kelas yang tengah melangsungkan kegiatan belajar mengajar. Tetapi ada juga yang kelasnya sama dengan dirinya, kosong.
Nanggala berjalan seorang diri di jalanan ini, lelaki itu berniat untuk ke kedai camilan sekolah membelikan Jia susu strawberry. Kakinya terus berjalan menyusuri jalanan yang beberapa di kelilingi pohon, dengan di samping kiri bawahnya terdapat lapangan bola yang cukup luas. Semilir angin siang ini sangat enak.
Samar-samar, matanya menangkap seseorang di depan sana. Matanya menyipit.
"Jerga?"
Iya, Jerga. Lelaki yang kini tengah berjalan ke arahnya, sambil kedua tangan yang di masukkan saku celananya, serta kedua telinga yang sepertinya di sumpal oleh earphone.
Bibirnya tersenyum tipis, kakinya terus melangkah dan mungkin nanti akan berpapasan dengan lelaki itu.
Duk!
Langkah Nanggala terhenti, cukup terkejut dengan bola yang beberapa detik lalu dengan cepat menghantam kepala Jerga. Hal itu tentu saja membuat langkah sang empunya terhenti.
Jerga menghembuskan napasnya pendek, kepalanya menoleh ke arah kanannya, dimana dia bisa melihat empat anak lelaki yang tengah menaiki tangga yang menghubungkan dengan lapangan.
Mereka terkekeh, namun Jerga hanya membalasnya dengan wajah datar.
"Sorry, nggak sengaja, tangan gue licin." Ujar lelaki itu lalu menyuruh teman satunya lagi mengambil bola yang berada tak jauh dari mereka.
"Sakit, ya?"
Tangan itu terulur untuk memegang kepala Jerga, tapi langsung di tepis kasar oleh pemiliknya. Mata tajam Jerga masih di layangkan kepada lelaki itu.
__ADS_1
"Wah, santai dong? Kan gue bilang nggak sengaja." Kekehnya di ikuti temannya yang lain.
Jerga meliriknya sinis lagi, dan mulai melanjutkan langkahnya sebelum cengkraman lelaki itu pada baju seragamnya menghentikannya.
"Gue nggak ada urusan sama lo." Sinis Jerga.
Yunan kembali terkekeh, "kalo gue yang ada urusan? Kenapa? Lo nggak mau?"
Jerga menepis lagi cengkraman Yunan pada seragamnya dan mulai akan melangkah lagi.
"Maldev dateng lagi."
Kata-kata itu membuat Jerga menghentikan langkahnya lagi, tatapannya menajam, tangannya terkepal dengan kuat, napasnya tertahan.
Meskipun ... Dia sudah tahu.
Tetapi rasa kesal dan marah masih menyelimutinya ketika mendengar nama itu.
"Dia kayaknya masih cinta banget sama Jia," Yunan melangkah dan berhenti di depan Jerga, "walaupun dia sakit mental kayak sekarang. Gila." Lanjutnya terkekeh.
Jerga semakin mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras sampai urat lehernya saja terlihat. Lelaki itu menatap tajam Yunan yang masih terkekeh di hadapannya.
"Jaga mulut lo." Desisnya sinis.
"Loh, emang gue salah?" tanya Yunan menatap satu per satu temannya meminta jawaban, yang langsung di balas dengan gelengan dan tawa kecil mereka.
Jerga sudah benar-benar menahan emosinya sekarang ini, ingin sekali tangannya melayang untuk menghajar lelaki di depannya.
"Dia kan emang gila."
Bugh!
Jerga menggertakan giginya kuat, napasnya semakin memburu terlihat dari bahunya yang naik turun, matanya menatap nyalang lelaki yang sudah jatuh tersungkur di hadapannya.
Semua yang ada di sini pun terkejut melihat itu.
Yunan mengangkat kepalanya, dia menatap si pelaku sambil terkekeh sinis, tangannya menyentuh ujung bibirnya yang di rasa sudah mengeluarkan darah.
"Sialan." Lirihnya.
Yunan di bantu berdiri oleh Gasta yang berdiri di sampingnya, dan dua lainnya yaitu Senno dan Alwan berjalan ke arah Jerga lalu memegang kedua lengan lelaki itu dan menahannya di belakang tubuhnya.
Bugh!
Kini tubuh Jerga yang refleks mundur beberapa langkah menerima pukulan itu di pipi kanannya. Dengan sekuat tenaga melepaskan Senno dan Alwan yang mencengkram kedua lengannya.
"Jerga!"
Pandangan mereka semua teralihkan oleh lelaki yang baru saja sampai di hadapan mereka.
Nanggala menatap Jerga dengan khawatir, dia berniat akan mendekati lelaki itu, tetapi sudah lebih dulu di tahan oleh Senno dan Alwan di belakangnya. Dia sedari tadi melihat itu, namun dia tidak mendengar dengan jelas perbincangan mereka.
Jerga mengabaikannya, matanya menatap Yunan dengan tajam, tubuhnya pun mulai dia gerakkan untuk maju lagi.
Bugh! Bugh!
Jatuh terlentang, Jerga dengan cepat duduk di atas perut Yunan dan mulai memukuli wajah itu tanpa ampun. Gasta saja yang hanya berdiri tidak berani melerai mereka.
Nanggala melihat itu pun meringis, pukulan Jerga beberapa kali di wajah itu benar-benar mengerikan. Otot-otot tangannya saja sampai terlihat dengan jelas. Dia tidak tahu apa yang membuat Jerga seemosi ini.
"Jer!"
Bahkan panggilan keras Nanggala saja tidak lelaki itu dengarkan.
Wajah Yunan sudah penuh luka, beberapa ada yang berdarah. Dan suasana disini sekarang ini sudah ada beberapa murid lain yang menonton mereka.
"Anjing!" seru Jerga di sela pukulannya.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Jerga! Berhenti!"
"Gasta, hentikan mereka!"
Gasta mengangguk dan dengan cepat menarik tubuh Jerga untuk bangun dan menjauh dari tubuh Yunan, di bantu oleh Senno juga yang sudah melepaskan tangannya yang tadi mencengkram Nanggala.
Tubuh Jerga sudah menjauh, lelaki itu mencoba memberontak tetapi kedua tangannya di pegang begitu kuat oleh Gasta dan Senno. Sementara Alwan terlihat mendekati Yunan dan membantu lelaki itu berdiri.
Jerga menatap Yunan begitu tajam, sama halnya dengan yang di tatap, lelaki itu terkekeh sinis sambil mengusap bibirnya yang sudah mengeluarkan darah.
"Besok saya akan panggil orang tua kalian."
Di rasa Jerga sudah tidak seperti tadi, guru BK berkata seperti itu dan tidak lama kemudian berlalu pergi dari sini. Banyak murid juga yang tadi menonton mereka kini mulai berjalan pergi.
Nanggala menatap Jerga khawatir dari belakang, tubuhnya mendekat, memegang lengan itu dari belakang, "Jer ..." lirihnya.
Jerga tetap terdiam, bahunya naik turun, dia bahkan tidak menepis atau mendorong tubuh Nanggala yang memegang lengannya, tatapannya masih tajam ke arah Yunan yang kini juga mulai menjauhkan tubuhnya dari sini sambil tersenyum sinis.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Hari sudah malam, jam menunjukkan pukul sembilan malam, Jerga membuka pintu rumahnya dengan kencang dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Tatapannya begitu dingin, lelaki itu mengabaikan seseorang yang dia lihat tadi tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Jerga, Papa mau bicara."
Suara dingin itu mampu menghentikan langkah Jerga, dia melirik ke belakang dengan ekor matanya.
"Nggak ada yang mau Jerga bicarain." Lirihnya dingin dan melanjutkan langkahnya.
"Jerga!!"
Bentakan Dharma begitu menggema di rumah ini dan membuat anak itu menghentikan langkahnya lagi kemudian membalikan tubuhnya, mata sinisnya menatap sang ayah yang sudah berdiri dari duduknya.
Dharma mendekati anak itu dan terkekeh, "berantem kamu? Mau bikin Papa malu yang gimana lagi kamu? Ha?" tanyanya menatap tajam.
"Udah cukup Jia bikin Papa malu."
"Udah cukup kembaranmu itu bikin Papa malu! Hamil? Sakit mental? Gila!"
"Itu bukan salah kak Jia!" hardik Jerga tak kalah seru.
"Salah siapa? Papa? Salah mama kamu?" kekeh Dharma lagi, "emang salah mama kamu dia mati duluan."
"Papa!!"
Jerga menatap sang ayah tidak percaya. Bisa-bisa dia berkata seperti itu tentang ibunya? Mendiang istrinya sendiri?
"Apa?! Kalian selalu buat Papa malu! Berantem sama anak pengacara? Haha, dia itu temen baik Papa, mau gimana Papa menghadapi dia, Jerga!"
Bahunya sudah naik turun sejak tadi, matanya menatap Dharma dengan tajam, dia benar-benar tidak peduli dengan apa yang akan di terimanya setelah ini. Dia sudah muak.
Tangannya terkepal.
"Bunuh Jerga aja biar bisa nyusul mama." gumamnya lirih.
Mendengar itu Dharma lagi-lagi terkekeh sinis. Pria itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mulai tertawa menyeramkan.
"Oke, kalo itu mau kamu Jerga," matanya melirik seseorang yang berdiri tak jauh darinya, "Bi, ambilkan tongkat baseball besi di ruang keluarga."
"T-tapi Tuan—"
"Ambilkan sekarang!"
__ADS_1
Bibi langsung menganggukkan kepalanya takut dan berlari ke arah ruang keluarga untuk mengambilkan apa yang sang tuan perintahkan tadi.
"Mulai berani kamu sekarang sama Papa, haha, bagus." Kekeh Dharma sambil menggulung lengan kemejanya sampai siku.
Jerga masih terdiam dengan tatapan tajamnya. Dia tidak peduli, dia tidak peduli jika bahkan sang ayah memang akan membuatnya mati saat ini juga.
Benar-benar tidak peduli.
Hingga bibi datang mendekat ke arah mereka, sambil membawa tongkat baseball yang di minta Dharma tadi. Wanita itu menyerahkan benda di tangannya kepada tuannya dengan tangan gemetar, pandangannya menatap Jerga dengan rasa khawatir, dia khawatir dengan tuan mudanya.
Tubuh bibi menjauh, dia sangat tidak tega melihat Dharma yang sepertinya tidak pernah main-main dengan ucapannya. Bingung, harus bagaimana dan meminta tolong dengan siapa.
Pang!
Jerga menahan ringisannya ketika benda besi panjang itu menghantam lengan kanannya. Tubuhnya dia tegapkan lagi seperti mengatakan jika dia akan menerima semuanya, dan dia 'tidak apa-apa' dengan pukulan itu.
Pang! Pang!
"Uhuk ...."
Kali ini perutnya, Dharma tiba-tiba memukul perut Jerga dan membuat lelaki itu jatuh tersungkur ke lantai.
Rasanya benar-benar sakit. Matanya sedikit terbuka dan langsung melihat sang ayah yang akan melayangkan benda itu lagi ke tubuhnya.
"Anak nggak tau diri."
Bugh! Bugh! Bugh!
"Akh ...."
Jerga sudah tidak bisa menahan ringisannya, tubuhnya benar-benar terasa remuk sekarang. Tongkat baseball besi itu berkali-kali menghantam tubuhnya, lengannya dan juga punggungnya.
"Belum nyerah juga kamu?" tanya Dharma terkekeh.
Pria itu menghentikan pukulannya dan menggulung lengan kemejanya lagi ke atas yang tadi sudah merosot, dia mengusap rambutnya ke belakang yang juga mulai berantakan. Tangannya sudah ancang-ancang akan menghantam tubuh Jerga lagi.
"Om, jangan!!"
Nanggala berlari dari arah pintu menuju kedua orang itu berada, tubuhnya langsung berjongkok di samping tubuh Jerga, dia menatap marah ke arah Dharma yang berdiri di hadapannya.
"Minggir kamu Nanggala, saya nggak ada urusan sama kamu."
"Nggak, Om. Stop, jangan sakitin Jerga lagi. Sudah cukup, Om."
Dharma tertawa kecil, pandangannya mengarah ke samping, dimana seorang gadis yang tengah menangis di dekat pintu sana sambil di tenangkan bibi.
Pang!
Nanggala meringis, merasakan sakit pada lengan kirinya yang baru saja terkena benda di genggaman Dharma itu.
"Papaa! Jangan! Hiks, aaaaa jangann!!" teriak Jia yang membuat ayahnya berdecak kesal.
"Arghh!!!" geram Dharma.
Kakinya melangkah menuju meja ruang tamu yang tidak jauh darinya. Gerakannya begitu cepat dan mengambil sesuatu di atas meja itu lalu berjalan lagi mendekati anak lelakinya berada.
Prank!
Bunyi itu terdengar begitu menyakitkan.
Bahkan bibi yang melihat itu dengan cepat membawa Jia ke dalam pelukannya, menutupi mata nona mudanya agar tidak melihat itu.
Nanggala mengusap bagian pelipisnya yang mulai di aliri sesuatu, kemudian mengangkat tangannya dan darah segar kini melumurinya. Vas bunga kaca yang tadi menghantam kepalanya itu sudah pecah berkeping-keping di atas lantai sampingnya.
Dharma mengusap wajahnya kasar, yang tadi akan melayangkan vas bunga itu kepada Jerga, tetapi dengan tiba-tiba Nanggala menghadangnya hingga akhirnya mengenai kepala anak itu.
Nanggala tidak peduli dengan pening di kepalanya, lelaki itu menoleh ke arah Jerga sambil tersenyum tipis kepadanya, yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Dia menuntun tubuh Jerga agar berdiri, pelan-pelan, karena dia juga masih merasakan kepalanya sangat pening. Dia menuntun Jerga pergi dari sini, berniat membawa lelaki itu ke kamarnya, mengabaikan Dharma yang memang sejak tadi diam saja.
Jia, masih bersama bibi, masih menangis di pelukan bibi. Bibi-pun sepertinya akan membawa gadis itu ke dalam kamar untuk menenangkannya. Bibi tahu pasti Nanggala akan bersama Jerga dulu.
Sesampainya di kamar, Nanggala membawa Jerga untuk duduk di pinggiran ranjang, di ikuti olehnya yang pelan-pelan duduk di samping lelaki itu. Sangat pelan, takut lelaki itu mengusirnya.
"Jer ...."
Tidak ada jawaban dan tidak ada penolakan. Lelaki itu tidak ada tanda-tanda akan mengusirnya.
"Gue nggak papa." Lirihnya.
"Tapi—"
"Ck, khawatirin diri lo sendiri."
Jerga melirik lelaki itu sinis, dengan pelan memegang lengannya yang di pukul sang ayah tadi. Perlahan memegangi perutnya juga, bagian itu terasa sangat nyeri. Ekor matanya juga sempat melirik Nanggala, lebih tepatnya melirik darah yang sedikit-sedikit masih mengalir di pelipis lelaki itu. Kenapa hatinya terasa sakit sekali? Pasti ... Dia lebih sakit kan terkena vas bunga tadi?
Nanggala tersenyum tipis mendengar itu. Seperti de javu. Jerga pernah berkata seperti itu juga dulu, ketika mereka berdua jatuh dari sepeda yang mereka kendarai.
Ah, dia jadi rindu.
"Papa udah gini bahkan sebelum mama meninggal."
Nanggala mengangkat kepalanya kala mendengar itu, sedikit menatap Jerga tak percaya dari samping. Tidak percaya karena lelaki mulai bercerita dengannya.
Nanggala tidak bermimpi bukan?
"Apalagi setelah mama meninggal, terus kak Jia jadi kayak gitu," Jerga menghembuskan napasnya lirih, "gue kayak nggak kenal sama papa gue sendiri." Kekehnya kecil.
Tatapan Nanggala berubah sendu menatap lelaki itu.
"Jia ... Gue sempet kaget dia kembaran lo."
Jerga tersenyum tipis, "gue emang nggak pernah kasih tau 'kan?"
Nanggala membenarkan itu, dulu ketika dia berteman dengan Jerga, lelaki itu hanya memberi tahunya jika dia memiliki kembaran, tidak pernah menunjukan kepadanya seperti apa wajah kembarannya. Jerga hanya berkata jika kakak kembarannya saat itu tinggal di luar negeri bersama neneknya.
Dengan anggota keluarga lain saja dia tidak pernah di beritahu oleh Jerga.
"Jer ...."
Suara lirih itu membuat yang di panggil menolehkan kepalanya. Dia menatap Nanggala yang tengah menatapnya dengan mata sayunya.
"Maafin gue ..." lanjutnya dengan tersenyum tulus.
Mendengar itu, Jerga tersenyum tipis dan menundukkan kepalanya, dia lalu mengangkat kepalanya lagi dan menatap Nanggala, bibirnya tersenyum sangat manis.
Anggukkan kepala Jerga membuat Nanggala ikut tersenyum tak kalah manis, ada senyum haru juga di sana. Antara senang, dan ingin menangis. Bahkan eye smile Jerga kini mulai terlihat lagi.
Jerga, sahabatnya.
Dia benar-benar merindukannya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
__ADS_1
...Ciyee yg senyum-senyuman (◕‿◕)...
...Boom komen setelah membaca yaa♡...