NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
20. Harapan Untuk Esok


__ADS_3

..."Terkadang dalam hidup, kita akan merasa lelah....


...Karena adanya kegembiraan, masa sulit, masa depan yang tak pasti,...


...dan ada harapan yang menunggu kita di masa depan....


...Aku percaya, bahwa semuanya pada akhirnya akan berujung pada kebahagiaan."...


...—Huang Renjun...


Hujan sudah mulai mereda sejak lima belas menit yang lalu, kini kedua lelaki itu baru saja sampai di depan rumah megah ini. Nanggala turun dari motor Jerga dengan gerakan pelan, lalu di lanjutkan dengan Jerga yang juga mulai turun dari motornya.


Nanggala belum bersuara, sama halnya dengan Jerga, lelaki itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun sejak tadi mereka masih dalam perjalanan.


Langkah kaki Jerga menaiki tangga teras rumahnya, namun seketika terhenti lalu kepalanya menengok ke belakang.


"Ikut gue."


Suara dingin itu membuat Nanggala mendongak, perlahan melangkahkan kakinya mengikuti lelaki itu. Langkahnya sedikit tertatih, karena jujur tubuhnya masih terasa sangat remuk.


Jerga menghembuskan napasnya kasar dan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi, tangan dinginnya lalu membuka pintu utama. Sepi, sepertinya semua sudah tidur. Hingga kini lelaki itu mulai melangkah menaiki anak tangga. Sementara Nanggala, dia menghentikan langkahnya di depan tangga, kepalanya menengadah ke atas dan menatap punggung Jerga yang sudah beberapa langkah menaiki tangga.


"Jer .... "


Panggilan itu membuat Jerga menolehkan kepalanya kebelakang, dan selanjutnya lelaki itu berdecak kecil melihat seseorang di bawahnya. Kakinya turun lagi dari tangga, menghampiri dimana lelaki itu berdiri.


Jerga mengulurkan tangannya dengan mata sinisnya yang menatap ke arah lain, hingga akhirnya tangan Nanggala memegang lengan kanan lelaki itu dan mereka berdua mulai berjalan lagi menaiki anak tangga. Sesampainya di atas, tangan kiri Jerga membuka pintu kamarnya dengan tangan kanan yang masih memegang tangan Nanggala untuk ikut memasuki kamarnya ini.


"Pake. Mandi disini ada kamar mandi."


Nadanya masih benar-benar dingin, namun Nanggala diam-diam tersenyum tipis tanpa di ketahui lelaki itu.


Tanpa mengucapkan apapun lagi, Jerga berjalan keluar dan meninggalkan Nanggala sendiri di kamarnya. Yang sebelum itu memang menyuruh lelaki itu mandi di kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.


Sementara Nanggala, belum juga menggerakan tubuhnya, matanya masih menatap setelan baju yang tadi lelaki itu berikan kepadanya.


"Lo masih Jerga yang baik."


.......


.......


.......


Matahari pagi sangat menyilaukan mata lelaki yang sedari tadi masih memejamkan matanya itu, hingga akhirnya terbuka dan perlahan menatap sekelilingnya. Dia menghembuskan napasnya panjang, masih berusaha mengumpulkan nyawanya.


Tangannya terulur meraih ponsel yang terletak di meja samping ranjang tidurnya. Matanya sayunya melihat jam yang tertera di layar lock screen-nya itu. Ah, sepertinya dia kesiangan. Dan dia juga sama sekali tidak mendengar adzan subuh berkumandang.


Tubuhnya berniat bangkit dari tidurnya, namun terhenti ketika merasakan perutnya sangat-sangat sakit seperti kram, dia meringis dan memegangi perutnya. Tidak, dia harus sekolah, dia tidak boleh sakit.


"Akh ..." Nanggala meringis lagi ketika berusaha bangun.


Matanya menatap sendu langit-langit kamarnya, dia meremas kuat baju bagian perutnya. Ah, baju ini milik Jerga.


Apa benar-benar dia harus tidak sekolah hari ini?


Nanggala sudah berjanji dulu, tidak akan membolos sekolah kalau dia sudah bisa sekolah nanti. Tetapi sekarang dia merasa sudah mengingkari janjinya sendiri.


Tubunya ... benar-benar sangat sakit. Dia melirik ponselnya lagi ketika merasakan benda itu bergetar pendek, memandakan ada pesan masuk.


Jiara🍓


| Nala kemana ....


| Kok belum jemput Jia


| Katanya Jia bisa sekolah hari ini


06.33


Nanggala ingin sekali membalasnya, namun dia tidak ingin gadis itu tahu dia tidak berangkat karena sakit. Dia tidak ingin membuat gadis itu khawatir.


Matanya terpejam, merasakan nyeri di perutnya yang datang lagi dan semakin bertambah.


Drtt drtt ....


Jiara🍓


| Jia berangkat sama Jerga


| Nala nanti berangkat kan?


06.38


| Nala ....


06.42


Matanya masih menatap layar ponselnya yang sekarang sudah menghitam. Di sentuhnya lagi, dan langsung menampilkan wajah sang bunda di layar lock screen-nya.


"Bunda ..." lirihnya purau.


Pandangannya mengabur menatap foto itu, tangan satunya lagi terangkat untuk mengusap matanya.


Ah, Nanggala lemah sekali kalau masalah sang bunda, entah kenapa memang sesesak itu. Empat tahun bukanlah waktu yang sebentar, tidak sebentar wanita itu meninggalkannya seorang diri.


Dia sangat rindu ....


"Kalo bunda udah bahagia sama keluarga bunda yang lain, Nangga nggak papa ...," bibirnya masih berusaha tersenyum, "tapi Nangga tetep anak bunda, 'kan? Nangga masih keluarga bunda, 'kan ....?"


Memejamkan matanya, lagi-lagi Nanggala menahan agar terus tersenyum dan tidak menangis. Dia masih ingat betul beberapa hari yang lalu ketika dia melihat sang bunda di pasar, dan menuntun seorang anak lelaki kecil.


"Ahs!"


Belum juga nyeri di bagian perutnya mereda, sekarang sakit yang teramat itu tiba-tiba menyerang kepalanya. Lelaki itu memejamkan matanya kuat. Kepalanya terasa berdenyut dengan sangat cepat dan dalam, kini bahkan kedua tangannya sudah mulai menjambak rambutnya sendiri. Ponselnya jatuh begitu saja dari tangannya.


Nanggala meringis, tidak mungkin bisa membenturkan kepalanya ke dinding saat ini, tubuhnya saja sulit di gerakkan untuk duduk sekalipun.


"Arghh!! Bundaa!! Hiks ...."


Teriaknya cukup keras dan mulai memukuli kepalanya, badannya bahkan sudah menghadap samping dan meringsut, meskipun disaat itu juga seluruh tubuhnya terasa sangat sakit untuk sekadar berpindah.


Duk duk!!


Napasnya sudah terengah, matanya sedikit terbuka, dan seketika itu juga air matanya mengalir dari mata kanannya yang turun membasahi mata kirinya karena posisi tubuhnya yang tertidur miring.


Tok tok tok!


"Nanggala? Di dalam? Budhe belum lihat kamu berangkat sekolah! Kesiangan?"


Suara Thalia beberapa detik yang lalu itu membuat anak itu terkejut, matanya mengendar ke segala arah. Dia harus apa? Bersembunyi? Tidak mungkin, tubuhnya sulit sekali dia gerakan, kepalanya juga masih berdenyut.


Apa yang akan dia katakan kepada Thalia jika wanita itu tahu kalau dia tidak berangkat sekolah?


"Nanggala? Budhe masuk yo??"


Dia semakin gelagapan sendiri, hingga akhirnya menghembuskan napasnya panjang. Bagaimanapun dia menghindar, Thalia pasti akan tahu segalanya tentangnya.


Pintu kost-nya yang terkunci pun terbuka, Nanggala memejamkan matanya mendengar itu. Dan suara langkah kaki yang mendekati ke kamarnya juga semakin terdengar jelas di telinganya.


Thalia memang memiliki kunci cadangan kost-nya.


"Nanggala~?"


Bersamaan dengan pintu kamar itu terbuka, senyum Thalia menyapanya disana.


"Cah bagus?"


Namun hanya sebentar Thalia menampilkan senyum manisnya, hingga kini senyuman itu luntur ketika melihat anak yang juga tengah menatapnya dari atas ranjang ber sprei abu itu.

__ADS_1


Thalia tidak sebodoh itu meskipun sekarang ini anak di depannya tengah tersenyum manis ke arahnya. Tidak. Wajah anak itu pucat, dia juga melihat beberapa lebam di wajah anak manis itu.


Tubuhnya berlari mendekat dan duduk di tepi ranjang, "Nanggala? Kamu kenopo??"


Nadanya begitu khawatir, membuat yang di panggil semakin bingung akan menjawab wanita itu dengan alasan yang seperti apa.


"Iki? Wajah kamu kenopo, hm? Wajah kamu kenopo cah bagus ... Kenopo lebam begini ..." suaranya melirih, Thalia menatap anak itu sendu, membuat si empunya juga melunturkan senyumnya.


"Nanggala ... nggak apa-apa, Budhe."


"Opone sing ndak popo?! Kamu luka gini, wajah kamu pucat!" nadanya meninggi, "sopo ... Sopo sing ngelakuin ini sama kamu? Bilang sama Budhe, Nak ...."


Nanggala merasakan tenggorokannya tercekat. Sentuhan lembut tangan Thalia di pipinya membuat dadanya sangat sakit. Matanya mulai memanas lagi.


Sementara Thalia, matanya tak lepas menatap anak itu dengan tatapan khawatir sejak tadi. Pandangannya mulai mengabur menelusuri seluruh sisi wajah Nanggala.


"Sopo sing buat kesayangane Budhe koyo gini ....?"


Dia meneguk ludahnya dengan susah payah, "Nanggala nggak apa-apa, Budhe. Nanggala cuma buat kesalahan kecil. Nanggala yang salah." Senyumnya meyakinkan wanita itu.


Thalia masih saja menatap mata itu sendu, menundukan kepalanya sejenak lalu mengangkat kepalanya lagi dan mencoba ikut tersenyum. Sebenarnya bingung juga, kenapa anak itu sejak tadi tidak bangun dari posisi tidurnya. Apakah, tubuh Nanggala sama seperti dulu? Ada bekas-bekas luka seperti dulu?


"Yowis, Budhe tadi cuma mau ngecek kamu, biasane kamu wis berangkat sekolah, tapi iki Budhe belum liat kamu berangkat, jadi Budhe ke sini buat liat kamu." Jelasnya panjang.


"Maaf ngerepotin Budhe...."


"Ndak ... Kamu iki ngomong opo sih?" kekehnya kecil, "ndak ono sing ngerepotin Budhe kecuali orang yang bernama Yodhan." Imbuhnya.


Hal itu tentu saja membuat Nanggala tertawa kecil mendengarnya, hingga raut wajahnya kini sedikit meringis ketika merasakan perutnya sangat sakit akibat tertawa tadi.


"Tuh kan sakit, ojo ngguyu makane." Thalia ikut tertawa kecil.


Benar-benar tidak seperti tadi. Meskipun sebenarnya Thalia masih sangat-sangat khawatir, masih sangat-sangat penasaran siapa yang melakukan ini kepada Nanggala. Namun sepertinya yang harus dia lakukan sekarang adalah menghiburnya, tidak ingin membuat anak itu mengingat sakitnya.


"Oh iyo, sik yo?"


Masih terkekeh kecil, mata Nanggala mengikuti tangan wanita itu yang bergerak merogoh saku celananya, tidak lama kemudian keluar lagi dengan ponsel hitamnya.


"Yodhan, tolong kamu temenin dulu Nanggala disini, biar Ibu pulang sebentar dan buatin Nanggala bubur."


"Nemenin Nanggala dimana?"


"Yo di kost-an to! Kan tadi Ibu bilang mau nengok Nanggala?! Kamu ki goblog tenan, anake sopo, ha!"


"Iyo oyoo, Yodhan pinter ngomong-ngomong. Nggak usah marah-marah gitu dong, Bu. Yodhan kesana sekarang."


"Iyo cepet satu detik."


"Buu!—"


Suara itu terputus saat Thalia mematikan sambungan teleponnya dengan anak lelakinya di sana. Matanya kembali menatap Nanggala yang sekarang berekspresi sedikit terkejut.


Thalia tersenyum manis menatpnya, sangat berbeda dengan ekrpresi wanita itu ketika berbicara lewat telepon dengan anaknya sendiri beberapa detik yang lalu.


"Nah, habis ini Budhe bikinin bubur dulu yo anak manis~?"


.......


.......


Nanggala berjalan menuju meja yang berada di depan televisi, berjalan sedikit tertatih ke sana. Dia bersyukur tubuhnya sudah tidak sesakit tadi pagi dan tadi siang.


Langit sudah mulai menggelap, menghembuskan napasnya lirih, Nanggala mulai duduk di belakang meja kecil yang sudah ada nasi dan beberapa lauk di atasnya. Lelaki itu tersenyum, semua makanan ini adalah dari Thalia. Tidak, wanita itu tadi memasak disini, sepertinya cukup terkejut juga melihat isi kulkasnya yang hanya berisi beberapa makanan.


Ada sup ayam, oseng sayur sawi dan juga telur dadar.


Sebenarnya Thalia ingin membuat yang lebih banyak dari itu, tetapi ya seperti yang dikatakan Nanggala, sayang kalau banyak nanti tidak di makan habis.


Bibirnya tersenyum tipis, dia mengangkat ponsel yang sejak tadi di letakan di atas meja, menatap layar lock screen-nya yang masih menampilkan adanya sebuah pesan sejak dua jam yang lalu.


Jiara🍓 (8)


| Nala kemana ....


Bukan hanya satu, ada beberapa pesan sebelum itu yang belum Nanggala buka. Jarinya masih berat untuk membukanya. Dia hanya tidak ingin membuat gadis itu khawatir.


Tetapi caranya yang seperti ini pasti membuat gadis itu lebih khawatir.


Dia tahu itu.


Tok tok tok


Kepalanya menoleh ke sumber suara yang mengetuk pintu kost-nya disana. Sejenak berpikir, siapa lagi? Budhe Thalia? Wanita itu belum lama pulang dari sini, dan lagi pula juga sibuk di toko. Pakde Hardi pun juga pasti sama. Yodhan? Lelaki itu katanya akan mengerjakan tugas hingga malam.


Tubuhnya lalu beranjak dari duduknya ketika suara itu terdengar lagi, berjalan pelan untuk membukakan pintu.


Cklek


Pintu terbuka, dan betapa terkejutnya Nanggala ketika melihat siapa yang berdiri di depannya sekarang ini.


"Nala ...."


Tubuhnya terpaku, mulutnya masih terdiam, benar-benar terkejut melihat kedatangan mereka malam ini. Matanya menatap sayu seseorang yang berdiri di belakang gadis itu. Sedangkan yang ditatapnya masih sama, hanya membalas dengan datar.


"Masuk, Jia."


Mencoba tersenyum, Nanggala menarik tangan gadis itu lembut untuk memasuki kost kecilnya.


Gadis itu hanya menurut, wajahnya masih sendu saat pertama kali menatap Nanggala tadi yang masih terlihat beberapa lebam.


Nanggala membawa mereka duduk di sofa yang menghadap televisi, namun Jerga masih berdiri, mata lelaki itu sekilas menatap seluruh ruangan kost kecilnya, dan tatapannya berakhir menatap meja di depannya yang diisi oleh makanan yang tadi dia sedang makan.


Jerga menghembuskan napasnya pendek.


Nanggala menundukan kepalanya menyadari apa yang tengah di lihat Jerga beberapa detik yang lalu itu. Ya, kost kecilnya sangat berbeda jauh dari rumah besar milik lelaki itu.


"Nala sakit ...?" tanyanya lirih.


Nanggala yang duduk di samping gadis itu pun mengangkat kepalanya, dia lantas tersenyum dengan manis seperti tidak pernah terjadi apa-apa.


"Nggak ... Nala cuma jatuh aja kemarin dari sepeda, terus di tolongin sama Jerga." Jawabnya lembut.


Jia masih menatap mata lelaki itu sendu.


"Nala nggak papa, Jia jangan sedih, hm?"


Gadis itu menganggukan kepalanya pelan, membuat Nanggala kembali tersenyum hangat menatapnya.


Mereka masih memakai seragam sekolah, yang hanya di balut dengan jaket. Apa mereka belum pulang ke rumah? Pikir Nanggala.


"Jia udah makan?"


"Pulang langsung minta ke sini."


Nanggala mendongak, Jerga baru saja menjawab pertanyaannya. Sekilas dia tersenyum ke arah lelaki itu yang bahkan tidak berekspresi apapun.


"Makan disini ya?"


Gadis itu mengangguk dan mulai tersenyum ceria, wajahnya sudah tidak sesedih dan sekhawatir tadi.


Nanggala juga tersenyum melihat itu, matanya kembali melirik ke arah meja dimana terdapat makanan yang tadi akan dia makan, sebelum terhenti dengan kedatangan kedua kembar Abhicandra itu. Senyumnya sedikit meluntur, dia menatap ke arah Jia lagi sambil mengulum bibirnya, "eumm, Nala pesenin makanan diluar ya?"


"Nggak usah, kita mau pulang kok."


Jawaban itu membuat keduanya menoleh, dia menatap Jerga yang mulai menarik tangan Jia untuk berdiri.


"Tapi Jia mau disini, Jerga ..." lirihnya sedih.


Jerga yang melihat itu sebenarnya tidak tega. Seharian ini memang kakaknya itu terus mencari Nanggala. Pagi tadi menanyakannya, di sekolah menanyakannya, hingga pulang sekolah tadi dia akhirnya mengajak gadis itu pergi ke tempat Nanggala.

__ADS_1


Dia tidak tahu dimana Nanggala tinggal, tapi kakaknya tahu. Dia pun tidak tahu kalau lelaki itu tidak berangkat karena sakit. Tetapi kalau mengingat kejadian yang kemarin, ya ... tentu saja lelaki itu akan sakit.


Jerga menghela napasnya panjang, lalu akhirnya menganggukan kepalanya, lantas membuat kakaknya tersenyum senang.


Dia juga diam-diam tersenyum tipis melihat senyuman kakaknya. Sebegitu berarti kah Nanggala bagi dia?


Cklek


Suara pintu kost Nanggala baru saja terbuka, membuat ketiga orang yang tengah terdiam di dalam itu bersamaan menolehkan kepala mereka ke arah pintu.


"Cah bagus~ Budhe dateng lagi~!"


Si empu beranjak dari duduknya dan menghampiri seseorang yang baru saja memasuki kost-nya itu. Ah, tidak satu namun dua.


"Wah, rame yo? Ada Jia jugaa??"


Thalia meletakan rantang makanan di bawanya tadi di atas meja, lalu melambaikan tangannya pada gadis yang masih duduk di sofa sambil tersenyum ceria ke arahnya.


Nanggala pun ikut tersenyum, di sampingnya kini sudah ada Yodhan. Sementara Jerga sejak tadi bingung melihat kehadiran mereka, dan lagi, kenapa wanita itu mengenal kakaknya?


"Tadi Budhe masak lagi, Budhe ndak tega kamu cuma makan ini, walaupun kamu yang minta," Thalia berjongkok, mulai mengeluarkan rantang-rantang berisi makanan itu dan menatanya di meja.


Nanggala-pun ikut berjongkok, Yodhan sudah duduk di belakang meja, sementara Jerga masih berdiri di samping sofa.


"Yuk, makan bareng-bareng aja? Jia makan juga yaa~?"


Gadis itu tersenyum senang, lalu menurunkan tubuhnya untuk duduk di lantai juga sama seperti yang lainnya. Sempat melirik Jerga yang masih berdiri di sampingnya.


"Kamu juga cah bagus, ayo makan bareng?" senyum manis Thalia membuat Jerga tersenyum kikuk di sana.


Tatapan matanya bertemu dengan Nanggala, dan lelaki itu terlihat tersenyum tipis. Hingga akhirnya Jerga berjalan pelan menuju tempat di samping Yodhan, karena di samping kakaknya sudah ada Nanggala yang duduk disana.


"Temennya Nanggala juga yo?" tanya Thalia tanpa mengalihkan pandangannya yang kini sibuk memberi lauk ke piring Jia.


"Iya, Budhe." Balasnya tersenyum tipis.


Jerga menolehkan kepalanya saat dirasa lelaki yang duduk di sampingnya sejak tadi menatapnya dengan tatapan sinis, membuatnya sangat kikuk rasanya.


"Bukan lo, 'kan?" lirih Yodhan sinis.


Jerga sempat bingung, tetapi ketika mata lelaki itu melirik Nanggala sekilas, dia langsung mengerti apa yang di maksudnya. Dia lantas menggeleng. Memang bukan dia yang memukuli Nanggala, tetapi secara tidak langsung memang dia yang membuatnya datang ke sana hingga sakit seperti sekarang ini.


Yodhan menganggukkan kepalanya pelan, namun tatapannya masih mengintimidasi Jerga, membuat anak itu mengalihkan pandangannya dan mulai menyuapkan nasi yang tadi di berikan oleh Thalia.


"Kamu ganteng sekali? Namamu sopo?"


Jerga mendongak, melirik bergantian Nanggala dan Jia yang juga tengah menatapnya, "Jerga, Budhe."


Thalia tersenyum manis, dari pandangannya sepertinya lelaki itu adalah lelaki yang baik.


"Jerga itu kembaran Jia, Budhe." Sahut Nanggala membuat semua orang kecuali Jia menatapnya.


"Wahh, iyo?? Pantes aja kalian sama-sama ganteng dan cantik." Kekehnya kecil.


Jerga yang mendengar itu lagi-lagi hanya tersenyum kikuk, dia melirik lagi lelaki di sebelahnya yang sejak tadi terus melayangkan tatapan aneh kepadanya, matanya memincing.


"Heh, Yodhan! Ndak usah gitu ngeliatnya, Jerga emang lebih ganteng dari kamu baru nyadar yo??" seru Thalia membuat anak lelaki nya itu mendengus sebal.


Dan tawa ketiganya seketika pecah saat itu juga.


Ya, ini pertama kalinya Nanggala melihat Jerga tertawa lagi.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


Hari sudah semakin malam, jam menunjukan pukul 21.32, dan kini Nanggala baru saja sampai di minimarket. Dia hanya ingin jalan-jalan sebentar meskipun hari sudah malam. Seharian berdiam diri di rumah membuatnya sangat bosan. Niatnya ke sini adalah membeli susu strawberry untuk Jia, dia akan membawanya sekolah besok.


Jerga dan Jia sudah pulang beberapa jam yang lalu, sama halnya dengan Thalia dan juga Yodhan.


Kring!


"Selamat malam!"


"Selamat malam juga, kak Sayas!" seru Nanggala dengan senyuman manis membalas sapaan gadis itu tadi.


"Nanggala?!" pekiknya terkejut.


"Aaaa udah lama bangett, kamu gimana kabarnya? Sekolah kamu gimana? Kamu makan dengan baik, 'kan?"


Nanggala terkekeh mendengar rentetan pertanyaan dari gadis itu, bahkan tubuhnya saja sedikit di condong-condongkan ke depan.


"Nanggala baik, Kak. Sekolah Nanggala juga baik. Nanggala makan dengan baik jugaa."


Sayas masih menatap antara senang dan sedih disana, sepertinya memang sangat merindukan adik manisnya itu sejak dia memutuskan untuk berhenti bekerja karena akan bersekolah.


Tentu saja Sayas sangat senang kala itu, tetapi dia juga sedih karena sudah tidak ada Nanggala lagi disini.


"Mau beli apa? Biar kak Sayas beliin!"


"Ya ampun, Kak." Kekeh Nanggala, gadis itu heboh sekali.


Kring!


Pandangan keduanya teralihkan dengan pintu yang baru saja dibuka dari luar itu.


"Selamat malam!" Sayas menyapanya dengan ramah.


Namun tidak dengan Nanggala, lelaki itu begitu terkejut melihat siapa yang kini masih berdiri di ambang pintu itu. Sepertinya sama dengannya, terkejut. Tubuhnya mematung, matanya mulai mengabur, jantungnya berdegup dengan cepat di dalam sana.


Sementara Sayas bingung melihat mereka, dia menatap lelaki yang masih terdiam sambil memandangi pengunjung disana.


"Nanggala?"


Lelaki itu masih saja terdiam, namun tidak dengan wanita yang sejak tadi berdiri di ambang pintu, yang setelah mendengar nama itu di panggil langsung mengulum bibirnya rapat dengan air mata yang juga sudah terjatuh.


Nanggala membulatkan matanya ketika wanita itu dengan cepat membalikan tubuhnya dan berlari menjauh, tentu saja membuatnya langsung mengejarnya.


"Bunda!!"


Sesampainya di luar, Nanggala menatap kanan dan kirinya, napasnya terengah. Lalu matanya membulat lagi ketika mendapati seseorang yang di panggil 'bunda' tadi berada di seberang jalan.


Namun saat dia baru saja akan memanggilnya lagi, sebuah taksi sudah lebih dulu menutupi tubuh wanita itu, hingga dia memasukinya kemudian hilang ketika taksi itu berjalan pergi dari sini.


Nanggala masih menatap kepergian taksi itu dengan dada yang sangat sesak, air matanya sudah sejak tadi turun, tangannya meremas hoodie bagian dadanya kuat.


Begitu sesak.


"Bunda udah nggak mau ketemu Nangga lagi ....?"


"Nangga kangen bunda ...."


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Jangan lupa terus dukung author yaa!...

__ADS_1


__ADS_2