
Pelajaran tambahan bagi kelas tiga baru saja selesai beberapa menit yang lalu. Koridor, halaman, dan juga parkiran sekolah seketika ramai bagi mereka yang akan pulang.
Maldev menghembuskan napasnya dan mendongakkan wajahnya lagi ke depan. matanya mengendar kesana-kemari untuk mencari keberadaan gadis itu. Jam kini menunjukan pukul delapan malam, dan malam ini cukup dingin. Tadi saja gerimis kecil sudah datang. Entahlah, sepertinya sebentar lagi turun hujan. Gemuruh kecil juga beberapa kali terdengar.
Pandangan matanya teralihkan oleh dua orang yang baru saja keluar dari gerbang. Maldev menatap mereka datar, tetapi ada tatapan bingung juga.
Sedangkan yang di tatap tidak peduli.
"Gas."
Suara itu membuat yang di panggil memberhentikan langkahnya, lalu menatap si pembicara dengan wajah datarnya.
Maldev melirik sinis lelaki di samping Gasta. Ya, dia melirik sinis Nanggala yang berdiri di samping lelaki itu.
Sejak kapan Gasta bersama dengan Nanggala? Bukankah lelaki itu selalu bersama sepupunya yaitu Yunan?
Tidak mungkin Gasta bicara tentang ....
"Gas." Panggil Maldev sekali lagi sambil mencekal lengan sang empu.
Gasta menoleh malas, "apaan, sialan? Gue mau pulang." Singkatnya sinis lalu berlalu dari hadapan Maldev.
Nanggala yang sejak tadi berdiri di samping lelaki berdarah China itu hanya mengikuti, sesekali ekor matanya melirik Maldev yang berada di belakangnya.
Hatinya kembali sesak mengingat itu.
Maldev menatap kepergian keduanya sambil menghembuskan napas panjang. Lelaki itu menundukkan kepalanya lagi sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, sebelum sepasang sepatu yang berdiri di hadapannya itu membuat kepalanya terangkat lagi.
Mata mereka bertemu, mata yang menatap Maldev begitu dingin. Lebih dingin dan tajam dari hari-hari kemarin.
"Jer."
Bugh!
Pukulan yang tiba-tiba membuat tubuh Maldev jatuh tersungkur di atas aspal. Lelaki itu mengusap sudut bibirnya yang terasa mengeluarkan darah, kepalanya kemudian mendongak menatap seseorang di atasnya bingung.
"Mau ngapain lo kesini." Dingin Jerga yang tidak seperti pertanyaan.
"Gue udah bilang, nggak usah ganggu kakak gue lagi. Lo nggak punya telinga?"
Jerga tidak peduli dengan beberapa murid yang menghentikan langkah mereka untuk menatapnya. Lebih tepatnya menatapnya karena memukul Maldev tadi.
Dia tidak peduli dia jadi pusat perhatian sekarang ini.
"Jer ..." pelan Maldev perlahan mengangkat tubuhnya untuk berdiri.
Jerga masih dengan tatapan dinginnya mengikuti pergerakan lelaki itu, hingga lelaki itu berdiri di depannya dengan mata sendu membuatnya berdecih di dalam hati.
"Nggak usah natap gue kayak gitu. Nggak bakal bikin gue luluh dan maafin lo."
"Nggak tau malu banget sih lo? Bukan anak lo juga, ngapain lo kabur." Lanjut Jerga terkekeh kecil.
"Oh iya, lo kan emang mau jebak kakak gue doang. Kalian." sinisnya di akhir kalimat.
Maldev yang mendengar itu lalu membulatkan kedua bola matanya. Ada perasaan sesak yang di rasakannya sekarang ini. Matanya kini menatap Jerga sinis, dengan kaki yang mulai melangkah ke depan mendekati lelaki di hadapannya.
"Maksud lo apa?"
"Lo yang maksudnya apa, berengs*k!"
Jerga kembali memukul wajah Maldev dan membuat sang empu mundur beberapa langkah. Kini tidak sampai terjatuh seperti tadi.
Rahangnya mengeras menatap lelaki itu dengan sangat tajam. Rambutnya kini sudah berantakan tidak jelas, dan dia tidak memperdulikannya.
"Kalo aja lo nggak kabur dan ninggalin kakak gue ... Dia nggak akan kayak gini." Sinis Jerga penuh penekanan.
"Dia udah sembuh. Dia udah sembuh sekarang, 'kan?"
Jerga lagi-lagi terkekeh sinis di sana, benar-benar tidak habis pikir dengan lelaki berdarah campuran itu. Dia pikir kakaknya sembuh karena dia? Haha.
"Dan semua itu karena lo? Lucu, bangs*t."
"Lo nggak pernah ngapa-ngapain. Lo nggak pernah ada saat kakak gue butuh. Lo kemana, ha? Gue tanya lo kemana?"
Lelaki itu memajukan langkahnya dan mendorong dada kanan Maldev beberapa kali dengan kencang menggunakan kepalan tangannya.
"Nanggala yang selalu ada buat dia. Nanggala yang sabar jagain dia, ngerawat dia sampe dia sembuh kayak sekarang."
"Nanggala ayah kandungnya." Lirihnya di akhir kalimatnya.
Jerga kini sudah berada tepat di hadapan Maldev. Mengucapkan rentetan pertanyaan tadi tepat di wajah lelaki itu yang matanya mulai terlihat berair.
"Dan setelah semuanya mulai membaik, dengan nggak tahu dirinya lo dateng lagi dan rebut semua itu. Nggak malu lo?"
"I don't care. Gue sayang sama dia."
"Bangs*t."
Bugh!!
Pukulan Jerga yang ke tiga kalinya membuat tubuh Maldev tersungkur lagi. Dia dengan cepat berjalan ke arah lelaki itu, duduk di atas perutnya dan menarik kerahnya dari atas.
"Nggak tahu malu, berengs*k!!"
Bugh! Bugh!!
"Gue sayang sama Jia! Gue takut ... Gue takut kalo gue bilang semuanya, Jia bakal pergi dari gue ..." ujar Maldev purau yang membuat Jerga menghentikan pukulannya.
Mata lelaki itu sudah benar-benar mengabur sekarang, "gue takut ... Gue takut Jia tahu siapa sebenernya ayah kandung bayi itu ... Gue nggak mau kehilangan dia ...."
Isakan Maldev tidak membuat Jerga beranjak dari perut lelaki itu, tapannya masih membunuh kepadanya.
"Tapi emang itu kenyataannya, sialan! Dia ayah kandungnya!"
Maldev merasa napasnya tercekat mendengar semua itu, tubuhnya terasa berat untuk di gerakan. Untuk sekadar mendorong Jerga atau membalas pukulan Jerga.
Terasa berat.
"Okay. Okay ...."
Napas Jerga masih memburu, tangannya masih mencengkram kuat kerah baju milik Maldev.
"Izinin gue bilang sendiri sama Jia. Izinin gue anter dia ... Dan gue bakal ceritain sendiri sama dia."
"Please, Jer ... I love her very much. I promise, you won't see me again after that ...."
Jerga yang mendengar itu lalu menghembuskan napasnya panjang, dia perlahan mengangkat tubuhnya dari perut Maldev dan berdiri di samping lelaki yang masih terbaring itu.
Tatapan sinis masih dia layangkan kepada lelaki itu.
"Tepatin janji lo." Katanya singkat dan berlalu pergi dari hadapan Maldev.
Sementara Maldev masih terdiam di tempat. Beruntung sudah tidak banyak orang yang berlalu lalang di sini.
Mengangkat tubuhnya perlahan untuk berdiri, dua pasang kaki yang baru saja keluar gerbang itu mengalihkan pandangan Maldev lagi.
"Jia?" panggilnya dengan senyuman tipis.
Gadis itu masih terdiam, tangannya masih saling menggenggam dengan Yora di sampingnya. Matanya menelisik wajah Maldev karena terlihat sedikit aneh.
Ada darah di ujung bibir lelaki itu, dan lebam merah juga di pipinya, dengan kondisi baju yang juga berantakan.
__ADS_1
Maldev yang mengerti tatapan Jia pun tersenyum manis, langkahnya mendekat, "yuk pulang?"
Tanpa memperjelas apa yang terjadi kepadanya, dia meraih satu tangan Jia yang menganggur, hingga melepaskan genggaman kedua gadis itu.
"Yora, aku duluan."
Gadis itu tersenyum manis kepada Jia, tatapannya kembali aneh menatap lelaki di samping sahabatnya itu.
Jia sudah memulai memanggil dirinya dengan panggilan 'aku' lagi. Tetapi entahlah, kemarin dengan Nanggala saja gadis itu masih memanggil dirinya dengan sebutan 'Jia'.
Rasanya senang saja.
Berbeda. Ya, Nanggala berbeda untuknya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Maldev memberhentikan mobilnya di tepi jalan, tentu saja membuat gadis yang duduk di sampingnya mengernyit bingung.
Sebenarnya ingin bertanya, tetapi rasanya Jia masih berat mengeluarkan suaranya kepada lelaki itu. Meskipun tetap saja, Maldev adalah lelaki yang pernah di cintainya dulu.
Lelaki itu tidak jahat. Maldev adalah sosok lelaki dan kekasih yang sangat baik. Ya, lelaki itu sangat baik kepadanya, sangat lembut. Tetapi, lelaki itu juga yang membuatnya hancur. Hancur karena di tinggalkan dalam kondisi dia yang baru mengetahui jika dia hamil saat itu.
Maldev tidak bertanggung jawab.
Jia memang tidak sadar ketika di ruang karaoke waktu itu. Terakhir sadar adalah ketika Kheylin memberinya segelas bir entah untuk yang ke berapa kalinya. Setelah itu, dia tidak mengingat apa-apa.
Dia bangun masih posisi di ruang karaoke, terbaring di atas sofa panjang dan pakaiannya yang sudah tidak lengkap, dengan Maldev yang tertidur di sampingnya.
Ah, mengingatnya lagi membuat mata Jia memanas.
"Jia ... Aku mau ngomong."
Gadis itu hanya melirik dengan ekor matanya, menunggu apa yang katanya akan Maldev bicarakan sambil kedua tangannya yang mulai memeluk perut cukup besarnya.
Terdengar hembusan napas panjang Maldev disana, membuat Jia semakin bingung.
"Sebelumnya aku minta maaf. Buat kejadian dulu."
Jia sudah menahan air matanya agar tidak turun. Bibirnya terkatup sangat rapat dan sedikit bergetar.
"Aku minta maaf udah ninggalin kamu."
"Aku minta maaf udah pergi dari kamu. Even though ... I'm not the baby's father."
Deg
Kepala itu menoleh perlahan, menatap lelaki di sampingnya yang tengah terkekeh kecil itu dengan mata yang sedikit membulat.
Apa maksud lelaki itu ... Apa maksudnya ....
"Ayahnya ada, deket banget sama dia. Deket banget sama kamu," kepalanya menggeleng lemah, "not me."
Maldev tersenyum sendu dan menoleh menatap gadis yang di sayanginya itu. Tatapannya begitu lembut dan sayu.
"Someone you used to call Nala. Nanggala."
Air mata yang sejak tadi di tahan oleh Jia akhirnya jatuh juga.
Gadis itu menatap Maldev dengan pandangan tak percaya dan sangat terkejut. Napasnya kembali tercekat, dadanya terasa sangat sesak, bahkan air matanya mengalir dengan deras sekarang ini. Ya, mungkin terdengar hiperbola, namun memang seperti itu.
Bayangan Nanggala yang tersenyum manis kepadanya, tertawa bersamanya, menggenggam tangannya, mengusap lembut rambutnya, memeluk hangat tubuhnya sambil menenangkannya, dan masih banyak lagi.
Bayangan itu terus terputar di otaknya dan membuat dadanya seperti tertusuk ribuan pedang.
Tangan Jia yang sejak tadi memeluk perutnya itu sedikit meremas seragam di bagian sana. Kenapa rasanya sesakit ini ....?
Di keheningan mobil ini, Maldev menceritakan semuanya. Menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di malam Halloween itu. Dia menceritakannya dengan Jia yang terus terisak.
Lelaki itu yang melihat Jia tidak berhenti menangis pun langsung mendekatkan diri ke arah gadis itu. Meskipun hanya diam, menangis dalam diam, namun air mata itu terus turun membuatnya sangat sesak melihatnya.
Jia memundurkan tubuhnya, gadis itu menghindar saat tangannya akan di genggam Maldev. Dia lantas meraih tas yang ada pada pangkuannya, dan mulai membuka pintu mobil yang masih terkunci itu.
"Buka."
"Jia di luar gerimis ...."
"Buka!!"
Maldev hanya menatap sendu gadis itu, sambil tangannya yang akhirnya membuka kunci pintu dan membiarkan gadis itu keluar dari mobilnya.
Matanya masih menatap punggung Jia yang kian menjauh dari dalam mobil ini. Gerimis, dia tidak ingin gadis itu sakit. Tetapi tidak ... Jangan mengejarnya. Dia sudah janji pada Jerga jika setelah ini dia akan pergi.
Ya. Maldev tidak ingin menjadi lelaki berengs*k untuk yang kedua kalinya untuk gadis itu.
"I'm so sorry ...."
.......
.......
.......
Jia menatap ponselnya lagi yang masih menampilkan chat-nya bersama seseorang di sana. Gadis itu berjalan sedikit cepat sambil sesekali mengusap matanya yang tidak berhenti mengeluarkan air.
Bahkan air matanya itu sudah menyatu dengan air hujan yang sejak tadi turun membasahinya. Jia tidak peduli tubuhnya basah karena di guyur hujan malam ini. Dia pun tidak peduli ponselnya basah karena hujan.
Nalaa🐰
^^^Nala, Jia bisa ketemu Nala sekarang?|^^^
^^^Jia pengen ketemu Nana ....|^^^
^^^21.22^^^
|Iya Jia. Kamu hati-hati ya?
|Tunggu Nala
21.22
Langkahnya terhenti, pandangan matanya menatap ke depan sana, tempat yang sudah di janjikan tadi bersama Nanggala. Mengusap air matanya lagi, Jia meremas sweater bagian dadanya yang sudah basah. Terasa sangat sakit.
Dia tidak peduli dengan mobil-mobil berlalu lalang yang melihatnya dalam kondisi seperti ini.
Kacau. Jia sangat kacau. Rambut yang di ikat setengah sudah sedikit berantakan. Wajahnya yang sembap karena terlalu lama menangis, dan juga perutnya yang membesar, semuanya basah karena hujan.
Sebenarnya Jia sudah merasa lelah juga. Gadis itu berjalan dari tempat dimana dia turun dari mobil Maldev tadi, hingga sampai kesini. Jia lelah, dia memegangi perutnya yang sedikit terasa nyeri.
Melangkahkan kakinya lagi, pikirannya masih di penuhi oleh lelaki itu. Lelaki yang selama ini menjaganya, lelaki yang selama ini selalu di sampingnya dan membuatnya tersenyum karena bahagia.
Nanggala Aksha. Benar-benar lelaki yang selalu membuatnya merasa bahagia dan aman. Dia merasa aman berlindung kepada lelaki itu.
Sesaat, kenyataan yang melewati pikirannya saat ini membuatnya sakit kembali.
Ayah Nanggala ... Dan keluarga Nanggala ... adalah korban dari ayahnya. Hingga mereka mendapat kebencian dari orang-orang, hingga mereka di benci dan bahkan di sumpahi mati oleh orang-orang.
"Hiks, Nala ...."
Masih belum sampai saja Jia rasanya sudah tidak kuat. Apalagi dia harus menatap wajah lelaki itu? Mata itu ....?
__ADS_1
Langkah Jia berhenti lagi, netranya bisa menangkap sosok lelaki yang tengah memandang luasnya danau dari jembatan ini di sana. Dengan payung kuning yang di pegangnya.
Meskipun masih sedikit jauh, namun rasa sakit di dadanya mulai muncul lagi menatap wajah itu dari samping.
"Nala!!"
Lelaki itu menoleh, menoleh ke arah yang menyerukan namanya tadi.
Jia berlari kecil lebih mendekat. Dan yang membuat Nanggala terkejut adalah, gadis itu sudah basah kuyup dan menangis sambil berlari ke arahnya.
Grep
"Nala ... hiks ...."
"Jia? Jia kenapa??"
Nanggala dengan perasaan bingung membalas pelukan itu. Pelukan tiba-tiba Jia namun pelan. Ya, Jia masih ingat dengan kondisi perutnya yang membesar itu. Dia pun juga sedikit memberi ruang di bagian perutnya.
Nanggala tidak peduli pakaiannya ikut basah juga karena gadis itu yang memeluknya. Dia sangat khawatir, dia tidak mau gadis itu demam.
Mendengar isakkan yang lalu berubah menjadi tangisan menyakitkan itu, membuatnya semakin kebingungan dan mengelus lembut punggung basah gadis itu.
"Shhtt ... Nala disini ...."
"Hiks ...."
"Jangan nangis, Nala jadi sedih."
Hanya isakkan dan tangisan yang terdengar. Tenggorokan gadis itu terasa tercekat.
Apalagi Nanggala, dia lebih tidak bisa mendengar dan melihat gadis itu menangis.
"Nala ... hiks, maafin Jia ... hiks .... Anak ini, anak Nala ...."
Nanggala merenggangkan pelukan mereka, dia menatap gadis di hadapannya itu dengan mata sayunya. Kedua sudut bibirnya lalu tertarik membentuk senyuman hangat.
"Nala udah tau ...?" lirih gadis itu.
Mendapat anggukan dari si empu membuat Jia semakin menangis lebih keras. Hal itu membuat Nanggala langsung memegang pipi itu lembut dan mengusap air mata gadis itu.
Ya, air mata itu terlihat sangat jelas karena gadis itu kini sudah berteduh bersamanya di bawah payung miliknya.
"Hey? Jangan nangis ... Jia makin cantik kalo nangis." Kekeh Nanggala kecil di balik suaranya yang mulai purau.
"Maafin Jia ...."
Nanggala menggeleng lembut, "harusnya Nala yang minta maaf ... Nala udah ngerusak Jia. Nala nggak tau dan nggak inget kalo itu Jia. Nala minta maaf ...."
Suaranya begitu lembut. Ada perasaan sedih namun ada perasaan senang juga yang Jia rasakan. Dia benar-benar menyayangi sosok Nanggala. Senang karena ... Nanggala-lah ayah dari bayi yang di kandungnya. Dia ingin sekali cepat-cepat memberi tahu Dharma yang sebenarnya.
Dan tentu saja bisa membatalkan pertunangannya dengan Maldev.
Jia ingin bersama lelaki itu. Jia ingin bersama Nanggala. Lelaki yang di cintainya, lelaki yang merubah segalanya tentang dirinya.
Lelaki yang mengembalikan mentalnya.
Jia mencintainya.
Nanggala adalah lelaki yang sangat baik hati dan juga lembut.
"Maafin ... Maafin papa, hiks ... Maafin papa ...."
Nanggala hanya bisa tersenyum tipis mendengar itu. Bukannya tidak mau menjawab atau memaafkan, hatinya masih terlalu sakit mengingat semua. Keluarganya hancur karena pria itu.
Nanggala-pun tidak membencinya. Dia masih menunggu pria itu meminta maaf sendiri kepada bundanya, dan juga kepada ayahnya.
"Jia hiks, Jia baru bisa minta maaf sama Nala sekarang ... Harusnya Jia lebih cepat minta maaf ke Nala ... dan juga ke bunda ..." lirihnya masih terisak.
Jujur, Jia masih sesekali merasa pusing dan sakit kala mengingat itu. Ya, mengingat kejadian itu, tali itu, semua yang terjadi pada malam itu yang teringat dengan jelas di dalam otaknya. Tubuhnya akan berkeringat dan terasa pusing ketika mengingat itu.
"Ssstt, Jia jangan ngomong kayak gitu ... Jangan nangis lagi, hum? Nala jadi sedih." senyumnya kini manis kembali mengusap dengan lembut pipi itu.
Senyum yang sangat manis meskipun Jia bisa melihat ada air mata yang menggenang di sana.
Ah, kata-kata itu, Nanggala pasti selalu mengatakan itu jika sedang menangis. Dia akan mengatakannya sambil menenangkannya.
"Jangan nangis, Nala jadi sedih."
Kata-kata itu membuatnya tenang dan sangat nyaman.
"Aku sayang Nala ... Jia sayang Nala."
Nanggala kembali tersenyum dengan begitu manisnya membuat hati Jia antara sesak dan hangat. Dia sangat nyaman dengan senyuman lelaki itu.
"Nala juga sayang Jia."
Nanggala menarik lembut tubuh gadis itu ke dalam pelukannya lagi. Memeluk erat tubuh itu untuk menghangatkannya, sambil sesekali mengecupi kening itu dengan sayang.
Nanggala sangat menyayanginya. Dia sangat menyayangi gadis itu. Apalagi bayi dalam perut itu ... memang bayinya. Membuatnya bahagia lebih dari apapun.
Tetapi dia tidak akan terlalu bahagia. Dia masih tahu batasan, dia masih ingat, ada Dharma. Dia tidak tahu pria itu akan menyetujuinya atau tidak.
Sementara Jia, gadis itu semakin menenggelamkan wajahnya pada dada Nanggala. Pelukan Nanggala sangat hangat dan nyaman. Dan, Jia tidak ingin cepat mengakhiri ini.
Bahkan jika bisa, Jia ingin terus seperti ini hingga fajar datang.
Dia tidak peduli. Dia hanya ingin bersama Nanggala lebih lama lagi.
"Jangan tinggalin Jia ... Jangan tinggalin Jia ...."
Nanggala tersenyum tipis, "nggak ... Nala nggak akan ninggalin Jia."
Jawaban itu membuat Jia semakin mengeratkan pelukannya.
Nanggala mengulum bibirnya, dia berusaha untuk tersenyum dan terus menahan sakit di kepalanya yang sepertinya mulai kambuh lagi.
Dia tidak mau gadis itu semakin sedih. Matanya sudah sangat sembap, tubuh yang sangat dingin entah sudah berapa lama gadis itu membiarkan tubuhnya terkena air hujan. Dia tidak mau membuat gadis itu khawatir lebih lagi. Meskipun sekarang ini kepalanya terasa ingin pecah.
Nanggala memejamkan matanya beberapa kali. Dan saat itu juga air mata yang di tahannya sejak tadi pun mulai mengalir.
Rasanya ... sangat sakit.
Nanggala mengecup sekali lagi kening itu hangat, dia tersenyum lembut di balik rasa sakitnya.
'Tapi Nala nggak janji ....'
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Gimana perasaannya campur aduk ya sama part ini??;))...
__ADS_1
...Boom komen setelah membaca yaa♡...
...Ingatkan jika ada typo^^...