
Hari sudah semakin malam, lelaki yang di balut hoodie putihnya itu baru saja sampai di tempat ini, yaitu taman yang menghadap langsung dengan danau.
Langsung saja dia turun dari sepedanya, kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku hoodie-nya. Mata lelaki itu mengendar, mencari seseorang yang meminta untuk menemuinya disini.
Sebenarnya sempat bingung kenapa lelaki itu mengajaknya bertemu di hari yang sudah sangat malam begini, kan bisa besok juga ketika mereka di sekolah. Tetapi tadi lelaki itu menelponnya dengan suara purau, jujur membuat Nanggala khawatir mendengarnya.
Tidak memakan waktu lama, lelaki yang di carinya dengan cepat sudah bisa di tangkap oleh matanya, yang mana kini tengah duduk di salah satu kursi yang menghadap danau. Langsung saja Nanggala melangkahkan kakinya menuju kesana.
"Jer?"
Seseorang yang di panggilnya menoleh, dan seketika membuat Nanggala sedikit terkejut saat melihat penampilannya yang sangat kacau sekarang ini.
Mata dinginnya yang terlihat sembap seperti habis menangis, rambutnya acak-acakan, serta jaketnya yang sedikit merosot di bagian pundaknya.
Nanggala mendudukkan diri di samping Jerga dengan senyum tipisnya, tangannya lalu terulur untuk menyentuh pundak lelaki itu dan membenarkan jaketnya yang sedikit merosot.
"Pakai yang bener. Dingin."
Jerga sejak tadi hanya diam sembari ekor matanya yang sesekali melirik Nanggala. Dia meneguk ludahnya dengan susah payah.
Rasa-rasanya sejak di rumah tadi, tenggorokannya sangat tercekat.
"Gue tau lo pasti udah muak banget kan denger maaf dari gue?" lirih Nanggala tersenyum, dia mulai menatap lagi lelaki di sampingnya, "tapi gue bener-bener minta maaf, Jer. Buat semuanya ...."
Entah yang ke berapa kali Jerga merasa hatinya sangat sakit di satu hari ini. Dan itu sungguh membuatnya tersiksa. Begini kah rasanya? Begini kah sakitnya? Nanggala harus menerima itu semua selama beberapa tahun yang bahkan bukan karena kesalahan ayahnya?
Nanggala membulatkan matanya dan mengerutkan keningnya ketika ia melihat Jerga dengan tiba-tiba berjongkok di depannya, lalu menjatuhkan kedua lututnya di atas tanah hingga sekarang ini tubuhnya setengah duduk.
Lelaki itu menunduk dengan tubuh yang bergetar, serta kedua tangan yang terkepal kuat di atas pahanya.
"Jer, lo ngapain—"
"Gue minta maaf ...."
"Gue minta maaf, Na ... hiks ...."
Mata Nanggala semakin membulat mendengar isakan itu. Kenapa Jerga seperti ini? Dengan cepat dia menarik lengan lelaki itu namun tidak membuat sang empunya lekas berdiri.
Jerga semakin menundukkan kepalanya. Dengan bahu yang semakin bergetar, lelaki itu masih terisak kecil membuat Nanggala semakin kebingungan.
"Jer ...."
"Gue bener-bener minta maaf ... maafin papa gue ... Maafin papa gue, Na ...."
Nanggala sungguh tidak mengerti apa yang lelaki itu bicarakan. Bukankah Jerga masih marah kepadanya? Bukankah seharusnya dia yang meminta maaf kepada lelaki itu?
"Bangun, Jer." Perintahnya ingin menarik lengan itu lagi.
Jerga hanya menggeleng, dia tetap berjongkok di hadapan Nanggala hingga perlahan wajahnya mulai terangkat.
Mata Nanggala menatapnya sayu. Jerga sudah menangis. Mata lelaki itu sudah memerah dengan air mata yang sudah banyak membasahi wajahnya.
Nanggala tidak tega melihat itu.
"Maafin papa gue ... Maafin papa gue udah bunuh ayah lo ...."
Deg
Dada Nanggala mendadak sakit mendengar itu.
"M-Maksud lo apa?"
"Hiks ... Maafin papa gue udah bunuh ayah lo, Na ...."
Nanggala masih tidak mengerti, namun perlahan matanya mulai memanas. Apalagi melihat Jerga yang sejak tadi tidak berhentinya meminta maaf sambil terisak di hadapannya.
"Maksud lo apa, Jer?!" serunya sembari beranjak dari duduknya dan berdiri.
"Ayah lo nggak bunuh mama gue ... Tapi papa gue sendiri yang bunuh mama, dan juga bunuh ayah lo ...."
Jerga merogoh saku celananya, lalu mengambil ponselnya dan membukanya dengan susah payah karena tangannya yang gemetar, kemudian langsung saja menunjukkan video yang tadi di lihatnya itu ke hadapan Nanggala.
"Nanggala kan anak kalian?"
"Anak sialan itu yang udah buat Yewina pergi dariku dan milih kamu."
"J-Jangan ... Jangan Nangga ... Uhuk!"
Tubuh Nanggala mematung seketika. Tanah yang dia pijaki juga terasa bergoyang, lemas. Benda-benda di sekelilingnya juga seperti berputar, kepalanya benar-benar pening. Dadanya bahkan sekarang lebih terasa sakit, hingga tak terasa napasnya mulai tertahan. Lelaki itu mengepalkan salah satu telapak tangannya dengan begitu kuat.
Video itu ... Nanggala benar-benar tidak menyangka melihat video itu.
Tidak sadar, tubuhnya jatuh terduduk lagi. Pandangannya kosong meskipun matanya tepat menatap ke arah Jerga.
"Na, maafin gue ... Maafin gue, maafin gue ...."
Jerga memajukan sedikit tubuhnya, dia menyentuh tangan Nanggala yang lelaki itu letakkan di sisi tubuhnya, kemudian menatap mata itu yang sekarang sudah sama sepertinya. Ada air mata menggenang di sana.
Tangan Jerga menggenggam tangan Nanggala erat, tetapi tidak membuat lelaki itu tersadar dan membalasnya. Si empu masih terdiam dengan pandangan yang kini menatap kosong ke arah depan.
"Tolong maafin gue ... Maafin papa gue ... Lo boleh benci gue, Na. Lo boleh benci gue ... Hiks ..." lirih Jerga tercekat.
Lelaki itu kini sudah menangis sesenggukkan di hadapan Nanggala, dengan satu tangannya yang meremas hoodie Nanggala, dan satu tangan lagi untuk menutupi matanya yang sejak tadi terus mengeluarkan air mata.
Jerga tidak pernah malu dengan apa yang di lakukannya sekarang ini. Memang ini kesalahannya, kesalahan ayahnya yang bahkan membuatnya lebih-lebih malu.
Hari yang semakin malam ini hanya terdengar suara tangisan dan isakan seorang Jerga Abhicandra. Dia tidak berhentinya mengucapkan kata maaf kepada lelaki di hadapannya.
"Jasad ayah gue nggak pernah di temukan."
Jerga meredakan isakannya dan perlahan membuka kedua matanya pelan.
"Mereka semua bilang ayah gue kabur setelah bunuh seorang perempuan di dekat sungai."
"Mereka bilang ayah gue kabur dan bunuh diri di sungai itu."
"Bahkan polisi nggak ada yang mau cari ayah gue. Hingga sampai sekarang jasad itu nggak pernah di temukan."
"Mereka benci keluarga gue. Mereka semua benci keluarga gue karena ayah pembunuh. Karena ayah udah bunuh orang dan kabur."
"Sampai bunda nggak kuat dan juga pergi ninggalin gue."
Nanggala tercekat di setiap kalimatnya. Lelaki itu mengusap matanya kasar.
Pandangannya beralih menatap Jerga yang juga tengah menatapnya sayu. Tangannya terkepal lagi.
Rasanya benar-benar sesak mengingat kesakitan keluarganya saat itu. Tidak ada yang menyukainya, semua membencinya karena ayahnya seorang pembunuh. Keluarganya hancur sejak saat itu.
__ADS_1
"Kalian nggak pernah ngerasain sakitnya jadi kita."
"Hanya dengan satu kebohongan. Hanya dengan kata-kata yang dengan gampangnya keluar dari mulut itu."
"Satu keluarga hancur."
Nanggala terus mengeluarkan air matanya yang bahkan wajahnya tetap datar sambil mengucapkan kata-kata itu.
Menghembuskan napasnya berat yang sejak tadi terasa sangat mencekiknya, tubuh itu beranjak berdiri dan membuat Jerga mengikuti pergerakannya.
"Na ...."
Tanpa sepatah kata pun, Nanggala berlalu dari hadapan Jerga dan melangkah menuju sepedanya berada. Hingga tubuh itu menaikinya dan benar-benar pergi meninggalkan lelaki itu sendiri di sini.
Jerga semakin terisak di sana. Dia beberapa kali memukuli dadanya guna menghilangkan sesak ini, bahkan tak jarang dia akan memukuli kursi berbahan besi di depannya. Meskipun itu besi, dia sama sekali tidak merasakan sakit di tangannya.
Sesak. Sakit. Jerga tahu ... Yang di rasakannya kini, bahkan tidak sebanding dengan yang di rasakan Nanggala selama ini.
"Gue mohon ... Maafin gue, Na ...."
.......
.......
.......
Selesai memarkirkan sepedanya di parkiran, Nanggala berjalan lemas memasuki gedung sekolah. Tidak jarang tubuhnya akan sedikit terhuyung ketika ada yang dengan sengaja menabraknya dari belakang.
Nanggala hanya menatap diam murid-murid yang masih berlaku seperti itu kepadanya, dia tetap melanjutkan langkahnya memasuki gedung sekolah. Rasanya, tidak ada semangat sedikit pun hari ini. Dia sejak tadi malam menahan tangisnya.
Mungkin memang air matanya keluar saat bersama Jerga semalam, tetapi itu belum bisa membuat hatinya merasa lega. Nanggala masih merasa sesak hingga kini, dan entah akan kapan mengeluarkannya.
Dia hanya butuh sang bunda.
"Liat deh si miskin."
"Kayak udah nggak pengen hidup banget haha!"
"Ngapain juga hidup? Bapaknya pembunuh, ibunya nggak tau kemana. Mending mati aja sih mereka semua."
Nanggala masih melanjutkan jalannya ketika suara-suara itu mulai terdengar dari belakangnya.
Dia mencoba untuk tidak peduli. Namun hatinya benar-benar sesak mendengar itu hingga tanpa sadar kedua tangannya mulai terkepal.
"Harusnya bapaknya tuh di hukum mati."
"Tapi kan dia juga udah ngilang bertahun-tahun? Haha, iyalah mana mungkin ngaku dan nyerahin diri."
"Iya sih. Paling udah mati tuh."
Tidak, Nanggala sudah tidak tahan mendengarnya. Tangannya mengepal begitu kuat dan rahang yang mulai mengeras.
Ayahnya tidak seperti itu.
Ayahnya bukan pembunuh.
Dia membalikkan tubuhnya dengan cepat dan menatap tajam ketiga orang yang sejak tadi membicarakan ayahnya.
Bugh!
Pandangannya beralih kepada seseorang yang entah datang dari mana, seseorang yang baru saja menghajar lelaki yang tadi membicarakan ayahnya.
"Nggak usah banyak bacot, sialan." Desis Jerga tajam kepada lelaki itu.
Menolehkan kepalanya ke belakang, Jerga langsung bertemu dengan mata Nanggala yang tengah menatapnya datar tanpa ekspresi. Baru kali ini, baru kali ini Nanggala menatapnya seperti itu. Dan juga kemarin malam.
Nanggala adalah lelaki yang sangat lembut dan baik. Dia adalah sahabat yang sangat baik bagi Jerga. Tidak pernah Nanggala menatapnya seperti itu selama mereka bersahabat.
Tetapi ya ... memang, kesalahan ayahnya di masa itu tidak bisa di maafkan. Jerga-pun mengakuinya.
"Na."
Tanpa mengucapkan apapun, Nanggala berlalu pergi dari hadapan Jerga dan ketiga murid yang membicarakan ayahnya tadi.
Jerga menatap punggung lelaki itu sedih. Menghembuskan napasnya berat, kakinya ingin sekali mengejar Nanggala, namun dia urungkan.
Jadi, Nanggala benar-benar membencinya?
Dia juga mulai melangkah pergi dari sini tanpa memperdulikan lelaki yang di hajarnya tadi.
Sementara Nanggala, lelaki itu tidak berjalan menuju kelasnya, langkahnya membawanya ke tangga yang menghubungkan dengan lapangan di sekolahnya. Lelaki itu mendudukkan dirinya di sana, matanya menatap hamparan rumput luas yang terpampang di depannya.
Kepalanya sedikit dia tolehkan ketika sadar ada yang duduk di sampingnya.
Gasta tersenyum tipis.
"Gue denger, Maldev mau tanggung jawab, dan tunangan sama Jia."
Nanggala masih terdiam, matanya mendadak memanas lagi kala mengingat itu.
"Gue tau. Lo yang selama ini sama dia, lo yang selama ini ngelindungin dia. Sampe gue liat sekarang dia makin normal," Gasta menoleh, "lo yang buat dia sembuh."
Nanggala ikut menoleh dan tersenyum tipis, "tapi bukan gue yang di inginkan papanya."
Gasta menghembuskan napasnya panjang. Jari-jemarinya dia mainkan dan dia remas kuat. Mulutnya ingin sekali memberi tahu sesuatu kepada lelaki itu.
Tetapi ... dia masih ragu.
Namun jika dia tidak cepat memberi tahu, seseorang yang lelaki itu sayangi harus pergi dengan cara seperti ini.
"Na—"
Ucapan Gasta terpotong karena bell masuk baru saja berbunyi. Nanggala menepuk pelan bahunya dan beranjak dari duduknya.
"Ayo masuk kelas."
Tangan Gasta semakin terkepal. Lelaki itu dengan berat hati akhirnya ikut beranjak dari duduknya dan berjalan di belakang Nanggala yang sudah pergi terlebih dahulu.
Dia menatap punggung Nanggala sendu.
"Tapi yang di inginkan Jia itu lo, Na ... Dan yang pantes itu lo."
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Kelas baru saja berakhir bagi kelas tiga. Jam menunjukkan pukul tujuh malam, koridor dan halaman sekolah kini ramai bagi mereka yang akan pulang. Jia masih merapikan peralatan belajarnya dengan matanya yang sesekali melirik ke arah lelaki di sampingnya.
Nanggala sejak tadi pagi tidak mengeluarkan suaranya sedikit pun. Dia akan menjawabnya dengan anggukkan ataupun gelengan. Wajahnya saja terkesan datar.
__ADS_1
Namun bukan marah atau tidak suka, hanya tanpa ekspresi. Tentu saja hal itu membuat Jia, Rasen dan Yora yang memang satu kelas dan bersahabat dengan lelaki itu merasa bingung.
Nanggala tidak sedikitpun beranjak dari duduknya sejak jam pelajaran pertama tadi, hingga pulang malam hari ini.
"Nala ... Jia pulang sama Nala, 'kan?" tanyanya lirih sambil tersenyum menatap ke arah yang di maksud.
Tidak ada jawaban dari lelaki itu, membuat Jia lagi-lagi harus melunturkan senyumnya.
Yora yang memang duduk di bangku depan mereka dan mendengar semua itu juga ikut menatap Nanggala sendu, bingung. Tidak biasanya dia seperti ini.
"Jia? Udah di jemput tuh?" Kata Haksa yang baru saja memasuki kelas mereka.
Lelaki itu menepuk pelan bahu Jia dan tangannya langsung ke arah pintu kelas, dimana disana sudah ada seseorang yang tengah tersenyum dan melambaikan tangan ke arah gadis itu.
Secara tidak sadar, Jia memeluk erat dan sedikit meremas tas sekolahnya ketika melihat senyum manis Maldev disana.
Kenapa lelaki itu mendatanginya sampai ke kelas sih? Jia merasa kesal sendiri.
Rasen, Haksa dan Yora sejak tadi hanya bingung menatap ketiganya bergantian.
Hingga dengan berat hati, Jia mulai beranjak dari duduknya dan melangkah pelan menghampiri Maldev di sana. Gadis itu sesekali menatap ke arah Nanggala, yang bahkan lelaki itu sama sekali tidak mau menatapnya.
"Na?" Panggil Rasen lirih.
Nanggala mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis, "gue pulang duluan."
Tanpa mendengar jawaban dari mereka, Nanggala berjalan ke arah pintu belakang kelas, karena pintu depan saat ini masih ada Jia dan Maldev yang masih sesekali menatapnya.
"Mereka kenapa sih?" tanya Rasen frustrasi kepada kedua orang itu.
Haksa mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.
"Dari berangkat, Nanggala nggak pernah mau ngomong ..." lirih Yora.
"Eh, tapi Jerga juga aneh dari pagi," sahut Haksa, "dia diem mulu nggak kayak biasanya."
"Eh, biasanya juga diem sih ... Tapi seharian ini diemnya dia beda, kayak wajah sedih gitu bukan wajah galak."
"Suruh maju ngerjain soal dari pak Sasto aja dia lemes banget. Tapi untungnya jawabannya bener."
"Gue mungkin kalo lagi sedih gitu nggak akan jawab bener."
Rasen melirik sinis Haksa yang terlalu berbelit-belit menyampaikannya.
"Lo mah sedih nggak sedih nggak bakal bisa jawab. Begonya udah mendarah daging." ketus Rasen.
Kini giliran Haksa yang menatap kembarannya itu sinis ketika kepalanya baru saja mendapat pukulan kecil dari lelaki itu. Sedangkan Yora sudah memutarkan bola matanya melihat mereka.
Selalu dia yang menjadi saksi pertengkaran dua manusia itu.
Sedangkan di luar saat ini, Jia dan Maldev sudah berjalan sampai di halaman sekolah. Mereka berjalan beriringan dalam diam.
"Jia, makan di luar yuk?"
Maldev tersenyum manis menatap gadis yang berjalan di sebelahnya.
"Aku mau pulang." Lirihnya singkat.
Hanya senyum tipis yang tersungging di bibir Maldev. Lelaki itu hanya mengangguk menurutinya, menyamai langkahnya dengan gadis itu yang berjalan lebih dulu darinya.
Setelah sampai di tempat mobilnya di parkir, Maldev dengan sigap membuka pintu sebelah kiri dan menyuruh gadis itu masuk. Masih, masih dengan senyumnya meskipun Jia sejak tadi tidak pernah membalas senyuman itu.
Tidak apa-apa, Maldev senang hanya dengan ini.
"Hati-hati." Ingatnya.
Lalu setelah gadis itu masuk dan dia menutup pintu lagi, pandangannya mengarah ke belakang sana, ke arah lelaki yang juga tengah berjalan keluar sekolah.
Maldev menatapnya datar, lalu menoleh kepada Jia yang di lihatnya kini sudah menyumpal kedua telinganya dengan headset pink milik gadis itu. Dia menghembuskan napasnya pendek dan mulai berjalan menuju seseorang yang sudah memberhentikan langkahnya disana.
"Gue peringatin lagi sama lo. Jangan deketin Jia." Ujarnya sinis.
Nanggala hanya diam membalas tatapan Maldev tak kalah datar. Tatapannya mengarah ke mobil yang tak jauh di depannya.
"Don't you hear? Lo punya mulut nggak sih?" kesal Maldev karena lelaki itu tak kunjung menjawabnya.
Tetapi Nanggala tetap seperti tadi. Meskipun matanya menatap Maldev, namun lelaki itu tidak sedikitpun membuka mulutnya.
"****."
Dia mengusap rambutnya ke belakang menatap Nanggala dengan mata sinisnya.
Maldev berjalan lebih mendekat ke arah lelaki itu , "pokoknya, jangan pernah lagi deketin Jia. Get out for her life. Jangan pernah kembali lagi." Katanya sinis penuh penekanan.
Setelah melontarkan kata-kata itu, dia membalikkan badannya dan melangkah pergi dari hadapan Nanggala.
"Gue sayang sama dia."
Ucapan Nanggala beberapa detik lalu membuat langkah kaki Maldev terhenti, lelaki itu membalikan tubuhnya lagi dan terkekeh sinis mendengarnya.
"Dan gue yang dia sayang."
"Bukan lo."
Maldev menggeram tertahan menatap Nanggala dengan tajam, kedua tangannya pun terkepal. Sedangkan Nanggala hanya membalasnya datar.
Kini kaki Nanggala yang melangkah mendekati Maldev di depannya lalu berhenti tepat di depan lelaki itu dengan tatapan yang tak kalah sinis.
"Me, the one she loves."
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Nanggala atau Maldev nih? ͡° ͜ʖ ͡°...
...Ayoo semangatin athor lagii (╥﹏╥)...
__ADS_1