
Nanggala baru saja pulang dari mengantar Jia, lelaki itu mengayuh pelan sepedanya sambil menikmati dinginnya angin malam ini yang menerpa kulit wajahnya.
Matanya menatap ke sekelilingnya, tempat ini begitu sepi. Terlihat seperti taman dengan rumput terawat, namun tempat ini sepi bila sudah malam. Mungkin hanya beberapa orang yang melewati daerah sini.
Seperti biasa, malam ini Nanggala akan bekerja di Cafe, namun masih banyak waktu sebelum jam kerjanya di mulai. Dia memutuskan untuk pulang dulu. tidak pulang ke kost-nya, melainkan ke toko budhe Thalia dan membantu di sana.
Nanggala membenarkan kupluk hoodie-nya yang turun karena terpaan angin malam ini. Sambil membenarkan, samar-samar dia mendengar suara seperti orang di pukuli tidak jauh darinya. Matanya menatap sekeliling, mencari sumber suara itu berada. Kayuhan sepedanya juga dia pelankan sambil mencari.
Suaranya semakin dekat, Nanggala menatap ke arah kanannya, dan matanya langsung membulat ketika mendapati beberapa orang di sana.
Empat orang terlihat tengah memukuli seseorang lelaki yang sudah jatuh tersungkur di atas rumput. Nanggala bisa melihat, anak lelaki yang di pukuli itu memakai seragam yang sama dengannya.
Matanya mengendar, sangat sepi, tidak ada yang bisa menolongnya disini. Dengan cepat, Nanggala merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya dari sana, lalu setelah menemukan sesuatu, dia menjulurkan tangannya ke samping agar lebih dekat kepada mereka.
Dan, sirine mobil polisi pun terdengar di tempat yang sunyi ini. Hal itu tentu saja langsung membuat ke empat orang di sana mengangkat kepalanya secara bersamaan, namun tidak dengan anak sekolah yang masih terbaring miring di atas rerumputan itu.
"Sial, polisi!"
Salah satu dari mereka mengintruksi yang lain untuk bersembunyi di belakang pohon besar yang tak jauh dari mereka, membuat semuanya pergi dari tempatnya tadi dan menyisakan anak lelaki itu sendiri.
Anak itu mendongakkan kepalanya, dan seketika membuat Nanggala terkejut kala melihatnya.
Nanggala mengenal anak lelaki itu.
Matanya melirik lagi orang-orang tadi, memastikan mereka benar-benar tidak melihatnya, lalu tangannya sedikit melambai ke arah orang yang di maksud, berharap ia cepat menyadari ke beradaannya.
Benar saja, tidak lama lelaki itu melihatnya yang tengah melambaikan tangannya, dan tentu saja dia juga cukup terkejut menatapnya.
Nanggala mengangkat dagunya ke tempat orang-orang itu berada, seperti mengisyaratkan aman untuk lelaki itu berlari ke arahnya.
"Gasta lari!"
Dia yang mengerti langsung saja berdiri dan berlari ke arah yang memerintah.
"Naik."
Perintah Nanggala cepat dan Gasta segera menaiki boncengan sepeda itu. Dengan cepat juga Nanggala mengayuh sepedanya pergi karena dia bisa melihat orang-orang tadi mendengar suara kerasnya dan menyadari keberadaannya.
Gasta berpegangan pada tas Nanggala, dia meremasnya kuat. Kepalanya sedikit dia tundukkan dan menatap tas itu kosong, lalu tak lama kepalanya terangkat lagi menatap seseorang di depannya dengan mata sayu.
Ada rasa tidak menyangka di dalam dirinya, hingga tak sadar remasannya semakin kuat pada tas di hadapannya.
Nanggala sedikit menolehkan kepalanya ke belakang, untuk memastikan bahwa orang-orang tadi tidak mengejarnya. Tidak ada siapa-siapa, dia bernapas lega lalu menghentikan kayuhan sepedanya.
"Lo nggak papa??" Nanggala menatap seseorang di belakangnya, "gue anterin lo pulang, ya?"
Gasta masih terdiam. Matanya sekarang ini memanas.
"Gue pulang sendiri." Jawabnya dingin.
Gasta dengan cepat beranjak dari duduknya, membuat Nanggala terus menatap pergerakannya. Namun baru saja turun, lelaki itu meringis saat di rasa perutnya sangat sakit. Injakkan empat orang di seluruh tubuhnya membuatnya terasa sangat remuk.
Nanggala yang melihat itu menatapnya khawatir, "udah, gue anter lo pulang." Tangannya terulur untuk menuntun tangan Gasta agar duduk lagi di boncengan belakang sepedanya lagi.
Sementara Gasta masih terdiam dan menatap kosong tangan Nanggala yang memegang lengannya. Tangan yang berada di depan perutnya dia remas kuat lagi dan napasnya dia hembuskan berat, hingga akhirnya dia mulai menaiki lagi boncengan itu. Tentu saja membuat Nanggala tersenyum.
Kemudian sepedanya mulai Nanggala jalankan lagi menuju tempat yang tadi Gasta ucapkan. Rumahnya. Dengan kesunyian yang menemani mereka.
Gasta yang sejak tadi diam saja, memandangi punggung Nanggala dengan mata sayunya. Serta Nanggala yang tidak tahu ingin berkata apa. Lagi pula dia juga takut bertanya kepada lelaki itu. Takut salah bicara.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Hari sudah semakin malam saja, Nanggala baru selesai mengantar Gasta pulang ke rumah tadi. Tidak sampai depan rumah, hanya sampai gang saja. Gasta yang memintanya sendiri, dia tidak tahu ada masalah apa anak itu dengan orang-orang tadi. Sepanjang perjalanan pulang saja ia diam tak bersuara.
Nanggala menghembuskan napasnya panjang, lelaki itu sekarang ini tengah di perjalanan menuju Cafe tempatnya bekerja.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Lelaki itu mengayuh sepedanya sedikit cepat, dingin terasa sangat menusuk di kulitnya, meskipun sudah terbalut hoodie hijau mint-nya.
Sepedanya mendadak terhenti kala dengan tiba-tiba ada yang datang di hadapannya. Nanggala menatap empat orang itu bingung.
Siapa?
Apakah orang jahat yang akan merampoknya di jalanan sepi ini?
Dari penampilan dan wajahnya, sepertinya seseorang yang lebih tua beberapa tahun saja darinya.
"Turun lo."
Tangan Nanggala di tarik cepat oleh salah satu dari mereka, membuatnya mau tidak mau langsung turun dari sepedanya hingga sepedanya jatuh tergeletak begitu saja.
Bugh!
Nanggala benar-benar terkejut dengan serangan tiba-tiba itu. Tubuhnya tersungkur ke jalanan aspal, tangannya terangkat untuk memegangi perutnya yang terasa sangat sakit.
Hingga tarikan di hoodie bagian punggungnya membuatnya berdiri lagi. Tetapi lagi-lagi tersungkur dengan pukulan yang mengenai pipi kanannya.
Nanggala meringis, dia memejamkan matanya sambil mengusap sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah. Tatapannya ke depan, menatap beberapa orang itu yang sudah akan menghampirinya lagi.
Ada apa? Apakah mereka mengenalnya? Kenapa mereka memukulinya dengan tiba-tiba seperti ini?
Tubuhnya di tarik ke atas lagi membuat Nanggala berdiri. Dia bisa merasakan dua lelaki masing-masing berdiri di sampingnya sambil memegangi kedua lengannya, serta yang dua lagi berada di hadapannya sambil menyeringai.
Bugh! Bugh!
"Akh!"
Memejamkan matanya kuat, Nanggala merasakan sakit yang teramat pada bagian perutnya. Pukulan mereka betul-betul tidak main-main, apalagi melihat badan mereka yang memang kekar berisi.
"Masih kurang? Ha?"
Salah satu lelaki itu menarik rambut Nanggala hingga kepalanya mendongak ke atas.
Menarik rambutnya cukup kuat lagi, dan hantaman-hantaman pada pipinya sungguh menyakitkan, tak jarang kepalan tangan mereka mengenai bagian wajahnya yang lain, seperti mata. Matanya sangat pegal, bahkan Nanggala merasakan mulutnya sudah mengeluarkan banyak darah.
BUGH!!
"Uhuk!"
Lagi-lagi perutnya.
Nanggala benar-benar lemas. Badannya terasa sangat lemas, namun tangannya masih di cengkram begitu kuat oleh kedua lelaki di sampingnya.
Ingin bertanya mereka siapa, ingin bertanya kenapa, tetapi dia sudah tidak mempunyai tenaga. Kepalanya terasa sangat pening, matanya berkunang-kunang menatap sayu lelaki di hadapannya yang masih terkekeh sinis.
Dugh!
__ADS_1
"Uhuk, uhuk ...."
Kaki itu menendang kuat perut Nanggala, membuat sang empunya jatuh terlentang di aspal karena kedua lelaki tadi yang sudah melepaskan cengkraman mereka.
Sakit. Tubuhnya sangat remuk.
Nanggala mengatur napasnya yang tersenggal, beberapa kali matanya terbuka dan tertutup, dia merasakan seluruh tubuhnya sangat lemas.
Dia terbatuk beberapa kali dan darah semakin banyak keluar dari mulutnya. Dia kira, semuanya sudah selesai, tetapi ke empat orang itu terlihat maju mendekatinya, dan beberapa detik kemudian dia bisa merasakan tubuhnya berulang kali di injaki dan di tendang oleh mereka.
Nanggala hanya bisa meringis menahan sakit, sambil kedua tangannya yang dia letakan di atas kepala untuk melindunginya.
Dugh! Dugh!
Injakkan dan tendangan itu berlangsung lama, hingga Nanggala saja seperti sudah tidak merasa sakit di bagian tubuhnya.
Mereka berhenti, saling menatap satu sama lain sambil tersenyum sinis.
Nanggala masih di posisi tubuhnya yang miring, matanya menatap aspal di dekat mulutnya yang sudah basah dan mengalir cairan berwarna merah karena darahnya. Dia terbatuk beberapa kali lagi, lemas, dia sangat lemas. Matanya terpejam lagi, terbuka lagi, terpejam, lalu terbuka lagi. Napasnya terengah, pasokan oksigennya seperti mulai menipis hingga dia merasakan napasnya sangat sesak.
Matanya melirik sepasang sepatu yang baru saja sampai di depan kepalanya. Terlihat lutut itu menekuk dan berjongkok di hadapannya.
"Lo udah nyerah?" tanyanya lirih di depan telinga yang di maksud.
Nanggala sedikit mendongak guna untuk melihat siapa yang tengah berbicara kepadanya. Lelaki yang tidak ikut serta memukulinya tadi, namun hanya menatap dari jarak yang tidak terlalu jauh sambil bersandar pada badan motornya dengan senyuman miring.
Bisa Nanggala lihat lelaki itu terkekeh kecil menatapnya, namun hanya sebentar, sebelum raut wajahnya berubah dingin dan tatapannya pun sama, berubah sangat tajam menatapnya.
Dia tidak tahu apa maksud lelaki itu seperti ini kepadanya. Namun rentetan penjelasan di sertai peringatan yang lelaki itu ucapkan sembari tangannya yang tak lepas menjambak rambut belakangnya, mampu membuat matanya membulat sempurna. Matanya mulai memanas, jantungnya pun berdegup dengan kencang, namun lebih ke sesak dan sakit.
"Denger nggak lo, sialan?" desisnya penuh penekanan.
Meskipun masih terasa sesak dan sulit untuk di terimanya, Nanggala mulai mengatur napasnya yang tersenggal, "lo ... nggak ada hhh ... hak, uhuk ...." katanya terputus.
Lelaki itu terkekeh sinis lagi dan menarik rambut Nanggala ke belakang untuk menatapnya.
"Lo tuli? Lo nggak denger semua yang gue bilang tadi? Gue ada hak ...," tatapnya tajam, "tatap gue, anjing!" bentaknya kala lelaki di bawahnya malah memejamkan matanya sambil tersenyum tipis.
Nanggala terkekeh kecil, membuat lelaki itu menatapnya lebih tajam, "manggil diri lo sendiri? Lo yang anjing ...." lirihnya berkata susah payah.
Perkataan Nanggala tadi tentu saja membuat lelaki itu semakin marah, tangannya terkepal kuat, napasnya memburu. Apalagi dengan dia yang masih bisa-bisanya terkekeh di hadapannya.
"Anjing."
Dugh!
Lelaki itu berdiri dan langsung saja menerjang perut Nanggala kencang dengan kakinya. Alhasil membuat si empu terbatuk lagi, wajahnya juga kembali meringis.
Masih belum puas, lelaki itu berniat melayangkan tendangannya lagi pada perut itu, sebelum terhenti karena tarikan di lengan kanannya.
"Ada polisi."
Ucapan itu membuat lelaki tadi mengangkat kepalanya kala mendengar sirine mobil polisi yang sepertinya memang tidak jauh dari sini.
Lelaki itu menatap ke bawah lagi, menatap tubuh Nanggala yang sudah sangat lemas dengan banyaknya luka di beberapa bagian tubuhnya. Lebam di sekitar wajahnya, bahkan ada yang sudah membengkak, dan mulut yang juga sudah berhenti mengeluarkan darah.
"Kita pergi aja, dia juga udah kayak gitu." Kata salah satu lelaki lainnya.
Napasnya benar-benar memburu menatap Nanggala yang sudah tidak berdaya itu.
"Arghh!!"
Mengacak rambutnya kasar, lelaki itu akhirnya pergi dari sini dengan ke empat orang tadi, lalu menghampiri motor mereka yang terparkir tidak terlalu jauh dari sini.
Sudah tidak mungkin lagi dia berangkat bekerja. Mungkin, setelah tubuhnya bisa sedikit di gerakan, dia akan pulang saja.
.......
.......
Nanggala berjalan lunglai menyusuri lorong kost kecilnya. Langkahnya terseret, tangannya meremas kuat hoodie bagian perutnya.
Di situ sangat terasa nyeri.
Nanggala belum sama sekali membersihkan wajahnya yang beberapa berdarah itu. Dia hanya mengusapnya dengan lengan hoodie-nya tadi, sehingga warna mint itu sekarang sudah beberapa berwarna merah. Apalagi dengan dirinya yang banyak jatuh ke atas aspal, benar-benar membuatnya sangat kotor.
Sesampainya di depan pintu kost, Nanggala sejenak menyenderkan tubuhnya pada pintu itu, tubuh lemasnya langsung mendarat di sana. Dengan gerakan yang sangat pelan dia merogoh saku samping celananya, lalu setelah menemukan kunci, langsung saja tangan gemetarnya membuka kunci pintu kost-nya itu.
Sepi, sudah hampir tengah malam.
Kunci pintu kost-nya mempunyai duplikat, ya, tentu saja hanya untuk keluarga pakde Hardi.
Membuka pintu itu pelan, Nanggala mulai memasuki kost kecilnya dengan langkah yang pelan juga. Lelaki itu menghembuskan napasnya panjang sambil memejamkan matanya, sakit yang teramat tiba-tiba menyerang kepalanya.
Ah, tolong jangan sekarang!
Nanggala sedang tidak mempunyai tenaga untuk memukuli kepalanya sendiri, ataupun membenturkan kepalanya ke dinding. Untuk sekadar berpindah tempat atau menggerakkan salah satu organ tubuhnya saja, dia harus menahan sakit di seluruh tubuhnya.
Langkahnya mendekat ke arah ruang tv dan duduk di sofa, Nanggala memandang kosong meja yang berada di hadapannya. Setetes air matanya tiba-tiba jatuh mengenai celana seragam sekolahnya.
Bahunya bergetar, lelaki itu menahan isakkannya dengan tangannya yang juga meremas ujung hoodie-nya. Tubuhnya benar-benar sakit, hatinya sakit. Terlalu menyesakkan untuknya.
Nanggala merasa marah. Dia merasa sangat marah dengan lelaki yang terakhir memukulinya tadi. Ingin sekali dia membalas, ingin sekali dia menghantam wajah lelaki itu dengan kepalan tangannya. Namun dia bisa apa ...? Tubuhnya bahkan terasa sangat remuk, lemas dan tak berdaya.
Kenapa sesakit ini ....?
Menghembuskan napasnya panjang lagi guna menetralkan rasa sesak di dadanya, Nanggala mengusap matanya yang sejak tadi mengeluarkan air. Ya, secara tidak sadar dia menangis sambil memikirkan itu.
Nanggala meringis ketika mengusap mata bagian kirinya. Dan memang sejak tadi mata itu terasa sangat berat, pegal, juga terasa sulit untuk berkedip. Membengkak, pasti matanya membengkak. Karena dia juga merasa sulit untuk melihat, untuk membuka lebar, atau menatap ke atas saja dia tidak bisa.
Tangannya terangkat lagi untuk memegang kepalanya, sakit itu terus menusuk di kepalanya.
"Akh ..." ringisnya lirih.
Tok tok tok!
Suara itu membuat Nanggala membuka matanya dan menoleh ke arah pintu kost-nya.
"Cah bagus? Udah tidur? Budhe bawain makanan!"
Suara yang cukup keras itu membuat Nanggala lagi-lagi memasang wajah sedihnya, dia meringis kembali ketika sakit di kepalanya datang lagi.
Dengan langkah lemas, Nanggala mulai beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu, sambil tangannya yang sejak tadi masih hinggap di kepalanya.
"Budhe masuk yaa??"
Sesampainya di depan pintu, belum sempat Nanggala membukanya, sudah lebih dulu budhe Thalia yang membukanya dari depan karena mungkin sudah tahu kalau pintunya tidak di kunci.
Benar, kuncinya masih menggantung di pintu luar. Nanggala sampai lupa.
__ADS_1
"Akhh ...!"
Nanggala memejamkan matanya kuat dan mulai menjambak rambutnya sendiri. Dia tidak peduli Thalia akan melihat keadaannya yang seperti ini, karena dia memang merasa sudah benar-benar lelah dan tidak kuat untuk menahannya.
Lelaki itu merasakan kepalanya sangat sakit, matanya beberapa kali tertutup.
"Nanggala? Kamu kenopo?!" seru Thalia ketika wanita itu baru saja membuka pintu dan langsung di hadapkan dengan anak itu yang ... dia lihat wajahnya banyak luka, mata kirinya yang membengkak, dan juga ada beberapa darah yang sudah mengering.
Nanggala masih bisa mendengar itu, mendengar suara Thalia yang berseru mengkhawatirkannya, sebelum rasa sakit di kepalanya semakin menjadi dan pandangannya mendadak gelap.
"Nanggala?!"
Beruntung Thalia sigap, tubuh Nanggala dengan tiba-tiba tumbang ke arahnya. Dia benar-benar menatap anak yang sudah tidak sadarkan diri itu dengan perasaan yang takut dan juga khawatir. Bahkan rantang makanan yang di bawanya dan berniat di berikan kepada si manis itu sudah jatuh begitu saja di atas lantai.
"Bu, Nanggala kenapa??"
Yodhan yang baru saja datang tentu saja terkejut dan juga sama khawatirnya dengan sang ibu. Dia memang ikut, namun jalannya tadi terlalu lambat hingga Thalia meninggalkannya di belakang.
"Bawa Nanggala ke kamar." Perintah Thalia yang membuat anak lelakinya mengangguk cepat.
Yodhan membaringkan tubuh Nanggala di ranjang kecilnya, dia menatap seluruh tubuh lelaki itu tak percaya. Sama halnya dengan Thalia.
Kenapa baju Nanggala sangatlah kotor? Beberapa ada yang menggaris dengan noda berwarna merah. Serta tak lupa wajah itu, wajah manisnya yang bahkan sudah banyak sekali luka lebam, bengkak, dan darah yang mengering.
Thalia meringis, dia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang lalu mengusap rambut Nanggala lembut.
"Kamu kenopo lagi cah bagus ...?" tanya Thalia sesak.
Yodhan yang masih berdiri itu juga merasa marah. Siapa? Siapa yang membuat adik tersayangnya seperti ini? Telapak tangannya juga tidak sadar dia kepalkan.
"Yodhan ambilin air dingin dulu Bu buat ngompres luka Nanggala. Habis itu Yodhan ke apotek."
Thalia mengangguk mendengar kata-kata anaknya, matanya masih memperhatikan mata yang terpejam itu.
Hingga Yodhan akhirnya pergi dari sini untuk mengambilkan air dingin serta handuk kecil. Lalu, setelah mengantarnya kepada ibunya, lelaki itu bergegas keluar lagi untuk ke apotek membeli obat.
Pikiran Thalia sudah tidak karuan sejak tadi, dia benar-benar tidak berpikiran membawa anak itu ke rumah sakit. Dia khawatir, dia sangat takut, dia sangat sakit melihat putra keduanya seperti ini.
Matanya terus menatap anak yang terbaring itu dengan pandangan sendu. Tangannya pun terulur untuk menyentuh telapak tangan itu, mengelusnya lembut, tangan yang juga ada bekas darah mengering di sana.
"Nanggala ... Kamu kenopo lagi ... Siapa sing ngelakuin ini sama kamu, hiks ...."
Tidak sadar Thalia menangis, dirinya terisak kecil dan membekap mulutnya dengan salah satu tangannya untuk meredamnya. Hatinya sesak melihat Nanggala seperti itu. Lelaki yang sudah di anggap anaknya sendiri.
Di ambilnya kain yang Yodhan bawakan tadi, di celupkannya pada air dingin di wadah lalu mulai membersihkan noda-noda darah yang ada pada wajah Nanggala. Dia mengusapnya pelan, dia tidak ingin anak itu kesakitan, meskipun memang sedang tidak sadarkan diri.
Sungguh. Thalia melakukan itu dengan dada yang sesak.
Cukup lama ....
Dan mata itu terbuka.
Mata Nanggala terbuka, dengan sigap Thalia memajukan tubuhnya guna menatap lebih dekat mata itu.
"Nanggala? Udah sadar??" wanita itu tersenyum mengusap lembut rambut si anak.
Mata itu menatapnya, "Budhe ..." lirihnya purau.
Wajah Nanggala seketika berubah sedih, matanya yang mulai berkaca itu menatap Thalia seperti mengatakan jika dia terluka.
Entah kenapa Nanggala menunjukan itu semua, yang biasanya dia akan selalu berkata 'tidak apa-apa' meskipun dirinya sedang berada di titik terendah, dan jangan lupa di sertai senyuman manisnya juga. Namun sekarang, dia menunjukannya. Dia lelah, dia tidak kuat menyimpannya sendiri.
"Sopo ... Sopo lagi sing nyakitin kamu koyo gini ....?"
Thalia tidak lagi bisa menyembunyikan tangisnya. Wanita itu mengusap pipinya yang berair, kemudian mencoba untuk tersenyum ketika melihat Nanggala yang masih diam tak bersuara sambil menatapnya sedih.
"Sakit, hum? Mana sing sakit, Nak? Biar Budhe usap-usap sing sakit." Tanya Thalia tersenyum manis.
Kata-kata itu membuat Nanggala ingin menangis lagi, dia benar-benar seperti melihat sosok sang bunda di dalam diri Thalia.
"Mana yang sakit sayang? Sini biar bunda usap-usap yang sakit, cup cup anak kesayangan bunda ...."
Itu yang sering Nanggala dengar dari sang bunda dulu.
Dia yang tadinya menatap Thalia sambil terdiam, kini mengalihkan pandangannya ke bawah. Dan mulai terisak, membuat Thalia menatap sendu lagi.
"Hiks ...."
Bahkan isakkan Nanggala terdengar menyakitkan bagi Thalia.
"Budhe ...."
Nanggala mengangkat kepalanya lagi menatap Thalia dengan mata yang penuh air mata. Gerakan tangan lelaki itu yang terangkat membuat Thalia menggeser duduknya berada di samping kepala lelaki itu.
Yang membuat Thalia bertambah sesak lagi, Nanggala dengan tiba-tiba mengangkat kepalanya, lalu di taruhnya di atas pahanya sambil salah satu tangan yang memeluknya. Tentu saja dia langsung membalasnya, mendekap lengan yang memeluk perutnya itu dan mengusapnya lembut. Dengan anak itu yang masih posisi setengah berbaring, dan mulai terisak lagi.
"Bunda ... hiks."
Air mata Thalia sudah berkali-kali jatuh. Dadanya sudah berkali-kali terasa sesak.
Erangan itu terasa begitu menusuk di dadanya. Nanggala terisak semakin keras di atas pahanya, membuatnya dengan lembut mengelus rambut setengah basah itu.
"Bunda ... hiks, bunda ... Bunda ...!" Nanggala menangis semakin keras.
Thalia tidak bisa berkata-kata, dia membiarkan anak itu melampiaskan rasa rindunya kepada sang bunda. Dia tahu, dia tahu seberapa lama Nanggala tidak bertemu bundanya.
"Bunda disini ... Bunda disini ...."
Thalia berucap lirih dan lembut berusaha menenangkannya. Erangannya semakin kencang sambil beberapa kali mengucapkan kata bunda, anak itu menangis sesenggukan.
Mengusap mata dan pipi itu pelan, Thalia menghapus air mata Nanggala yang terus mengalir keluar, menandakan dirinya memang benar-benar terluka, dan tentu saja benar-benar merindukan dekapan sosok ibu.
Nanggala terus menangis, tangannya meremas kuat ujung baju Thalia. Sakit ... Ini terlalu sakit untuknya.
"Bunda ... sakit, hiks ...."
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Yang nangis angkat tangaan wkwk^^...
__ADS_1
...Kasian nih Nanggala pengen banget ketemu Bunda. Siapa sih yg mukulin sosok sebaik Nanggala? Huh. Makin penasaran nggak?...
...Boom komen setelah membaca yaa♡...