NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
47. Kembali Tersenyum


__ADS_3

Suasana rumah Dharma sungguh tidak seperti biasanya, yang hari-hari terasa begitu sepi kini ramai karena bercandaan satu sama lain.


Jerga tersenyum di sana, lelaki yang tengah duduk di sofa dengan laptop berada di pangkuannya itu tersenyum menatap kembarannya.


"Mau kemana, Kak?"


Suara itu seketika membuat semuanya menoleh ke arah yang di maksud. Janan menghentikan langkahnya dan melirik Haksa yang bertanya seperti itu tadi.


"Ke minimarket." Jawabnya.


"Ih, Acca nitip ice cream dong! Pake duit lo tapi, Kak." Cengirnya di akhir kalimat.


Janan hanya terkekeh kecil sambil menggelengkan kepalanya. Di tatapnya satu per satu sahabat-sahabat adiknya yang berada disini. Ya, tentu saja menghitung berapa banyak orang, mana mungkin dia membeli hanya untuk Haksa?


"Morotin orang mulu lo hidupnya!" seru Rasen memukul kepala belakang lelaki itu.


"Ish!" tatapnya kesal kepada sang pelaku.


Terjadilah lagi perdebatan hingga pertengkaran lempar bantal sofa antara kedua kembar itu. Tidak ada habis-habisnya sejak tadi mereka datang. Bahkan tadi saja datang sambil bertengkar, membuat Jerga pusing sendiri.


Janan lagi-lagi menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan langkahnya keluar rumah, sebelum tadi melempar senyum kepada Jerga di sana.


Dharma sedang tidak ada di rumah, pria itu ada pekerjaan di luar kota dan baru pulang besok. Hal itulah yang membuat Rasen berani mengajak sahabat-sahabatnya bermain kesini ini untuk menghibur Jia. Karena kata Jerga, gadis itu masih sedih akibat Nanggala yang belum ada kabar hingga sekarang.


"Gas, lo ngapain dah kesini nggak ada kerjaan banget! Lo juga!" seru Haksa menatap Gasta malas dan beralih menatap lelaki satunya dengan tatapan yang sama.


"Bebas dong, Jerga aja nggak ngelarang!" sahut si empu tak kalah seru.


Jihan menggeram tertahan karena anak di hadapannya ini bergerak dan membuat kutek yang sejak tadi di olesnya itu mengenai kulit jarinya.


"Diem kenapa sih!" kesalnya menarik kembali tangan Gasta untuk lebih mendekat kepadanya.


Anak itu hanya memasang wajah merengut. Jari-jemarinya memang beberapa menit yang lalu tengah di olesi kutek berwarna pink oleh perempuan yang memarahinya tadi.


Sebelum itu orangnya adalah Jia, namun setelah gadis itu sudah selesai di beri kutek oleh Jihan, mendadak Gasta mendekatkan diri dan meminta kukunya juga di beri kutek.


Entahlah Ragasta.


Jia tertawa kecil melihat kelakuan sahabat-sahabatnya sekarang ini. Tanpa sadar, gadis itu melupakan sedihnya dan tertawa bersama mereka.


Hanya melupakan sedihnya, bukan melupakan dia yang merindukan Nanggala. Bahkan sejak tadi saja nama Nanggala selalu di sebut Gasta dalam ceritanya.


Sepertinya memang benar apa yang di katakan Rasen waktu itu. Gasta adalah fans Nanggala.


"Nan, kok gini sih jelek banget, ah!"


Yunan menghembuskan napasnya frustrasi kala hasil burung bangau kertas yang di lipatnya terus mendapat komentar jelek dari Haksa. Lelaki itu menatap sinis orang yang duduk tak jauh di hadapannya dengan perasaan kesal.


"Lo bikin sendiri aja dah!" ketusnya melempar burung bangau kertas itu ke arah lelaki itu.


Haksa mendengus, "lah emang dari tadi gue ngapain? Ngepel? Gue colok mata lo!" Tatapannya tak kalah sinis.

__ADS_1


Yunan benar-benar sudah frustrasi, dan kenapa dia sejak tadi menurut saja ya ketika di marahi oleh Haksa? Benar, tidak seperti dirinya yang dulu. Yang terkenal sebagai anak pem-bully.


Dia tadi di tarik untuk ikut kesini oleh Gasta saat dia baru saja keluar dari gerbang rumahnya. Sementara Gasta sendiri di ajak oleh Rasen, untuk lebih ramai saja katanya.


Dan sekarang ini mereka tengah melipat kertas origami membentuk burung bangau. Katanya sih akan membuat seribu burung bangau yang nantinya untuk menyambut Nanggala saat lelaki itu kembali ke Jakarta.


Jia tentu saja sangat senang mendengar ide dari Rasen itu.


Rasen dan Jerga memang yang sepakat.


"Kak Jihan, abis itu bocah nanti Acca yaa!"


Jihan yang mendengarnya lantas berdecak kesal, "CK, GUE NGGAK BUKA JASA KUTEK YA!!"


Beberapa dari mereka memejamkan mata kala suara itu begitu menggelegar di ruangan ini. Bahkan Rasen yang terkejut pun refleks memukul kepala Haksa lagi sampai membuat anak itu meringis.


"Anjir galak." Desis Haksa lirih.


Tentu saja lirih, dia tidak ingin di semprot lagi oleh perempuan itu.


Jerga hanya bisa menggelengkan kepalanya memandangi mereka yang duduk di atas karpet di bawahnya. Lelaki itu tengah beristirahat melipat kertasnya. Lelah juga, sepertinya memang hanya dia yang sudah menyumbang banyak bangau.


"Selesai!"


Jia sedikit memutar tubuhnya ke belakang, namun terhenti ketika rambut panjangnya yang sudah selesai di kepang oleh Yora di letakkan di bahunya. Hampir seperti Rapunzel, Yora memberikan beberapa bunga-bunga kecil di sela kepangannya.


Gadis itu tersenyum senang melihat hasilnya, seketika itu juga tangannya yang tadi tengah melipat kertas pun dia hentikan sejenak.


"Jia mau ambil minum dulu." Ucap gadis itu mulai beranjak dari duduknya lantas membuat Yora mengangguk.


Memang ada minuman di meja, buatan bibi tadi, tetapi Jia sedang ingin minum air putih, sehingga gadis itu sekarang ini tengah berjalan ke arah dapur.


Sesampainya gadis itu disana, langsung saja menuangkan air putih ke gelasnya dan meminumnya dalam takaran yang banyak. Entahlah, sehaus itu dirinya. Seperti ada yang mengganjal saja di tenggorokannya. Kepalanya dia tolehkan ketika merasakan ada langkah kaki yang mendekat.


Yunan tersenyum di sana, lelaki itu berjalan melewati Jia dan menuju wastafel untuk mencuci lengan tangannya yang baru saja terkena spidol, akibat dia yang bertengkar dengan Haksa tadi.


"Nanggala orangnya baik banget ya?" celetuk Yunan dengan mata yang masih fokus ke arah lengannya.


Jia yang mendengar itu lantas mengangguk menyetujui, tangannya meletakkan gelas minumnya yang sudah tak berisi lagi ke atas meja.


"Dia orang baik dari yang terbaik." Ujarnya pelan, senyumnya berubah sendu.


Yunan mematikan kran air di hadapannya lalu membalikan tubuhnya untuk menghadap gadis itu, tatapnnya pun ikut berubah, "gue masih ngerasa bersalah walaupun dia udah maafin gue ... dan anggap gue sebagai temen dia. Gue masih orang yang berengs*k buat dia." Gumamnya lirih.


Mendengar kata-kata yang Yunan lontarkan beberapa detik lalu itu membuat Jia tersenyum tipis. Dia tahu lelaki itu menyesalinya.


"Nanggala orang baik, dia pasti udah tulus maafin lo." Ujarnya tersenyum manis membuat lelaki itu semakin merasa bersalah.


Hingga kaki Jia mulai melangkah keluar dari dapur dan sepertinya di ikuti oleh Yunan di belakangnya. Gadis itu menatap sahabat-sahabatnya disana, sudah lama mereka berkumpul untuk membuat seribu bangau kertas. Ada rasa terharu juga yang dia rasakan.


Drrtt ... Drrtt ....

__ADS_1


Jerga yang tersadar ponsel di sampingnya itu bergetar dan berdering pun sedikit tersentak, matanya lebih membulat ketika melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya saat ini.


Semua yang berada disini bahkan juga ikut menatap lelaki itu. Sama halnya dengan Jia yang kini sudah berdiri di samping sofa tempat duduk Jerga.


"Iya Bunda ini Jerga."


Jantung Jia berdegup dengan kencang saat nama itu di sebutkan beberapa detik lalu. Tubuhnya bahkan mendekat ke arah adik kembarnya itu, dia benar-benar ingin tahu keadaan dan kabar Nanggala.


Sedikit lama. Kenapa Jerga diam saja?


"Iya Bunda ... Makasih."


Hanya itu? Apakah hanya itu? Yang lain juga kini menatap Jerga seperti meminta penjelasan, mereka ingin tahu apa yang tadi di sampaikan bunda Yewina lewat telepon itu.


Jerga menghembuskan napasnya lirih, di tatapnya satu per satu sahabatnya lalu berhenti pada mata kakaknya yang kini menatapnya sendu di sampingnya.


"Besok kita ketemu Nala." Ujar Jerga lembut, tubuhnya dia berdirikan dan mengusap pipi Jia yang kini sudah basah karena air mata.


Jerga tahu pasti kakaknya itu sangat senang mendengar kabar tadi.


Tentu saja. Jia sangat senang, Jia sangat senang mengetahui bahwa besok dia akan bertemu dengan lelaki itu. Nanggala-nya yang selama ini sangat dia rindukkan sosoknya.


Tidak terasa gadis itu menangis sambil tertawa kecil, membuat yang lainnya juga merasa senang mendapat kabar itu.


"Nih ice cream-nya."


Suara itu mampu membuat semuanya beralih menatap seseorang yang baru saja pulang dari minimarket. Terlihat di kedua tangannya kini sudah ada dua kantung keresek putih besar yang sepertinya berisi macam-macam ice cream dan snack lainnya.


"PUNYA GUE SEMUA!!"


Janan refleks memundurkan tubuhnya dan terkejut kala Haksa berteriak seperti itu tadi sambil berlari kencang ke arahnya.


Bahkan tanpa sadar, kakinya yang berlari itu menginjaki burung bangau kertas yang sudah jadi, yang sejak tadi sudah mereka kumpulkan dengan jumlah yang tidak sedikit di atas karpet.


"HAKSA GOBLOOOK!!!"


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Ciyee yang mau ketemu Nala-nyaa (◍•ᴗ•◍)...

__ADS_1


...Boom komen setelah membaca yaa♡...


__ADS_2