NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
37. Tak Lagi Dibutuhkan


__ADS_3

Maldev menatap sendu rumah besar di hadapannya. Hujan sudah reda sejak satu jam yang lalu, kini hanya menyisakan genangan air di beberapa jalan dan dingin yang semakin menusuk.


Posisinya masih berada di dalam mobil, dia masih enggan menurunkan tubuhnya dan masuk ke rumah itu karena perasaannya sesak dan juga bingung. Tetapi dia tidak boleh begini, dia sudah berjanji, dia sudah berjanji akan pergi setelah ini.


Maldev sungguh tidak bermaksud begitu dengan Jia dulu. Dia menyayanginya bukan karena keluarga gadis itu kaya, karena dendam atau apapun. Dia menyayanginya tulus.


Dia menyesal sudah menerima tawaran dari Yunan dan juga menyesal sudah menuruti apa kata Kheylin, sahabat kecilnya. Yang entah sejak kapan dia merasa berbeda dengan gadis itu.


Terlihat seperti diam-diam tidak menyukai Jia yang notabenenya adalah sahabat dekatnya sendiri, padahal dulu Kheylin adalah gadis yang baik.


Maldev menyesal ... Apa yang dia lakukan sudah sangat menyakiti Jia. Bukan maksudnya seperti itu.


Namun untuk menyesal sekarang memang sudah terlambat, dia sudah meninggalkannya begitu saja dulu. Dan sekarang, sudah ada lelaki lain yang mengisi kekosongan itu.


Nanggala Aksha. Lelaki yang pertama di temuinya di Cafe saat malam halloween, dan lelaki yang di temuinya lagi belum lama ini, benar-benar membuatnya takut, apalagi tahu kedekatan keduanya.


Tetapi memang ini yang harus di terimanya. Dia akan menerimanya, dia akan menebus dan bertanggung jawab untuk kesalahan-kesalahannya terdahulu.


Maldev menghembuskan napasnya dan mulai membuka pintu mobil miliknya, lali menurunkan kakinya dan mulai berjalan mendekati rumah di hadapannya.


Baru beberapa langkah dia melangkahkan kakinya, matanya menangkap sang tuan rumah yang baru saja keluar dari pintu utama.


"Maldev?"


Yang di panggil hanya tersenyum tipis membalas senyuman pria yang kini berjalan mendekatinya.


Dharma menepuk pelan bahu anak itu masih dengan senyuman, "loh Jia mana? Bukannya harusnya sama kamu?"


Maldev masih terdiam dengan senyuman tertahannya. Melihat pakaian yang di kenakan Dharma sedikit resmi, pasti pria itu akan pergi keluar. Entah urusan kantor atau apapun.


"Eum ... itu Om ...."


Dharma mengernyitkan alisnya bingung mendengar jawaban dan suara Maldev yang seperti itu, sebelum pandangannya teralihkan dengan kedua orang yang tengah berjalan mendekat ke arahnya.


Wajah Dharma mulai berubah melihatnya. Hal itu pun membuat Maldev juga mengikuti arah pandang pria di hadapannya.


Jia dengan wajah yang sedikit menunduk terus meremas kuat genggaman tangannya pada Nanggala. Jujur tubuhnya sedikit menggigil karena hujan tadi, meskipun dia sudah memakai jaket milik lelaki itu.


"Jiara masuk."


Suara dingin Dharma tidak membuat gadis itu bergerak dari posisinya. Dia malah semakin mengeratkan genggaman tangan itu dan menggeser tubuhnya lebih dekat ke Nanggala.


"Masuk!!"


"Om."


Tatapan Dharma beralih kepada Nanggala, dia menatap anak itu dengan tatapan dingin.


"Apa? Nggak usah ikut campur lagi kamu."


"Jia udah sembuh. Dia nggak butuh kamu."


Hatinya meringis mendengar itu. Nanggala tersenyum kecil dalam tatapannya. Ah ... Jadi dia hanya di butuhkan untuk ini?


Setelah semuanya membaik dia akan di buang seperti ini?


Sesaat Nanggala lupa, kalau dia memang di pekerjakan Dharma untuk menjaga gadis itu dulu. Garis bawahi kata di pekerjakan. Lalu setelah tuannya sudah tidak membutuhkannya, memang terserah sang tuan untuk menghentikannya atau mengeluarkannya.


Ya, dia tahu posisinya memang hanya itu.


Tetapi ... Bayi itu, adalah anaknya. Dan dia tentu saja sangat menyayangi gadis itu.


"Saya sayang sama Jia."


Kata-kata yang di lontarkan Nanggala membuat Dharma terkekeh kecil di sana, bersamaan dengan seseorang yang baru keluar dari dalam rumah.


"Haha, nggak usah bercanda kamu." Kekeh Dharma.


"Apa wajah saya terlihat sedang bercanda?"


"Saya sangat menyayangi Jia."


Dharma lagi-lagi melayangkan tatapan sinis serta tajam kepada anak di hadapannya.


Nanggala sungguh tidak peduli dia sudah berani melawan kata-kata Dharma seperti ini. Kilasan kejadian di video itu, kilasan kejadian dimana ayahnya di bunuh oleh pria itu, membuat hatinya sakit sekaligus marah.


Pria itu. Pria tidak tahu diri itu, sangat mudah memutar balikan fakta dan masih bisa hidup bahagia hingga sekarang. Sedangkan keluarganya? Langsung hancur karena perkataan-perkataan bohongnya.


"Bagus lo nepatin janji lo."


Lelaki yang sejak tadi diam di belakang ayahnya itu akhirnya ikut bersuara, membuat pria di depannya menolehkan kepala ke belakang. Sama halnya dengan Nanggala, Jia dan Maldev, mereka semua mengalihkan pandangan kepada lelaki itu.


"Maksud kamu apa Jerga?" kali ini nada dingin itu di suarakan kepada anak bungsunya.


"Dia udah nepatin janji, nggak akan ganggu Kak Jia lagi."


Dharma mengikuti arah tunjuk dagu Jerga yang menunjuk ke arah Maldev di sana. Dia menghembuskan napasnya kasar lalu menatap dingin anak itu lagi.


"Papa udah bilang nggak usah ikut campur urusan Papa!" sinis Dharma, "Papa akan tetap tunangkan mereka, dan menikahkan mereka kalo bayi itu udah lahir."


"Papa nggak berhak!"


"Berani kamu teriak sama Papa?!!"


Jerga merasakan tubuhnya sedikit mundur ketika ada tangan yang menariknya pelan. Mata yang tadi sangat tajam menatap sang ayah, kini menatap kakak lelakinya yang sudah berdiri di sampingnya.


"Papa nggak berhak."


Dharma kini beralih menatap Janan bingung. Sebenarnya mereka itu kenapa?


Sedangkan Nanggala dan Jia yang sejak tadi saling menggenggam pun hanya bisa diam lagi. Sama halnya dengan Maldev, dia tidak tahu harus melakukan apa.


Dia harus menepati janjinya.


"Sekarang kamu Janan? Haha, kalian bersekongkol buat menghentikan Papa? Ha?"


Janan dengan tatapan datarnya menghembuskan napasnya lirih, tangan kanannya masih memegang lengan Jerga yang berada di sampingnya.


"Papa nggak berhak karena bayi itu bukan anak Maldev."


"Bayi itu anak Nanggala."


Dharma menoleh dengan tatapan sedikit terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Jerga beberapa detik yang lalu. Pandangannya mengarah kepada Maldev yang masih terdiam disana. Lelaki itu sedikit menunduk setelah mendengar perkataan tadi.


"Maldev?"


Suara itu membuat yang di panggil mengangkat kepalanya perlahan, lantas menatap mata itu dengan sorot mata takut. Tangannya mulai dia kepalkan.


Lalu anggukkan kepala Maldev membuat Dharma terkejut yang kedua kalinya. Pria itu menghembuskan napasnya berat dan tersenyum tipis.

__ADS_1


"Terus apa masalahnya? Berarti dia yang nggak bertanggung jawab dan ninggalin Jia, 'kan? Beruntung masih ada Maldev."


Jerga menatap sang ayah tak percaya. Ada apa dengan ayahnya itu?


Sedangkan Jia, masih terus meremas kuat tangan Nanggala yang menggenggamnya. Gadis itu sudah sejak tadi merasakan matanya mulai berair.


"Papa tetep akan tunangkan mereka dan jangan ada yang melawan."


"Pa! Mereka di jebak! Mereka di jebak sama temen-temen berengs*k cowok itu!" lengan Jerga sudah lepas dari genggaman Janan, lelaki itu menatap ayahnya marah, "mereka di jebak ... Mereka baru tahu belum lama ini kalo itu adalah anak Nanggala." Suaranya melirih di akhir kalimat.


Matanya sudah mulai mengabur meskipun tatapan tajam masih Jerga arahkan kepada ayahnya.


Janan-pun menatap adiknya sedih, juga menatap kedua orang yang masih saling menggenggam itu sedih. Benar, mereka berdua adalah korban. Dia sempat sakit sendiri ketika di ceritakan Jerga kemarin malam. Adik bungsunya itu menceritakan semuanya kepadanya.


"Papa nggak peduli. Papa nggak akan biarin anak Papa sama dia."


Mendengar kata-kata itu membuat Jerga terkekeh lagi, "dalam keadaan kayak gini Papa baru nganggap kita anak."


Janan sedikit menundukan kepalanya menatap kosong ubin di bawahnya, hatinya sakit mendengarnya. Dia juga dulu seperti itu, dia dulu membenci si kembar. Dia dan Jihan seperti itu.


Ayahnya, ayahnya dulu bilang jika Jerga dan Jia bukanlah adik kandung mereka, bukan anak sang ayah, melainkan anak sopir mereka yang dulu. Maka dari itu dia dan juga Jihan membenci kedua adik mereka.


Padahal ... semuanya salah.


"Papa, nggak akan biarin Jia sama anak si bajing*n itu."


Satu tangan Nanggala yang menganggur mulai terkepal mendengar itu, tatapannya tajam kepada Dharma yang dengan gampangnya mengeluarkan kata-kata seperti itu.


"Ayah saya bukan bajing*n." Tegas Nanggala disana.


Dharma terkekeh dan berjalan lebih mendekat ke arah anak itu, "bajing*n, Ayah kamu bajing*n. Ayah kamu yang udah rebut ibu kamu dari saya."


"Jangan sebut ayah saya seperti itu. Om yang lebih cocok dapat sebutan itu."


Plak!!


Semua yang ada di sini seketika tersentak melihatnya. Wajah Nanggala dengan cepat memaling ke samping. Tubuh Jia saja yang sejak tadi memang tangannya saling bertautan dengan lelaki itu ikut terhuyung juga ke samping.


Gadis itu kini sudah mulai menangis.


"Ayah sama anak sama aja." Desis Dharma lirih.


"Jangan sakiti anakku."


Suara itu muncul dan membuat semuanya mengalihkan pandangan ke arah sana. Sama halnya dengan Nanggala, dia yang sangat mengenal suara itu pun ikut memutar kepalanya ke belakang, dengan salah satu tangan yang masih memegang pipinya.


"Yewina ..." lirih Dharma tidak percaya.


Matanya terus menatap pergerakan wanita cantik itu yang mulai berdiri di samping Nanggala dan menggenggam salah satu tangan anak itu.


Yewina beralih menatap pria di hadapannya dengan tajam, matanya sudah memerah sejak tadi, "jangan pernah sakiti anakku."


Jujur, Yewina terkejut bukan main mendengar apa yang sejak tadi mereka bicarakan. Ya, dia sudah berada disini sejak tadi, tetapi memang posisinya sedikit jauh dan tertutup oleh mobil milik Maldev.


Dia terkejut mendengar bayi itu adalah ... Ah, matanya mulai memanas lagi. Dia percaya putranya bukan anak yang seperti itu.


Tadi dia juga mendengar di jebak ... Mendadak dadanya mulai sesak memikirkannya.


"Kamu boleh sakiti aku tapi jangan anakku!" seru Yewina yang sudah tidak bisa menahan air matanya. Air matanya turun sambil masih menatap Dharma marah.


"Bunda ..." lirih Nanggala menatap sendu Yewina dari samping.


Jia masih terisak di samping Nanggala, sebelum di rasakan ada yang memeluk lengannya dari belakang. Di lihatnya Jihan yang kini di sampingnya tengah tersenyum lembut ke arahnya. Tangan perempuan itu menepuk pelan punggungnya seperti menenangkannya.


Beralih kepada Yewina, wanita itu masih menatap Dharma dengan air matanya. Tangan kanannya menggenggam erat tangan sang putra di samping.


"Bahkan kamu pernah coba bunuh dia sebelum dia lahir. Kamu terus injak dia meskipun aku udah mohon-mohon sama kamu. Meskipun aku udah mohon-mohon kalau aku kesakitan."


"Kamu juga bunuh ayahnya ..." suara Yewina mulai bergetar.


"Kalo kamu masih marah sama aku, benci aku, sakiti aku. Bunuh juga aku jangan sakiti mereka! Mereka nggak tahu apa-apa, Dharma ...."


Nanggala membiarkan air matanya lolos begitu saja. Dadanya sangat sakit, dia bisa merasakan tangan bundanya yang menggenggamnya juga gemetar.


Sementara kedua lelaki anak Abhicandra di belakang sana juga mulai menunduk. Entah kenapa, melihat Yewina seperti melihat sang ibu yang sudah tiada.


Pasti ... Ibunya sama sakitnya dengan wanita itu. Yang selalu di tuduh berselingkuh sampai ayahnya tidak mau mengakui si kembar.


Maldev benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Apakah posisinya disini salah? Ini sudah urusan keluarga mereka.


Dharma tidak bisa berkata apa-apa, kedua telapak tangannya terkepal dengan kuat serta bibirnya terkatup rapat seperti membenarkan ucapan wanita itu.


"Biarkan anak kamu yang memilih."


Yewina mengatur napasnya yang seperti tersenggal.


"Kamu mau seperti orang tuamu? Memaksakan apa yang bukan di pilih anaknya? Kamu mau ... anak kamu hancur seperti kamu? Aku tahu kamu merasakan itu, Dharma ...."


Pria itu masih terdiam. Ya, dia merasakan semuanya. Dia sangat menyayangi Yewina ketika ayahnya menjodohkannya dengan anak rekan kerjanya dengan alasan untuk perusahaan. Hingga kesal, marah, dan kacaunya dia di lampiaskan kepada Yewina saat itu.


Yewina banyak menerima perlakuan kasar darinya sejak itu, dan dia pun menjadi lelaki yang gampang marah.


Ttapi dia juga merasa di khianati wanita itu karena berselingkuh di belakangnya. Serta anak yang di kandungnya dulu.


"Aku memang ngerasain. Tapi keputusanku tadi bukan untuk Jia," raut wajah Dharma berubah tidak seperti tadi, "tapi untuk Nangfala. Aku ingin anakmu juga merasakan apa yang aku rasakan."


"Hancur? Haha. Anakmu juga akan merasakan kehancuran itu."


Bibir Yewina bergetar mendengar itu, dia sungguh sudah tidak habis pikir dengan pria di hadapannya. Bisa-bisanya pria itu masih berpikiran seperti itu, bisa-bisanya pria itu masih dengan egonya?


"Berengs*k kamu, Dharma."


.......


.......


.......


Lelaki berjaket hitam itu menatap dingin seseorang yang melangkah mendekat ke arahnya, tubuhnya pun mulai berdiri dan terkekeh sinis.


Sedangkan seseorang yang baru saja datang itu hanya memasang wajah datar, datar namun menunduk. Sepertinya dia tahu apa yang akan di terimanya setelah ini.


"Asik banget ya main sama temen barunya terus?" decih Yunan menatap lelaki di depannya sinis.


Gasta masih menutup rapat mulutnya dengan mata yang memandang ke arah lain.


Jujur, pukulan-pukulan Yunan dan dua orang di belakangnya kala itu masih teringat jelas dalam otaknya. Tangannya yang paling parah saat itu, hingga kini terkadang masih terasa sakit.


"Ngomong apa lo sama dia?" Sinis Yunan yang kini sudah berdiri tepat di hadapan Gasta.

__ADS_1


"Ngomong apa yang gue liat."


Jawaban itu tentu saja membuat Yunan, Senno dan juga Alwan terkekeh bersamaan. Gasta memberanikan diri mengangkat wajahnya dan menatap ketiganya. Dia tahu, pertanyaan lelaki itu pasti mengarah ke kejadian di Cafe dulu.


"Miskin, belagu. Lo emang cocok temenan sama dia."


Dugh!


Tubuh Gasta seketika terdorong dan jatuh ke belakang saat perutnya di tendang tiba-tiba oleh Yunan. Lelaki itu sampai terbatuk kecil sambil memegangi perutnya.


"Lo juga dulu pernah di bully, miskin. Nggak berterima kasih banget sama kita, haha!"


"Nggak tahu malu banget lo? Kalo nggak ada kita juga lo terbuang kayak si miskin."


Bugh! Bugh! Bugh!


Gasta hanya bisa meringis tertahan kala ketiga kaki itu mulai menginjaki tubuhnya tanpa ada rasa kasihan. Rasa sakit yang teramat itu langsung terasa di tubuhnya.


Dia tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak bisa melawan. Bahkan jika dia melawan sedikit, mungkin ketiga orang itu akan membunuhnya.


Seperti dulu.


"Akh ...."


Gasta merasakan kepalanya sangat pening ketika salah satu kaki mereka menendang kepalanya, dan tidak terasa ujung matanya kini mulai basah.


"Nan, udah."


Melihat Yunan yang terus saja menendang dan menginjaki Gasta secara brutal, membuat Senno menarik lengan lelaki itu dan menyuruhnya untuk menghentikannya.


Napas Yunan memburu, dia menatap Gasta yang masih meringkuk di bawahnya itu tajam.


"Lo nggak pernah kasihan sama mereka?" gumam Gasta lirih.


"Lo nggak pernah kasihan sama Nanggala dan Jia?"


"Mereka korban kita ... Mereka korban senang-senangnya kita ...."


Kata-kata yang di ucapkan Gasta itu membuat Yunan terdiam. Mata lelaki itu turun ke bawah lagi dan bertemu dengan mata sendu Gasta.


Sama halnya dengan Senno dan Alaan di belakang, mereka terdiam dan sempat saling memandang.


"Apa lo nggak pernah kasihan sama Jia ...? Orang yang lo sayang. Sampai sekarang, 'kan?"


Dada Yunan mendadak sesak mendengar itu. Tanpa sadar tangannya terkepal dengan kuat dan matanya yang juga mulai memanas.


Ah ... Perasaan macam apa ini?


Kenapa begitu sakit?


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


Yewina masih terus menggenggam tangan Nanggala yang bahkan sekarang ini mereka sudah sampai di kontrakan wanita itu. Dia membawa putranya duduk, duduk di sofa yang menghadap langsung dengan televisi dan juga bingkai foto keluarganya disana.


Menghembuskan napasnya lirih, Nanggala menoleh menatap sang bunda dengan senyuman lembutnya. Wanita itu sejak pulang tadi hanya diam tak bersuara.


Nanggala tahu bagaimana sakitnya bundanya. Apalagi mengingatkan dengan kejadian dulu.


"Bunda ..." lirihnya memanggil sang bunda dengan lembut.


Yewina mengangkat wajahnya, lalu menatap sendu mata putranya sambil mengulum bibirnya.


"Maaf sayang ... Maafin Bunda," ujarnya lirih dengan tangan mengelus rambut anak itu lembut, "maafin Bunda kamu jadi kayak gini ... Maafin bunda kamu jadi ngerasain kayak gini ...."


"Bunda tahu kamu sayang banget sama Jia. Dan Jia yang juga sayang banget sama kamu ...."


Nanggala menggeleng dan tersenyum hangat, "Bunda jangan kayak gitu ... Yang ada Nangga yang minta maaf, udah hadir, dan udah buat Bunda sama ayah sakit ...."


"Kamu ngomong apa!" sergahnya dengan cepat.


Suara sedikit keras sang bunda membuat Nanggala menunduk dan menahan napasnya dalam. Selanjutnya yang di rasakannya adalah, wanita itu menarik tubuhnya cepat untuk di peluknya.


"Bunda nggak pernah berpikiran kayak gitu. Hadirnya kamu, adalah hadiah terindah buat ayah sama Bunda. Hadirnya kamu, yang buat hidup ayah sama Bunda lebih bahagia dari apapun, sayang ..." ucapnya lembut mengelus punggung dan rambut belakang Nanggala.


Yewina bisa merasakan tubuh putranya mulai bergetar dalam pelukannya. Pun dengan dia, yang merasakan air matanya sudah turun membasahi pipinya.


"Bunda bareng sama ayah waktu Bunda udah nggak ada hubungan apa-apa lagi sama om Dharma. Kamu jangan pernah berpikiran hadirnya kamu yang buat kita semua jadi gini ...."


"Bunda seneng punya kamu ... Walaupun ayah udah nggak ada, Bunda masih punya malaikat Bunda disini. Kamu malaikat Bunda ... Malaikat kecil Bunda."


Yewina semakin mengeratkan pelukannya pada Nanggala. Dia sudah merasakan bajunya basah karena air mata Nanggala meskipun anak itu sejak tadi diam tak bersuara. Hanya terdengar isakkan dan bahu yang bergetar.


"Jangan pernah tinggalin Bunda ... hum, sayang? Dan Bunda bener-bener minta maaf udah ninggalin kamu dulu. Kebahagiaan Bunda ...." lirihnya dengan suara gemetar. Dadanya sangat sakit melihat Nanggala menangis seperti itu.


Tangannya mengelus lagi punggung dan rambut hitam Nanggala, dengan bibir yang sesekali mengecupi kening itu.


"Bunda ..." panggil Nanggala dengan suara purau.


"Hum?" jawab Yewina lembut.


"Nangga ada satu permintaan buat Bunda ... Boleh?"


Yewina mengangguk dan tersenyum, dia mengusap pipi basah itu lembut yang kini mereka sudah saling menatap satu sama lain.


"Nangga mau ketemu ayah."


"Nangga mau pulang."


"Nangga mau pulang ke Bandung ...."


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Bentar lagi end kayaknya hshsh...


...Semoga masih ada yg setia baca sampe part ini, makasih kalian💗...

__ADS_1


...Boom komen setelah membaca yaa♡...


__ADS_2