NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
51. Seandainya Kamu Disini


__ADS_3

...Song recommendation :...


...Paul Kim - Me After You...


ㅤㅤㅤㅤㅤ


Suasana sekolah sudah gelap, namun Jerga masih enggan untuk beranjak dari duduknya. Lelaki itu sejak beberapa puluh menit yang lalu hanya diam tak bergeming, sambil memandangi bunga dan juga sticky note yang cukup banyak tertempel di meja di hadapannya.


Jika membacanya satu per satu Jerga merasa sesak. Apalagi saat menatap foto resmi yang tengah tersenyum manis itu.


—Nanggala, gue minta maaf kalo pernah neriakin lo dengan nama yang nggak pantes—


—Sorry, gue pernah ngetawain lo atau sinis sama lo ....—


—*Na, gue minta maaf. Sepatu itu emang buat lo, gue yang ngasih sendiri. Begitu berengs*knya gue bilang lo nyuri sepatu gue waktu itu. Im so sorry*—


—Maafin gue pernah nutup pandangan gue, padahal lo lagi butuh bantuan—


—Ayah lo bukan pembunuh. Sorry Nanggala ....—


—Kak Nanggala, makasih udah bantuin aku waktu jatuh dari tangga. Maaf udah bilang yang nggak-nggak. Bener, kak Nanggala bantuin aku. Bukan pelecehan ... Kak Nanggala cuma bantu. Maafin aku kak—


—Gue minta maaf, bunga ini juga buat lo. Semoga tenang ya, Na—


—Nanggala ... Lo orang yang baik—


Tangan Jerga terkepal cukup kuat, napasnya tertahan dan sangat tercekat.


Ya, itu hanya beberapa, masih banyak lagi sticky note yang bertuliskan kata-kata maaf mereka di atas meja Nanggala. Banyak juga yang mendoakan lelaki itu untuk tenang dan bahagia.


"Nanggala udah pergi, kalian semua baru minta maaf sekarang?"


Di hembuskannya napasnya kasar, pandangan Jerga mulai turun, dan saat itu juga air mata yang sejak tadi bergerumul di sana pun jatuh. Yang awalnya hanya setetes, kini kian deras yang dia rasakan. Tangannya terangkat untuk mengusap matanya kasar.


Dua kali ini Jerga menangis seperti ini. Pertama tentu saja saat kematian sang ibu, apalagi sedihnya lelaki itu seperti bersamaan dengan rasa marah. Dia bisa sampai menangis sesenggukan seorang diri seperti ini.


Sampai saat ini, dia benar-benar masih ingat kata-kata yang Nanggala ucapkan kepadanya saat itu. Saat dia akan pulang ke Bandung.


"Tugas gue buat jagain Jia mungkin udah selesai, Jer ...."


Suara lirih dengan di akhiri senyum manis itu membuat Jerga semakin sakit mengingatnya, napasnya bahkan tersenggal beberapa kali.


Tidak ada yang mendengarnya bukan? Dia harap tidak ada. Sekolah sudah gelap dan murid kelas tiga yang mengadakan kelas tambahan sudah selesai satu jam yang lalu.


"Kenapa lo nepatin janji lo, Na? Kenapa lo nepatin janji lo buat pergi dari hidup kakak gue?" lirihnya bergetar.


"Gue masih inget janji itu ... Janji dimana lo bakal jauhin Maldev dari kakak gue, dan setelah itu lo janji ... bakal pergi juga dari dia."


"Gue nggak pernah minta ... Gue nggak pernah minta lo tepatin janji yang itu."


"Gue cuma minta lo disini, Na ...."


Jerga tidak sanggup. Kenapa dadanya sangat sakit mengatakan itu? Dia kehilangan Nanggala. Dia benar-benar kehilangan sahabatnya yang sangat baik itu.


Mengusap air matanya kasar lagi, dia lalu menutupi matanya dengan dua tangannya yang terkepal, bahunya semakin naik turun dan suara sesenggukannya semakin terdengar keras.


"Na, hiks ...."


Rasen mengusap pipinya yang terus di basahi oleh air mata. Lelaki itu melirik Haksa yang berada di sampingnya, yang tengah menutupi mulutnya sendiri dengan lengan yang berbalut sweater, untuk meredam suara isakannya.


Mereka disini sejak tadi, mereka berada di luar kelas dan sejak tadi mendengar apa yang Jerga ucapkan di dalam sana. Mereka belum pulang, lalu melihat Jerga yang masuk ke kelas dan menduduki bangku Nanggala, membuat Rasen memutuskan untuk menunggunya di depan kelas.


Tentu saja Jerga tidak tahu itu, karena mereka bersembunyi di balik pintu.


"Sa ..." bisiknya lirih.


Gasta dengan mata memerah berusaha menepuk pelan punggung bergetar lelaki yang di panggilnya tadi untuk menenangkannya.


"Gue nggak tega sama Jerga ..." sahut Rasen lirih dan tak kalah bergetar.


Gasta menghembuskan napasnya panjang, pandangannya menunduk dan menatap kosong ubin yang di pijakinya.


"Gue udah kangen lo, Na."


.......


.......


Memandangi luasnya danau di depannya, Jia tidak merasa dingin sedikitpun. Gadis itu sejak beberapa jam yang lalu belum juga beranjak dari duduknya, dan masih setia memandangi luasnya danau di hadapannya.


Jia duduk sambil menyilang kakinya, ingin sekali sambil memeluk lututnya, namun perutnya yang besar menjadikan dia sedikit kesusahan. Sesekali tersenyum tipis, sesekali juga bibirnya akan terkulum rapat saat dirinya menahan tangis.


"Na ... Lagi apa?" gumamnya lirih.


"Udah ketemu sama ayah Wendra?"


"Ketemu mama aku nggak?" bibirnya terkekeh kecil.


"Kamu pasti ketemu mereka ... Mereka orang-orang yang baik. Begitupun kamu ... Malaikat paling baik yang pernah aku temuin."


"Yang pernah datang untuk menjagaku ...."


Jia merasakan matanya mulai buram lagi entah untuk yang ke berapa kalinya, sambil menikmati alunan musik lewat earphone yang terhubung ke ponsel miliknya.


Lagu milik Paul Kim yang berjudul Me After You seketika terputar. Dan lagu ini adalah lagu manis yang pernah Nanggala dengarkan juga untuknya. Meskipun ini lagu berbahasa Korea, tapi dari mendengarkannya saja dia sudah ingin menangis lagi. Liriknya begitu dalam, dia menyukai liriknya.

__ADS_1


Saat itu ... Saat mereka duduk berdua sambil dia yang menyandarkan kepalanya pada bahu lelaki itu.


Sama. Saat itu pun di danau ini.


Setelah aku bertemu denganmu


Aku bahagia dengan perubahan-perubahan kecil


Di pagi hari yang silau


Aku membuka mataku sambil memikirkanmu


"Makasih, Na ... Udah jadi kebahagiaanku. Udah jadi alasan aku tersenyum. Udah jadi malaikatku ...."


"Makasih udah nitipin malaikat kecil ini juga ... Aku akan jaga dia, sebagaimana kamu menjaga aku dulu, Na."


Jia menundukkan wajahnya dan membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Bahunya bahkan mulai bergetar, tangannya meremas kuat baju pada bagian perutnya itu.


Ketika kita saling memahami hal-hal kecil


Aku terkejut dengan kenyataan bahwa kita sudah saling terbiasa


Aku mencintaimu


"Temen-temen banyak yang ikut bantu bikin seribu burung bangau itu buat kamu, Na. Bahkan Cleo sama Alji. Mereka sayang banget sama kamu."


Matanya melirik paper bag yang tadi sore kedua anak itu berikan kepadanya dengan senyuman tipis.


"Bener kata Cleo, meskipun burung bangau kertas ini nggak bisa ngabulin permintaan kamu buat bisa terus sama aku, ataupun aku yang minta buat kamu bisa kembali lagi ke sini sama kita. Aku akan minta yang lain, Na."


"Aku akan minta sama Tuhan, agar dia jagain kamu di sana. Agar kamu selalu bahagia di sana. Sampein makasih, udah pernah ngirim malaikat terbaiknya, buat jaga aku disini."


Bahkan sekarang saat aku merasa cemas


Aku ingin bersamamu selamanya


Aku memikirkan hal itu saat melihatmu


Aku begitu bahagia setelah bertemu denganmu


Aku bisa sangat mencintaimu


Pikiran muda dan kekanak-kanakanku


Kau bisa mengerti dan memelukku dengan hangat


"Na ... hiks, benar ... Jia bahagia setelah ketemu Nala ... Jia sayang Nala ...."


Ketika kenangan-kenangan itu terputar di dalam otaknya seperti sebuah kolase, saat itu juga dia akan merasa dadanya sangat sesak dan sakit.


"Aku baru tau, Na. Aku baru tau kamu kemarin pasti nahan sakit, nahan lemas, nahan semuanya ... Bunda bilang, kecelakaan itu nyebabin pembengkakan otak, hiks ... Dan bunda juga bilang, kamu kecelakaan waktu Cluster Headache kamu kambuh ...."


"Sakit ya, Na?"


"Kenapa nggak pernah bilang ..." lirihnya bergetar, suaranya sudah sangat bindeng.


"Kenapa kamu selalu nyembunyiin sakit kamu dan terus tersenyum untuk aku ... Untuk kita ...."


"Bilang Na kamu sakit ... Bilang kamu capek ... Bilang kalo kamu udah nggak kuat."


"Nala akan terus disini sama Jia ...."


"Ssttt ... Nala nggak papa, Jia jangan nangis."


"Dia nggak sendirian, bintangnya selalu nemenin bulan itu, walaupun dia berbeda dari yang lain, bintang itu akan terus di sampingnya."


"Jia nggak sendirian. Nala selalu di samping Jia ... Nala disini, sama Jia."


"Boleh Nala suka sama Jia? Boleh Nala sayang sama Jia?"


"Hey? Jangan nangis ... Jia makin cantik kalo nangis."


"Jia itu cahaya buat gelapnya Nala."


"Jia itu bahagia buat kesedihan Nala."


"Dan Nala sayang sama Jia."


Setelah musim panas berlalu


Dengan suara hujan yang kurindukan


Saat pipiku memerah karena tersipu malu


Aku ingin mencium matamu saat kamu mempunyai banyak pikiran


Mari kita berjalan bersama


"Kamu masih inget kan, waktu kita jalan-jalan disini? Sepedaan juga, kita bikin rencana kalo kamu udah sembuh, kita bakal makan cotton candy lagi berdua disini."


"Sepedaan bareng lagi ...."


"Peluk kamu dari belakang lagi...."


"Ketawa sama kamu lagi ...."

__ADS_1


"Tapi ternyata udah nggak akan bisa lagi, Na ...."


Gadis itu menghembuskan napasnya berat, tenggorokannya sangat tercekat dan sakit, bahkan matanya pun mulai terasa berat. Jia yakin matanya sudah membengkak.


Lelaki itu selalu menunjukkan bahwa dirinya tidak apa-apa. Di bully, di teriaki miskin, anak pembunuh. Lelaki itu sudah menerima banyak kesakitan, sakit fisik dan juga batin. Tidak ada yang menyukainya ataupun menyayanginya.


Hanya orang-orang terdekat. Termasuk dirinya.


"Tapi Tuhan lebih sayang kamu, Na ...."


"Sekarang kamu udah nggak capek. Kamu udah nggak sakit lagi ..." bibir bergetarnya mencoba untuk tersenyum.


"Kamu udah tidur nyenyak. Selama ini kamu nggak pernah tidur nyenyak karena penyakit itu, 'kan?"


"Kamu udah bener-bener tidur nyenyak dan nggak akan bangun lagi, Na ...."


Ingin sekali Jia berteriak sekarang ini, namun mana mungkin? Masih ada orang-orang yang berlalu lalang di jalanan belakangnya, meskipun tidak seramai itu. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam.


Dan Jia masih ingin berada disini.


Kedua telapak tangannya gadis itu gunakan untuk menutupi wajahnya, dan saat itu juga tangisnya menjadi semakin keras.


Dia tidak peduli dengan orang-orang yang melihatnya seperti ini, dia hanya ingin menyampaikan rasa sesaknya, dia ingin menyampaikan rasa sakitnya kehilangan seseorang yang dia sayangi.


Kini hanya tinggal kenangan saja, semuanya tinggal cerita, yang akan dia banggakan kepada anaknya kelak, betapa hebatnya sosok sang ayah.


Nanggala sudah tenang. Nala-nya sudah tidur dengan nyenyak.


Namun bayangan lelaki itu tersenyum, bercanda, menatapnya lembut, khawatir, melindunginya, masih teringat jelas dan akan dia ingat sampai kapan pun.


Sampai mereka bertemu nantinya.


Apa kamu juga bahagia setelah bertemu denganku?


Maafkan aku yang belum bisa memberikan banyak hal untukmu


Aku egois dan tidak berpendirian


Tapi aku ingin memperlakukanmu dengan baik


Setelah sekian lama aku menunggu


Akhirnya aku menemukan cinta yang menurutku sempurna


Kamu yang menggenggam tanganku dan memberiku kekuatan


Kamu yang memelukku dengan penuh kasih sayang


Setelah aku bertemu denganmu


"Maaf, Na ... hiks, maaf kalo kamu nggak bahagia setelah ketemu aku ...."


"Aku ikhlasin kamu ... Kamu juga harus bahagia di sana. Makasih udah terus disini, sampai aku sembuh. Makasih udah terus di sampingku ... Meskipun hanya sampai disini."


"Tidur yang nyenyak, Na ...."


"Tidur yang nyenyak, malaikat ku ...."


Dia ingat, itu kata-kata terakhir juga yang dia ucapkan kepada Nanggala waktu itu. Ketika Nanggala berpamitan kepadanya untuk tidur terlebih dahulu karena mengantuk, kata-kata itu ternyata menjadi salam perpisahan terakhir.


Dalam tangisnya, Jia merasakan ada yang menyentuh bahu kirinya, dan dengan lembut menarik tubuhnya ke kanan hingga kepalanya bersandar pada sesuatu.


Dia tidak sanggup membuka matanya, dia tidak sanggup untuk sekadar menoleh ataupun bertanya 'kamu siapa?' kepada seseorang yang duduk di sampingnya. Tangannya mulai memukuli dadanya sendiri seakan sesak itu bisa hilang.


Bahunya semakin bergetar ketika aroma khas itu tercium di hidungnya, dengan suara tangisannya terdengar semakin keras bahkan seperti berteriak yang sangat menyesakkan.


"Jangan nangis ... Nala jadi sedih ...."


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...• End •...


...ㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Finally~...


...Terimakasih banyak yg udah setia baca sampai sini. Terimakasih yg udah vote dan komen sampai sini. Cerita Nanggala dan Jiara hanya sampai disini, terima kasih untuk semangatnya~!...


...Semoga kita bertemu lagi ya di karya-karya ku selanjutnya xixi aamiin.....


...Ada yg mau kalian sampaikan kah sama cast-cast disini? Di persilahkan menyampaikan keluh dan kesah....


...Atau buat author? Sangat boleh wkwk...


...Boom komen setelah membaca yaa♡...


...—Salam, makhluk kiyowok...

__ADS_1


__ADS_2