
Sekolah saat ini benar-benar gempar dengan berita itu, berita bahwa ayah Nanggala adalah seorang pembunuh. Jerga bingung, dia tidak mengerti. Sosok ayah Nanggala yang dia kenal dulu adalah orang yang baik hati, hangat, dan juga ramah.
Sedikit tidak menyangka jika memang benar ayah Nanggala orang yang seperti itu. Jerga akui, jika sifat ayah Nanggala memang menurun ke anaknya, ya anak tunggalnya itu. Tetapi hatinya masih membencinya hingga kini. Lelaki itu yang dulu mengabaikannya, lelaki itu yang dulu meninggalkannya.
Jerga membencinya.
Hembusan napas kasarnya membuat Haksa yang duduk di sampingnya menoleh dan melirik dengan tatapan bingung.
"Kenapa lo, Jer?"
Yang di tanya langsung tersadar dan menatap lelaki itu, "nggak."
Haksa hanya merotasikan kedua bola matanya. Jerga selalu seperti itu jika ditanya olehnya, pasti selalu menjawab 'nggak' atau 'nggak papa'.
"Jer, beneran kalo bapaknya Nanggala pembunuh?"
Jerga yang merasakan pergerakan Haksa lebih mendekatkan tubuh kepadanya, dan mendengar anak itu bertanya seperti tadi pun langsung meliriknya. Sebenarnya, ada rasa tidak suka jika orang-orang mengatakan ayah Nanggala adalah seorang pembunuh.
Entahlah, dia seperti merasa tidak suka saja.
"Tapi gue kasian sih sama Nanggala, yang pembunuh kan bapaknya, bukan dia, kenapa orang-orang bencinya sama dia coba?"
Benar, Jerga membenarkan perkataan Haksa beberapa detik yang lalu itu. Tetapi, mungkin hanya beberapa yang berpikir seperti itu.
Berita seperti ini semakin membuat Nanggala di bully di sekolah, banyak sekali murid yang membencinya. Awal masuk, Nanggala di bully karena miskin, dan karena berani melawan Yunan saat itu. Kini, di tambah dengan berita seperti ini.
"Iya nggak, Jer?"
Haksa melirik Jerga yang tengah menatap kosong meja di depannya, membuatnya lagi-lagi memutarkan kedua bola matanya.
"Ah elah, gue kayak ngomong sama patung!" gerutu Haksa.
Lelaki itu langsung saja menjauhkan tubuhnya yang tadi memang mendekat ke arah Jerga, lalu menaruh kepalanya di atas meja dan membelakangi Jerga sambil mengerucutkan bibirnya.
Tingkahnya seperti anak perempuan yang sedang kesal.
.......
.......
Hari kemarin berlalu, namun murid-murid yang membenci, mem-bully, meneriaki Nanggala dengan kata makian tidaklah berlalu secepat itu. Sangat ... menyakitkan untuknya.
Nanggala beberapa kali mengucapkan kata 'bunda' di dalam hatinya, seperti ingin meminta pertolongan kepada sang bunda.
Kedua orang itu yang tidak lain Nanggala dan Jia berjalan memasuki kelas. Sudah lumayan ramai, jam pelajaran petama adalah pelajarannya Shandy, dan jam sembilan nanti, mereka ada pelajaran olahraga.
Sempat melempar senyum kepada Rasen dan Yora yang sudah lebih dulu berangkat dan tengah duduk di bangku masing-masing, Nanggala mendudukkan tubuhnya di bangkunya, dia juga membantu Jia untuk duduk di bangku sebelahnya.
Lelaki itu melirik dengan ekor matanya, semua masih menatapnya dengan sinis.
"Kenapa sih, anak pembunuh bisa masuk ke sekolah kita?
"Iya nih, pihak sekolah ngapain coba nerima orang kayak dia?"
"Ck, ngapain pindah ke sini sih?"
"Bukannya dia nggak sekolah ya? Nggak pindah, dia emang baru sekolah."
"Ohh, baru bisa sekolah? Bener sih, kan miskin."
"Udah miskin, belagu banget lagi."
"Jangan-jangan bapaknya pembunuh bayaran?"
"Bener tuh! Hahaha!"
Nanggala yang terlihat tengah mengambil buku-buku dalam lacinya itu terhenti ketika mendengar suara-suara yang membicarakannya, terdengar dari belakang. Tangannya sedikit terkepal di balik laci dan napasnya terasa sangat berat, tenggorokannya tercekat.
Ingin sekali Nanggala katakan pada semuanya, jika ayahnya bukanlah orang yang seperti itu.
Ayahnya baik, ayah terhebat yang pernah Nanggala miliki. Ayahnya tidak seperti apa yang mereka pikirkan, tidak seperti apa yang mereka katakan.
"Na ...."
Yang di panggil mendongak. Dapat dilihat, gadis yang duduk di sampingnya itu mulai menggenggam tangan kirinya yang dia letakan di atas meja.
Jia tersenyum hangat.
Ah, lagi-lagi kenapa hatinya sesak? Nanggala terharu melihat itu. Jia selalu berusaha menenangkannya sejak kemarin. Dia ingin menangis saja rasanya.
Disaat tidak ada orang tua di sisinya, Nanggala mempunyai Thalia, Hardi dan juga Yodhan yang menyayanginya dengan kasih sayang seperti keluarga. Disaat tidak ada yang menenangkannya sambil menggenggam tangannya seperti ini, selalu ada gadis itu yang mampu menghangatkan hatinya.
Nanggala ... Menyayangi mereka, keluarga keduanya.
Nanggala juga menyayanginya. Gadis itu, Jiara.
Jangan lupakan peran teman-temannya yang selalu di sampingnya juga. Yang selalu bersamanya disaat orang lain terus mundur dan membencinya. Ah, mereka adalah sahabatnya.
Rasen, Haksa, Yora, dan juga ... Jerga. Dia masih selalu menganggap lelaki itu sahabatnya bahkan sejak dulu, meskipun dia yakin sudah tidak ada kata sahabat atau teman untuk dirinya bagi Jerga.
"Jangan-jangan nanti dia sama kayak bapaknya?"
"Apa?"
"Kan ada darah pembunuh—"
"Berisik! Kalian bisa diem nggak sih!!"
Semua anak yang berada di kelas menoleh dan terkejut mendengar itu, terlebih lagi beberapa anak yang sejak tadi membicarakan tentang Nanggala di belakang sana. Pun dengan Nanggala, dia terkejut dan mendongakkan kepalanya, matanya menatap bangku paling depan itu.
Rasen menatap kelima orang di belakang sana dengan tatapan tajam. Dia benar-benar tidak suka, sepertinya kesabarannya sudah habis. Namun, anak itu memang sering seperti ini, di rumah Haksa selalu menghabiskan kesabarannya seperti ini.
Kelima orang yang mendengar bentakan Rasen tadi pun langsung terdiam dan langsung mengalihkan padangan mereka. Percayalah, meskipun mereka tahu Rasen berteman dengan Nanggala, mereka tetap saja masih takut dengan sang ketua kelas. Yang memang sangat pedas jika berkata-kata.
Rasen menghembuskan napasnya panjang, matanya melirik Nanggala yang tengah menatapnya juga. Bibirnya kemudian tersenyum, seperti mengatakan 'sabar, tidak apa-apa' kepada lelaki itu. dan Nanggala hanya tersenyum sayu membalasnya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Jam sudah memasuki pelajaran olahraga bagi kelas 12-B. Mereka semua kini tengah berganti pakaian olahraga di ruang ganti terpisah untuk laki-laki dan perempuan. Nanggala yang sudah selesai berganti pakaian itu tengah duduk sambil membenarkan tali sepatunya, lalu memandanginya lama.
Materi olahraga kali ini adalah lari jarak jauh. Sepatunya, dia hanya mempunyai sepatu ini. Hanya satu dan sudah lumayan rusak, dia yakin bila di pakai untuk berlari jarak jauh pasti akan tambah rusak.
Nanggala menghela napasnya.
Tidak mungkin dia berlari tanpa alas kaki, akan seperti apa kakinya nanti setelah olahraga selesai? Apalagi cuaca juga sedang sangat panas diluar sana, bisa-bisa telapak kakinya akan melepuh.
"Nih, pake punya gue."
Kepalanya mendongak saat mendengar kalimat itu, dia sedikit bingung menatap lelaki di hadapannya.
"Udah, pake punya gue aja." Decaknya kecil.
Nanggala masih belum menerima sepatu itu. Jujur dia masih bingung, kenapa lelaki itu membantunya? Baru kali ini, semua anak di kelasnya kan tidak ada yang menyukainya.
Bahkan seluruh sekolah.
__ADS_1
"Ck, sepatu lo udah rusak, 'kan? Gue kasih buat lo, sepatu ini buat lo."
Lelaki itu memutarkan kedua bola matanya, menaruh dengan cepat sepatu itu di atas paha Nanggala dan menyuruhnya untuk cepat memakainya. Karena disini pun hanya tersisa mereka, yang lain sudah pergi ke lapangan semua.
"Tap—"
Ucapan Nanggala terhenti ketika lelaki itu berjalan keluar meninggalkannya. Kepalanya menunduk dan menatap sepasang sepatu putih itu. Sepertinya sepatu mahal, berbeda jauh dengan miliknya.
Akhirnya, mau tidak mau dia pun memakai sepatu itu dan bergegas pergi ke lapangan juga, dari pada sepatunya nanti semakin rusak bila di pakai.
Tetapi sebelum itu, Nanggala memutuskan untuk mengembalikan sepatu itu nanti. Dia tidak mau menerima, itu adalah sepatu mahal dia tahu. Lebih baik dia meminjam lalu setelah itu dikembalikan lagi.
Pelajaran olahraga pun dimulai, Nanggala sampai di lapangan dengan terlambat, dan mendapat hukuman untuk mengembalikan peralatan-peralatan olahraga jika sudah selesai nanti ke ruang olahraga.
Ah, bell pergantian jam pelajaran sudah berbunyi, Nanggala sedikit mempercepat jalannya. Matanya lalu melirik tangan yang membawa benda itu.
Tidak. Tidak mungkin Nanggala membawa sepatunya sekarang, pasti sudah ada guru yang datang ke kelasnya. Lagi pula, tidak mungkin dia mengembalikan sepatu itu dan di lihat semua anak kelasnya. Hingga akhirnya dia berhenti di suatu tempat, menyimpan sepatu itu di sana. Dia akan mengembalikannya nanti saat istirahat. Lelaki itu bergegas menuju ke kelasnya lagi dengan sedikit berlari, dan bersyukurnya belum ada tanda tanda guru di kelasnya.
Nanggala melempar senyumnya kepada Jia yang menyadari akan kehadirannya.
"Capek tadi?" tanyanya merapikan anak rambut gadis itu.
Jia tersenyum dan menggeleng. Memang tidak, Jia merasa jika lelaki itu sudah seperti ini kepadanya, semua rasa lelah, sedih, atau takutnya menjadi hilang seketika. Dia sangat nyaman bersama Nanggala, dia sangat nyaman lelaki itu berada di sampingnya.
Nanggala yang melihat jawaban dari Jia-pun terkekeh kecil, hingga pandangan mereka teralihkan kepada guru yang baru saja memasuki kelas.
"Kita bahas materi minggu lalu."
Semuanya pun membuka buku mereka masing-masing. Sekarang ini pelajaran matematika, mereka semua mulai fokus dengan papan tulis di depan sana.
Hingga suara sepatu yang seperti berlari itu mengalihkan pandangan semua orang yang berada disini, mata mereka menatap seseorang yang masih berdiri di ambang pintu.
"Kenapa kamu terlambat?" suara dingin itu menyambut lelaki yang baru saja datang.
"Maaf, Pak." Napasnya masih terengah-engah.
"Kenapa kamu, Javan?" tanya pak Sasto yang seperti melihat wajah lelaki itu tengah menahan sesuatu atau cemas.
"Sepatu saya hilang, Pak."
Semua yang ada disini terkejut mendengar itu, kelas pun mulai ramai dengan bisikan-bisikan kecil mereka. Sama halnya dengan Nanggala. Sepatu lelaki itu hilang?
Pak Sasto yang mendengar kelas menjadi berisik pun mengehela napas pendek, "diam semua!" serunya kesal, kemudian melirik lagi Javan yang masih terlihat cemas.
"Kamu kehilangan dimana? Terakhir dimana?"
"Sebelum olahraga masih ada, Pak." Jelasnya, Javan menundukkan kepalanya ke bawah.
"Sepatu lo yang putih itu? Yang mahal banget itu, 'kan?"
Kepala anak itu mendongak, mengangguk menanggapi ucapan temannya di belakang sana. Kelas pun kembali berbisik-bisik.
"Wah, gue aja nggak bakal mampu beli. Harganya semahal rumah."
Sasto menatap Javan lagi, langkahnya mendekat, "terakhir kamu lihat dimana sepatu kamu?"
"Biasanya saya taruh di loker ruang ganti olahraga, biasa untuk cadangan saya latihan basket. Sebelum pelajaran olahraga masih ada, setelah pelajaran olahraga tadi saya cek sudah hilang." Jelasnya panjang lebar.
"Diam!"
Sasto sudah geram, kelas 12-B ini berisik sekali.
"Bukannya tadi di pake Nanggala olahraga, ya?"
Semuanya menoleh ke sumber suara itu, lalu menoleh lagi menatap seseorang yang dimaksud, yang tengah berekspresi bingung kepada Javan di sana.
Semua anak juga bingung, karena mereka memang tidak melihat sepatu yang di pakai Nanggala olahraga tadi. Tidak melihatnya dengan jelas. Dan mereka mana peduli?
"Bisa aja kan dia yang nyuri?" lanjutnya lagi sambil terkekeh sinis.
"Jaga mulut lo ya, Lin!" seru Yora menatap gadis yang berucap seperti tadi itu dengan tajam.
Kheylin yang mendengar itu hanya terkekeh sinis. Yora membalikan badannya menatap Nanggala lagi, dia menatapnya bingung. Karena gadis itu yakin, Nanggala tidak seperti apa yang Kheylin katakan tadi.
Nanggala-pun menatap kosong mejanya. Mencuri? Dia tidak mencuri.
Dia juga merasakan seragam bagian ujungnya di remas oleh gadis yang duduk di sampingnya, hal itu membuatnya menolah lalu meraih tangan itu untuk di genggamnya.
"Rasen, cek tas Nanggala."
Lelaki itu mendongakkan kepalanya, tubuhnya bangkit dengan ragu dan berjalan pelan ke arah bangku Nanggala. Langkahnya memang berat, Rasen yakin bukan seperti ini.
Dapat dia lihat Nanggala menatapnya sendu, dia melempar senyumnya dan menepuk bahu lelaki itu pelan, lalu tangannya mulai meraih tas abu-abu milik lelaki itu dan mengeluarkan semua isinya.
Hanya beberapa buku. Tidak ada yang lain.
"Tidak ada, Pak."
Sasto menghembuskan napasnya mendengar jawaban Rasen dan melihat benda-benda yang di keluarkan anak itu dari tas Nanggala. Memang tidak ada.
"Kita cek aja di lokernya!"
Samuel di belakang sana menyerukan suaranya kemudian bangkit dari duduknya, berjalan keluar untuk menuju ke tempat yang di ucapkannya tadi. Tentu saja membuat semua anak beramai-ramai mengikuti langkah lelaki itu, sama halnya dengan Javan beserta Sasto yang masih berdiri di depan kelas.
Semua orang kini sudah sampai di depan tempat loker yang berada di lorong koridor, Samuel dengan cepat membuka loker itu, dengan Nanggala dan Javan yang berada di sampingnya, lalu Sasto berdiri ditengah-tengah mereka.
Brak!
Samuel membukanya dengan sedikit kencang, lalu mengambil sesuatu dari dalam.
Sekarang ini ... jantung Nanggala berdebar di atas rata-rata.
"Ini sepatu lo kan, Van?"
"Iya itu sepatu gue!"
"Waah, lo nyuri sepatu Javan, Na?"
Nanggala tercekat. Mencuri? Tidak. Bukankah Javan yang ....
Anak itu menggeleng, "gue nggak nyuri, Javan yang ngasih sepatunya ke gue ..." sanggahnya.
"What? Gue nggak pernah ngasih sepatu mahal kayak gini buat lo! Nggak usah mimpi!"
Deg
Nanggala terkejut mendengar itu, dia memandang Javan tak percaya. Maksudnya apa? Bukankah tadi pagi lelaki itu sendiri yang memberikan sepatu itu kepadanya? Lalu kenapa ... Mencuri?
"Van ..." sendu Nanggala lirih.
"Wahh, nggak nyangka gue lo nyuri sepatu mahal gue! Lo punya dendam sama gue?" tanya Javan sambil terkekeh sinis di sana.
"Dasar miskin! Pencuri!"
Badan Nanggala gemetar, telapak tangannya mulai terkepal.
Dia, tidak pernah mencuri. Kenapa Javan berkata seperti itu? Lelaki itu yang memberikannya sendiri kepadanya, dan dia yang memang berniat akan mengembalikan lagi sepatu itu di jam istirahat nanti.
Rasen-pun sejak tadi membulatkan matanya yang berdiri di samping lelaki itu. Tidak, dia tidak percaya itu. Sahabatnya bukanlah anak yang seperti itu.
__ADS_1
"Jawab Nanggala." Pinta Sasto dengan nada dingin.
Nanggala memandang takut pria itu yang kini menatapnya tajam.
"Kamu ikut Bapak ke ruang BK." Perintah Sasto kemudian pria itu pergi meninggalkan kerumunan untuk menuju ke ruangan yang di maksud tadi.
Keadaan koridor sudah ramai sekarang, beberapa anak kelas lain yang mendengar keributan di luar itu juga ikut keluar dari dalam kelas. Mereka penasaran.
"Miskin. Bapaknya pembunuh, anaknya pencuri, cih!" Cibir Javan melirik anak yang di maksud dengan sinis.
Nanggala hanya mampu menunduk. Javan hanya menjebaknya? Dia tidak menyangka akan terjadi seperti ini. Dia menyesal menerima itu, dia baru ingat jika di sekolah ini tidak ada orang yang akan baik seperti itu kepadanya. Semuanya anak orang kaya dan semuanya membencinya. Kenapa dia baru sadar akan hal itu?
Semua membencinya karena dia miskin dan sudah di kenal dengan anak seorang pembunuh, tidak mungkin ada yang sebaik itu kecuali sahabat-sahabatnya. Kenapa Nanggala baru tersadar ... Dan, sekarang sudah begini.
Bugh!
Mereka semua tersentak kaget saat dengan tiba-tiba tubuh Nanggala jatuh tersungkur di lantai koridor. Rasen membulatkan matanya, ingin menolong lelaki itu tetapi di tahan oleh teman Javan yang lain.
Jia yang berada di samping lelaki itu pun langsung saja tubuhnya di peluk oleh Yora yang berada di samping kirinya. Tubuhnya mulai gemetar.
Nanggala meringis kecil sembari memegangi pipinya yang langsung terasa nyeri saat pukulan tiba-tiba tadi mendarat di sana
"Miskin nggak usah belagu." Sinis Javan menendang kepala lelaki itu dengan kakinya.
Diikuti oleh Samuel dan beberapa temannya di belakang sambil melangkah pergi.
.......
.......
.......
Di malam yang dingin ini, kaki itu melangkah menyusuri jalanan sepi ini seorang diri. Langkahnya pelan, seperti tidak bertenaga, kedua tangannya menuntun sepeda disisi kanannya dengan pandangannya kosong menatap ke depan.
Nanggala menundukkan kepalanya ke bawah, dia menarik napasnya dalam dan menghembuskannya. Seperti itu terus sejak tadi guna untuk menghilangkan sesak di dadanya.
"Wah, si miskin?"
Suara itu membuat kepala Nanggala mendongak. Di depannya kini sudah ada empat lelaki yang tengah menatapnya dengan senyuman sinis. Mereka mendekatinya, masih berhenti sambil meremas sepeda yang sejak tadi dituntunnya.
Sial, Nanggala memang melewati jalan sepi malam ini.
Bugh!
Tubuh kurus itu jatuh tersungkur, sepedanya pun terlepas begitu saja dari kedua tangannya. Nanggala memegangi perutnya yang terasa sangat nyeri.
Yunan berjalan mendekat dan jongkok di depan anak itu.
"Suka?" lelaki itu terkekeh sinis, "gue udah bilang kan, jangan ngelakuin hal yang gue nggak suka." sambungnya dan menarik rambut Nanggala ke belakang.
Nanggala meringis. Dia sendiri bingung, hal apalagi yang dia perbuat hingga membuat Yunan tidak menyukainya lagi? Rasanya tidak ada, beberapa hari ini dia tidak berurusan dengan lelaki itu.
"Kehadiran lo, itu sesuatu yang salah besar ...."
Baiklah.
Kini Nanggala mengerti, kini dia mengingatnya.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Flashback on
Bell pulang sekolah, berbunyi beberapa menit yang lalu. Nanggala kini tengah mengambil sepedanya di parkiran sekolah, dia meminta Jia untuk menunggu di depan gerbang saja. Tidak apa-apa, gadis itu bersama Yora.
Brak!
Nanggala terkejut. Suara itu membuatnya memberhentikan langkahnya, tubuhnya sedikit maju ke depan untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi di sana. Dia bersembunyi dibalik dinding.
"Papah udah berapa lama sama dia?!"
"Yang sopan kamu bicara sama Papah!"
"Cih, sopan? Papah selingkuh sama dia dari mamah masih hidup, 'kan?!"
"Jaga ya mulut kamu!"
"Mamah baru meninggal dua bulan yang lalu, Pah! Tega-teganya!"
"Papah nggak pantes jadi pengacara! Nggak pantes jadi seorang Ayah!"
Plak!!
Nanggala membulatkan matanya melihat itu, dia melihat dengan jelas pertengkaran di sana. Kedua ayah dan anak itu sama-sama dengan emosinya saat ini.
Lelaki itu menatap ayahnya dan terkekeh sinis, memegangi sudut bibirnya yang mengeluarkan darah, "bereng***." Desisnya lirih dan melangkah pergi meninggalkan pria di hadapannya.
Sedangkan pria tadi hanya mengusap wajahnya kasar sambil menatap kepergian anaknya.
Nanggala yang melihat itu menyembunyikan lagi badannya dibalik dinding. Telinganya mendengar suara langkah kaki itu kian mendekat.
Lelaki itu berjalan melewatinya, namun seketika terhenti, kepalanya menoleh dan menatap ke arahnya. Dan bisa Nanggala lihat lelaki itu terkekeh sinis menatapnya hingga tidak lama melangkah pergi lagi.
Flashback off
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
"Ngerti nggak lo, sialan?"
Yunan menarik rambut Nanggala kuat yang sejak tadi memang sudah menjambaknya, menariknya hingga lelaki itu benar-benar berdiri.
Ini sungguh perih, kulit kepala Nanggala seperti akan terlepas.
"Jadi, lo udah tau kan hadiah dari gue?"
Nanggala menatap mata itu, sejenak mengingat apa yang di maksud 'hadiah' oleh Yunan. Dan seketika dia membulatkan matanya, hal itu tentu saja semakin membuat lelaki itu tertawa sinis.
Jadi ... Yunan yang menyebarkan berita jika ayahnya seorang pembunuh? Dia orangnya?
Pandangannya mengabur akibat air mata sialan ini. Kenapa ... Dia hanya tidak sengaja mendengar, kenapa ....
Bugh!!
"Akh ...."
Nanggala tersungkur lagi saat Yunan menendang perutnya. Dan selanjutnya, dia hanya bisa meringis merasakan sakit saat tubuhnya beberapa kali ditendang dan diinjak oleh Yunan, serta Gasta, Senno dan Alwan yang juga saling bergantian.
ㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤ...
__ADS_1
...Ada yang pengen peluk Nanggala??...
...Vote dan komennya ya sayang~...