
"Jia?"
Panggilan suara itu membuat keduanya menoleh, lalu tersenyum ke arah Yora yang baru sampai di samping mereka. Gadis itu sedikit melirik ke bawah dan menatapnya sendu.
"Eh, liat deh, perutnya makin besar."
"Iya, ngapain susah-susah sekolah sih? Mending di rumah ngurusin anak nggak haram itu, iya nggak?"
"Bener, hamil, di tinggal pacarnya, terus jadi gila, haha kasian banget sih?"
Nanggala yang mendengar itu hanya melirik dengan ekor matanya, kemudian dia melirik lagi Jia yang berjalan di sampingnya, gadis itu terlihat menunduk sambil memegangi perutnya.
"Jangan di dengerin, ya?" bisik Nanggala lembut di telinga kiri gadis itu.
Jia hanya terdiam, pelukannya pada lengan Nanggala semakin mengerat dan dia juga bisa merasakan itu.
Langkah mereka bertiga terhenti ketika ada yang menghadangnya dengan tiba-tiba. Saat Nanggala mendongakkan wajahnya, dia bisa melihat Yunan dan teman-temannya yang kini berdiri di hadapannya. Lelaki itu menatapnya sekilas dengan sinis, lalu beralih menatap Jia dengan tatapan ... eum, baru kali ini Nanggala melihat cara menatap Yunan yang sedikit berbeda dari yang dulu-dulu.
Tatapan Yunan turun ke perut yang sedikit membesar Jia. Tumben sekali lelaki itu tidak bersuara, Yora saja sampai bingung melihatnya.
Lelaki itu masih terdiam, membuat Nanggala melanjutkan langkah mereka lagi melewati sang empu dan teman-temannya. Sementara Yunan masih menatap kosong ke depan, tangannya sedikit terkepal, apalagi koridor mulai ramai dengan murid-murid lain yang mulai membicarakan Jia.
"Diem, sialan!"
Suara keras itu menggema di koridor ini, Yunan menatap mereka sinis. Lalu tanpa mengucapkan sepatah kata lagi dia berlalu pergi dari sini, membuat Gasta, Senno dan juga Alwan di belakangnya menatap punggung itu bingung.
Sesampainya Nanggala, Jia dan Yora di kelas, hampir semua anak yang berada di dalam menatap ke arah mereka yang baru masuk.
Masih dengan Nanggala yang menuntun Jia, dan Yora yang menatap anak kelasnya kesal. Nanggala membawa gadis itu untuk duduk di bangkunya, dengan dia yang juga duduk di sampingnya.
"Nggak malu apa ya masih berangkat sekolah?"
"Iya, emang nggak punya malu banget sih. Udah gangguan mental, hamil, haha, nggak berguna banget hidupnya."
"Kenapa nggak mati aja sih?"
"Haha! Sampah."
Tangan Nanggala terkepal mendengar semua itu, telinganya terasa sangat panas. Matanya melirik ke arah Jia dan lagi-lagi menatapnya sendu, tangannya lalu terangkat untuk menggenggam telapak tangan gadis itu.
Jia mendongak dan langsung mendapati senyum manis Nanggala di sampingnya.
Kelas benar-benar ramai dengan mereka yang berbisik-bisik atau pun dengan terang-terangan mengata-ngatai gadis itu, membuat lelaki yang duduk di depan sana menggeram kesal.
"Diem lo semua!"
Seru lelaki itu dan langsung membuat semua suara-suara itu berhenti. Rasen menatap mereka bergantian dengan sinis.
Menghela napasnya kasar, Rasen memberhentikan tatapannya kepada Jia di sana, dia menatapnya lembut, lalu menatap Nanggala yang tengah tersenyum tipis ke arahnya.
.......
.......
.......
Hari semakin gelap, kelas tiga yang ada pelajaran tambahan hari ini baru selesai, jam menunjukkan pukul delapan malam. Masih sedikit ramai. Nanggala menatap Jia yang berjalan di sampingnya kasihan, gadis itu seharian ini menjadi perbincangan murid lain karena perutnya yang mulai membesar.
Tentu saja seharian tadi gadis itu terlihat sedih dan lebih sering diam.
Nanggala tersenyum hangat, menggenggam tangan Jia yang sejak tadi memeluk lengannya itu, hingga membuat sang empu menoleh menatapnya.
"Jia laper nggak?" tanya Nanggala yang hanya mendapat gelengan dari gadis itu.
"Mau ice cream strawberry?"
Jia yang mendengar itu lantas menoleh lagi, dan kali ini menatap Nanggala dengan mata yang berbinar. Kepalanya mengangguk cepat membuat lelaki itu terkekeh melihatnya.
Nanggala mengacak gemas puncak kepala gadis itu, "oke, habis ini kita makan ice cream."
"Makasih, Nala."
Lelaki itu mengangguk dengan senyum manisnya, hingga tidak terasa mereka sudah sampai di parkiran sekolah. Nanggala melepaskan tautan tangannya dengan gadis itu, lalu mulai mengeluarkan sepedanya dari tempat parkir sepeda.
Setelah siap, Jia langsung naik di belakangnya dengan tangan yang langsung melingkar di pinggang lelaki itu. Di lanjutkan Nanggala yang mulai mengayuh sepeda meninggalkan area sekolah. Beruntung malam ini tidak hujan, karena siang tadi sempat turun hujan sampai sore, menyisakan jalanan basah dan beberapa juga ada genangan air disini.
"Jia?"
Baru sepedanya keluar dari gerbang sekolah, ada suara yang memanggil nama itu hingga membuat Nanggala memberhentikan sepedanya, juga membuat keduanya menolehkan kepala mereka ke belakang.
Siapa?
Seorang lelaki, tetapi dari pakainannya sepertinya lelaki itu tidak sekolah di sini. Dia mengenakan pakaian bebas. Baru saja Nanggala menolehkan kepala, dia langsung terkejut ketika merasakan pinggangnya di peluk sangat erat oleh gadis di belakangnya.
Bisa terdengar napas Jia memburu, tubuhnya juga bergetar. Apalagi ketika lelaki di sana mulai berjalan mendekat.
"Jia ...."
"Nggak! Lepasin Jia!"
Nanggala semakin terkejut mendengarnya, pelukan Jia di pinggangnya benar-benar semakin mengerat. Gadis itu seperti sangat ketakutan dengan lelaki yang sudah berdiri di sampingnya ini.
Sebenarnya ada apa?
"Maaf?" ucap Nanggala sambil menggenggam tangan Jia yang memeluk pinggangnya.
Lelaki itu menatapnya, bisa Nanggala lihat jika lelaki itu sedikit melebarkan matanya ketika menatapnya dan membuat dia benar-benar bingung.
"Lo?—"
Lelaki berjaket hitam dan bertopi hitam itu seperti kehabisan kata-kata menatap Nanggala, bibirnya terkekeh kecil sambil mengusap wajahnya kasar, kemudian berusaha meraih tangan Jia namun dengan cepat Nanggala menghalanginya.
"Maaf tapi dia ketakutan." Tepis Nanggala lembut masih berusaha sopan.
Lelaki itu terkekeh sinis, "bukan urusan lo."
"Jia menjadi urusan saya." Nanggala masih kukuh menjaga gadis itu.
Jawaban tersebut tentu saja membuat lelaki itu tertawa sinis, tatapannya sangat tidak menyukai Nanggala di sana. Dia kemudian menatap lagi Jia yang mulai terisak di balik punggung si lelaki tadi.
"Hiks, Nala ... Pulang ...."
Nanggala yang mendengar suara gemetar itu langsung meliriknya sendu, semakin menggenggam erat tangan Jia yang memeluknya, dan berniat untuk lekas pergi dari sini sebelum gadis itu semakin ketakutan.
"Maaf, permisi."
Kakinya mulai mengayuh sepedanya lagi untuk pergi dari sini, meninggalkan lelaki di sana yang kini menatap kepergian keduanya dengan mata sinisnya.
__ADS_1
Tetapi ada sedikit kesedihan di baliknya menatap punggung gadis itu yang kian menjauh. Dia mengusap lagi wajahnya kasar dan mengulum bibirnya kuat.
"Arghh!"
.......
.......
Baru saja sepeda itu berhenti di depan rumah putih di hadapannya, Nanggala langsung menuntun pelan Jia untuk turun, di lanjutkan dengan dirinya. Gadis itu sejak tadi masih terdiam, tetapi di sepanjang jalan dia dapat mendengar isakan gadis itu di balik punggungnya.
Sebenarnya ada apa? Kenapa Jia sangat ketakutan dengan lelaki asing itu? Karena memang sepertinya lelaki itu juga bukan berasal dari sekolahnya.
Pintu utama di buka oleh Nanggala, dia masih terus menggenggam tangan Jia memasuki rumah. Pandangan matanya menatap sekeliling, rumahnya sepi, memang di garasi tadi tidak melihat adanya mobil Dharma di sana. Sama halnya dengan motor milik Janan, hanya milik Jerga yang dia lihat sudah terparkir.
Mereka berdua mulai menaiki tangga, dan sesampainya di kamar Jia, Nanggala langsung mendudukkan gadis itu di tepi ranjang.
Dia lalu berjongkok di depan gadis itu.
"Jia kenapa ...?" tanyanya lembut.
Jia masih menunduk, kepala gadis itu menggeleng lemah, membuat Nanggala tersenyum lembut dan mengusap sisa-sisa air mata yang masih hinggap di pipi itu.
"Udah ya? Di sini ada Nala, Jia nggak perlu takut ..." ikut duduk di samping gadis itu, tangan Nanggala terangkat untuk merapikan rambut Jia lembut.
"Nala ...."
"Hm?"
Gadis itu menatap ke arahnya dengan mata yang sembap.
"Jangan tinggalin Jia ..." lirihnya.
Nanggala menatapnya teduh, lalu kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, dia mengelus lagi lembut rambut panjang gadis itu.
"Nala sama Jia ... Nala nggak akan tinggalin Jia. Udah jangan nangis ... Nanti Nala sedih," jawabnya dengan senyum manisnya, "istirahat ya? Nala pulang dulu."
Jia mengangguk pelan membuat Nanggala lagi-lagi tersenyum. Tangannya mulai membantu gadis itu untuk merebahkan diri, mengistirahatkan tubuhnya.
"Nala disini dulu ..." lirih gadis itu lagi.
Yang di perintah tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lalu mengusap lembut rambut panjang itu lagi dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya yang Jia genggam. Dia menatap sayu wajah itu, wajah yang sepertinya masih sedikit ketakutan, dia bisa melihatnya pada kerutan kening gadis itu di sana.
Tangan yang sejak tadi mengelus rambut panjang Jia, Nanggala pindahkan untuk mengelus kening itu pelan, bibirnya tersenyum tipis.
'Siapa pun dia, kalo itu nyakitin kamu, Nala bakal ngelindungin kamu dari dia.' Batin Nanggala mengusap telapak tangan gadis itu yang menggenggam tangannya.
Setelah di rasa Jia mulai tenang, Nanggala melepaskan pelan genggaman tangan itu, merapikan lagi selimutnya, dan mulai melangkah pergi meninggalkan gadis itu yang kini sepertinya sudah terlelap.
Nanggala menutup pintu kamar pelan-pelan, namun seketika lelaki itu sedikit terlonjak kaget ketika dengan tiba-tiba sudah ada Jerga di depannya. Dia lalu tersenyum dengan Jerga yang hanya menatapnya datar.
Hingga kemudian tubuh Jerga berlalu begitu saja memasuki kamar yang baru saja Nanggala tutup itu. Menghela napas panjang, dia mulai melangkahkan lagi kakinya untuk menuruni anak tangga.
Sebenarnya masih penasaran dengan lelaki yang di depan gerbang tadi. Ada hubungan apa lelaki itu dengan Jia? Kenapa Jia sangat ketakutan melihatnya?
Ingin bertanya, tetapi kondisi gadis itu tidak memungkinkan, pasti akan bertambah sedih. Mungkin dia bisa bertanya besok.
Sedang menuruni tangga, Nanggala memberhentikan langkahnya kala di rasa dia mengingat sesuatu.
Lelaki berjaket hitam.
'Bukannya dia yang di Cafe waktu itu? Yang sempet natap gue kaget?'
Nanggala semakin penasaran, siapa lelaki itu.
Sementara Jerga yang baru saja menutup pintu kamar kakaknya lagi pelan, dia langkahkan kakinya mendekati ranjang di sana. Duduk di samping ranjang, dia mengelus lembut rambut gadis itu, yang langsung membuat sang empu membuka kedua matanya.
Jerga memang sempat melihat saat pulang tadi kakaknya sangat murung, dia yang penasaran lalu menghampirinya.
Meskipun Jerga membenci Nanggala, lelaki itu sangat yakin bukan Nanggala yang membuat kakaknya seperti itu.
"Kenapa ..." tanya Jerga lembut membuat gadis itu bangkit dari tidurnya.
Di tatapnya mata Jia yang memang sudah sembap itu, Jerga merapikan rambut kakaknya lembut.
"Hiks ..." Isaknya sambil meremas kuat selimut yang menutupi setengah tubuhnya.
Jerga yang mendengar itu lantas mendekatkan tubuhnya lalu menarik lembut tubuh itu ke dalam pelukannya, "sstt, Jerga disini ...," tangannya mengelus lembut punggung itu, "kakak kenapa?"
"Hiks, Jerga ... Jerga ... Dia, hiks ...."
Jerga mengerutkan keningnya mendengarnya, tubuh kakaknya mulai gemetar di dalam pelukannya, tangannya juga meremas kuat baju bagian punggungnya.
"Kak, Jerga di sini ... Kakak yang tenang." Lembutnya berusaha menenangkan gadis itu.
"Dia ..." lirihnya masih terisak.
Dia siapa?
"Hiks, Jerga ...."
Tubuhnya mematung kala sepertinya kini dia sudah mengerti, tangannya yang sedari tadi mengusap lembut punggung kakaknya kini terkepal kuat, rahangnya mengeras, tatapannya begitu tajam menatap kosong ke depan.
Jerga mengerti, Jerga mengerti siapa yang di maksud 'dia' oleh kakaknya. Dia paham, dan itu membuatnya sangat marah meskipun dia belum mendengar nama itu.
Ada apa dia kembali? Ada apa lelaki tidak tahu diri itu kembali dan menemui kakaknya? Sudah menyesalinya? Cih, Jerga berdecih dalam hati.
Jangan harap semuanya kembali seperti dulu.
Menghela napasnya berat, Jerga melemaskan lagi telapak tangannya dan mengelus punggung itu lagi.
"Jangan takut, Jerga di sini sama Kakak. Jerga bakal ngelindungin Kakak."
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Hari besoknya, Jia masih kerap di bully oleh murid-murid di sekolah, tentu saja membuat gadis itu semakin takut dan terkadang sampai menangis.
Nanggala juga tidak pernah meninggalkan Jia sendirian, ketika hal yang tidak bisa mereka lakukan berdua seperti ke toilet atau yang lainnya, Yora juga dengan sigap menemani gadis itu.
Seperti sekarang ini, mereka tengah berada di kantin, dan pandangan beberapa orang ada yang menatap gadis itu sinis.
"Sumpah, pengen banget gue sumpel mulut mereka semua. Ngurusin hidup orang aja." Celetuk Haksa memberhentikan kunyahan di mulutnya.
"Kayak hidupnya bener banget aja, ya nggak?" Sahut Rasen yang memang sejak tadi sudah merasa kesal, lalu di jawab anggukkan kepala oleh Haksa.
__ADS_1
Jerga mengangkat kepalanya menatap sang kakak, yang masih terdiam sambil menunduk dan sesekali terlihat Nanggala membantu kakaknya makan. Dia juga rasanya sangat kesal, muak, apa hidup mereka sangat suci dan tidak pernah melakukan kesalahan?
Mereka semua terus membicarakan kakaknya seperti merasa hidupnya sudah paling benar saja. Jerga menyetujui ucapan Rasen beberapa detik yang lalu itu.
Memang, kadang manusia menutup seribu kebaikan hanya karena satu kesalahan.
Kakaknya dulu sangat baik, sangat ramah, membuat semua orang menyukainya. Tetapi di saat kakaknya melakukan satu kesalahan seperti itu, mereka semua langsung membencinya dan mem-bully-nya, juga meneriaki dengan kata-kata tidak pantas.
Jerga terkekeh sinis dalam hati. Ah, bahkan sahabat terdekat kakaknya juga sama seperti mereka kan?
"Aduh, sorry, nggak sengaja."
Ke empat orang yang melihat itu langsung saja membulatkan mata mereka, sama-sama mendongakkan kepala untuk melihat siapa orang yang melakukan itu.
"Lo apaan sih, Lin!" seru Yora mengangkat tubuhnya berdiri.
Kheylin masih terkekeh sinis di sana sambil memandangi gadis yang tadi terkena sop makanan karena tersenggol nampan makanannya.
"Apa? Emang gue ngapain? Gue kan udah bilang nggak sengaja."
Yora menatap sinis gadis itu, tubuhnya sudah akan maju mendekati Kheylin, namun di tahan oleh Jerga yang duduk di sampingnya.
"Temenin Jia aja ke toilet."
Menatap sinis Kheylin lagi, akhirnya Yora mengikuti perintah Jerga, dirinya mulai berjalan ke arah Jia menuntun gadis itu lembut untuk berdiri dan membawanya pergi dari sini.
Tidak mungkin Jerga meminta Nanggala, meskipun lelaki itu juga pernah membantu ketika kakaknya di bully dulu, namun sepertinya kali ini lebih baik Yora saja.
Kini giliran Jerga yang menatap gadis itu sinis. Dia tidak menyangka Kheylin akan menjadi seperti ini. Dia kira gadis itu baik.
Tarikan pada tangan Kheylin yang tiba-tiba ke belakang membuat gadis itu bingung, dia pun menengok ke belakang guna melihat siapa yang baru saja menariknya itu. Sama halnya dengan mereka berempat.
"Lepasin gue!"
"Ck, diem aja kenapa sih?!"
Yunan memberhentikan langkahnya ketika Kheylin berusaha melepaskan tangannya dari cengkramannya. Dia menatap gadis itu malas.
"Duduk. Makan. " singkat Yunan membawa Kheylin duduk di bangku yang terdapat di depan Jerga dan yang lainnya.
Tentu saja hal itu membuat semua orang yang melihatnya langsung menatap lelaki itu bingung. Yunan tidak seperti biasanya, tidak seperti biasanya yang membuat kantin ramai karena kegiatan mem-bully-nya.
Teman-temannya saja terheran-heran melihat itu.
Jerga menatap lelaki di depan sana tajam, membuat sang empu yang di tatapnya juga melayangkan tatapan tidak kalah tajam.
Rasen dan Haksa juga mulai saling berbisik, serta Nanggala yang kini tengah menatap makanannya dengan tatapan kosong. Rasanya masih khawatir dengan Jia, meskipun gadis itu sudah di temani Yora.
.......
.......
.......
Sekolah kini mulai ramai dengan murid-murid kelas tiga yang baru saja selesai menghadiri kelas tambahan mereka.
Jerga berjalan seorang diri menuju ke tempat parkir sekolah, hari ini dia tidak di antar oleh sopir, dia berangkat menggunakan motornya sendiri.
Langkahnya begitu pelan, beberapa kejadian di hari ini benar-benar memenuhi otaknya. Apalagi kakaknya, yang menerimanya secara langsung. Jerga tidak tega, dia tidak tega kakaknya terus mendapatkan kebencian dari semua orang. Sudah cukup dia dan kakaknya di benci oleh keluarganya sendiri.
Terdengar hembusan panjang Jerga yang kini sudah sampai di tempat parkir sekolah, kepalanya mendongak dan menatap gerbang sekolah yang memang masih lumayan jauh dari posisinya berdiri.
Namun Jerga bisa melihat seseorang yang berdiri di depan sana. Matanya melirik lagi ke bangunan sekolah di belakangnya, kakaknya belum pulang. Saat dia lewat tadi dia melihat kelas kakaknya masih di ajar oleh Shandy.
Hingga dia mulai menaiki motornya dan mengendarainya pelan keluar dari gerbang. Tetapi lelaki itu memberhentikan motornya di sana, hal itu membuat seseorang yang berdiri di depan gerbang menatap pergerakanya.
Membuka helmnya, Jerga membalikkan tubuhnya mendekat ke arah seseorang itu.
"Ngapain lo disini."
Suara Jerga begitu dingin sambil menatap tajam seseorang yang kini sepertinya tengah terkejut melihatnya.
"Jer—"
"Gue tanya ngapain lo disini." tekannya lagi.
Lelaki itu menghembuskan napasnya panjang, matanya sayu menatap Jerga di depannya.
"Nggak usah nampakin wajah lo lagi di depan kakak gue," tangan Jerga mulai terkepal, "nggak tau malu."
Kata-kata itu membuat lelaki yang tadinya menunduk itu mengangkat kepalanya, menatap si pembicara sendu.
"Jer, gue minta maaf buat semuanya. B-bukan maskud gue—"
Bugh!
Tangan yang sejak tadi terkepal kuat akhirnya melayang mengenai wajah lelaki itu. Rasa yang sudah dia tahan sejak tadi, matanya menatap nyalang penuh kebencian.
Sementara lelaki itu sudah jatuh tersungkur sambil memegangi sudut bibirnya yang mulai mengeluarkan darah.
Jerga tidak peduli beberapa anak yang lewat menatapnya sekarang ini.
"Bukan maksud lo gimana? Lo udah hancurin hidup kakak gue, sialan!"
Lelaki itu terus menatap Jerga yang berdiri di depannya sayu, tidak peduli dengan sakit yang di terimanya karena pukulan lelaki itu.
Rasanya kelu untuk menjawab semua yang dikatakan Jerga tadi, karena memang benar, benar dirinya yang jahat meninggalkan gadis itu.
"Jangan pernah muncul lagi di kehidupan kakak gue. Dia bisa hidup tanpa lo, yang bahkan nggak pernah ngakuin anak sendiri dan dengan nggak tahu dirinya kabur gitu aja."
Jerga terkekeh sinis di akhir ucapannya, dadanya begitu sesak mengatakannya. Kejadian-kejadian kakaknya dulu yang terus menangis karena di tinggal lelaki itu seperti berputar di otaknya dan membuatnya mengingat semua itu.
Lelaki yang merusak semua tentang kembarannya, kabur begitu saja setelah mengetahui gadis itu hamil karenanya.
Jerga bahkan tidak segan-segan membunuh lelaki itu jika lelaki itu masih berusaha mendekati Jia.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
__ADS_1
...Ingatkan jika ada typo^^...
...komen setelah membaca yaa♡...