NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
10. Tidak Apa-Apa


__ADS_3

Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian terakhir kali Nanggala dipukuli di roof top itu. Ah tidak, tidak terakhir, bahkan hari esok-esoknya saja Yunan masih kerap bermain tangan dengannya. Beberapa bagian di tubuhnya masih ada bekas luka, ada juga yang sudah sampai memar.


Tak jarang juga Jia melihat langsung Nanggala dipukuli oleh Yunan dan teman-temannya. Entah itu karena melindungi gadis itu, atau pun yang lainnya.


Pagi ini Nanggala sudah siap dengan seragam sekolahnya, lelaki itu tengah berdiri di samping pintu dan tengah menunggu seseorang yang akan berangkat sekolah bersamanya. Hingga beberapa detik kemudian, dia merasakan ada orang yang keluar dari pintu.


Tetapi bukan gadis yang sejak tadi di tunggunya.


Jerga memberhentikan langkahnya, dan mata keduanya bertemu. Masih sama-sama terdiam, namun tak lama lelaki itu berlalu dari hadapan Nanggala tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


Nanggala menatap Jerga sendu. Sampai kapan lelaki itu akan mendiaminya? Dia menghembuskan napasnya panjang, hingga seseorang yang baru saja keluar dari dalam rumah itu membuat perhatiannya teralihkan lagi. Ia tersenyum.


"Berangkat sekarang?"


Jia mengangguk dengan senyum yang sangat manis. Bisa Nanggala lihat, di sisi kiri kepala gadis itu ada jepit rambut kecil yang menjepit rambutnya. Jepit rambut berbentuk strawberry kecil berwarna pink.


Ya ampun, Nanggala sempat terkekeh kecil melihatnya. Bukan untuk menertawai, tapi gemas, dia sangat gemas. Dia hampir lupa, gadis itu kan sangat suka dengan strawberry, berbeda dengannya yang tidak menyukai hal-hal yang mengandung atau pun olahan strawberry.


Perhatian mereka berdua teralihkan lagi menatap lelaki yang baru saja keluar dari dalam rumah. Nanggala menatap Janan, sedangkan Jia dia lihat langsung menunduk, tubuhnya lebih mendekat ke arahnya.


Janan hanya menatap mereka berdua tanpa ekspresi. Sepertinya lelaki itu akan berangkat kuliah. Wajahnya benar-benar datar dan dingin, mirip dengan Dharma. Nanggala juga merasa takut menatap itu. Lalu tanpa sepatah kata pun, lelaki itu berjalan pergi dari hadapan mereka, seperti halnya Jerga tadi.


Nanggala menghela napasnya lagi, lalu menggenggam tangan gadis di sampingnya membuatnya mendongak. Dia tersenyum.


Kemudian tangannya menuntun Jia untuk berjalan ke depan. Seperti biasa, mereka akan berangkat naik bus. Gadis itu juga tidak keberatan, dia malah terlihat senang. Lagi pula sepertinya Dharma tidak mempedulikan itu. Masih ingat kan dengan yang pria itu katakan beberapa hari yang lalu di depan pintu?


Bisa-bisanya seorang ayah sampai hati mengatakan kata-kata tidak pantas seperti itu.


Nanggala berjalan menuju gerbang rumah, tangannya masih terus menggandeng tangan Jia. Hingga sesampainya di sana, mereka di kejutkan dengan mobil hitam yang tiba-tiba berhenti di hadapan mereka.


Kaca mobil bagian belakang itu terbuka.


"Nanggala? Jia? Baru berangkat?"


Ah, si kembar itu.


"Iya baru mau berangkat, Sen." jawabnya tersenyum.


"Ayo bareng sama kita aja?" ajak salah satu lelaki itu.


Nanggala menatap Jia sebentar, gadis itu sedari tadi hanya tersenyum menanggapi Haksa yang berbicara dengannya di sana. Benar, jika naik bus sepertinya mereka akan telat sampai sekolah.


Dia merutuki dirinya sendiri kenapa sakit kepalanya datang saat dia akan berangkat keluar kost tadi pagi. Dan seperti biasa, sekitar lima belas menit sakit itu baru akan mereda hingga membuatnya juga telat menjemput Jia.


"Eum, nggak ngerepotin?"


Rasen terkekeh, "enggak lah, Na. Lo kayak sama siapa aja sih?"


Nanggala hanya tersenyum kikuk mendengarnya.


"Iya lo kayak sama siapa aja sih? Ayo Jia masuk~!"


Dan sekarang di lanjutkan Haksa yang berbicara seperti itu. Lelaki itu dengan cepat membuka pintu belakang, dengan senang mempersilahkan Jia memasuki mobilnya, namun terhenti ketika Rasen menendang tubuh lelaki itu dari belakang.


"Lo duduk di depan! Nggak muat!"


"Ish, Acca kan mau duduk sama Jia!" kepalanya menoleh menatap kembarannya sinis dan dengan nada yang di imut-imutkan.


"Nggak! Bikin sumpek lo di sini! Sono di depan!"


Dan dengan kejamnya Rasen menendang lagi tubuh Haksa agar keluar dari mobil untuk berpindah ke depan. Tubuh lelaki itu saja hampir terjerembab ke depan karena memang pintunya sedari tadi sudah dia buka. Haksa menatap si pelaku sinis dan mau tidak mau dia keluar dari mobil lalu membuka pintu depan, kemudian duduk di sana.


Nanggala dan Jia hanya terkekeh menatap tingkah mereka berdua. Ada-ada saja.


"Ayo Jia, Nanggala, naik. Dedemitnya udah ilang."


"Acca denger ya, Ras!"


Mereka berdua akhirnya naik dan masih saja terkekeh. Jia duduk di tengah, di sebelah kanannya ada Rasen, dan di sebelah kirinya ada Nanggala. Mobil pun mulai melaju menuju sekolah, dan perdebatan kedua lelaki itu masih berlanjut di sepanjang jalan.


Nanggala yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Dia memberi gadis di sampingnya susu rasa strawberry yang di belinya tadi di minimarket, lalu menyuruh gadis itu meminumnya dan bersandar di pundaknya, agar tidak memperdulikan perdebatan itu.


Sebenarnya saat itu Nanggala sempat bingung dengan mereka. Rasen dan Haksa adalah anak kembar, namun wajah mereka benar-benar tak sama. Meskipun namanya hanya sama di nama belakang dan juga marga.


Rasen Adlano Zhou, dan Haksa Adlino Zhou.


Dari sedikit cerita yang Nanggala dengar dari Yora, mereka adalah keturunan Indonesia dan China. Ayah mereka Indonesia, dan Ibu mereka China asli. Begitu cerita yang dia dapat dan bisa membuat rasa bingungnya sedikit berkurang. Karena memang, mereka kembar tak identik, nama panggilan tak mirip, siapa pun akan terkejut jika mengetahui mereka berdua kembar.


Apalagi, warna kulit mereka juga terlihat berbeda.


Ah, tidak seharusnya Nanggala berbicara seperti itu. Tapi dia juga ingin terkekeh saja jika memikirkannya. Ya, Rasen memiliki kulit yang lumayan putih, sedangkan Haksa sedikit ke sawo matang.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


Suasana koridor sekarang ini cukup ramai karena beberapa menit lagi pasti bell masuk pelajaran pertama berbunyi.


"Ups, sorry."


Nanggala sedikit memejamkan matanya saat bola basket dengan tiba-tiba melayang mengenai kepala bagian kanannya. Lelaki itu menoleh, dan mendapati Yunan di sana yang tengah terkekeh sambil berjalan mendekatinya.


Rasen dan Haksa yang melihat itu pun ikut memberhentikan langkah mereka, dan juga menatap lelaki itu dengan sebal.


Yunan kini sampai di hadapan Nanggala, tentu saja membuat lelaki itu langsung menyembunyikan tubuh Jia di belakangnya.


"Wah, wah, santai dong? Gue cuma mau ambil bola gue, takut banget lo?"


Yunan tertawa dan membungkukkan tubuhnya untuk meraih bola basket yang tadi dia lempar itu di sebelah kaki Nanggala, tubuhnya lalu dia tegapkan lagi kala sudah mengambil benda itu. Sebelum menjauh, tubuhnya mendekat ke lelaki di hadapannya. Tepatnya mendekatkan mulutnya di telinga Nanggala.


"Istirahat gue tunggu di lapangan basket." Bisik Yunan sambil melirik lelaki itu dengan ekor matanya.

__ADS_1


Yunan tersenyum sinis lagi hingga lelaki itu melangkah pergi meninggalkan mereka, tak lupa dengan teman-teman satu geng-nya. Murid-murid di koridor yang sejak tadi memusatkan perhatian kepada mereka pun mulai sibuk dengan aktivitasnya lagi.


"Na."


"Nggak papa, Sen."


Nanggala tersenyum manis kepada lelaki itu, mengisyaratkan kalau dia baik-baik saja. Tangannya lalu menarik lagi gadis yang berada di belakangnya dengan lembut.


"Jangan takut, ya? Nala di sini."


Matanya menatap dalam mata Jia, mengeratkan genggaman tangannya membuat gadis itu sedikit mendongak. Nanggala kembali tersenyum manis, tangannya menuntun gadis itu lagi untuk melanjutkan langkah mereka menuju kelas, pun juga dengan Rasen dan Haksa di depannya.


.......


.......


"Jia, Nala ke toilet dulu ya?"


Gadis yang tengah membaca buku itu seketika menolehkan kepalanya, di tatapnya lelaki yang tengah tersenyum ke arahnya itu lalu kemudian kepalanya perlahan mengangguk.


"Jia ke kantin aja sama Yora sama Rasen dulu ya, nanti Nala ke sana."


Yora yang sejak tadi mendengar perkataan-perkataan Nanggala-pun membalikkan tubuhnya ke belakang, "iya tenang aja Na, gue pasti jagain Jia. Lo pergi aja."


Nanggala menoleh, "ah, iya. Makasih banyak, Ra. Nanti gue nyusul kok."


Gadis itu mengangguk dan tersenyum. Nanggala lalu langsung saja beranjak dari duduknya setelah tadi mengacak lembut puncak kepala Jia.


Tidak seperti biasa, ketika Nanggala mengacak rambutnya seperti itu, Jia pasti akan tersenyum senang. Tetapi tadi gadis itu hanya diam.


'Nala ...' batinnya takut.


Ya, tentu saja Jia tadi mendengar apa yang di bisikan Yunan kepada Nanggala, karena posisinya memang di belakang lelaki itu.


Ajakan Yora untuk ke kantin pun membuyarkan lamunan gadis itu, dia akhirnya beranjak dari duduknya meskipun terasa berat. Meskipun yang dia inginkan sekarang ini adalah berlari menyusul Nanggala yang sudah lebih dulu keluar sejak tadi.


Hingga sampailah mereka bertiga kini di kantin. Di sepanjang perjalanan tadi, Jia hanya terdiam dan sedikit menunduk. Pertanyaan dari Rasen maupun Yora saja tidak gadis itu jawab, mereka berdua juga bingung. Jia sangat berbeda ketika sedang bersama Nanggala.


Jia banyak tersenyum ketika bersama Nanggala.


"Hai, Jia!"


Suara ceria itu menyapa Jia saat gadis itu baru saja sampai di sebuah meja yang sudah berisikan beberapa orang di sana.


Jia yang mendengar itu tidak sedikit pun menolehkan kepalanya, tentu saja membuat Haksa langsung mengerucutkan bibirnya melihat itu. Lelaki itu lalu bertanya kepada Rasen tanpa suara, yang hanya di jawab dengan gelengan kepala.


Hal itu juga membuat Jerga yang sejak tadi memperhatikan kakaknya juga bertanya-tanya. Kenapa kakaknya?


Memang, kakaknya lebih sering diam, tetapi sekarang ini beda. Dari yang Jerga tangkap, ada tatapan sedih di sana, meskipun tatapannya kosong menatap meja kantin.


Cukup lama mereka menikmati makanan mereka masing-masing, tak jarang juga berisik dengan perdebatan Rasen Haksa, yang sejak tadi Haksa tidak mau diam dan mengambili sosis pada nampan makanan milik Rasen.


"Kemana Nanggala?"


"Tadi ke toilet katanya." Yora menjawab.


Jerga mengalihkan pandangannya lagi, tatapannya kosong ke depan. Namun sangat dingin.


Hingga tak lama semuanya telah menyelesaikan makan siang mereka. Jia, Rasen dan Yora kembali ke kelasnya, ditambah dengan Haksa yang ikut bersama mereka juga. Sedangkan Jerga, tadi berpamitan untuk ke toilet. Langkahnya memang ke toilet, tetapi tidak untuk melakukan hal yang biasanya orang lakukan di dalam sana.


Jerga mencari seseorang. Katanya akan menjaga kakaknya. Dimana dia?


Bukan apa-apa, hanya saja wajah sedih yang di tunjukkan kakaknya tadi pasti karena Nanggala. Jerga tidak peduli dengan lelaki itu, benar-benar tidak peduli. Tetapi dia hanya merasa marah ketika melihat mata dan wajah sedih kakaknya.


Langkahnya memasuki toilet, dan juga mengecek bilik-bilik toilet. Tetapi nihil, tidak ada orang yang di carinya di sana. Kakinya membawanya keluar lagi, entah akan mencarinya kemana.


Sementara di ruangan lainnya kini, sudah ada beberapa orang di lapangan basket indoor. Dua orang terlihat duduk di lantai, satu orang berdiri di dekat keranjang berisikan bola, dan satu lagi tengah asik dengan kegiatannya yang beberapa menit yang lalu melempari si target di depan sana dengan bola basket.


"Jangan tegang gitu dong, hahaha!"


Nanggala beberapa kali meringis di sana, beberapa kali juga bola itu tidak pernah meleset mengenai tubuhnya. Seragam sekolahnya sudah mulai kotor juga karena terkena benda bulat itu.


"Kepalanya dong kepalanya, haha!"


Duk!


Pusing. Bola itu lebih banyak mengenai kepalanya dari pada bagian yang lain seperti perut atau bagian dadanya. Dia hanya bisa berdiri diam dan meringis, tidak bisa melawan lelaki itu.


"Bagus! Harusnya tuh lo gini, nggak pernah ngelawan gue!" serunya.


Lelaki itu berjalan mendekati Nanggala di depannya, senyumannya menyeringai sinis.


Bugh!


"Uhuk ...."


Tubuh Nanggala tersungkur begitu saja ketika Yunan menendang perutnya dengan sangat kencang. Dia memegangi perutnya dan terbatuk beberapa kali, benar-benar sakit. Wajahnya mendongak ke atas dan menatap lelaki yang mulai berjongkok di hadapannya.


"Kalo lo ngelakuin hal yang nggak gue suka lagi," tangan Yunan terangkat menjambak rambut itu, "gue bakal bilang semuanya." Bibirnya tersenyum sinis.


"Tapi, gue aja nggak suka liat lo napas, gimana dong?"


Tawanya menggema di lapangan ini, tawa Yunan dan teman-temannya di sana, yang juga ikut mendekat ke arahnya.


"Mati aja lo!"


Ah, perut bekas pukulan Yunan tadi kini di tendang dengan kaki Gasta. Nanggala terbantuk untuk yang ke beberapa kalinya. Lalu di lanjutkan dengan Senno dan Alwan yang juga ikut menendangi tubuh kurus itu.


"Dasar miskin!"


"Belagu lo miskin nggak usah sok lo disini!"


Tuk ... tuk ....


Langkah kaki yang terdengar seperti itu membuat semua mata teralihkan ke arah pintu, kecuali Nanggala, yang masih memejamkan matanya merasakan sakit di perutnya.

__ADS_1


Yunan menatap seseorang yang berdiri di ambang pintu masuk itu sinis, sama dengan yang di sana. Yunan berdiri lagi lalu berjalan ke arah pintu sebelum tadi menendang kecil kepala Nanggala yang berada di bawahnya.


Dia melewati orang itu begitu saja, setelah tadi tatapan sinis di layangkan lelaki itu.


Jerga juga menatap sinis Yunan yang baru saja menabrak bahunya itu, di ikuti teman-teman lelaki itu yang juga melakukan hal yang sama. Dia menghembuskan napasnya pelan, matanya melirik seseorang di dalam sana, lelaki yang dia lihat sejak dilempari bola basket tadi.


Tapi tubuhnya hanya berhenti sampai di belakang pintu tadi, tidak berniat untuk masuk.


Nanggala mendongakkan wajahnya di sana, tubuhnya berusaha untuk duduk, tetapi sangat susah untuknya. Perutnya terlalu sakit, matanya menatap ke arah pintu dan menatap seseorang yang sudah lebih dulu menatapnya.


Namun hanya sebentar, sebelum lelaki itu membuang wajahnya dan beralih pergi meninggalkannya.


.......


.......


.......


Sekolah sudah usai beberapa menit yang lalu, kini Nanggala dan Jia berjalan berdampingan untuk menuju ke suatu tempat. Tidak hanya berdampingan, seperti biasa si lelaki akan menggenggam tangan si gadis.


Tempatnya tidak terlalu jauh dengan sekolah mereka juga. Tadi bibi mengirim pesan kepada Nanggala, jika wanita itu mengantar sepeda yang akan dibenarkannya tadi di bengkel yang tidak jauh dari sekolah. Agar mereka tidak terlalu jauh untuk berjalan kaki dan menemui bengkelnya.


Ya, kemarin bibi sempat menyuruh Nanggala untuk mulai besok berangkat sekolah menggunakan sepeda saja. Sepeda milik nona mudanya ketika SMP. Di perbaiki sedikit saja pasti sudah berfungsi lagi. Bibi kasihan melihat mereka yang selalu berangkat sekolah naik bus. Dan tadi siang bibi yang mengantarkan sepeda itu ke bengkel, di antar oleh sopir di rumah.


Nanggala tersenyum saat tempat yang dia tuju sudah terlihat dari pandangan matanya, kepalanya menoleh ke samping, dan membuatnya sedikit melunturkan senyumnya.


Gadis itu, Jia, sejak dia kembali ke kelas tadi terus terdiam. Nanggala sendiri bingung, tidak biasanya Jia seperti itu.


"Permisi, Pak. Mau ambil sepeda."


Pria itu dengan cepat menoleh, sejenak sepertinya berpikir, "ah, punya ibu yang tadi itu, ya? Iya, ibu itu udah pesan sama Bapak, nanti yang ngambil sepeda ini anak sekolah. Anak yang ganteng sama cantik."


Nanggala mengangguk dan terkekeh mendengarnya. Bibi ada-ada saja.


Dilepaskannya pelan genggaman tangannya dengan Jia sambil melemparkan senyumnya, lalu meraih sepeda berwarna biru langit yang di berikan bapak tukang bengkel tadi. Sudah cantik lagi seperti sepeda baru. Sebenarnya tidak terlalu kotor juga, karena sepertinya bibi rajin membersihkan itu meskipun sudah tidak dipakai majikannya sejak SMP.


Sepeda itu ada boncengannya di bagian belakang, ada keranjangnya juga di depan. Ya, seperti umumnya sepeda anak perempuan.


Setelah mengucapkan terima kasih kepada bapak bengkel tadi, Nanggala menatap lagi gadis yang masih berdiri di sampingnya. Tubuhnya menaiki sepeda itu dan menoleh ke belakang, "ayo naik?"


Tanpa sepatah kata pun Jia menuruti perintah Nanggala. Duduk di belakang, dan langsung memeluk pinggang lelaki itu.


Nanggala sedikit meringis. Ah, perutnya masih sakit. Namun lelaki itu tersenyum dan menolehkan kepalanya lagi ke belakang.


"Jia kangen nggak naik sepeda?"


Nanggala tersenyum tipis melihat gadis itu hanya menganggukkan kepalanya pelan. Tanpa berlama lagi, kakinya mulai mengayuh sepeda berwarna biru itu.


Di sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang menemani mereka. Nanggala yang masih bingung kenapa Jia sedari tadi diam saja, dan Jia yang tetap tidak bersuara sambil masih memeluk pinggangnya dari belakang.


"Jia ... kenapa?"


"Jia marah sama Nala?"


"Kalo Jia marah, maafin Nala ya?"


Bukannya mendapat jawaban dari gadis itu, Nanggala malah merasakan pelukan di perutnya semakin mengencang. Dan dia mati-matian menahan ringisannya agar tidak sampai terdengar oleh gadis itu.


Dia juga merasakan kepala gadis itu di senderkan pada punggungnya. Sebenarnya ada apa ....


"Jia—"


"Hiks ...."


Matanya sedikit melebar mendengarnya, rasanya ingin menghentikan kayuhan sepedanya, tetapi langit sudah sangat mendung. Dia tidak ingin gadis itu kehujanan nantinya.


Akhirnya Nanggala masih terus menjalankan sepedanya, sambil gadis itu yang sepertinya semakin menenggelamkan wajahnya pada punggungnya. Matanya terpejam sejenak, tolong, perutnya sangat nyeri.


Tangan sebelah kiri Nanggala dia gunakan untuk menyentuh tangan Jia yang memeluk perutnya, mengelusnya lembut untuk menenangkannya.


"Nala sakit ... karena Jia ...."


Nanggala yang mendengar itu sedikit memutar kepalanya, meskipun tidak bisa melihat gadis itu sepenuhnya.


"Maafin Jia ...."


Mata lelaki itu memanas, dia mengulum bibirnya dan mencoba tersenyum. Napasnya dia hembuskan pendek. Dia tidak tahu sebenarnya apa yang gadis itu maksud menyakitinya, tidak mungkin kan saat kejadian di lapangan basket tadi Jia melihatnya?


Nanggala rasa tidak mungkin.


"Nala nggak papa ...."


Tenggorokannya benar-benar tercekat, dia masih mencoba untuk tersenyum meskipun sepertinya ujung matanya juga sudah mengeluarkan air.


Nanggala berusaha menerima kesakitan fisik dan batinnya yang dia terima selama ini. Dia harus menerima, dan dia juga harus bisa melewatinya. Tidak apa-apa dia merasakan sakit, asal orang-orang yang di sayangnya tidak merasakan itu.


Cukup dia saja. Tidak apa-apa.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Dua orang hebat ngga sih Nanggala sama Jia ini? xixi...


...Jangan lupa vote dan komennya ya, dukung author terus!...

__ADS_1


__ADS_2