
"Tunggu sebentar, ya?"
Nanggala mengangguk menanggapi ucapan sang bunda. Lelaki itu duduk di sofa ruang tamu dengan segelas teh hangat yang tadi wanita itu buatkan.
Sudah mandi tentu saja, bundanya mengajaknya pulang ke kontrakannya. Kalau di lihat-lihat, tentu saja masih lebih baik ini daripada kost miliknya.
Sepeninggal bundanya tadi ke arah belakang, Nanggala menatap sekeliling hingga matanya berhenti ketika menangkap sesuatu di sana, tepatnya di atas meja panjang di depannya. Dia lalu berjalan ke arah sana dan mengambil bingkai foto berukuran kecil yang terletak di samping televisi. Dadanya mendadak sesak lagi, matanya pun memanas.
Di sana, terdapat foto keluarganya. Bunda, ayah, dan juga dirinya. Nanggala ingat foto ini di ambil ketika dia baru masuk sekolah menengah pertama dulu. Bibirnya tersenyum tipis.
"Nangga?"
Suara itu membuat yang di panggil menoleh, dengan cepat dia mengusap matanya yang tadi sempat mengeluarkan air. Dia lalu tersenyum manis kepada wanita yang berdiri tak jauh darinya.
Yewina yang menyadari benda yang tengah di pegang oleh Nanggala-pun tersenyum sendu. Tubuhnya mendekat dan mengelus lembut rambut anak semata wayangnya itu.
"Udah malem banget. Kamu besok harus sekolah, tidur ya?"
Suara lembut itu membuat hatinya hangat, Nanggala benar-benar merindukan suara sang bunda seperti ini. Dia lalu mengangguk dan tersenyum manis, membuat wanita itu terkekeh kecil melihatnya.
Dan saat ini, keduanya sudah berada di dalam kamar bernuansa full putih, terbaring di bawah selimut, dengan mereka yang sama-sama belum memejamkan mata. Hujan masih terdengar deras di luar sana.
"Bun ...."
Yewina menoleh lantas memiringkan tubuhnya untuk menghadap anak lelakinya tersebut.
Sama halnya dengan Nanggala, lelaki itu juga memiringkan tubuhnya dan menatap sang bunda.
"Nangga kangen ...."
Kata-kata itu membuatnya menatap sendu, tangannya terangkat dan mengelus lembut rambut putranya.
"Maafin Bunda ... Bunda nggak akan ninggalin kamu lagi."
Yewina menarik tubuh Nanggala dan di dekapnya hangat, dia juga beberapa kali mengecupi kening anak itu, membuat sang empu memejamkan matanya menikmati pelukan hangat yang beberapa tahun ini sempat hilang.
"Nanggala kangen ayah ...."
Ucapan Nanggala membuat Yewina menghentikan aktivitasnya. Wanita itu menatap kosong ke depan dengan mata yang mulai memanas. Sebisa mungkin dia tidak mengeluarkan tangisnya.
Nanggala mengeratkan pelukannya, membuat wanita itu juga melakukan hal yang sama, sembari tangan satunya mengusap lembut punggungnya.
"Kapan-kapan kita kunjungin ayah, hm?" tanyanya lembut, dan di jawab dengan anggukan oleh Nanggala.
"Maafin Bunda ninggalin kamu. Bunda nggak pernah bermaksud kayak gitu. Bunda pergi karena Bunda cari uang buat kamu ...."
"Tapi Bunda pergi setelah ayah pergi."
Ucapan itu lagi-lagi membuat Yewina sesak. Sedari tadi dia mati-matian menahan tangisnya.
"Nangga tau Bunda pergi karena Bunda udah nggak kuat. Bunda udah nggak kuat setelah kejadian itu menimpa keluarga kita ... Nangga nggak pernah marah sama Bunda karena ninggalin Nangga."
Anak itu menghela napasnya sejenak.
"Nangga akan marah sama Bunda kalo Bunda lupain Nangga."
Wanita itu mengulum bibirnya rapat, air matanya tanpa ijin juga mulai mengalir membasahi pelipisnya karena dia berposisi miring sekarang ini.
"Maafin Bunda, sayang ..." lirihnya dengan suara bergetar.
Yewina kembali mengeratkan pelukannya kepada Nanggala, guna menyalurkan rasa kerinduan kepada anak lelakinya itu. Anak lelakinya yang kuat, anak lelakinya yang selalu tabah. Dia benar-benar menyesal sudah meninggalkan anak manis itu dulu. Menyesal karena sudah membiarkan lelaki itu menanggung semuanya sendiri.
Kini, dia tidak akan pernah melepaskannya. Dia akan menjaga anaknya, di samping anaknya dan terus melindunginya.
Anak manisnya, anak tersayangnya, anak lelakinya yang berhati baik.
"Bunda sayang kamu ...."
.......
.......
.......
Nanggala membuka kedua matanya yang masih sedikit menyipit, lalu pandangannya melirik ke sampingnya, dia sedikit terkejut ketika melihat tempat di sampingnya itu kosong.
Tidak bermimpi bukan?
Dia tidak bermimpi tentang bertemu dengan bundanya semalam bukan?
Matanya mengendar ke sekeliling, Nanggala bernapas lega ketika melihat kamar ini bukanlah kamar kost-nya. Mendudukkan tubuhnya pelan, dia menyingkap selimut yang masih membalut tubuhnya itu sampai kaki. Kedua kakinya mulai menuruni ranjang, dan mulai melangkah keluar dari kamar. Dia berniat mencari keberadaan sang bunda.
Hidungnya mencium harum masakan, langsung saja Nanggala berjalan mendekati dapur. Dia sangat yakin bundanya tengah memasak. Lelaki itu tersenyum, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata kedua tangannya melingkar di pinggang sang bunda. Memeluknya dari belakang sambil menyenderkan kepalanya di punggung itu sambil memejamkan matanya.
Yewina yang tersadar lalu tersenyum dan menyentuh lengan Nanggala dengan tangan satunya. Karena satunya lagi yang tengah mengaduk sup di atas panci di depannya menggunakan sendok sayur.
"Berangkat sekolah, 'kan?" tanya wanita itu dan hanya di balas anggukan kepala oleh Nanggala.
Wanita itu terkekeh kecil. Nanggala masih memeluk pinggangnya sambil memejamkan mata di belakangnya.
"Gih mandi. Bunda siapin sarapan dulu."
Mengangguk lagi, Nanggala melepaskan pelukan itu sebelum tadi mengecup pipi sang bunda dari belakang. Tingginya yang memang hampir menyamai sang bunda, membuatnya dengan mudah mencuri ciuman itu.
Nanggala terkekeh kecil dan langsung saja berlalu menuju kamar mandi.
Yewina menolehkan kepalanya ke belakang dam menatap punggung putranya yang sudah hilang di balik pintu kamar mandi. Dia terkekeh lagi sambil menggelengkan kepalanya. Ada senang dan sedikit haru yang dia rasakan, tentu saja senang karena bertemu lagi dengan anak lelaki manisnya itu, dan membuatnya sedikit terharu.
Mereka banyak bercerita kemarin malam. Mungkin keduanya baru memejamkan mata jam satu dini hari. Terlalu banyak yang di ceritakan sambil melepas kerinduan. Menghabiskan malam mereka berdua, membuat wanita itu tersenyum lagi kala mengingatnya.
"Kamu masih manja kayak dulu, Nangga."
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Suasana koridor, halaman sekolah, begitu juga tempat parkir cukup ramai sore ini. Jam memang sudah menunjukan jam pulang. Namun bagi murid kelas tiga memang, karena sekarang ini sudah jam lima sore.
Hari ini tidak ada kelas sampai malam, untuk keseluruhan. Maka dari itu jalanan hanya ramai oleh murid kelas tiga.
Nanggala, Rasen dan Haksa berjalan bersamaan menuju tempat parkir sekolah. Tidak ada Jerga, tidak ada Jia, dan juga tidak ada Yora.
Nanggala tahu, pasti gadis itu sudah pulang bersama Jerga. Tentu saja dia merasa sedih, dia tidak bisa sedekat dulu lagi dengan gadis itu, tidak selalu di samping gadis itu.
__ADS_1
Dadanya terasa sakit ketika mengingatnya. Dia menghembuskan napasnya panjang, kembali fokus lagi dengan jalannya yang sebentar lagi akan sampai tempat parkir.
"Lo beneran nggak mau ikut, Na?"
Suara itu membuat Nanggala menoleh, "nggak, Sen. Kalian aja berdua." Jawabnya menggeleng pelan.
Tadi Rasen memang mengajak Nanggala untuk ke perpustakaan yang selalu lekaki itu kunjungi untuk belajar selain di sekolah. Tetapi dia menolaknya halus. Lelaki itu bilang masih ada kegiatan nanti, entah yang seperti apa Rasen juga tidak tahu.
Sebenarnya malas juga Rasen membawa kembarannya belajar ke perpustakaan, karena beberapa kali juga pernah di hukum petugas perpustakaan karena Haksa terlalu berisik ketika mereka belajar di perpustakaan sekolah.
Di manapun tempatnya, Haksa memang akan sangat berisik.
Meskipun tidak sedikit Rasen sudah memarahi kembarannya itu untuk diam, tetapi Haksa tetap Haksa. Rasanya sangat tidak puas bila sehari saja tidak membuat kebisingan.
"Lo belajar sendiri di rumah kenapa sih!" sungut Rasen tiba-tiba kepada lelaki di sampingnya.
Haksa yang sedari tadi asik dengan lolipop di mulutnya itu hanya melirik sang kembaran dengan santai. Tentu saja hal itu membuat si empu menghembuskan napasnya kesal.
"Lo nggak inget kata mamah? Kita harus belajar bareng tau!" mengeluarkan lolipop itu dari mulutnya, Haksa menjawab tak kalah seru.
"Ck, kan kemarin udah, tadi malem udah! Kurang?"
"Kurang, hehe."
Rasen lagi-lagi menghembuskan napasnya kesal. Pasalnya Haksa sejak tadi memang selalu menempel dengannya. Bukan sejak tadi saja, bahkan sejak mereka lahir.
Iya Rasen tahu, ibunya memang menyuruh dia untuk membantu belajar Haksa, apalagi jika hari-hari mendekati ujian. Karena memang kembarannya itu mempunyai nilai yang pas-pas an. Jauh dengan dirinya.
Tetapi, orang tua mereka bahkan tidak pernah membeda-bedakan mereka.
Rasen sempat berpikir, saat mereka di dalam kandungan dulu, otak mereka menyatu, dan saat mereka lahir dan yang keluar adalah dia dulu, dia pikir otak Haksa terbawa terlalu banyak olehnya.
Jadi Haksa hanya kebagian otak yang sedikit. Tetapi membawa banyak lemak.
Rasen merasa dirinya sangat mungil, sementara Haksa itu memiliki tubuh yang sedikit besar dan wajah yang gembil.
Pikiran Rasen umur enam tahun dulu.
Nanggala hanya terkekeh kecil melihat perdebatan keduanya. Hingga mereka berdua berpamitan kepadanya untuk pergi terlebih dahulu.
Langkah Nanggala mendekati sepeda yang terparkir di seberang sana, dia menatap benda itu sendu. Ah, sepeda milik Jia ... Sudah lama gadis itu tidak duduk di sana sambil memeluk pinggangnya dari belakang. Dia rindu.
Namun seketika semua itu buyar saat ada yang tiba-tiba menubruk tubuhnya dari belakang. Lelaki itu memegang lengannya yang terasa sakit, lalu menolehkan kepalanya guna melihat siapa yang baru saja menubruknya.
"Jerga?"
Dia sedikit terkejut, namun juga bingung ketika melihat raut wajah Jerga yang seperti tengah cemas. Mata lelaki itu juga mengendar ke sekeliling, napasnya terdengar tidak beraturan.
Lalu selanjutnya mata mereka bertemu. Jerga menatap Nanggala datar di hadapannya, sedangkan Nanggala masih saja bingung. Matanya melirik ke samping tubuh lelaki itu.
Dan kini dia mengerti. Kini dia mengerti kenapa raut wajah Jerga khawatir dan cemas.
Tanpa sepatah kata, Jerga melanjutkan langkahnya dan berlari kecil, sebelum tadi sempat menubruk lagi bahu Nanggala.
Nanggala yang sedari tadi mematung langsung tersadar kembali, dengan cepat dia mengambil sepedanya dan mengayuhnya meninggalkan sekolah.
Langit sebentar lagi pasti akan menggelap, Nanggala mengayuh sepedanya sambil matanya sesekali menatap ke samping kanan dan kirinya.
Kemana gadis itu ....
Nanggala tidak lelah untuk mencarinya, dia bahkan mengunjungi beberapa tempat yang pernah mereka kunjungi dulu, siapa tahu gadis itu di sana bukan?
Namun sudah beberapa tempat hasilnya nihil.
'Jia, kamu kemana ...' batinnya khawatir.
Tidak putus semangat, Nanggala terus menjalankan sepedanya menyusuri jalanan kota. Sesekali juga dia akan ke beberapa taman, karena Jia sangat menyukai taman.
Danau. Nanggala sampai ke tempat itu untuk mencarinya. Mereka pernah mengunjunginya ketika bermain dengan Cleo dan Alji waktu itu. Jia juga menyukai tempatnya.
Mengayuh sepedanya di jalanan sekitar danau, mata Nanggala sangat fokus menatap ke semua tempat. Menatap juga beberapa kursi panjang yang berada di pinggir jalan. Memang ada orang, namun mereka bukanlah gadis yang dia cari.
Hingga matanya menangkap dua kursi yang berada di kanannya, tepat di sebelah pohon, ada seorang gadis yang duduk di salah satu kursi di sana. Duduk seorang diri dengan wajah yang menunduk. Meskipun rambut panjangnya menutupi wajahnya, namun Nanggala sangat yakin bahwa itu adalah Jia.
Nanggala sangat hapal postur tubuh gadis itu, tas yang di kenakan, sepatu yang di kenakan. Dan seseorang di sana memang sangat mirip dengan Jia.
Dengan pelan Nanggala turun dari sepedanya dan menuntunnya ke salah satu pohon yang berada di dekatnya, namun posisinya sedikit jauh dengan Jia. Dia hanya takut kemunculannya yang tiba-tiba membuat gadis itu terkejut dan berlari menjauhinya.
Setelah menyenderkan sepedanya di sana, Manggala lalu melangkah pelan juga mendekati Jia yang sepertinya mulai menyadari kehadirannya. Gadis itu mulai mengangkat kepalanya.
"Jia ...."
Nanggala bisa melihat gadis itu sedikit terkejut dengan kedatangannya. Dia juga bisa melihat mata gadis itu sudah sembab.
Dia memberanikan diri mendudukkan tubuhnya di samping Jia. Gadis itu masih terdiam, tidak ada pergerakan yang menunjukkan kalau gadis itu menghindar. Tentu saja membuatnya sedikit lega melihatnya. Meskipun wajah gadis itu mulai menunduk lagi tidak mau menatapnya, dia tetap menampilkan senyum manisnya kepadanya.
"Jia kenapa disini ...? Nala nyariin dari tadi." Tanyanya begitu lembut.
Nanggala masih belum berani menyentuh tangan itu. Dia takut Jia akan menolaknya.
Matanya menatap sayu ke arah gadis itu, menatap mata yang sesekali meliriknya dengan ekor matanya. Tetapi masih belum juga mengeluarkan suaranya.
"Jia ... Maafin Nala ...."
Masih dengan suara lirih, Nanggala akhirnya memberanikan tangannya menyentuh tangan Jia yang gadis itu letakkan di atas paha.
Namun yang membuat Nanggala terkejut, Jia menepis tangannya kencang dan langsung beranjak dari duduknya. Dia yang melihat itu dengan cepat mencekal lengan si gadis.
"Jia."
Tidak. Nanggala tidak boleh memanggilnya dengan nada tinggi meskipun gadis itu kini memberontak sambil berusaha melepaskan cengkeraman tangannya.
"Jia."
Masih saja. Namun Nanggala tidak akan menyerah, dia ingin sekali berbicara dengan gadis itu lagi. Dia sesak, dia rindu.
"Lepasin Jia!"
Nanggala menatapnya sendu. Ini pertama kali gadis itu berteriak kepadanya.
Benarkah gadis itu membencinya?
Tolong jangan. Nanggala tidak bisa.
__ADS_1
"Jia, please dengerin Nala."
"Nggak! Lepasin! Jia benci Nala! Jia benci sama Nala!!"
Kata-kata itu membuat Nanggala begitu sakit. Tubuhnya seketika melemas mendengarnya, dan tak terasa juga kedua matanya mulai memanas.
Namun tidak begitu saja Nanggala melepaskan tangan gadis itu. Dengan tangan yang gemetar, dia dengan cepat menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, tidak peduli gadis itu yang semakin memberontak dan memukuli tubuhnya meminta untuk di lepaskan.
Nanggala memeluknya erat seakan tidak ingin gadis itu lebih jauh lagi darinya. Beberapa hari tidak berbicara dan tidak bisa di samping gadis itu membuatnya rindu. Sakit. Sesak yang dia rasakan.
"Jangan benci Nala ... Jangan benci Nala ...."
Suara lirih Nanggala perlahan membuat tubuh Jia melemas di pelukan lelaki itu. Tetapi kini di gantikan oleh suara isakan yang mulai terdengar di jalanan yang sepi ini.
Nanggala memejamkan matanya, dan saat itu juga air mata yang sejak tadi menggenang pun jatuh begitu saja membasahi kedua pipi manisnya. Dia mengeratkan pelukan itu.
"Jangan benci Nala ... Nala mohon ...."
Nanggala tidak malu dengan dia yang menangis di hadapan gadis itu.
Memang ini yang dia rasakan. Sedih yang dia pendam selama ini karena di jauhi oleh gadis itu, semuanya keluar sekarang. Nanggala menumpahkan semuanya. Dia ikut menangis sambil sesekali mengusap lembut rambut belakang gadis itu.
Ini yang Nanggala takutkan sejak dulu. Jika Jia mengetahui semuanya, dia akan membencinya. Lelaki itu masih sangat ingat apa yang dia katakan di bawah pohon waktu itu. Saat mereka berteduh karena hujan, yang waktu itu keduanya tengah bermain di taman setelah pulang sekolah.
"Tetep ... Sama Jia ... Jangan tinggalin Jia ... Jia cuma punya Jerga sama Nala ...."
"Nala juga minta, tetep bersama Nala ... Jangan benci Nala atau tinggalin Nala juga, apapun yang terjadi."
Percakapan mereka waktu itu, Nanggala masih mengingatnya dengan jelas.
Berawal dari Jia yang memintanya untuk tidak meninggalkannya, dan dia yang mengatakan untuk tidak meninggalkannya juga. Tidak membencinya, apapun yang terjadi kelak.
Dan sesuatu yang Nanggala takutkan pun akhirnya terjadi.
Nanggala masih memeluk erat tubuh itu. Dia juga merasakan hoodie bagian ujungnya gadis itu remas kuat, masih dengan suara isakan gadis itu yang sangat membuatnya tercekat.
Setelah sedikit mereda, Nanggala membawa Jia untuk duduk lagi di kursi panjang yang tadi gadis itu duduki. Tangannya menggenggam gadis itu lembut, menyalurkan hangat yang memang dirasa tangan gadis itu sangat dingin.
Sudah berapa lama Jia disini? Angin disini sudah pasti jika menjelang sore dan malam hari berhembus kencang dan dingin.
Mata Nanggala menatapnya sendu. Di usapnya lembut untuk menghangatkan, membuat wajah gadis itu perlahan terangkat dan ikut menatapnya.
"Nala ...."
"Hm?"
Nanggala tersenyum lembut, menunggu perkataan apa yang akan gadis itu ucapkan.
"Jia sayang Nala ...."
Mendengarnya, Nanggala tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Lelaki itu tersenyum lembut. Tangannya terangkat untuk merapikan rambut gadis itu yang sedikit berantakan di terpa angin.
"Nala lebih sayang Jia."
"Nala minta maaf ... udah buat Jia sedih." Lanjutnya masih tersenyum sendu.
Tidak seperti biasanya jika gadis itu berbicara kepadanya jika tengah seperti ini.
Jia akan terus menunduk ketika gadis itu bersedih atau pun ketakutan, meskipun itu berbicara dengannya atau bahkan posisinya mereka hanya berdua.
Tetapi sekarang, Jia benar-benar berbicara sambil matanya terus menatap ke arahnya. Matanya tak lepas dari sana, mata sembapnya yang dengan tulus mengucapkan kata-kata jika dia menyayanginya.
Entah ini hanya perasaan Nanggala saja, atau memang gadis itu yang sudah mulai menunjukkan perubahan dengan mentalnya. Jika memang benar, dia akan merasa sangat senang. Dia akan terus membuat gadis itu sembuh, terus di sampingnya hingga gadis itu sembuh.
"Hiks ...."
"Jangan nangis ...."
Nanggala tersenyum manis dengan tangannya yang terangkat untuk mengusap pipi itu lembut. Yang mana malah membuat gadis itu semakin terisak.
"Jangan nangis, Nala jadi sedih."
Tanpa mengucapkan apapun lagi, Nanggala menarik lembut bahu itu dan memeluknya dari samping. Tangan satunya bergerak meraih kepala itu untuk bersandar di bahunya.
Jia hanya menurut, dia juga memeluk erat Nanggala dari samping. Gadis itu terisak lagi disana.
"Jia nggak bisa benci Nala ...."
Nanggala tersenyum dan mengusap rambut itu lembut sambil sesekali mengecupnya.
"Makasih, buat nggak benci Nala ... Nala akan terus jagain Jia. Terus sama Jia ...."
Pelukan itu semakin mengerat dan membuat Nanggala tersenyum lagi, dia mengecup lagi puncak kepala gadis itu dengan sayang.
Tangan kirinya bergerak meraih sesuatu di saku hoodie depannya. Dan selanjutnya, sebuah ponsel dan headset yang masih menancap itu Nanggala keluarkan dari sana. Dia mulai mengurai kabel headset itu tanpa melepaskan pelukan mereka, lalu memasang satu headset di telinga kirinya, dan satu lagi di pasangkan di telinga kanan gadis itu.
"Makasih udah hadir di hidup Nala."
Hingga dalam keheningan malam ini, lagu itu mulai terputar dari ponsel Nanggala. Lagu milik Paul Kim yang berjudul Me After You.
Lagu yang manis. Lagu yang sebenarnya untuk sepasang kekasih, atau bahkan seseorang yang sudah menikah. Namun entah kenapa Nanggala sangat menyukai lagu itu. Dia sangat menyukai lirik lagu itu, yang mana terdengar sangat mirip dengannya dan Jia.
Karena Nanggala menyayanginya. Karena Nanggala ingin selalu membuat gadis itu bahagia dan tertawa bersamanya.
Kehadiran gadis itu sungguh membuatnya bahagia.
Nanggala sangat menyayanginya.
Tolong jangan pisahkan dia dengannya.
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Bapeur apa mewek nih? Hihi. Gimana cerita ini menurut kalian?...
__ADS_1
...Boom komen setelah membaca yaa♡...