NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
52. Last [EPILOG]


__ADS_3

"Makasih, Na. Makasih udah hadir di kehidupanku. Meskipun terasa singkat, tapi cintaku untukmu tidak akan berakhir sesingkat itu.


Na ... Makasih juga udah jadi lelaki terhebat untukku, makasih udah jadi malaikat untukku. Meskipun sekarang berbeda, aku yakin kamu masih malaikat yang menjagaku dari atas sana. Udah nggak sakit kan, Na? Nala udah sehat sekarang. Nala udah tidur dengan nyenyak."


^^^—Jiara Abhicandra^^^


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


"Hey, aku bilang jangan bersedih. Jangan menangis, hm? Aku akan lebih sedih jika kamu menangis. Maafkan aku meninggalkanmu begitu cepat, maafkan aku belum sempat berpamitan kepadamu, maafkan aku meninggalkanmu dengan si kecil kita.


Aku mencintaimu, sungguh. Makasih juga buat kamu, udah hadir di kehidupanku, selalu di sampingku, mewarnai hidupku sampai akhir. Maaf aku memilih menyerah dan pergi. Aku udah nggak sakit lagi, aku udah sehat. Jadi kamu juga nggak boleh sakit lagi ya? Karena aku akan menghukum orang yang menyakiti kamu, dan juga anak kita. Aku mencintai kalian."


^^^—Nanggala Aksha^^^


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


.......


.......


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


"Na ... Udah 18 tahun."


"Aku kangen kamu. Kangen banget sama kamu."


Jia terkekeh kecil di akhir kalimatnya, tangan kanannya terangkat untuk menghapus air mata hangat yang masih di ujung matanya. Sebenarnya dia malu pada Nanggala, setiap dia datang kesini pasti akan menangis, meskipun sudah delapan belas tahun berlalu.


"Aku udah tua, Na," wanita itu terkekeh lagi, "itu artinya cinta aku ke kamu juga se lama itu."


"Kamu masih mencintaiku kan Na dari sana?"


Jia tersenyum mengulum bibirnya, dadanya terlalu sesak mengatakan semuanya. Dia merindukan Nanggala-nya, dia sangat merindukan malaikat-nya, malaikat baik yang di kirim Tuhan untuk menjaga dan menyayanginya. Hingga mungkin Nanggala sudah merasa lelah, lalu dia mengatakan kepada Tuhan untuk menjemputnya.


Dan tidak akan pernah kembali lagi.


"Na, kamu untukku adalah sebuah kebahagiaan. Kamu untukku adalah sebuah keajaiban, hadiah terindah. Makasih Na, buat semuanya."


Ah, dia ini cengeng sekali. Umurnya saja yang bertambah namun masih saja seperti ini. Itu yang kerap Jerga katakan kepada wanita itu jika menangis karena merindukan Nanggala.


"Tuh, Yah. Bunda udah janji nggak nangis loh. Bunda cengeng ya, Yah?"


Jia melirik ke samping kanannya kala seseorang berkata seperti itu kepadanya. Dia lantas terkekeh kecil sambil mengusap sisa-sisa air mata di wajahnya, lalu di rangkulnya pundak itu untuk lebih mendekat kepadanya. Ah, bahkan tinggi mereka sudah hampir sama sekarang.

__ADS_1


"Ayah, aku kesini lagi sama Bunda."


Gadis itu tersenyum begitu manis menatap foto yang terletak di depan sebuah nisan. Foto lelaki muda yang juga tengah tersenyum manis di sana, lelaki hebat yang merubah hidup sang Bunda. Lelaki itu adalah ayahnya.


Meskipun dia belum sama sekali bertemu dengan sang ayah, namun dia tahu pasti ayahnya memang sangat hebat dan baik, sama seperti apa yang bundanya ceritakan kepadanya.


Lelaki itu adalah malaikatnya, malaikatnya dengan sang bunda.


"Makasih, karena ayah, aku disini. Makasih, karena ayah, aku ada disini buat Bunda, nemenin Bunda. Dan yang pasti akan menjaga Bunda juga seperti ayah menjaga Bunda dulu."


Senyumnya begitu manis, sangat mirip dengan Nanggala.


Jia tersenyum sambil mengusap lengan gadis itu lembut. Dia menatap lama foto dirinya dengan Nanggala juga di sana, foto yang dulu Haksa ambil di Bogor. Foto yang sangat indah, menjadi kenangan terakhirnya bersama lelaki itu.


Dia yang meminta foto itu juga di masukan ke dalam pigura. Di pojok kanan bawah.


Keduanya masih sangat muda di foto itu. Dan sekarang, wajah Jia tidak berubah sekalipun, masih tetap cantik dan terlihat muda meskipun sudah menginjak umur 37 tahun. Hanya saja sekarang rambutnya tidak sepanjang dulu, dia memotongnya sampai bahu.


"Dia kayak kamu, Na. Senyum manis dia sama kayak kamu. Kadang aku liat dia aja berasa lagi liat kamu," Jia terkekeh sejenak, "tapi ternyata itu anak kita. Si manis kita."


"Bundaa, aku udah tujuh belas tahun. Stop bilang aku si manis deh." bibirnya mengerucut gemas.


"Kamu manisnya Bunda, kamu tetep bayinya Bunda." kekeh Jia sekali lagi mengabaikan wajah putrinya yang semakin di tekuk itu.


Dia menggelengkan kepalanya lalu menaruh bucket bunga di depan pigura tadi.


"Maaf aku sempet lupain kamu ...."


Kepalanya menunduk sejenak.


"Maaf aku sempet nggak inget kamu, dan lupain semua kenangan kita."


Ah, Jia kembali merasakan ujung matanya berair lagi.


Dia merasa sangat bersalah kepada Nanggala. Dia sempat tidak mengingatnya, hampir satu tahun dia melupakan sosok lelaki itu dalam hidupnya.


Akibat kecelakaan itu. Ya, beberapa tahun yang lalu dia mengalami kecelakaan bersama putrinya. Dan kecelakaan itu membuatnya amnesia sesaat, sementara putrinya, dia bersyukur tidak ada yang serius akibat dari kecelakaan.


Sepertinya itulah mengapa Jerga selalu bertanya kepadanya, apakah dia sudah mengingat lelaki yang ada di dalam foto itu atau belum. Lelaki yang katanya merubah hidupnya.


Ya, Nala-nya.


Lelaki dengan segala kesakitannya, namun meninggalkan sejuta kenangan bahagia untuknya.


"Maaf, Na ... Maaf. Kamu nggak marah sama aku kan karena aku sempet lupain kamu?"


Jia terkekeh kecil di sela isakannya. Dia lantas menghapus air matanya lagi, lalu tangannya terulur untuk mengusap pelan nisan di hadapannya.


"Kita pulang dulu ya, Na? Besok-besok aku kesini lagi, sama Jerga. Kamu kangen Jerga juga, 'kan?"

__ADS_1


"Om Jerga juga cengeng kayak Bunda tau, Yah. Aku pernah liat om Jerga diem-diem nangis sendiri di kamar, terus sambil liatin foto ayah di atas meja."


"Kan kita kembar."


Gadis itu lantas mengangguk mendengar perkataan bundanya. Benar, kadang dia lupa kalau mereka adalah kembar.


"Ranaya!"


Keduanya menoleh ke belakang saat ada yang memanggil nama itu.


"Omaaa!"


Gadis itu tersenyum senang dan berlari ke arah belakang untuk menghampiri seseorang yang memanggil namanya tadi.


"Naya hati-hati!" peringat Jia tak kalah keras di akhiri dengan kekehan, kepalanya lalu menoleh lagi dan menatap foto Nanggala.


"Aku rindu kamu, Na. Aku berharap bisa lihat kamu sekali aja."


Bibirnya tersenyum.


"Aku pulang dulu ya? Sampai ketemu nanti … Aku mencintaimu."


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


"Aku lebih mencintaimu. Jiara."


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Sampai disini....


...Dan sekali lagi, terimakasih semuanya!...

__ADS_1


__ADS_2