NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
30. Sehari dan Selamanya


__ADS_3

Hari yang sangat cerah. Mungkin jika di gambarkan, hati lelaki yang tengah mengayuh sepeda itu juga secerah hari ini.


Nanggala Aksha, mengayuh sepedanya dengan pelan sambil menikmati angin yang menabrak lembut kulit wajahnya. Kepalanya sedikit lelaki itu tolehkan ke samping, dia melirik seseorang di belakangnya dengan ekor matanya. Kedua bibirnya pun tertarik.


Nanggala sangat senang bisa keluar bermain lagi dengan Jia. Bersepeda bersama seperti ini lagi.


Tadi memang saat Nanggala menjemputnya, Jerga tidak ada di rumah, maka dari itu dia berani mengajak gadis itu pergi bermain. Meskipun entah apa yang di lakukan lelaki itu kepadanya jika tahu.


Hanya Dharma yang di rumah. Pria itu tentu saja mengizinkan, atau mungkin lebih tepatnya tidak peduli.


Dan kini, mereka berdua sudah sampai di tempat tujuan. Sebenarnya kemarin malam juga mereka kesini, tetapi Jia katanya ingin bermain lagi disini saat siang. Makanya Nanggala-pun menurutinya.


Masih di atas sepeda, keduanya sesekali bercengkrama sambil mengelilingi pinggiran danau. Si gadis masih setia memeluk pinggang si lelaki dari belakang, beberapa kali ia juga mengangkat salah satu tangannya untuk menikmati angin pagi ini yang sangat sejuk.


"Nala, beli cotton candy!" seru Jia tiba-tiba sambil tangannya menunjuk lurus ke arah penjual makanan tersebut.


Nanggala terkekeh mendengarnya, "baiklah, tuan putri!" jawabnya tak kalah seru dan juga sedikit bernada.


Jia tersenyum senang di balik punggung Nanggala, tak lupa mengeratkan pelukannya pada pinggangnya saat lelaki itu mulai mengayuh sepedanya mendekati penjual cotton candy.


"Nala mau?"


"Nggak. Buat Jia aja."


Gadis itu tersenyum manis ketika sudah mendapat cotton candy-nya. Nanggala memintanya untuk memakan sambil duduk di kursi yang menghadap langsung ke luasnya danau di hadapan mereka itu. Jia menurutinya sambil tatapannya yang masih fokus dengan makanannya dan sesekali mengambilnya dengan tangan.


"Jia bawa tissue?"


Gadis itu menoleh dan mengangguk, "Jia bawa."


Nanggala tersenyum menatapnya. Hanya melihat gadis itu makan saja dia sudah gemas sendiri. Tangannya terangkat lagi untuk mengacak puncak kepala gadis itu, mereka kini sudah duduk bersebelahan di salah satu kursi.


Sedikit terkaget memang tadi saat Nanggala menjemputnya. Jia yang biasanya akan memakai pakaian kebesaran atau baju kodok saat pergi weekend seperti ini bersamanya, kini gadis itu memakai baju yang sedikit terlihat dewasa.


Nanggala tersenyum dalam hati. Dia benar-benar senang dengan perubahan-perubahan kecil Jia yang di tunjukkan kepadanya.


Dia hanya harus selalu di sampingnya hingga gadis itu sembuh total nantinya.


Dia akan menemaninya, menjaganya, dan selalu melindunginya. Kini, bukan karena pekerjaannya. Tetapi karena Jia adalah gadis yang di sayanginya.


Jia sedikit pun tidak malu meski pakaian yang dikenakan kini membuat perut besarnya terlihat. Bahkan mungkin beberapa orang yang melihat mereka pasti akan mengira mereka sepasang suami istri muda.


Ada memang. Bapak penjual cotton candy tadi mendoakan bayi yang ada di dalam perut Jia selalu sehat. Ibu dan ayahnya juga selalu sehat. Dan bapak itu lantas tersenyum manis sambil menunjuk Nanggala sebagai sang ayah.


Ah, Nanggala tadi benar-benar tidak bisa menyembunyikan senyumnya.


"Apa yang Jia penginin sekarang ini?"


Gadis itu menoleh ketika Nanggala berkata seperti itu, sejenak dia mengalihkan pandangannya untuk berpikir. Membuat Nanggala gemas sendiri.


"Jia cuma pengin terus sama Nala."


Jawaban enam kata kata itu membuat Nanggala tertegun. Kedua sudut bibirnya kembali terangkat dan membentuk sebuah senyuman tipis namun lembut.


"Jia tau papa nggak suka sama Nala. Tapi Jia juga tau, papa lebih nggak suka sama Jia, dan Jerga."


Gadis itu tersenyum tipis. Pandangan matanya menatap Nanggala sayu, dan Nanggala benar-benar melihatnya seperti gadis normal. Tidak ada gangguan mental, trauma, atau apapun itu. Namun dia juga merasa sedih mendengar kata-kata itu.


Benar, Jia dan Jerga begitu di benci ayahnya.


Entah karena apa.


"Kalo Nala?"


Lelaki itu mengangkat kedua alisnya sambil terus tersenyum, "hm?"


"Apa yang Nala penginin?" tanya Jia kemudian.


Dia sejenak mengalihkan pandangannya dan mulai berpikir. Sebenarnya keinginannya juga sama dengan Jia.


"Nala juga, pengen selalu dan terus sama Jia."


Jia tersenyum lebar kala mendengar itu. Tentu saja membuat Nanggala semakin gemas hingga tangan kanannya terangkat untuk mengelus puncak kepala gadis itu, lagi.


"Ayo wujudin keinginan Nala."


Lagi-lagi dia mengangkat kedua alisnya, merasa bingung dengan ajakan Jia beberapa detik yang lalu.


Gadis itu mengangguk, "Nala tau tradisi melipat seribu burung bangau kertas di Jepang?"


Nanggala masih terdiam dan mendengarkan. Namun dalam hati dia menjawab 'tau'.


"Ayo kita sama-sama melipat seribu burung bangau kertas buat Nala. Seribu burung bangau kertas buat keinginan Nala jadi terkabul."


Jia tersenyum lembut.


"Ayo kita buat sama-sama. Ayo kita selalu sama-sama sampai keinginan kita buat bersama bisa terkabul sama Allah."


Nanggala tertegun untuk yang kedua kalinya. Dia tidak berbohong jika dia ingin menangis sekarang ini. Senyum manis Jia, senyum manis yang menunjukan bahwa gadis itu bersungguh-sungguh dengan kata-katanya tadi.


Tangannya terangkat dan mengelus lembut pipi gadis itu, membuat sang empunya semakin tersenyum menatapnya.


Dia lantas mengangguk, "ayo kita buat sama-sama."


Jia tersenyum lebar lalu mengangguk semangat. Sama halnya dengan Nanggala, lelaki itu terkekeh kecil melihat senyum lebar Jia. Tetapi ada beberapa hal yang membuat dia teringat oleh sesuatu, dan membuatnya sedikit melunturkan senyum kalau itu semua terjadi.


Nanggala merasa sesak mengingat tadi mengatakan jika dia akan terus menemani Jia, menjaganya, terus bersama gadis yang di sayanginya itu. Tetapi nama seseorang yang tiba-tiba terlintas di pikirannya membuatnya tersadar.


Ada lelaki lain yang notabenenya adalah ayah kandung bayi itu.


Nanggala memang sangat ingin lelaki itu bertanggung jawab dan menebus semuanya kepada Jia. Tetapi, itu semua juga berarti dia harus melepaskan gadis itu untuk lelaki lain.


Rasanya masih berat.


Rasanya berat melepaskan seseorang yang kita sayang walaupun itu untuk kebaikan atau kebahagiaan mereka.


Tidak mudah.


Tidak mudah merelakan dan menghilangkan rasa sayang ini dengan begitu saja. Tetapi Nanggala tidak boleh egois. Dia juga tidak ingin bayi itu nanti lahir tanpa ayah, atau jauh dari ayah kandungnya.


Berbicara tentang ayah saja membuatnya sangat merindukan pria terhebat dalam hidupnya itu.


Nanggala menatap sayu ke arah Jia yang sudah mulai memakan cotton candy-nya lagi yang tinggal setengah. Matanya turun ke arah bibir gadis itu yang masih mengunyah kecil. Namun yang membuatnya terkekeh, ada beberapa sisa cotton candy yang menempel disana.


"Jia?"


Gadis itu menoleh sambil tersenyum, matanya kembali kepada benda di hadapannya itu.


"Jia sayang Nala?" tanyanya membuat gadis itu menatapnya lagi.

__ADS_1


Jia mengangguk dengan kedua sudut bibir yang gadis itu angkat menjadi senyuman manis, membuat Nanggala tersenyum lembut dan menatap mata itu dalam.


Hal yang membuat Jia bingung selanjutnya adalah, ketika dengan tiba-tiba tangan Nanggala bergerak meraih tangannya yang menggenggam stick cotton candy dan menariknya hingga menutupi wajah keduanya. Meskipun tersisa setengah, namun benda itu memang cukup besar, masih mampu menutupi wajah mereka.


Jia refleks membulatkan matanya saat dengan gerakan cepat benda lembut itu menabrak bibirnya. Di rasa sedikit mengusap bibir bawahnya sebelum lelaki di hadapannya itu menjauhkan wajahnya lagi.


Nanggala tersenyum, dia mengunyah kecil sambil mengusap bibirnya yang juga terdapat cotton candy menempel di sana.


Gadis itu masih mematung, pandangannya kosong ke arah depan dengan jantung yang berdebar lebih cepat dari biasanya. Di liriknya mata Nanggala yang juga tengah menatapnya itu.


"Nala juga sayang kamu."


Nanggala tersenyum lembut dengan tulus mengucapkan kata-kata itu. Di raihnya tangan Jia yang terletak di atas kursi kayu yang mereka duduki, menggenggamnya lembut lalu menautkan jari-jari cantik itu dengan miliknya.


Masih belum ada pergerakan, Nanggala mengangkat tangannya dan memposisikan punggung tangan itu menjadi di atas. Lalu membawanya ke dekat wajahnya dan mengecupnya.


Nanggala tersenyum begitu manis. Lelaki dengan kaos putih yang di balut dengan kemeja soft blue dan juga rambut yang berantakan karena di terpa angin pagi ini. Sangat tampan.


"I love you."


.......


.......


.......


Hari sudah mulai sore. Langit di atas sana masih secerah tadi pagi, beruntung seharian ini tidak mendung atau hujan. Jadi kedua remaja itu benar-benar menghabiskan waktu bermain di luar.


Setelah di rasa sudah terlalu lama di luar, Nanggala mengajak Jia untuk makan ke suatu tempat. Lelaki itu tidak memberi tahu dimana, namun katanya gadis itu pasti nanti akan menyukainya.


Dan mereka kini sudah sampai di tempat yang di maksud Nanggala. Lelaki itu menyuruh Jia untuk turun dulu dari sepeda, sedangkan Jia dengan tatapan bingung pun mulai menuruni sepeda itu.


"Nala?"


Nanggala menoleh, "hm?"


Melihat tatapan Jia yang bingung ke arah rumah di depan mereka ini membuatnya terkekeh kecil, lalu dia menautkan jari gadis itu untuk berjalan memasuki rumah kecil di depannya.


Nanggala mulai melangkah mendekat, dan sesampainya di depan pintu dia langsung membukanya, sambil tangan satunya lagi masih saling bertaut dengan tangan Jia.


Jujur gadis itu bingung. Rumah siapakah ini? Kenapa Nanggala langsung masuk saja tanpa permisi atau mengetuk pintu? Dia juga tidak pernah di ajak lelaki itu kesini.


"Bunda?" panggilnya sedikit mengeraskan suara.


Jia lagi-lagi menoleh bingung, lalu pandangannya menatap sekeliling. Gadis itu masih bingung Nanggala membawanya ke kediaman siapa. Tetapi, mendengar lelaki itu memanggil bunda tadi? Itu artinya ....


"Eh, anak Bunda?"


Sesosok wanita cantik muncul dari ruangan belakang sambil tersenyum manis menyambut kedatangan putranya, hingga matanya teralihkan dengan gadis yang berdiri di samping putranya itu, "wah, siapa ini??"


Jia sedikit membungkukkan tubuhnya lalu mengulurkan tangannya untuk mencium tangan wanita itu, dia lantas tersenyum sangat manis, "Jia ...."


"Panggil aja Bunda Yewina." Ujarnya masih dengan senyum manisnya.


Jia mengangguk lalu matanya melirik Nanggala di sampingnya dengan senyuman kikuk. Wanita itu benar-benar mirip dengan Nanggala. Dari segi wajah, sifat yang juga sepertinya sama, dan satu lagi, senyumnya. Senyum manis keduanya sangat mirip.


Yewina masih tersenyum manis sambil sesekali mengusap rambut anak lelakinya, hingga sedikit di kejutkan ketika pandangannya turun ke bawah dan mendapati ada yang berbeda dengan perut gadis itu.


Nanggala yang tersadar dengan tatapan sang bunda pun menyentuh lengan wanita itu sambil tersenyum. Yewina yang mengerti lalu mengangguk pelan dan membalasnya dengan senyuman hangat.


Yewina tahu tentu saja, Nanggala sudah menceritakan semuanya dengannya kemarin. Tentang dia yang di pekerjakan oleh Dharma untuk menebus kesalahan suaminya. Tentang dia yang menjadi penjaga gadis gangguan mental, hingga rasa sayang itu yang perlahan mulai tumbuh dengan gadis tersebut.


Ya, pria itu. Dharma Abhicandra.


Entah kenapa Yewina masih merasa sesak jika mendengar nama itu.


Namun akhirnya, mendengar anak lelakinya yang bercerita tentang gadis itu, gadis yang ingin di lindunginya hingga sembuh nanti, dan juga sedikit menceritakan tentang hal yang membuat gadis itu mempunyai gangguan mental, dia merasa iba.


"Bunda lagi masak?"


Pertanyaan Nanggala membuat wanita berbalut celemek bunga itu pun tersadar dari lamunannya, dia lalu menatap anak itu dengan senyuman manis sambil mengangguk.


"Jia bantuin Bunda boleh ....?"


Keduanya yang mendengar suara lirih itu langsung menoleh bersamaan. Nanggala terkekeh kecil, sementara Yewina mensejajarkan tubuhnya dengan gadis itu dan menyentuh pundaknya lembut.


"Boleh dongg. Ayo bantuin Bunda?"


Jia tersenyum begitu manisnya membuat Yewina mengelus rambut panjangnya lembut. Hingga selanjutnya wanita itu menggandeng lengannya untuk menuju ke dapur, dan meninggalkan Nanggala seorang diri yang masih berdiri di ruang tamu.


Nanggala tersenyum tipis menatap punggung keduanya yang sudah hilang menuju ruangan lain. Tetapi beberapa detik kemudian, kakinya ikut melangkah kesana. Menyusul kedua perempuan yang di sayanginya itu.


Hingga tidak terasa hari pun sudah gelap, ketiga orang yang tadi masak bersama kini tengah sama-sama menikmati beberapa masakan buatan mereka.


"Jia makan yang banyak ya telur gulungnya??"


Gadis itu sedikit membungkukkan kepalanya dan tersenyum manis saat piring nasinya baru saja di isi dengan omelet telur buatan Nanggala tadi. Ya, makanan kesukaannya.


"Terima kasih, Bunda."


Yewina membalas senyuman itu tak kalah manis, "maaf ya, makanan di rumah Bunda cuma ini."


Jia yang mendengar itu dengan cepat menggelengkan kepalanya gemas, "Jia suka, Bunda!"


"Jia suka Bunda?" tanya Yewina berekspresi terkejut.


"Eh? Eum ... Eung! Jia suka Bunda! "


Gadis itu yang awalnya terlihat bingung, terdengar ceria di akhir kalimatnya. Tentu saja hal itu membuat keduanya terkekeh bersamaan.


"Masa sih Jia suka Bunda? Jia kan sukanya Nala?"


Kini Yewina berekspresi sedih sambil bertanya seperti itu tadi, membuat gadis di hadapannya langsung merubah raut wajahnya juga antara sedih dan bingung.


"Eum ... Jia juga suka Bunda ...."


Yewina tersenyum jahil disana, "Bunda atau Nala?"


"Nala! Bunda ... Nala ...."


Gadis itu benar-benar menggemaskan sekali. Nanggala sudah menahan tawanya sejak tadi, lelaki itu melirik sang bunda yang sepertinya juga tengah menahan kekehannya.


Hingga makan malam mereka selanjutnya di iringi dengan canda tawa mereka, juga Yewina yang sesekali masih menggoda gadis menggemaskan itu.


Nanggala hari ini sangat bahagia. Pergi bermain berdua dengan gadis itu hingga sore, bersepeda bersama, lalu di lanjutkan dengan makan malam mereka yang juga terasa sangat hangat.


Namun dia takut.


Dia takut ... akan terluka jika terlalu bahagia.

__ADS_1


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, sedangkan Nanggala baru sampai mengantar Jia ke rumahnya sekarang ini. Lelaki itu tidak takut akan terkena marah oleh Dharma akibat pulang bermain sampai malam. Karena dia yakin pria itu tidak akan memperdulikannya.


Yang dia takutkan adalah Jerga. Dia takut jika lelaki itu nanti semakin tidak memperbolehkan Jia bertemu dengannya.


Nanggala mengayuh sepedanya menuju ke depan rumah, sempat bingung dengan mobil yang terparkir di samping rumah tadi.


Bukan milik Dharma dan bukan milik Janan juga. Dia baru melihatnya.


Nanggala menarik lembut tangan Jia yang saling bertaut untuk memasuki rumah. Baru beberapa langkah keduanya masuk, pandangan mereka langsung terfokus kepada Jerga yang berdiri menghadap sofa ruang tamu. Seperti tengah menatap seseorang juga disana. Tetapi dengan tatapan tajam.


Mereka melangkah lebih mendekat, hingga Nanggala bisa melihat seseorang yang duduk di sofa itu dengan jelas. Seseorang yang membuat Jerga menatap tajam seperti itu.


Ah, bukan seseorang. Melainkan dua orang.


Mereka yang menyadari kedatangan Nanggala dan Jia pun sama-sama menolehkan kepala. Sama halnya dengan lelaki yang duduk berhadapan dengan Dharma disana.


Nanggala sedikit mengepalkan tangannya mengetahui seseorang itu. Tautan tangannya dengan Jia lantas dia eratkan.


"Jerga nggak setuju. Gimanapun, dia yang buat Kak Jia kayak gini."


Perkataan si bungsu baru saja itu membuat Dharma terkekeh kecil, "Papa nggak minta persetujuan kamu."


Jerga mengeram tertahan mendengarnya, sungguh dia tidak habis pikir lagi dengan ayahnya. Matanya kemudian melirik tajam lelaki yang sedari tadi duduk terdiam di hadapan sang ayah.


"Pergi lo." Perintahnya sinis.


Lelaki itu mengangkat kepalanya dan menatap Jerga tanpa ekspresi. Entahlah, tidak ada raut wajah sedih atau pun marah. Benar-benar tanpa ekspresi.


"Terima kasih, Om. Saya akan bertanggung jawab dan melamar Jia secepatnya."


Dugh! Prank!


Jia yang berada di samping Nanggala seketika memejamkan matanya dan semakin mengeratkan genggaman tangan mereka.


Semua yang berada di sini pun membulatkan mata terkejut, ketika dalam suasana hening tadi, Jerga dengan tiba-tiba menendang meja berukuran sedang berisi vas bunga yang cukup besar di depannya, hingga membuat benda itu pun pecah berserakan di lantai.


"JERGA!!"


Dharma yang tadinya duduk itu beranjak berdiri dan menatap putranya marah. Sementara si empu yang di tatap seperti itu tidak peduli, matanya masih setia menatap tajam ke arahnya dan ke arah lelaki yang masih duduk di sofa itu.


"Lo nggak tau malu? Atau gimana?"


Jerga tertawa sinis mendekatkan dirinya ke arah lelaki itu, "gampang banget lo ngomong kayak gitu? Lo nggak liat apa akibat yang lo perbuat ini? Ha?!"


Lelaki itu masih dengan wajah tanpa ekspresi, hanya mendengarkan suara keras Jerga yang tepat berada di hadapannya. Bibirnya masih terkatup rapat tanpa mau menjawabnya.


"Gue nggak akan pernah nyerahin Kakak gue buat lo. Berengs*k tetep berengs*k, Dev." Sinis Jerga penuh penekanan.


"Udah Papa bilang Papa nggak minta persetujuan kamu, Jerga!"


"Tapi dia yang udah buat Kak Jia sakit, Pa!" suara Jerga tak kalah seru, dia membalikan tubuhnya menghadap sang ayah.


"Udah nggak berguna bertanggung jawab sekarang! Kak Jia yang selama ini nerima semuanya sendiri! Nerima malu! Nerima sakit! Nerima sakit fisik dan batin karena cowok bajing*n kayak dia!!"


Suara Jerga benar-benar menggelegar di rumah besar ini, seperti menggema kemana-mana. Mata merahnya menatap ayahnya dan Maldev bergantian. Lelaki itu benar-benar sangat marah.


"Lucu, Pa," kekeh Jerga, "dulu Papa nggak suka dia. Dulu Papa nggak suka Maldev tapi sekarang apa? Karena dulu dia miskin sekarang udah kaya?"


"Jaga mulut kamu, Jerga!!"


Jia sudah menangis kecil di belakang tubuh Nanggala, dengan lelaki itu yang sedari tadi tidak berani ikut membuka suaranya. Hanya mendengarkan dari sini sambil menggenggam erat tangan gadis itu.


Merasakan ada yang menarik lengannya lembut, Jia menolehkan kepalanya ke belakang. Sama halnya dengan Nanggala, lelaki itu sempat bingung dengan kedatangan orang itu.


Dengan tatapan tidak seperti biasanya, Jihan menarik lembut lengan Jia untuk rencananya akan dia bawa menjauh dari sini. Lantas Nanggala yang mengerti pun ikut melepaskan genggaman tangan mereka dan menyuruh Jia untuk mengikuti sang kakak.


Dengan senyuman lembut Nanggala, Jia akhirnya mau mengikuti Jihan yang kini mulai menuntunnya menjauh dari sini.


Nanggala menghembuskan napasnya pelan, di tatapnya lagi ketiga orang yang masih saling menatap dengan tajam disana. Pandangannya terfokus kepada seseorang bernama Maldev, entah kenapa dadanya terasa sesak saat mendengar penuturan lelaki itu tadi.


Seperti ... lelaki itu akan mengambil Jia darinya.


Dia memberanikan diri untuk mendekat, lalu meraih lengan Jerga lembut membuat lelaki itu sekilas menoleh ke arahnya.


"Lo tau dia, 'kan?"


Nanggala menatap Jerga dari belakang, lelaki itu mengajukan pertanyaan tadi sambil menatap Maldev dengan senyum sinisnya.


"Orang yang lo dan temen-temen lo hajar habis-habisan hanya karena deket sama kak Jia?"


Sedikit terkejut, Nanggala menatap Jerga tak percaya. Dari mana lelaki itu tahu? Dia bahkan terus tutup mulut saat Jerga terus bertanya siapa yang membuatnya babak belur saat itu.


Mengingat kejadian itu membuatnya sakit kembali. Tubuhnya sangat sakit, bahkan hatinya. Luka itu masih membekas di hatinya, dan juga beberapa di bagian lain di tubuhnya.


Tubuhnya terkadang bisa tiba-tiba terasa nyeri dan pegal. Ya, di bagian yang di pukul ataupun di tendang oleh Maldev dan teman-temannya.


"Bener-bener cowok nggak tau malu. Lo pikir, dengan lo yang menghabisi dia kayak gitu, buat dia mundur dan kak Jia bakal nerima lo balik?" Tanya Jerga lagi dengan kekehan sinis.


"Nanggala yang selama ini di samping dia. Nanggala yang selama ini jaga dan ngelindungin dia. Nanggala yang nggak pernah mundur walaupun orang terus maju buat nyakitin dia. Nanggala orangnya, orang yang di sayangi kak Jia." Jelasnya panjang lebar di hadapan Maldev.


Nanggala tertegun mendengarnya, ada rasa sakit dan tidak percaya juga. Jerga berkata seperti tadi tentangnya di saat lelaki itu yang tengah membencinya karena insiden kematian sang ibu.


Tidak terasa matanya memanas. Jerga bahkan sejak tadi tidak melepas atau menepis tangannya yang memegang lengan lelaki itu.


"Dia ada selama orang berengs*k kayak lo nggak pernah di harapin sedikitpun. Denger lo, Dev?"


"Kalo kalian tetep ngelanjutin ini, Jerga bakal bawa kak Jia pergi."


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Siapa yang baperr, siapa yang emosii?? Wkwk...


...Terus dukung author dengan like, komen, dan wajib di tambahkan ke favorit yaa biar ngga ketinggalan ^^...

__ADS_1


__ADS_2