
Hari sudah semakin malam, kini semua murid sudah berada di kamar penginapan mereka masing-masing. Seperti yang sudah dikatakan tadi, kamar per kelas.
Nanggala masih duduk di atas kasurnya sambil memasukan kedua kakinya ke dalam selimut, hanya kakinya dan hanya sebatas mata kaki. Kepalanya menoleh ke samping kanannya, Rasen sudah terlelap sejak beberapa puluh menit yang lalu. Tangannya terulur untuk membenarkan selimut lelaki itu yang sudah turun sampai ke perut.
Bibirnya tersenyum tipis, lalu menghembuskan napasnya panjang. Tubuhnya kemudian beranjak dari duduknya lalu berdiri dan berjalan keluar kamar. Dia belum mengantuk, mungkin dengan berjalan-jalan sebentar sambil mencari angin akan membuatnya mengantuk nanti.
Nanggala melihat gazebo yang terletak di depan penginapan, kakinya melangkah ke sana dan duduk seorang diri.
Kling!
Sedikit terkejut, Nanggala merogoh ponselnya yang dia masukan ke saku celana training-nya itu, untuk melihat siapa yang mengirim pesan whatsapp di waktu yang sudah malam ini.
Baru saja Nanggala lihat nama pada notifikasi yang terpampang di layar lock screen-nya, bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman. Ibu jarinya kemudian dia gerakan ke atas untuk membuka pesan itu.
Jiara🍓
| Nala ....
| Udah tidur?
23.18
^^^Belum .... |^^^
^^^Jia kok belum tidur? |^^^
^^^Udah malem |^^^
^^^23.18^^^
| Belum
| Kangen Nala ....
23.19
Nanggala tersenyum lagi membaca pesan terakhir yang gadis itu kirim. Ah, jantungnya kenapa berdegup tidak seperti biasanya? Terasa ... lebih cepat?
Iya begitulah.
^^^Nala juga kangen Jia |^^^
^^^Tidur ya? Biar besok ketemu sama Nala |^^^
^^^23.20^^^
^^^Read^^^
Nanggala terkekeh, lama dia menunggu balasan, ternyata Jia hanya me-read pesannya saja. Gadis itu sepertinya benar-benar langsung tertidur.
Dasar. Menggemaskan sekali.
"Selamat tidur, cantik ...."
Bibirnya masih tersenyum sejak tadi sambil memandangi room chat mereka yang bahkan memang sudah tidak ada balasan lagi dari gadis itu. Pandangannya lalu teralihkan ketika dia merasakan ada seseorang di depan sana.
Kepala Nanggala mendongak, dan dia bisa melihat seseorang tengah berdiri tak jauh darinya itu menatapnya dingin. Namun, belum sempat dia membuka mulutnya, seseorang itu sudah membalikan badannya sepertinya akan melangkah pergi dari sini.
"Jer."
Suara lirih Nanggala membuat yang di panggil tadi menghentikan langkahnya.
Jerga di sana hanya melirik dengan ekor matanya tanpa mau membalikkan badannya lagi untuk menghadap Nanggala.
"Gue minta maaf ...."
"Gue minta maaf buat yang tadi."
Nanggala menatap punggung itu sendu, tubuhnya sekarang juga sudah berdiri. Hingga selanjutnya, Jerga yang berada di depannya akhirnya membalikkan tubuhnya dan menatapnya.
"Gue udah muak denger maaf dari lo."
Suara Jerga benar-benar dingin, tatapannya sinis, dia tidak peduli dengan lelaki di hadapannya yang menatapnya sayu itu. Rasanya benar-benar benci.
"Gue ... juga minta maaf buat yang dulu."
"Lo nggak punya kuping?" kakinya melangkah maju, "ah, lo kan emang nggak punya kuping. Lo nggak pernah denger kan semua panggilan telepon dari gue?" Panjang Jerga terkekeh sinis.
Nanggala yang mendengarnya hanya mampu menatap lelaki itu dengan tatapan bersalah, hatinya begitu sesak saat Jerga berkata seperti itu.
"Tapi gue tetep minta maaf—"
Bugh!
Nanggala membulatkan matanya ketika tangan Jerga dengan tiba-tiba melayang ke kayu gazebo di sampingnya. Jerga memukul kayu itu sangat keras. Meskipun itu adalah kayu yang tidak sekeras batu, namun dia yakin itu pasti sangat sakit.
"Tepatin aja janji lo."
"Jangan pernah bikin kakak gue sakit lagi."
"Tapi, jangan harap semua itu bisa buat gue maafin lo."
Tubuh Nanggala sedikit terdorong ke belakang saat Jerga mendorong dada bagian kirinya. Kini, lelaki itu hanya bisa menunduk, menunduk dengan rasa sakitnya, sementara Jerga sekarang sudah benar-benar pergi dari hadapannya.
.......
.......
.......
Di sinilah mereka pagi ini, pagi mereka menyusuri jalanan yang di hiasi banyaknya bunga mawar sepanjang jalan. Sinar matahari juga menghangatkan tubuh mereka.
Taman Bunga Nusantara adalah tempat wisata mereka pagi ini, karena mungkin pagi menjelang siang nanti mereka akan kembali ke Jakarta.
Nanggala tersenyum, kepalanya menoleh menatap gadis yang berjalan di sampingnya. Tangan mereka sedari tadi saling bertautan, berjalan-jalan menyusuri jalan yang di kelilingi berbagai macam bunga mawar. Lelaki itu ikut tersenyum kala melihat Jia tersenyum lebar sambil matanya masih sibuk menatap kesana-kemari.
"Jia suka?"
Gadis itu menoleh, "suka!"
Nanggala terkekeh lagi sambil mengusap puncak kepala Jia, sedangkan gadis itu kembali fokus dengan kegiatannya yang sejak tadi tidak lepas menatap bunga-bunga di sekelilingnya.
"Bonny~ Cantik kan bunganya??" Jia tertawa kecil.
Tentu saja, tangan yang sedang tidak bertaut dengan Nanggala, sejak tadi memeluk si putih Bonny. Sesekali mengangkat Bonny seperti memerintahkan kepada benda mati itu untuk melihatnya juga.
Nanggala tersenyum lembut menatapnya. Bonny sekarang terlihat lebih lucu, beberapa hari yang lalu, Jia memasangkan jepit rambut berbentuk strawberry kecil di telinga panjang boneka itu.
"Halo, Jia!"
"Acca!"
Jia tersenyum lebar saat Haksa muncul di hadapan mereka. Sedikit mengagetkan memang karena lelaki itu melompat dari samping, Nanggala saja sampai mengelus dadanya karena terkejut.
Setelah itu Jia melambaikan tangannya ketika Yora berjalan di belakang Haksa.
"Rasen mana?"
"Emang kita lagi cari nih, ilang dari tadi dasar tuh anak, semoga aja nggak di hap sama serangga."
"Ngarang lo kambing!"
Haksa meringis saat lengannya di tabok oleh Yora yang berdiri di sampingnya, lalu dia memandang gadis itu sinis.
"Eh, kalian ayo foto! Haksa ganteng yang fotoin!"
Tangan kiri Haksa mendorong pelan bahu Nanggala ke belakang, memerintahkan lelaki itu untuk mundur dan memposisikan diri. Sementara tangan kanan Haksa yang memang sejak tadi memegang kamera kecil miliknya.
Haksa juga mundur ke belakang, dia mengarahkan kameranya dan siap menangkap gambar mereka.
"Deketan dong, ah!"
Nanggala hanya tersenyum kikuk di sana, sementara Jia sejak tadi tidak pernah melunturkan senyum cerianya. Lelaki itu lalu sedikit menggeser tubuhnya ke kiri, sedikit terkejut saat Jia melepaskan tautan tangan mereka, dan di lanjutkan dengan gadis itu yang memeluk lengan kirinya.
__ADS_1
Dia tersenyum hangat menatapnya. Gadis itu menatap ke arah Haksa sambil menyenderkan kepalanya pada lengan kirinya. Dengan tangan kanan yang memeluk lengannya, serta tangan kiri yang memeluk Bonny.
Ckrek
"Oke, nice!"
Suara Haksa bahkan tidak membuat Nanggala mengalihkan pandangan matanya, dia masih asik menatap gadis di sampingnya.
"Woah! Hasilnya bagus banget! Pinter juga gue ya!"
"Nanti gue kirim lewat whatsapp ya, Na!"
Bahkan ketika Haksa dan Yora sudah pergi dari hadapan mereka pun, mata Nanggala masih menatap hal yang sama.
"Nala ....?"
"Hm?"
"Kenapa liatin Jia?"
"Eum, Nala ...."
Jia masih menunggu apa yang akan Nanggala ucapkan, tapi seketika gadis itu menutup kedua matanya, dan selanjutnya dia bisa merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menempel pada keningnya.
Nanggala menjauhkan wajahnya lagi, lalu perlahan mata gadis itu terbuka dan menatapnya. Ada tatapan malu disana, Jia langsung menunduk sambil menyembunyikan senyumannya. Dia pun tersenyum manis melihatnya.
Bukan tanpa sadar Nanggala melakukan itu, dia benar-benar sadar saat melakukannya. Dan dia senang. Entah kenapa hatinya menjadi hangat, entah kenapa dia memang mulai menyayangi gadis itu. Sepertinya warna bunga mawar di belakangnya ini mewakili kata-kata hatinya sekarang ini.
Dia pernah membaca, bunga mawar warna kuning dengan ujung sedikit merah menyimbolkan seseorang yang sedang jatuh cinta.
Ah, Nanggala jadi malu sendiri.
"Yes!"
Suara itu membuat Nanggala dan juga Jia menoleh ke arah depan. Dan Nanggala begitu terkejut saat melihat Haksa di sana tengah mengarahkan kamera ke arahnya. Dia juga bisa melihat Yora yang tengah tersenyum sambil menutupi mulutnya dengan tangan.
Ah, Nanggala sangat malu! Kenapa juga mereka berdua kembali lagi kesini?
"Nala mau ke toilet dulu, Jia sama Haksa sama Yora, ya?"
Nanggala dengan cepat menuntun Jia untuk berjalan mendekati Yora, dia benar-benar akan bersembunyi sejenak saat ini. Tanpa sepatah kata, lelaki itu berjalan pergi dari hadapan mereka, berlari kecil ke arah kiri hingga dinding-dinding bunga mawar ini mampu menutupi tubuhnya.
Ah ... Nanggala berharap mereka tidak mengejeknya setelah ini.
"Nanggala?"
Sedikit terkejut ketika ada yang memanggil namanya, lelaki itu menoleh ke samping.
"Iya, Pak?"
"Bapak cari kamu dari tadi."
Shandy tersenyum sambil menepuk pelan pundak lelaki itu.
Ada apa wali kelasnya mencarinya? Pikir Nanggala.
"Ada apa, Pak?"
"Ayo duduk dulu?"
Nanggala hanya menuruti perintah Shandy, mereka berdua duduk di salah satu kursi taman ini, kursi panjang yang terletak tidak jauh dari mereka. Lalu Shandy-pun memulai pembicaraannya.
Sedikit panjang memang, Nanggala sedari tadi terlihat sesekali mengangguk.
"Gimana? kamu mau, 'kan?"
Shandy menatap anak itu penuh harap.
"Eum ... Mau kok, Pak."
Pria itu tersenyum lega mendengarnya. Dia memang sudah lama terpikirkan ini, sudah ingin sekali membicarakan ini dengan Nanggala.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
Awan abu-abu mengawali pagi ini, tidak ada matahari yang menyapa. Masih pagi saja langit Jakarta sudah semendung ini. Nanggala dan Jia baru saja sampai di sekolah, mereka berjalan beriringan di koridor. Sudah banyak anak yang berangkat, karena bell masuk sepertinya juga sebentar lagi akan berbunyi.
Baru saja melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam kelas, banyak pasang mata yang langsung tertuju ke arah mereka.
Bukan Jia. Melainkan menatap Nanggala.
Nanggala sendiri-pun bingung kenapa anak kelas menatapnya dengan tatapan seperti itu. Ada yang sinis, tidak percaya, sambil berbisik-bisik juga.
"Wah, anak pembunuh udah dateng nih!"
Deg
Nanggala dengan cepat menatap seseorang yang berkata seperti itu tadi. Disana, banyak orang yang sudah tertawa sinis menatapnya. Kata-kata itu, dia sudah lama tidak mendengar kata-kata itu. Dan dia juga berharap tidak pernah mendengar kata-kata itu disini.
Tetapi kenapa ....
"Woy! Nggak tahu malu banget sih lo? Udah miskin, bapaknya pembunuh lagi, hahaha!"
Tubuh Nanggala sekarang gemetar, jantungnya berdegup dengan sangat cepat, apalagi rentetan kata umpatan dan makian yang kini kian banyak di dengar oleh telinganya. Kepalanya menoleh ke samping, Jia tengah menatapnya dengan tatapan bingung. Genggaman tangannya pada tangan gadis itu dia eratkan.
Nanggala juga bisa melihat, Rasen dan Yora menatapnya dengan tatapan tidak percaya di sana. Jujur ... dia takut, dia takut kalau mereka juga akan membencinya. Sudah cukup dia dibenci teman-teman di sekolahnya yang dulu. Bahkan tetangga di sekitar rumahnya juga ikut membenci keluarganya.
"Nanggala Aksha, laki-laki miskin, anak seorang pembunuh."
"Diem lo, Lin!" Seru Yora membuat gadis itu menatapnya sambil terkekeh sinis.
"Emang bener, 'kan? Lo masih mau temenan sama anak seorang pembunuh?"
Yora tidak menjawab pertanyaan Kheylin, kepalanya menoleh ke depan lagi dan menatap Nanggala sendu.
"Jia ...."
Gadis di sampingnya tidak menjawab, kepalanya sudah menunduk. Nanggala bisa merasakan tubuh gadis itu gemetar takut, dan dia juga bisa merasakan tangan gadis itu meremas telapak tangannya erat.
Pandangan mata Nanggala mengabur, hatinya terasa sangat sesak sekarang ini. Dia masih berdiri di dekat pintu bersama gadis itu. Yang bahkan, makian dari anak-anak kelas belum hilang sejak tadi.
Kini, jam sudah menunjukkan waktunya istirahat. Banyak anak-anak yang sudah pergi ke kantin, namun tidak dengan Nanggala, lelaki itu masih terdiam di bangkunya.
"Na."
Suara itu membuat yang dipanggil namanya menoleh ke samping kanannya. Nanggala menatap Rasen yang kini sudah berdiri di samping bangkunya, namun kemudian kepalanya menunduk lagi.
"Gue ... nggak tau kalo ayah lo ...."
Lelaki itu tidak dapat melanjutkan kata-katanya ketika Nanggala mendongak menatapnya lagi.
"Ayah gue bukan pembunuh."
Rasen yang menyadari nada lelaki itu mulai dingin, tangannya terulur untuk menyentuh pundaknya, "gue ngerti Na, gue ngerti ini berat buat lo."
Lelaki itu semakin menatap Rasen sinis, "lo sama aja kayak mereka, Sen." Dan selanjutnya dia menepis tangan si empu dari pundaknya.
Tangannya lalu menarik Jia untuk pergi dari sini, tanpa memperdulikan Rasen dan Yora yang menatapnya sayu.
Keadaan kantin saat ini lumayan ramai, Nanggala berjalan membawa nampan makanannya, begitu juga Jia yang berjalan di sampingnya sambil dituntun olehnya. Banyak pasang mata yang menatapnya sinis disini, tetapi dia tidak memperdulikan itu. Dia hanya ingin makan siang bersama Jia dengan tenang, dia harap tidak ada yang mengganggunya sekarang.
Setelah sampai di meja yang sudah terisi oleh beberapa murid, baru saja Nanggala meletakkan nampannya, murid-murid di sampingnya langsung beranjak pergi dari sini. Dia menundukkan kepalanya, lalu menuntun tubuh Jia untuk duduk dan mulai memakan makanannya.
Nanggala bisa mendengar desisan para murid yang berada di meja depan maupun belakangnya. Sepertinya berita itu sudah menyebar ke seluruh sekolah. Lelaki itu menghela napasnya pendek, tangannya meremas kuat sendok yang ada pada genggamannya.
Kepalanya lalu mendongak saat merasa ada seseorang yang duduk di bangku depannya. Seseorang itu tersenyum manis kepadanya. Ah, bukan seseorang, namun dua orang.
Dadanya sesak. Sejak di perjalanan kantin tadi Nanggala terus menyalahkan dirinya sendiri, merutuki kata-katanya yang dia lontarkan kepada lelaki itu beberapa menit yang lalu.
Tidak seharusnya dia berkata seperti itu kepada Rasen.
Rasen baik. Dia tidak seperti mereka.
__ADS_1
"Kita disini sama lo, Na."
Yora yang duduk di samping Rasen-pun mengangguk cepat dengan senyum manisnya, sangat menyetujui ucapan lelaki itu tadi.
"Sen ... Maafin gue ..." lirih Nanggala menatap lelaki itu sayu.
Sementara Rasen tersenyum hangat dan mengangguk.
Lelaki itu tahu, Nanggala hanya emosi tadi. Lagi pula benar atau tidaknya tentang berita tadi, benar atau tidaknya bahwa ayah Nanggala seorang pembunuh, Nanggala hanyalah seorang anak, bukan pembunuhnya.
Tidak mungkin Rasen ikut membencinya karena itu. Dia tidak seperti itu.
"Dia bukannya yang anak pembunuh itu, ya?"
"Iya, anak baru yang miskin itu."
"Dih, udah miskin, keluarga pembunuh lagi?"
"Kenapa nggak mati aja sih?"
"Kayaknya sih semua keluarganya di kutuk."
Nanggala hanya bisa melirik itu dengan ekor matanya. Suara yang sedikit keras itu dari arah belakangnya, hal itu juga membuat Rasen menatap mereka dengan sinis dan napas yang tertahan.
Puk!
Kepala Nanggala refleks sedikit terdorong ke depan saat sebuah benda melayang dari belakang dan mengenai kepala belakangnya. Hingga tak lama cairan pink perlahan mengalir melalui lehernya.
Rasen dan Yora yang melihat itu pun sama terkejutnya, bisa dia lihat beberapa orang di depannya melempari Nanggala dengan sebotol jus yang sudah terbuka penutupnya.
Belum sempat Nanggala menoleh, beberapa botol kecil berisi berbagai macam jus itu bertubi-tubi melayang ke kepala belakangnya. Hal itu tentu saja membuatnya langsung menarik kepala Jia untuk menunduk, melindungi kepala gadis itu dan memeluknya dari samping. Sementara sang gadis langsung menutup matanya.
Nanggala meringis kecil beberapa kali, rambut belakangnya kini sudah basah oleh cairan pink dan lainnya lagi, bahkan seragam bagian punggungnya mungkin sama. Beberapa juga ada yang terlempar ke meja, sehingga membuat Rasen dan Yora melindungi wajah mereka dengan tangan. Tak jarang juga airnya akan terciprat ke wajah mereka.
"Dasar anak pembunuh!"
"Mati aja lo miskin!"
Lemparan itu lama-lama menghilang, sepertinya mereka sudah puas, atau memang benda yang digunakan untuk melemparinya sudah habis. Nanggala tidak berniat menolehkan kepalanya ke belakang untuk melihat siapa-siapa saja yang melemparinya tadi.
"Woy, miskin!"
Rasen menghela napasnya kasar ketika melihat Yunan dan teman-temannya menghampiri meja mereka.
"Bapak lo pembunuh? Haha, nggak nyangka gue."
Kepala Nanggala terdorong ke samping ketika jari telunjuk Yunan mendorong keningnya. Lelaki itu hanya diam, dia sejak tadi terus menggenggam tangan Jia yang masih menundukan kepalanya itu.
"Makanya jadi orang nggak usah belagu." Bisiknya tepat di telinga Nanggala.
Bruk! Bruk!
Rasen dan Yora yang melihat itu langsung terkejut. Sama halnya dengan Nanggala, dia hanya diam menatap nampan makanannya yang baru saja dijatuhi beberapa sampah dari atas.
Gasta dan Senno tertawa dengan apa yang mereka lakukan tadi, yaitu menjatuhkan sampah-sampah di atas nampan makanan Nanggala. Beberapa ada yang sampah kering, dan beberapa ada yang basah.
Yunan menekan kepala Nanggala ke bawah, "makan."
Lelaki itu sedikit memejamkan matanya, dia berusaha menahan kepalanya agar tidak menyentuh makanannya yang sudah berisi sampah itu.
"Makan!"
"Yunan! Lo udah keterlaluan!"
"Nggak usah sok jadi pahlawan lo!" Decak Yunan menatap Rasen di hadapannya sinis.
Sementara di lain tempat, lelaki yang sejak tadi melihat kejadian di meja itu, tengah mati-matian menahan tubuhnya untuk tidak berlari ke arah sana. Dia hanya mampu menggertakan giginya, dengan tangan yang mengepal kuat sejak tadi.
Jerga, sorot matanya begitu tajam.
.......
.......
Kejadian tadi di sekolah benar-benar membuat Nanggala semakin di bully. Dia sendiri bingung, dari mana mereka tahu jika ayahnya seorang pembunuh? Guru di sekolah? Shandy? Tetapi dia yakin mereka tidak akan dengan mudah membeberkan itu.
Ah, tidak. Ayahnya bukan seorang pembunuh.
Nanggala tetap yakin kejadian yang dulu itu salah, semua itu hanya kesalahpahaman. Kesalahan yang membuat keluarganya hancur seperti ini. Nanggala yakin ayahnya bukanlah orang seperti itu.
"Nanggala?"
"Ah, iya Kak?"
Anak itu sedikit tersentak ketika lelaki bertubuh tinggi yang berdiri di sampingnya itu menepuk bahunya.
"Kakak udah panggil dari tadi loh, ngelamun terus." Jayden terkekeh.
"Aku minta maaf, Kak." Dia menundukkan kepalanya tak enak.
"Udah nggak papa," lagi-lagi Jayden menepuk pelan bahu itu, "anterin ini ke maja sana ya?"
"Baik, Kak."
Nanggala mengangguk dan dengan cepat meraih nampan yang berisi beberapa minuman dan camilan itu, kakinya melangkah menuju tempat yang Jayden tunjukkan tadi. Sejenak menghentikan langkahnya, dia menghembuskan napasnya panjang ketika melihat orang-orang yang duduk di meja yang memesan pesanan ini.
"Halo, miskin!"
Nanggala mengabaikan itu, tangannya fokus meletakkan minuman dan makanan-makanan di nampannya, tentu saja membuat Yunan terkekeh sinis menatapnya.
"Sana dah, gue lagi nggak mau ganggu lo malem ini!" Yunan sedikit berteriak, karena memang dentuman musik terdengar keras.
Nanggala lalu berlalu pergi tanpa mengucapkan kata-kata apapun, Yunan dan teman-temannya langsung tertawa sinis lagi.
"Dasar miskin nggak tau diri." Desis Yunan menyeruput minuman yang di antarkan anak itu tadi.
Gasta menatap Yunan lama, seperti ingin mengucapkan sesuatu. Namun dia terlihat bingung.
"Nan?"
"Hmm." jawabnya sambil mengangkat alisnya.
"Lo ngerasa, kayak pernah ketemu anak itu nggak sih?"
Alisnya semakin mengernyit, Yunan menatap yang bertanya seperti tadi bingung, "anak itu siapa?"
"Ck, si miskin."
Yunan masih belum menjawabnya, lelaki itu berpikir sejenak. Bertemu Nanggala? Dia rasa baru kali ini dia bertemu dengan lelaki itu. Pernah kah? Dia tidak ingat.
"Ngarang aja lo!"
Kini giliran Gasta yang terdiam dan tidak menjawab, otaknya pun mencoba berputar dan berpikir. Dia tetap merasa pernah bertemu dengan Nanggala, namun untuk kapan dan tempatnya dia tidak begitu ingat.
Ah, sudahlah. Kenapa Gasta jadi memikirkan anak miskin itu? Menyebalkan sekali.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Hmm, kira kira cuma rumor atau fakta ya tentang ayah Nanggala?...
...Jangan lupa vote dan komen~!...
__ADS_1