NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
24. Seharusnya Aku


__ADS_3

Pagi hari di kediaman keluarga Abhicandra masih terlihat sepi, hanya ada bibi yang sejak tadi sudah berjalan kesana-kemari sambil membuat sarapan untuk keluarga tersebut.


Janan baru turun dari tangga lalu matanya mengendar, baru dirinya yang bangun? Hari ini adalah weekend, lelaki itu tidak ada kegiatan kuliah dan seharian ini dia free di rumah. Dia berjalan ke arah meja makan, meneguk sedikit air putih yang berada di atas meja itu dan mulai membuka buku yang tadi di bawanya dari kamarnya.


Baru beberapa kalimat yang Janan baca dalam hatinya, pandangannya teralihkan kepada sang adik yang mulai menuruni anak tangga. Langkahnya terlihat lemas, wajahnya sedikit pucat.


Janan tahu, dia tahu adiknya baru saja di pukuli oleh ayahnya lagi kemarin. Dia melihat sendiri dari atas bagaimana adiknya di pukuli beberapa kali dengan tongkat baseball besi.


Namun dia hanya terdiam. Terdiam mengabaikannya dan kembali ke kamarnya lagi.


Jerga mengangkat kepalanya, menatap sang kakak datar, lalu melangkah pelan menuju dapur. Ingin meminta di buatkan teh hangat, karena kepalanya kini terasa sangat pusing.


"Loh, lagi ngapain, Kak?" tanya Jerga sesampainya dia di dapur.


Melihat Jia yang sudah ada di dapur lebih dulu dan terlihat sedang membuka kulkas, membuatnya bertanya seperti itu tadi.


Jia menoleh, lalu tatapannya sedih menatap tubuh Jerga, apalagi lelaki itu yang sejak tadi memegangi lengannya di tempat bekas pukulan kemarin.


Sementara sang empu yang mengerti lalu tersenyum hangat, dia mendekatkan dirinya ke arah kembarannya, "Jerga nggak papa ... Kakak jangan sedih."


"Beneran ...?" tanyanya dengan mata sendunya.


Lelaki itu terkekeh kecil lalu menganggukkan kepalanya, "beneran ... Lagi ngapain?" tanyanya lagi yang melihat kakaknya belum juga menutup kulkas itu.


"Cari susu ... Habis ..." lirihnya sedih.


"Jerga beliin dulu, ya?"


"Tapi ...."


"Jerga nggak papa. Jerga beli dulu, ya?"


Jia akhirnya mengangguk dan membiarkan sang adik pergi untuk membeli susu.


Lelaki itu sepertinya kembali ke kamar terlebih dahulu mengambil jaket, dan tidak lama kemudian turun lagi sambil membawa kunci motornya.


"Bibi, Jia aja."


Wanita yang di panggil itu menoleh ketika nona mudanya menghentikan jalannya. Tangan gadis itu terulur, meminta dua piring yang tengah di bawa bibi. Sementara bibi hanya tersenyum, menyerahkan dua piring berisi lauk sarapan keluarga ini yang tadinya akan dia antarkan ke meja makan.


Jia sudah mengambil alih, dengan sangat hati-hati gadis itu membawanya ke meja makan. Langkahnya sempat terhenti kala mendapati Janan duduk di salah satu kursi di meja makan itu.


Menunduk takut, Jia melanjutkan lagi langkahnya. Setelah sampai lalu meletakan semua dengan hati-hati.


Gadis itu semakin menunduk ketika Janan menatapnya dengan wajah datarnya. Terdengar helaan napas panjang juga di sana, di susul oleh lelaki itu yang meraih air putih lagi dan meminumnya.


Duk


Suara itu membuat Janan melirik ke arah meja makan lagi, dia bisa melihat tangan gadis itu yang sepertinya tidak sengaja menyenggol gelas berisi susu hangat.


Kepalanya terangkat dan menatap mata itu, sorot mata ketakutan bisa dia lihat di mata adiknya. Sedikit melemas, dia menghembuskan napasnya panjang. Setakut itu kah adiknya kepadanya? Tangannya juga terlihat bergetar sambil meraih tissue yang berada di atas meja.


Pandangan Janan turun ke bawah, dan berhenti di perut Jia. Perut yang kini sudah kelihatan membesar dari waktu ke waktu. Tangannya refleks meremas buku pada genggamannya.


"Udah, Kakak aja."


Suara berat Janan membuat Jia sedikit mendongak, namun tentu saja matanya masih tidak berani melakukan kontak mata dengan kakak sulungnya.


Janan beranjak dari duduknya, meraih beberapa lembar tissue dan ikut membersihkan tumpahan susu itu di meja. Gerakan tangannya pelan, sempat menyentuh tangan adiknya namun gadis itu menarik tangannya cepat. Hal itu membuatnya menatap lagi.


Tatapan Janan berubah sendu. Ada rasa ... sedikit kasihan melihat adiknya seperti itu.


Jia kini menunduk, benar-benar ketakutan. Lalu tubuhnya berbalik ke belakang, tetapi sedikit terkejut karena gadis itu menabrak sesuatu.


Prank!


"Argh, panas!"


Napas Jia memburu, tubuhnya semakin gemetar, kepalanya dia tundukkan lebih dalam.


"Lo buta ya?!!"


Jihan menatap marah ke arah Jia, dia mengibas-ngibaskan kakinya yang sempat tersiram teh panas yang dia bawa tadi, sebelum tubuh Jia berbalik dan langsung menyenggol gelas yang di genggamnya.


"Buta lo?! Hah?!!" bentaknya lagi sambil beberapa kali mendorong kening Jia.


Jia sudah mulai terisak disana, rambutnya sudah berantakan karena dorongan Jihan pada keningnya cukup kencang.


Janan yang melihat itu pun membulatkan matanya, dengan cepat memutari meja makan yang cukup besar itu dan menghampiri mereka berdua. Tangannya menarik bahu Jia sedikit ke belakangnya, "lo apaan sih?!" serunya.


Hal itu tentu saja membuat Jihan menghentikan gerakan tangannya, lantas matanya melirik sinis Janan lalu terkekeh.


"Lo nggak liat minuman gue jatuh? Kena kaki gue, karena si gila itu!" tangan Jihan bergerak untuk meraih rambut panjang Jia, namun di tepis kasar oleh Janan.


"Di obatin juga nanti sembuh. Nggak usah pakai tangan bisa, 'kan? Nggak usah teriak."


Jihan menatap tak percaya sang kakak, yang dia tahu selama ini di rumah tidak ada yang menyukai gadis itu selain Jerga, "lo kok malah belain dia sih, Kak?"


Janan masih menatap Jihan dengan mata tajamnya, tubuhnya dia balikan ke belakang, dengan tangan yang masih memegang kedua bahu itu.


"Jia masuk ke kamar aja, ya?" perintahnya lembut.


Jihan semakin menatapnya tak percaya. Sejak kapan kakaknya berbicara lembut seperti itu? Bahkan dengan gadis gila itu. Dan semuanya yang terjadi tadi berhasil membuatnya terkekeh sinis.


.......


.......


Nanggala mulai membuka pintu di hadapannya, matanya langsung menangkap sosok gadis yang duduk di karpet sambil menulis di meja kecil yang biasa mereka gunakan untuk belajar. Ya, malam ini mereka akan belajar bersama, karena besok kelas mereka mengadakan ulangan.


Jia yang mendengar suara pintu terbuka lantas menoleh, "Nala?"


Nanggala tersenyum dan melangkah untuk duduk di sana. Dia duduk berhadapan dengan gadis itu.


"Maaf ya, Nala lama. Tadi bantuin budhe Thalia dulu." lelaki itu tersenyum.


"Nggak papa, Nala." Balas Jia.


Nanggala sempat bingung sebenarnya, kenapa gadis itu sangat diam sejak tadi? Air wajahnya saja terlihat sedih. Dirinya lalu tersenyum manis.


"Nala bawain Jia kue strawberry~"


Dia mengambil kotak mika kecil yang sejak tadi di sembunyikan di belakang tubuhnya dan langsung menunjukannya di depan gadis itu.


Dan lihatlah, ada senyuman di sana, tidak seperti tadi. Hal itu tentu saja membuat Nanggala tersenyum lembut melihatnya.


"Makasih, Nala!" Jia tersenyum senang dan meraih kue itu, terlihat sangat cantik dengan cream berwarna pink.


"Sama-sama." Tangan Nanggala terulur untuk menyentuh puncak kepala itu dan mengusapnya lembut.


Bibirnya terus tersenyum dengan matanya yang masih memperhatikan gerakan gadis itu yang mulai membuka kotak mika tersebut. Tentu saja tidak ada pita, tali, atau semacamnya lagi, Nanggala masih ingat kalau gadis itu sangat takut dengan pita di kotak mika yang dulu dia bawa.


Setelah di buka, langsung saja Jia melahap kue strawberry tersebut, bahkan tidak menggunakan sendok atau garpu. Memang hanya sepotong tidak terlalu besar, Nanggala membawanya hanya untuk gadis itu.


Nanggala terkekeh kecil kala melihat cara makan Jia, area bibirnya beberapa sudah ada yang belepotan, hal itu membuat tangannya terulur lagi. Kali ini untuk mengusap cream yang menempel di sekitar bibir itu, membersihkannya pelan.


"Pelan-pelan ..." titahnya lembut.


Nanggala masih tersenyum sambil memandangi Jia yang asik memakan kuenya. Sesekali terkekeh kecil saat tingkah gadis itu yang terkesan gemas.


"Ash ...."

__ADS_1


Jia yang mendengar itu pun menoleh, dia menatap lelaki di hadapannya yang seperti tengah kesakitan, kunyahannya juga mendadak terhenti.


Nanggala meringis kecil, tangan kanannya lelaki itu gunakan untuk memegang kepalanya.


"Nala ..." panggilnya lirih.


Yang di panggil tidak kunjung menjawab, lelaki itu kini sudah memegangi kepalanya dengan tangan satunya lagi, matanya dia pejamkan kuat, tubuhnya sedikit membungkuk. Dan benar-benar membuat dia semakin khawatir.


Jia mendekatkan tubuhnya pada Nanggala, bergeser pelan-pelan, ingin sekali meraih tangan itu dan bertanya kenapa, tetapi si empu masih terus kesakitan. Sungguh membuatnya takut.


"Nala ..." panggilnya lagi dengan suara lirih dan bergetar.


Nanggala masih memejamkan matanya kuat, dia mulai menariki rambutnya. Dia tidak ingin berteriak seperti halnya di rumah jika sakit ini datang, dia tidak ingin membuat gadis itu lebih khawatir atau takut.


Tetapi begini saja, Jia sudah sangat ketakutan.


"Nala ... hiks."


Mendengarnya, Nanggala mulai melepaskan kedua tangannya yang sejak tadi menarik kencang rambutnya sendiri. Lelaki itu mengangkat kepalanya dan menatap mata itu sayu.


"Nala nggak papa ..." lirihnya mencoba tersenyum.


Nanggala berusaha untuk tersenyum dan menenangkan Jia yang mulai panik dan takut. Meskipun rasa sakit di kepalanya membuatnya sangat ingin membenturkan kepalanya ke dinding saat ini juga.


.......


.......


.......


Kedai camilan sekolah siang ini terlihat sangat ramai. Kedai yang menjual berbagai macam snack dan jajanan yang lainnya. Meskipun mendung dan anginnya sangat dingin, tidak membuat mereka cepat-cepat kembali ke kelas. Antrian di kedai terlihat ramai.


Haksa saja sejak tadi tidak berhentinya mengeluh, sampai berteriak di antrian belakang. Hal itu membuat Rasen yang tepat di belakangnya beberapa kali memukuli mulut kembarannya.


Beruntung memang mendung, tidak panas. Hawanya sangat dingin namun enak.


"Nala, sebentar."


Nanggala menoleh mendengar itu, tangannya yang sejak tadi bertautan dengan tangan Jia, gadis itu lepaskan perlahan. Sempat bingung, namun dia langsung mengerti ketika melihat gadis itu merogoh saku rok seragamnya dan mengeluarkan ponselnya dari sana.


Nanggala membiarkan Jia membaca pesan yang baru saja gadis itu terima, mengulas senyum lembut, dia kembali memperhatikan antrian yang sudah tidak sepanjang tadi.


Jia melihat pesan itu sedikit panik, matanya mengendar, lalu perlahan tubuhnya mundur dan berjalan keluar dari antrian. Lalu setelah berhasil keluar, gadis itu berlari kecil dengan wajah sedihnya.


"Na, lo udah baikan sama Jerga?"


Lelaki itu melirik Rasen yang bertanya seperti tadi.


"Iya, Sen." Balasnya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Rasen hanya menganggukkan kepalanya mendengar itu. Dia tidak tahu masalah mereka apa, sehingga membuat Jerga seperti tidak menyukai Nanggala dulu saat lelaki itu baru masuk ke sekolah ini.


Tidak akan bertanya banyak, ini masalah mereka, dia tidak akan ikut campur, yang terpenting mereka sudah berbaikan.


"Na, Jia mana?"


Nanggala yang mendengar itu lantas menolehkan kepalanya ke sampingnya, lalu ke belakang, sedikit memutar tubuhnya. Matanya membulat.


Dia tidak menemukan adanya Jia disini. Kemana gadis itu?


Bukankah tadi dia hanya berpaling ketika membiarkan gadis itu membaca pesan yang di dapatnya?


Nanggala menatap Rasen, lelaki itu sama paniknya dengannya.


"Sa, Jia ilang."


"Whaat?!"


Mereka bertiga langsung saja keluar dari antrian setelah mendapat intruksi dari Rasen sambil berlari kecil melihat sekeliling, siapa tahu gadis itu belum jauh.


Memang baru saja, Nanggala baru saja memalingkan wajahnya sebentar. Dia menyesal melepaskan genggaman tangan mereka.


"Kita berpencar aja, lo sama Yora, gue sama Nanggala." Perintah Rasen yang langsung mendapat anggukkan kepala dari keduanya.


Tidak dengan Haksa.


"Acca mau sama Accen!"


"Gue tabok lu ya?" sinis Rasen menatap Haksa.


Malas sekali, di saat yang seperti ini Haksa masih memikirkan yang seperti itu, dan membuat Rasen ingin sekali menendang lelaki itu ke bulan.


"Ada apa?"


Ke empat orang itu sama-sama menoleh, dan mendapati Jerga yang baru saja datang ke hadapan mereka.


"Jia ...."


Nanggala sedikit takut menatap mata Jerga, takut-takut lelaki itu akan marah dengannya. Ini kedua kalinya Jia hilang karenanya.


Jerga yang sadar tidak ada kakaknya di antara mereka, dan melihat ekrpresi mereka saat ini langsung mengerti, matanya mulai membulat, perlahan menatap Nanggala yang tepat di hadapannya.


Bukan. Bukan tatapan marah atau menyalahkan. Itu adalah tatapan khawatir.


Jerga dengan cepat langsung berlari menjauh, membuat Nanggala mengikuti lelaki itu. Lalu Rasen, akhirnya memutuskan untuk mencari bertiga dengan Haksa dan juga Yora.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


"Jerga ....?"


Kakinya perlahan melangkah masuk, matanya menatap sekeliling.


Ada rasa takut memang, terakhir dia disini saat dia melihat langsung Nanggala di pukuli Yunan, serta dirinya yang akan di lepaskan seragamnya oleh Kheylin.


Gudang.


Tangannya meremas kuat ponsel yang sejak tadi di genggamnya.


"Eh, Jia? Cepet banget sih datengnya?"


Suara itu begitu menggema di gudang. Tubuh Jia sudah mulai gemetar di sana, perlahan dia putarkan tubuhnya ke belakang dan setelah melihat sosok itu. Kini rasa ketakutannya semakin besar.


Bayangan saat beberapa gadis itu mencoba melepas seragamnya sambil merekamnya seketika terputar di otaknya. Kakinya dengan buru-buru melangkah untuk menuju ke pintu keluar, meski harus melewati mereka.


Satu orang di sana menutup pintu itu dan menguncinya, serta Kheylin dan satu gadis yang lainnya berjalan mendekat ke arahnya. Tentu saja membuat kaki Jia perlahan mundur, kepalanya juga mulai menunduk dan semakin meremas kuat ponselnya.


"Jangan ..." lirih gadis itu bergetar.


Suara itu membuat Kheylin semakin tersenyum sinis. Telapak tangannya menengadah, temannya yang mengerti lalu memberikan gadis itu sesuatu di sana.


Mata Jia membulat melihat itu, matanya terpejam dan mulai menutup kedua telingannya. Rasanya sangat sesak, pusing, takut, semuanya menjadi satu.


"Iket dia." Singkat Kheylin.


Tubuhnya semakin maju ketika tubuh Jia sudah jatuh terduduk di depannya, dia mulai melingkarkan tali panjang itu di bantu oleh teman-temannya.


"Aaaaaa! Jangann!! Hiks ...."


Jia memberontak serta tubuhnya yang semakin gemetar. Gadis itu menangis dengan kencang dan dengan cepat Kheylin menamparnya untuk membuatnya diam.

__ADS_1


"Diem lo, sampah!" bentaknya, matanya tajam menatap mata ketakutan Jia.


Jia merasakan lengannya di ikat kuat oleh tali itu, meskipun dia juga sudah memberontak, namun kekuatannya kalah dengan gadis-gadis di hadapannya. Napasnya terasa berat, kepalanya benar-benar pusing, tenggorokannya tercekat.


Jia mohon ... Ah, benda yang melingkar di tubuhnya benar-benar membuatnya sulit bernapas. Bukan karena mengikat kencang tubuhnya, tetapi karena benda itu, benda yang di takutinya. Matanya bahkan mulai berkunang-kunang.


Meskipun begitu, Jia sebisa mungkin menjaga perutnya, kedua tangannya gadis itu posisikan di depan perutnya, menjaganya agar tidak terikat dengan kuat.


Ponselnya sudah jatuh entah dimana.


"Hiks ...."


Jia hanya bisa terisak, tentu saja membuat mereka semakin tertawa mendengarnya.


Tali yang melingkar di tubuhnya benar-benar membuatnya sangat ketakutan, kilasan-kilasan kejadian yang dia lihat langsung menghantui pikirannya. Tubuhnya sudah lemas, Jia berteriak lagi sambil menangis, namun membuat pipinya kembali menjadi korban tamparan Kheylin.


'Nala ... Hiks, tolong ....'


Brak!!


Suara keras itu mampu membuat mereka semua menoleh ke belakang kecuali Jia. Kheylin menatap lelaki di sana malas, lelaki yang mulai berjalan mendekat sambil memasang raut wajah tak percaya.


"Lo apa-apaan, sialan!"


Yunan menarik kencang tangan Kheylin ke atas, sehingga membuat tubuh gadis itu langsung berdiri. Lelaki itu juga menatap tajam satu persatu teman-teman Kheylin, membuat mereka langsung memberhentikan kegiatannya dan ikut berdiri.


"Lo yang apa-apaan! Lepas nggak?!"


Kheylin menatap sinis Yunan, dia menepis kasar tangan lelaki itu yang mencengkram lengannya.


Napas Yunan sedikit memburu, dia menatap Kheylin sinis, lalu pandangannya dia alihkan kepada gadis yang duduk di bawah, gadis yang kini tengah menangis sambil kedua tangannya yang sudah terikat dengan posisi di depan perutnya yang membesar.


"Lo udah keterlaluan! Mati lo kalo ketauan guru."


Kheylin terkekeh kecil, "bukannya lo selalu bantuin gue, ya? Lo yang udah bantuin gue juga kan, bikin dia kayak gini?" lanjutnya tersenyum sinis sambil melirik Jia.


Yunan menatap Kheylin tidak percaya.


"Kali ini, jangan harap dapet bantuan gue lagi." Desisnya sinis.


Ya, semua perbuatan Kheylin yaitu mem-bully atau apapun, guru memang tidak pernah menghukumnya. Karena apa? Karena Yunan membantunya dengan nama sang ayah.


"Pergi lo."


Kheylin menatap Yunan tajam, gadis itu tidak terima apa yang di katakan Yunan beberapa detik lalu itu. Menghembuskan napasnya kesal, dia akhirnya berlalu pergi dari sini bersama teman-temannya yang lain.


Sama halnya dengan Yunan, lelaki itu masih menatap sinis kepergian Kheylin. Dan setelah gadis itu benar-benar keluar dari gudang, dirinya menatap gadis yang duduk di bawahnya, mendekatkan tubuhnya ke sana dan berjongkok di depannya.


"Ji—"


Yunan menghembuskan napasnya lirih, tatapannya sedikit sendu menatap mata itu, lalu menatap tubuh itu yang di ikat dengan tali. Jia masih menangis sambil memejamkan matanya, gadis itu sangat-sangat ketakutan.


Yunan dengan tangan yang sedikit gemetar, mencoba meraih tangan gadis itu yang berada di depan perut. Memberanikan diri untuk menyentuhnya, namun refleks matanya membulat kala mendapat tepisan dari gadis itu.


"Jia ... Jangan takut ...."


Tangan kirinya menarik kepala bagian belakang itu lembut, dan tangan kanannya yang juga menarik punggung itu lembut. Yunan menarik tubuh itu ke dalam dekapannya.


Meski sempat memberontak, tetapi akhirnya Jia diam dalam pelukannya. Gadis itu terisak, membuatnya memejamkan matanya sambil mengulum bibirnya kuat.


Terasa ... sesak.


Srrk! Bugh!


Hingga tidak lama, Yunan merasakan pelukan itu terlepas, dengan seragam bagian lehernya yang di tarik ke belakang, lalu di lanjutkan tubuhnya yang terhempas dengan cepat sampai tersungkur ke arah kiri. Dia membuka matanya, dan dia bisa melihat Jerga di depannya yang tengah menatapnya sangat tajam.


"Anjing lo."


"Lo apain Kakak gue, sialan!"


Jerga melangkah mendekati Yunan lagi, ancang-ancang untuk menghantam wajah itu dengan kepalan tangannya, sebelum terhenti ketika seseorang menariknya dari belakang.


"Jer," Nanggala menarik lengan itu untuk berhenti, "jangan di depan Jia. Jangan berantem sama dia lagi." Lanjutnya berusaha menenangkan lelaki itu.


Jerga masih terdiam, bahunya naik turun sambil menatap Yunan dengan tatapan membunuh. Sementara yang di tatap hanya membalasnya tanpa ekspresi di sana, dia mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


Yunan sama sekali tidak memberikan pembelaan kepada dirinya sendiri. Entah kenapa lelaki itu hanya terdiam kala tuduhan Jerga di layangkan kepadanya. Karena nyatanya kan tidak, bukan dia, bukan dia yang melakukan ini semua.


Tetapi Yunan hanya diam.


Nanggala menarik lagi lengan Jerga, menariknya hingga ke depan gadis yang masih terisak itu.


"Jia ...."


Nanggala menatap sendu, mengusap pelan pipi itu yang sudah basah dengan air mata. Hingga matanya kini membulat ketika melihat benda yang melingkar di tubuh gadis itu, buru-buru dia melepaskan tali itu dari tubuh Jia. Cepat namun berhati-hati, dia takut Jia akan terluka.


Setelah terlepas, Nanggala lalu membuang tali itu ke belakang benda apapun di gudang ini yang mampu menutupinya. Dia berbalik lagi, dan bisa melihat di sana Jerga tengah memeluk Jia sambil mengusap punggungnya beberapa kali untuk menenangkannya, dengan gadis itu yang semakin terisak di pelukan Jerga.


"Maafin Jerga ... Maafin Jerga ...."


Nanggala menghembuskan napasnya lirih, matanya menangkap ponsel yang tergeletak di lantai gudang.


Itu ponsel milik Jia.


Tubuhnya Nanggala bungkukan untuk meraih ponsel itu. Dia ingat, sebelum Jia pergi, gadis itu mendapat pesan bukan? Dia dengan cepat membukanya.


Nomor asing.


| Kak, ini gue, Jerga. Kaki gue sakit, gue di gudang sekarang. Kesini ya?


14.38


Nanggala mengernyitkan alisnya.


Jelas-jelas itu bukan Jerga. Bukan cara mengetik atau cara bicara Jerga. Lelaki itu selalu memanggil dirinya 'Jerga' saat berbicara kepada Jia.  Tidak pernah menggunakan kata 'gue'.


Nanggala menatap kedua orang di sana lagi, menatapnya sendu. Sudah pasti Jia di jebak untuk datang kesini. Lalu, tali ... Jia, sangat trauma dengan tali.


Dadanya terasa sesak melihat gadis itu menangis. Ah, seharusnya tadi dia terus menggenggam tangan itu, pasti tidak akan terjadi hal seperti ini. Lagi.


Nanggala menyesal untuk yang kedua kalinya.


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Hayoo Yunaaan. Apa Yunan bakalan berubah?...


...Silahkan klik favorit yaa biar ngga ketinggalan update cerita ini^^...


...Boom komen setelah membaca yaa♡...

__ADS_1


__ADS_2