NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
21. Bagaimana Mencintai


__ADS_3

Ting Tong!


Kepalanya menoleh ke samping, Nanggala tersenyum menatap gadis di sampingnya dan tangan kirinya terangkat untuk merapikan rambut gadis itu.


Cklek


"Kak Nanggala!!"


Si empu sedikit terlonjak mendengar itu, sama halnya dengan Jia. Suara yang tiba-tiba muncul dengan sangat keras bebarengan dengan pintu yang terbuka lebar, menampakan anak lelaki yang tengah tersenyum lebar ke arah keduanya.


"Ayo, Kak masuk?" ajaknya dengan senyuman yang masih terukir di wajah itu.


Nanggala terkekeh kecil dan menganggukkan kepalanya, beruntung Alji itu tidak seheboh Cleo jika berucap. Hanya saja ketika anak itu menangis, ya sudah.


Alji memeluk lengan kiri Nanggala untuk memasuki rumah, karena tangan kanan lelaki itu yang tengah menuntun Jia.  Ya, hari weekend seperti biasa, Nanggala akan mengajar kedua anak SMP itu. Dia memutuskan untuk mengajak Jia ikut, sudah lebih dulu menelepon Shandy dan meminta izin, apakah dia boleh mengajak Jia ketika mengajar nanti. Dan tentu saja Shandy memperbolehkannya.


Jadi dia dengan senang hati membawa gadis itu untuk ikut dengannya.


"Kakak ini siapa?"


Nanggala menoleh, sama halnya dengan Jia yang ikut menatap Alji di sampingnya.


"Temen Kakak, namanya Kak Jia." Jawabnya.


"Halo, Kak Jia! Aku Alji!" seru anak itu dengan tangan yang melambai, membuat Jia tersenyum.


"Halo, aku Jia!" balasnya dengan senyum tak kalah ceria.


"Kak Jia cantik!" serunya lagi membuat Nanggala meliriknya.


Ada-ada saja Alji ini. Pandangannya mengarah kepada Jia lagi, gadis itu terlihat masih tersenyum lebar, sepertinya gadis itu menyukai anak-anak.


Mereka sejak tadi berbicara sambil terus berjalan. Memang sepanjang dan seluas ini rumah Shandy. Dengan Alji dan Jia yang sama-sama memeluk lengan Nanggala yang berada di tengah.


"Cleo mana?" tanya Nanggala kemudian yang belum melihat keberadaan anak satu itu.


"Cleo lagi main game Kak di sofa ruang tv, terus tadi Alji juga duduk di sana nonton Pororo." Jawabnya.


Nanggala terkekeh, ruangan tv yang di sebut anak itu tadi itu memang belum terlihat di matanya, tetapi sudah tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang ini.


"Om Shandy di belakang tadi, tante Iresh di rumah sakit."


Di lantas mengangguk paham mendengar itu.


Cleo sudah terlihat dari sini, memang benar apa yang di katakan Alji tadi, anak itu tengah bermain game di ponselnya, terlihat sangat serius. Pandangan Nanggala teralihkan ketika Shandy datang dari arah samping, lelaki itu langsung menyalimi tangan Shandy, diikuti oleh Jia juga.


Pria itu sangat berbeda jika dirumah. Di sekolah yang setiap hari memakai setelan jas, jika di rumah pria itu akan mengenakan pakaian santai. Seperti sekarang, Shandy hanya memakai kaos polos putih dengan celana training hitam yang menutupi seluruh kakinya.


Shandy yang melihat kedatangan Nanggala-pun tersenyum dan mengangguk, kepalanya dia tengokan ke belakang.


"Cleo! Udah dulu main game-nya!" serunya untuk memanggil anak semata wayangnya disana.


"Ihh, bentar lagi Cleo masih seru!" sahutnya tak kalah keras.


Shandy yang mendengarnya hanya menghembuskan napasnya panjang, "ini Kak Nanggala udah dateng!"


Cleo yang tadinya masih asik dengan game di ponselnya langsung melompat dari sofa ketika mendengar nama itu di sebutkan, dia melempar ponselnya ke sembarang arah membuat mereka yang melihatnya seketika sama-sama membulatkan mata.


Shandy mengelus dadanya sabar.


"Denger nama Kak Nanggala aja langsung cepet." Desisinya lirih.


Nanggala terkekeh mendengarnya. Cleo kini sudah sampai di hadapannya, menampilkan senyum paling manis yang dia punya, membuat sang ayah sangat terheran-heran.


Sangat ajaib memang anaknya itu sangat menurut dengan Nanggala hanya dalam hitungan menit saat mereka pertama kali bertemu waktu itu.


"Ayo, Kak belajar!"


Dan selanjutnya yang terjadi di rumah ini adalah, mereka berempat belajar di kamar Cleo dan Alji, sementara Shandy melanjutkan kegiatannya di belakang rumah. Entahlah pria itu melakukan apa. Sang nyonya memang katanya masih ada shift di rumah sakit, dan sore nanti wanita itu baru pulang. Sepertinya Shandy sangat stres mengurusi mereka seorang diri.


Belajar mereka sesekali di hiasi dengan canda tawa Cleo, Alji dan Jia. Kedua anak itu yang sepertinya senang dengan kedatangan Jia, dan Jia yang juga memang menyukai anak-anak.


Nanggala seperti sedang mengasuh mereka.


"Ih, Cleo, itu penghapus Alji!"


"Terus penghapus Cleo mana!"


"Ya mana Alji tau! Bukannya kemarin Cleo bagi-bagi penghapus ya di sekolah?"


"Iya, kah? Cleo lupa."


"Iyaa, kemarin Cleo bagi-bagi penghapus, terus kemarinnya lagi Cleo bagi-bagi sembako di sekolah."


"Iya, kah? Lupa Cleo keseringan bagi-bagi."


Nanggala hanya menggelengkan kepalanya sejak tadi mendengar perdebatan kedua anak itu, untungnya Jia yang berhadapan dengan Alji di sana masih fokus dengan bukunya.


"Kak, katanya mau ajak kita main ke taman? Ayooo!"


Nanggala sedikit terkejut mendengar itu, suara Cleo begitu menusuk di telinga kanannya.


"Kan lagi belajar, Cleo ..." balasnya tersenyum manis.


"Ihh, belajar teruss! Kan udah belajar, PR Cleo sama Alji juga udah selesai! Cleo mau mainn~!"


"Iya iya nggak usah teriak, oke?" jawabnya lagi, yang langsung membuat anak itu tersenyum senang.


Sementara Alji yang tadi melanjutkan belajarnya dengan Jia di sana juga tersenyum mendengar itu.


"Cleo jarang di ajak main sama papah sama mamah."


Suara itu membuat Nanggala menoleh lagi.


"Sekalinya main mereka malah pacaran berdua, kan Cleo sebel," lanjutnya mengerucutkan bibirnya, "iya nggak, Ji?"


Nanggala menengok ke arah yang di maksud, anak itu menganggukan kepalanya menyetujui ucapan Cleo beberapa detik yang lalu, tentu saja membuatnya terkekeh.


Lalu selanjutnya Nanggala mengangguk lagi, memang sudah cukup lama mereka belajar, PR Cleo dan Alji-pun sudah selesai sejak tadi. Mereka berdua terlihat tersenyum senang dan mulai mengemasi lagi alat-alat belajar mereka, sama halnya dengannya dan Jia.


"Camilan datang~"


Suara itu tiba-tiba datang bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka, membuat semua yang ada di dalam mengalihkan pandangan mereka.


"Papaah! Cleo mau main! Cleo mau jalan-jalan! Cleo mau pergi dari rumah ini!"


Shandy hanya mengelus dada untuk yang ke berapa puluh juta kalinya.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


Di sinilah mereka saat ini, luasnya taman yang berada di daerah Jakarta. Tidak hanya taman, disini juga banyak spot-spot yang bagus, taman bermain-pun ada.


Sebelumnya Nanggala mengajak mereka jalan-jalan menyusuri tempat ini, namun karena sepertinya kedua anak itu sudah lelah, sekarang mereka sudah duduk di sebuah tikar yang menampung mereka ber-empat.


Angin bertiup sangat kencang di siang menjelang sore ini, tetapi keseruan mereka belum ada habis-habisnya hingga sekarang. Bahkan Cleo dan Alji kini sudah beranjak dari duduk mereka, dan mulai bermain tembak-tembakan mainan yang mereka bawa dari rumah. Hal itu membuat Nanggala terkekeh melihatnya.


Sementara itu, kepalanya menoleh menatap gadis yang duduk di sampingnya, yang sejak tadi tengah asik dengan gelembung sabun di tangannya.


Nanggala gemas sendiri.


Mata Jia beberapa kali tertutup karena terkena angin dan juga beberapa helai rambut yang di gerai gadis itu terbang menutupi mata dan wajahnya.


"Boleh pinjem tas Jia?"

__ADS_1


Gadis itu menoleh, "boleh."


Nanggala tersenyum hangat, lalu tangannya mulai membuka tas selempang gadis itu tanpa melepasnya dari sang pemilik. Tangannya mulai merogoh, dan kemudian terangkat ketika sudah menemukan sesuatu. Dia terkekeh lagi, benar saja, gadis itu memang selalu membawa ikat rambut maupun jepit rambut di dalam tas kecilnya ini.


Nanggala menutup lagi, lalu tubuhnya sedikit mundur ke belakang, memposisikan duduknya menjadi di belakang gadis itu.  Tangannya dengan telaten merapikan rambut panjang Jia dan mengumpulkannya menjadi satu. Sangat pelan dan lembut, dia tidak mau sang empunya kesakitan akibat rambutnya tertarik secara tidak sengaja.


Bisa Nanggala lihat Jia diam saja, masih asik dengan gelembung sabunnya yang kadang kala tertiup sendiri karena angin disini yang memang sangat kencang.


Setelah dirasa semua selesai mengikat rambut Jia menjadi satu, Nanggala memajukan tubuhnya lagi dan duduk di samping gadis itu. Ah, tidak. Tangannya dengan cekatan mengepang rambut panjang itu tadi.


"Suka?" tanyanya kemudian.


"Eum! Suka!" jawabnya tersenyum manis, membuat Nanggala membalasnya dengan senyuman tak kalah manis.


Pandangannya teralih lagi kepada Cleo dan Alji yang tengah bermain di depannya dengan sangat senang, beberapa kali terdengar teriakan dari Cleo dan rengekan dari Alji.


Nanggala menggelengkan kepalanya lalu menatap Jia lagi, matanya turun ke perut gadis itu, benarkah ada bayi disana? Benarkah apa yang dikatakan gadis itu beberapa waktu yang lalu jika dirinya sedang hamil?


Tetapi memang benar perut gadis itu semakin membesar dari yang pertama dia lihat. Tatapannya berubah sendu. Apa hal ini yang menyebabkan gadis itu terganggu mentalnya?


"Nala?"


Yang di panggil mendongak, "hm?"


"Kenapa?"


Jia sepertinya menyadari tatapan Nanggala sejak tadi, gadis itu memutar duduknya hingga berhadapan dengan lelaki itu.


"Nggak papa, Jia cantik."


Gadis itu tersenyum, dan membuat Nanggala juga ikut tersenyum sambil merapikan rambut itu lagi.


Rasa-rasanya Jia sekarang ini terlihat seperti puteri Jasmine. Rambut panjangnya yang tadi di kepangnya itu di letakan di depan. Memang sangat cantik.


"Jia ...."


"Iya?"


Kini giliran gadis itu yang menunggu ucapan Nanggala.


"Nala pengen terus jaga Jia, Nala pengen terus di samping Jia, ngelindungin Jia, terus sama Jia ...," tatapannya lembut, "boleh?"


"Boleh Nala suka sama Jia?" lanjutnya lagi, "boleh Nala sayang sama Jia?"


Gadis itu masih terdiam, mata indahnya masih menatap Nanggala, tetapi bibirnya seketika tersenyum tipis. Lebih seperti malu-malu.


"Janji sama Jia."


Nanggala mengangkat kedua alisnya, bisa dia lihat tangan kanan gadis itu yang mulai terangkat, dengan ke empat jari yang dia tekuk ke dalam dan menyisakan jari kelingking yang dia arahkan kepadanya.


Dia lantas terkekeh melihatnya, di angkatnya juga tangannya dan langsung menautkan jari kelingkingnya dengan gadis itu.


"Jia juga suka Nala." Ujar gadis itu tersenyum manis.


Hal itu membuat Nanggala menatapnya lembut. Dia benar-benar menyayanginya, dia benar-benar menyukai gadis itu sebagai seorang gadis. Bukan menyayanginya karena dia adalah penjaganya.


Nanggala menyayanginya.


Sore mereka benar-benar terasa seru bermain disini, sangat ramai dengan teriakan Cleo dan Alji, serta Nanggala yang bermain gelembung sabun dengan Jia, tak jarang mereka ber-empat akan saling mengejar satu sama lain.


.......


.......


.......


Nanggala menatap pintu besar di hadapannya. Sekarang ini dia berada di depan rumah si kembar Rasen dan Haksa. Lelaki itu berniat mengambil buku yang Rasen pinjam. Meskipun besok juga mereka bertemu di sekolah, tetapi ada yang ingin dia tanyakan juga kepada lelaki itu.


Maka dari itu tadi Nanggala bertanya Rasen di rumah atau tidak. Dia baru saja pulang dari taman setelah tadi juga mengantar Jia pulang terlebih dahulu.


"Yuk, Na masuk?"


Nanggala mengangguk dan mengikuti langkah Rasen yang mulai memasuki rumah. Rumahnya mewah, tidak jauh beda dengan rumah Jerga ataupun rumah Shandy.


"Duduk disini dulu ya, Na? Gue ambil bukunya."


Lagi-lagi yang di perintah mengangguk dan duduk di sofa ruang tamu, pandangannya menatap sekeliling, banyak sekali barang mewah disini. Interiornya perpaduan antara China dan Indonesia, sangat nyaman Nanggala lihat.


"Lala?!  Waah!"


Yah, mulai heboh.


Nanggala sedikit terkejut mendengar itu sembari melihat Haksa yang berjalan mendekat ke arahnya sekarang ini. Dia terkekeh kecil melihat menampilan lelaki itu yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos oblong berwarna hitam.


Haksa itu sangat suka memanggil teman-temannya dengan huruf belakang atau depan yang di ulangi. Seperti Lala, Jejer, Yoyor. Tetapi kalau Rasen, anak itu tetap memanggilnya dengan sebutan miras.


"Ngapain?" tanyanya sesampainya di depan Nanggala, tangannya meraih toples yang terletak di atas meja dan membukanya.


"Ambil buku." Jawabnya tersenyum.


Haksa hanya menganggukkan kepalanya mengerti, "nih Na cobain, kayak eek," tangannya menyodorkan benda dari dalam toples itu, benda bulat berwarna hitam.


Nanggala mengernyitkan alisnya, tangannya masih belum terangkat untuk menerima itu.


"Kayak eek, tapi gue suka." Lanjutnya melahap dua makanan bulat itu.


"Berarti lo suka eek dong?"


Buk!


"Uhuk!"


Haksa mendongakkan kepalanya dan menatap sinis Rasen yang baru saja memukul kepala belakangnya dengan buku yang dia bawa, sehingga membuat sang empu tersedak kue kering yang sedang di makannya.


"Jahat banget sih, Ras!" hardik Haksa tak terima.


"Ya 'kan gue bener?!" balasnya tak kalah seru.


Nanggala hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka berdua, dan menerima buku yang Rasen ulurkan, buku yang tadi di gunakan untuk memukul kepala Haksa.


"Berantem lagi kalian! Nggak capek apa, Mamah aja capek!"


Suara yang sangat keras itu langsung terdengar ke seluruh penjuru di rumah ini, Nanggala saja memejamkan matanya karena itu. Sepertinya gendang telinganya sedikit berdengung.


"Eh, ada siapa nih??"


Wanita itu langsung merubah suaranya ketika matanya menangkap sosok manis yang duduk di depan anak-anaknya di sana, dan langkahnya kemudian mendekat.


"Nanggala, Mah."


"Ohh, Nanggala yang sering kamu ceritain itu??"


Rasen mengangguk membenarkan pertanyaan sang ibu, hingga wanita cantik itu kini sudah duduk di sebelah Nanggala, membuat lelaki itu tersenyum kikuk.


"Sore, Tante?" sapanya ramah dengan senyum manisnya, tak lupa ia menyalimi tangan wanita itu.


"Sore jugaa. Nanggala, ya? Manis banget kamuu~" tanyanya membuat anak itu mengangguk.


"Kan tadi juga udah di bilang kalo itu Nanggala, Mamahh."


Wanita itu melirik sinis lelaki yang tengah memakan kue kering di sofa seberangnya, "iyaa, nggak usah ngegas dong!" serunya.


Haksa langsung menatap sang Ibu sinis. Memang selalu salah jika dia mengeluarkan kata-kata, lebih baik terdiam sambil makan kue yang dia bilang mirip eek ini.


"Rame banget ada apa nih?"


Suara lain datang yang langsung membuat mereka semua mengalihkan pandangan mereka.

__ADS_1


"Temennya Rasen sama Haksa, Pah." Sahut wanita itu yang masih tersenyum manis menatap Nanggala.


"Oooh." Pria berparas tampan itu mengangguk dan duduk di samping Haksa.


"Kenalin Na, Mamah Papah gue. Mamah Wilsa, sama Papah Hariz." Jelas Rasen.


Nanggala kemudian menyalimi tangan ayah Rasen yang baru saja sampai, lantas membuat keduanya tersenyum.


"Nanggala Om, Tante." Senyumnya manis.


"Aihh manis sekali kamu, Nanggala? Makan malem disini, ya? Yayaya?"


Anak itu tersenyum kikuk mendengarnya, "eumm, nggak usa—"


"Udahh, makan di sini aja sama kita." Sahut Hariz yang kini ikut memakan kue kering itu bersama Haksa.


Namun sebelumnya keduanya sempat berebut karena Haksa tak mau mengeluarkan tangannya dari dalam toples, lalu membuat pria itu memukul kepala anaknya dari belakang.


"Nanggala pinter masak loh, Mah." Celetuk Rasen.


"Wah, iya?? Ayo masak bantuin Tante!"


Tanpa menunggu jawaban dari Nanggala, wanita bernama Wilsa Zhou itu langsung menarik lembut lengan si anak untuk berjalan bersamanya, mungkin menuju dapur. Wanita itu bilang untuk membantunya memasak.


Nanggala ingin sekali menolak, tetapi sudah seperti ini, dia pun tidak enak. Akhirnya pasrah saja mengikuti Wilsa yang masih berjalan sambil memeluk lengannya.


"Mamah nggak pernah gitu sama kita." Bisik Haksa pada kembarannya.


Rasen mengangguk membenarkan ucapan Haksa, "iya, pilih kasih banget sama anak sendiri."


"Iya," Hariz ikut mendekatkan tubuhnya, "papah aduin mamah ya kalian ngomong gitu?" lanjutnya ikut berbisik, lalu kemudian tubuhnya mulai beranjak pergi dari sini, berlari menyusul istrinya juga Nanggala.


"Papaaaah!"


.......


.......


Di sinilah sekarang mereka bertiga, di kamar yang sangat rapi milik Rasen. Ketiganya tengah duduk sambil sesekali bercengkrama. Iyalah di kamar Rasen, mana mungkin dia membiarkan Nanggala masuk ke kandang sampah milik Haksa itu. Sangat tidak baik untuk kesehatan.


Nanggala memang belum pulang, dia di minta si kembar untuk disini dulu sambil menunggu hujan reda. Hujan masih turun dengan sangat deras diluar sana.


"Sen, gue mau tanya deh."


"Apa?" jawabnya dengan wajah yang masih fokus membaca bukunya.


"Jia ... Beneran hamil?"


Pertanyaan itu sukses membuat keduanya menatap ke arah Nanggala, lelaki itu saja sedikit terkejut dengan ekspresi wajah keduanya.


"Lo emang belum tau?" tanya Rasen kemudian.


"Gue kira lo udah tau, secara kan lo sama dia setiap hari." Sahut Haksa yang kini sudah duduk di dekat si pembicara.


Nanggala menggeleng lemah, "gue belum tau, om Dharma nggak pernah kasih tau itu, pun waktu pertama gue kerja di sana. Nggak ada yang kasih tau gue."


Terdengar helaan napas Rasen, lelaki itu pun ikut duduk di karpet bersama Nanggala dan Haksa, yang tadinya dia memang tengah membaca buku di ranjangnya.


"Jia emang hamil, Na. Cowok berengsek itu yang bikin Jia kayak gini."


Nanggala mengernyitkan alisnya, "maksudnya?"


"Jia dulu punya cowok, dia di hamilin cowoknya."


Tubuhnya membeku mendengar itu, dadanya tiba-tiba terasa sesak, masih terdiam menunggu apa yang selanjutnya akan Rasen katakan.


"Terus pas dia tau kalo Jia hamil, dia tiba-tiba kabur gitu aja—"


"Ke luar negeri!" Potong Haksa membuat Rasen menatapnaya sinis.


"Jadi, sakit mentalnya dia ....?"


Rasen mengangguk, "ya karena itu. Jia stres, depresi, dan kalo ngeliat keadaan rumah ... yah lo tau sendiri kan om Dharma gimana?"


"Cuma Jerga yang peduli sama dia, mamanya udah nggak ada, kakak-kakaknya juga begitu semua, gimana nggak nambah dia tertekan?"


Nanggala benar-benar merasa sesak mendengar semua itu.


Dia baru tahu. Dia baru tahu kejadian yang sebenarnya seperti ini. Begitu berat ... Dan bahkan tidak ada yang memperhatikannya kala itu. Hanya Jerga.


Dia jadi teringat sesuatu.


"Tau soal tali nggak, Sen?" tanyanya lagi.


Rasen mengernyit, "tali?"


"Jia kayaknya punya trauma sama tali. Nggak tau tali yang gimana, soalnya dia pernah takut banget sama pita hiasan gitu yang gue bawa." Jelasnya, membuat kedua orang di sampingnya bingung.


"Gue nggak tau deh soal itu." Balas Rasen.


"Ah! Gue kayaknya pernah liat!" Pekik Haksa membuat lelaki di sampingnya terlonjak kaget.


"Berisik lo kambing!"


Haksa kembali meringis ketika Rasen memukul kepalanya dengan buku yang dia baca tadi. Dia mendengus sebal menatap kembarannya, kepalanya sering sekali menjadi korban timpukan buku oleh lelaki itu.


"Dia emang pernah ketakutan gitu pas mamah kasih dia sepatu dulu, sepatu bertali. Lo liat kan, sepatu Jia nggak ada yang bertali?"


"Oh iya gue inget!" seru Rasen kala sepertinya mengingat sesuatu.


"Dih, katanya pinter, gitu aja nggak inget." Cibir Haksa membuat sang empu langsung melayangkan tatapan sinis lagi.


Hingga kemudian tangannya lagi yang terangkat memukuli Haksa, dan kini mereka berdua sudah bertengkar dengan saling memukul menggunakan buku. Sementara Haksa menggunakan boneka kesayangan milik Rasen. Tentu saja membuat si pemilik langsung melotot tidak terima boneka kesayangannya di perlakukan seperti itu.


Nanggala masih terdiam. Dia juga ingat … Saat dia pertama bertemu dengan Jia di taman bermain dulu. Saat dia menawarkan sepatunya karena melihat sendal gadis itu putus. Dan Jia memang sedikit terkejut sampai memalingkan wajahnya. Saat itupun sepatunya bertali.


Dia merasa sangat kasihan dengan Jia. Pacarnya meninggalkannya ketika tahu gadis itu hamil? Kabur ke laur negeri?


Nanggala kini merasa sangat marah, tangannya memang sejak tadi mengepal mendengar cerita dari Rasen. Dia merasa tidak terima, gadis yang kini mulai di sayanginya, di cintainya, di rusak oleh lelaki tidak tahu diri yang kabur tanpa mau bertanggung jawab.


Merusak segalanya tentang gadis itu. Merusak hidupnya, merusak masa depannya, merusak kebahagiannya, dan merusak mentalnya.


Tidak terasa matanya memanas, Nanggala menghembuskan napasnya panjang untuk menetralkan sesak di dadanya. Dia bahkan tidak peduli dengan keributan kedua saudara itu yang kini semakin menjadi.


Nanggala berjanji, akan selalu menjaga gadis itu, akan selalu melindungi gadis itu.


Dan juga bayi itu.


Nanggala berjanji.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...Ada apa ya kira kira sama 'tali'?...


...Penasaran juga kan tentang Jia pada saat itu? Dukung terus yaaa!...

__ADS_1


__ADS_2