
Jia tersenyum kepada kedua orang di hadapannya ini, seperti mengatakan tidak apa-apa dia pulang sendiri.
Lagi pula dia juga akan mampir ke suatu tempat dulu.
"Mas Yodhan antar aja, ya?"
Gadis itu lagi-lagi menggeleng sambil tersenyum, "nggak usah, Mas. Jia pulang sendiri aja." Tolaknya lembut.
"Tapi udah malam ..." lirih Thalia mengelus lembut rambut belakang gadis itu khawatir.
"Nggak papa, Budhe. Nanti Jia suruh Jerga jemput atau nggak kak Janan. Jia mau mampir ke minimarket dulu."
Tetap saja, Thalia tetap saja khawatir dengan gadis itu. Pulang sendiri di hari yang sudah malam begini.
Tadi sekitar jam lima sore, Jia mengunjungi toko kue Thalia, katanya ingin bermain. Di rumah sungguh bosan, semuanya pergi dan hanya menyisakan dia dan juga bibi pembantu. Akhirnya dia memutuskan pergi ke sana, sesekali membantu pun tidak apa-apa.
Jia hanya rindu Nanggala. Dia rindu lelaki itu mengajaknya kesini atau mengajaknya keluar untuk bermain.
Meskipun tadi Jia berkata akan membantu di sana sesekali, namun mana mungkin Thalia mengijinkan itu? Apalagi dengan kandungan gadis itu yang juga semakin membesar. Tidak mungkin dia memperbolehkan gadis itu membantunya di toko.
"Yowis kalau gitu, kamu hati-hati yo? Inget, minta jemput Jerga atau Janan tadi kalau kamu udah dari minimarket." Perintah Thalia.
Jia terkekeh sejenak. Ah, Thalia ini hampir mirip dengan Yewina, hampir mirip juga dengan ibunya, Jessika. Mereka bertiga adalah perempuan yang sangat baik dan juga lembut. Dia jadi merindukan sang mama ....
"Siap, Budhe. Jia akan ingat." Senyumnya sangat manis membuat wanita itu mengusap lagi rambutnya.
Yodhan yang melihatnya juga tersenyum, "dunia emang sempit banget, ya?"
Mendengar itu lantas membuat kedua perempuan di hadapannya menoleh secara bersamaan ke arahnya.
"Ternyata kamu dan Jerga itu adeknya Janan. Dia jarang cerita soal keluarganya, padahal Mas Yodhan sahabatan sama dia udah lama loh. Sama si Deska juga."
Jia tersenyum. Iya, beberapa waktu yang lalu dia meminta Janan mengantarkannya ke toko budhe Thalia untuk membeli kue, yang nanti akan di bawanya ke rumah sakit untuk menjenguk Nanggala. Lalu sesampainya disana mereka langsung berhadapan dengan Yodhan yang memang sedang melayani pembeli saat itu. Keduanya sama-sama terkejut, sedangkan Jia sendiri malah bingung.
Janan baru tahu rumah Yodhan disini. Memang mereka bersahabat lama, namun lelaki dingin seperti Janan mana mungkin pergi bermain kesana-kemari, dia lebih memilih diam di rumah atau di kamarnya.
"Yaudah gih, Jia hati-hati yo?"
Ucapan Thalia tadi membuat mereka menoleh dan mengangguk. Sudah terlalu malam, kasihan juga gadis itu harus istirahat. Sebelum itu juga Jia sudah makan malam bersama keluarga ini.
Jia berpamitan kepada budhe dan Yodhan untuk pulang. Tidak ada pakde Hardi. Kata budhe, pakde tengah pergi ke rumah ibunya karena beliau sakit.
Setelah berpamitan, gadis itu pun melangkah seorang diri menyusuri trotoar jalan yang masih ramai orang berlalu lalang. Sesekali matanya menatap ke samping kanan dan kirinya, dia tersenyum. Benar-benar merindukan Nanggala di sampingnya.
Jia tidak akan sesering itu menghubungi Nanggala, dia tahu lelaki itu masih harus banyak istirahat.
Gadis itu berniat ke minimarket terlebih dahulu untuk membeli susu, dan nantinya akan menelepon entah itu Jerga atau Janan untuk menjemputnya.
Kakinya melangkah melewati taman. Ah ... Taman yang sering dia kunjungi bersama Nanggala.
Jia sangat merindukannya ....
__ADS_1
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...───• ~⸙ᰰ~ •───...
Helaan napas itu terdengar berhembus panjang di kamar yang sunyi ini, hanya suara detik jarum jam yang menemani malamnya.
Sejak beberapa menit yang lalu, Jerga hanya menatap kosong layar ponselnya yang menampilkan video terjeda itu. Tangannya sedikit terkepal, dia yang tidak ada disana atau dalam artian melihatnya secara langsung saja merasa sangat sakit.
Menundukkan kepalanya sejenak, Jerga kembali teringat apa yang di katakan Nanggala ketika lelaki itu akan pulang ke Bandung kala itu.
Jerga tahu, dia tahu Nanggala saat itu mati-matian menahan kakinya yang gemetar. Dia bisa melihat lelaki itu tidak sanggup berdiri terlalu lama saat menunggu bus yang akan di tumpanginya ke Bandung.
Entah kenapa dia merasa kosong juga, merasa sepi dengan tidak ada kehadiran Nanggala. Meskipun lelaki itu berkata akan pulang ke Jakarta saat pertunangan kakaknya nanti.
Jika Jerga boleh melarang, dia akan melarang lelaki itu untuk datang, dia tidak ingin lelaki itu semakin sakit jika melihatnya. Lebih baik seperti itu, meskipun sepertinya Nanggala akan tetap datang ke pertunangan itu.
Cklek
Suara pintu kamarnya yang terbuka membuat Jerga mengangkat kepalanya, dan apa yang di pikirkannya sejak tadi pun buyar. Matanya menatap sedikit terkejut ketika melihat siapa orang yang memasuki kamarnya.
Jerga masih terdiam, tangannya mulai terkepal lagi melihat sosok itu. Seseorang yang kini sudah duduk di pinggir ranjang miliknya.
"Jer—"
Janan menatap kedua orang di dalam sana bergantian. Lelaki itu menghentikan langkahnya yang tadinya akan memasuki kamar sang adik.
Dia bingung. Sedang apa ayahnya disini?
Suara itu memerintahkan anak pertamanya untuk duduk di sampingnya, matanya sempat melirik Jerga yang masih duduk di kursi meja belajarnya.
Janan menghembuskan napasnya lirih kemudian berjalan mendekat, lantas duduk di samping ayahnya yang terlihat tidak seperti biasanya.
Setelah hanya keheningan yang mereka dapatkan, Janan kembali menghela napasnya dan melirik ayahnya dengan wajah datarnya.
"Ada apa?"
Tidak ada tanda-tanda pria itu akan mengeluarkan suaranya, benar-benar membuat dua anak lelaki keluarga Abhicandra itu bingung sekaligus kesal.
"Mama kalian adalah perempuan yang sangat baik."
Jerga sedikit mendongak kala mendengar kata-kata itu. Hanya sedikit, dia masih enggan bertatapan dengan ayahnya.
"Dan Papa kalian, adalah orang yang jahat dan orang terbodoh, bahkan nggak bisa di sebut sebagai seorang Papa."
Janan meremas tangannya kuat, bayangan sang ibu di bunuh oleh ayahnya secara langsung kala itu membuat hatinya kembali sakit.
"Papa benar-benar sangat mencintai tante Yewina saat itu. Sampai kakek kalian menjodohkan Papa dengan perempuan lain, dan buat Papa jadi orang kasar."
Dharma tersenyum tipis di sela ceritanya, "tante Yewina yang sering dapet perlakuan kasar Papa. Dia yang sering jadi pelampiasan marahnya Papa."
"Sampai akhirnya papa nurutin perintah kakek kalian. Menikah diam-diam dengan perempuan itu dan masih tetap melanjutkan hubungan Papa sama tante Yewina. Papa menikahi perempuan yang nggak pernah Papa cintai, perempuan yang kalian panggil mama."
__ADS_1
Jerga memberikan diri untuk melirik ayahnya di sana, wajah ayahnya tidak seperti biasanya. Tidak dingin seperti biasanya.
"Papa mungkin tambah jadi orang kasar sejak saat itu. Papa terus di tuntut jadi orang yang perfect sama kakek dan nenek kalian, nggak boleh ada celah buruk atau kesalahan sedikit pun. Sampai lahir Janan, lalu Jihan. Papa berusaha menahan stres sendiri."
Dharma terkekeh kecil.
"Ya, Papa emang lampiasin marah Papa ke mereka semua, mama kalian dan juga tante Yewina. Tapi Papa nggak nunjukin semuanya, ada yang Papa simpen sendiri ... Papa sadar perlakuan Papa udah nyakitin mereka. Tapi Papa bingung dan lama-lama emosi Papa semakin nggak terkontrol."
Pria itu mengangkat wajahnya dan tersenyum tipis menatap anak yang duduk di kursi tak jauh darinya.
"Kamu hebat Jerga. Kamu lebih hebat dari Papa. Papa juga tekan kamu buat terus jadi perfect di mata Papa, tapi kamu bahkan nggak pernah nunjukin atau lampiasin marah kamu ke siapapun."
Jerga mengalihkan pandangannya, matanya kini mulai memanas mendengar semuanya. Kata-kata itu mengingatkan rasa sakit, pukulan-pukulan menyakitkan yang selama ini di terimanya dari sang ayah.
"Hingga Papa tambah merasa marah karena tante Yewina putusin Papa. Lalu beberapa bulan kemudian dia bilang mau menikah, dan ternyata udah hamil."
"Juga mama kalian yang keliatan deket banget sama sopir di rumah kita. Yang nggak lain adalah calon suami tante Yewina, atau ayah Nanggala."
"Papa tahu Papa jadi sangat iblis sejak kejadian itu. Papa benci anak Papa sendiri. Papa benci Jerga dan juga Jiara ... Anak kandung Papa sendiri."
"Maafin Papa ...."
"Maafin Papa baru sekarang Papa bisa ngucapin ini. Baru bisa sekarang minta maaf ke kalian ...."
"Papa cuma nggak mau kamu jadi orang gagal, Jerga," Dharma tersenyum tipis, "Papa udah gagal, Papa udah gagal jadi seorang ayah. Papa gagal jadi kepala keluarga. Papa gagal jagain mama kamu dan juga Jia."
"Ini hukuman buat Papa. Selama ini adalah hukuman buat Papa, yaitu kehilangan mama kamu, dan juga sakitnya Jia."
"Maafin Papa bikin kalian kehilangan mama ..." lirihnya dengan suara sedikit purau.
Janan dan juga Jerga sejak tadi sama-sama tengah menahan sesak di dadanya, dan juga menahan air mata yang bergerumul di kedua bola matanya agar tidak terjatuh.
Dharma kini tersenyum lembut. Sejenak mengusap bahu Janan yang duduk di sampingnya, lalu menatap Jerga juga disana.
"Papa sayang kalian ...."
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Aduduh bapak Dharma tobat nih:'))...
__ADS_1
...Terus dukung author dan boom komen setelah membaca yaa♡...