
"Sini Jia!" seru Haksa melambaikan tangannya dan menyuruh gadis itu duduk di sampingnya.
Jia mengangguk dan tersenyum, dia mengusap matanya lagi lalu duduk di samping lelaki itu. Hanya sampai tadi di ceritakan oleh Yewina saja sudah membuatnya terharu sekaligus sesedih ini.
Dia benar-benar menyayanginya.
Nanggala, dia menyayanginya.
Jerga sempat melirik sang kakak tadi, dia tahu pasti gadis itu baru saja menangis. Menghembuskan napasnya panjang, lagi-lagi dia merasakan tenggorokannya sangat tercekat.
"Lala masih tidur?" tanya Haksa setelah menyentil kening Gasta.
"Sape Lala?" sahut Gasta.
"Nanggala lah!" Haksa.
"Nama bagus-bagus lo ganti seenak dengkul!" sinis Gasta lagi.
Jerga yang sedari tadi sibuk membaca buku itu mendongak, buku yang tadi dia ambil di lorong meja ruang tamu disini. Lelaki itu mengulum bibirnya dan mengangguk kecil ketika Haksa meliriknya seperti meminta tanggapan, lalu napasnya di hembuskannya panjang.
"Dia nggak bangun gitu dengerin kita yang berisik gini?"
"Lo yang berisik item!" seru Gasta tak terima.
"Heh, lo juga ya China!"
"Kita juga keturunan China goblok!" sahut Rasen mendorong kening si pembicara.
"Nggak ada sejarahnya orang China item kek gue." Sedih Haksa.
"Ya emang nggak ada. Anak pungut kan lo?"
Haksa melirik sang kembaran sinis. Jika sudah seperti ini, dia ingin sekali mengadu kepada papah Hariz-nya. Ya tapi papahnya tetap saja akan kalah jika berdebat dengan sang mamah, alisan Wilsa Zhou.
Jia terkekeh kecil melihat kelakuan mereka, ada-ada saja. Gadis itu mengambil ponselnya dan tersenyum tipis melihat fotonya dengan Nanggala yang dia jadikan wallpaper.
"Yah, hujan??" dengus Yunan sebal melirik jendela yang memperlihatkan keadaan luar saat ini.
Suara itu membuat semua anak menoleh ke arah jendela, benar hujan. Jia sempat kepikiran Yora, gadis itu kan sedang pergi ke toserba.
"Lo kenapa deh, Jer? Dari kemarin kek nahan sesuatu gitu gue liat."
Kali ini pandangan mereka mengarah pada Rasen yang bertanya seperti itu, lalu beralih kepada Jerga. Lelaki yang di maksud pun bingung, jujur dia sangat bingung. Dia sudah sejak kemarin menahan semuanya, semuanya yang dia rasakan dan entah kapan dia akan mengeluarkannya.
Meremas kecil buku yang ada pada genggamannya, Jerga menunjukkan senyumannya, "nggak papa."
Rasen tidak percaya sebenarnya, dia lantas menoleh ketika ada yang menyentuh lengannya.
"Capek lo kalo ngomong sama si Jerga, jawabannya selalu nggak papa, mending ngomong sama Megalodon." Ujar Haksa.
Yodhan menggelengkan kepalanya sedari tadi melihat kelakuan mereka, teman-teman Nanggala tidak ada yang benar satu pun. Dia baru pertama kali ini bertemu dengan teman Nanggala selain Jerga dan Jia. Dan ternyata ributnya memang seluar biasa ini.
Lebih baik dia bergabung dengan Janan yang tadi berpamitan kepadanya untuk pergi ke teras rumah. Meskipun hujan, tetapi teras rumah Nanggala ini terbilang luas.
"Nanggala—" Ucap Jerga terpotong.
Mata sayunya lalu menatap sang kakak yang duduk di hadapannya. Mata yang mulai berkaca dan membuat Jia bingung. Tangan gadis itu mulai meremas ponsel yang berada dalam genggamannya ketika tiba-tiba jantungnya seperti berdegup lebih cepat dari biasanya.
"Kak?"
Jerga refleks ikut beranjak dari duduknya ketika Jia baru saja berdiri dan berjalan cepat namun sedikit tertatih ke arah pintu kamar Nanggala. Hal itu tentu saja membuat yang lain juga mengikutinya dengan perasaan bingung.
Yewina yang kebetulan baru datang dari arah dapur, dan melihat Jia sudah ada di depan pintu kamar putranya pun seketika terdiam. Tadi sempat ingin mencegahnya, namun tangan gadis itu sudah berada di gagang pintu.
Jantung Jia mendadak berdegup di atas rata-rata.
__ADS_1
Cklek
Tangan bergetarnya baru saja mendorong pelan pintu kamar Nanggala, lalu perlahan membukanya lebar hingga dia bisa melihat apa saja yang berada di kamar ini.
Tepatnya di atas ranjang itu.
Jia melangkah pelan memasuki kamar dan mendekati ranjang milik Nanggala, matanya memanas ketika melihat sesuatu di atas ranjang itu.
Belum ada yang memasuki kamar selain Jia, mereka semua masih berdiri di ambang pintu. Jerga sengaja menggeser tubuhnya ke pinggir, karena teman-temannya juga mulai menyenggol tubuh satu sama lain untuk melihat ke dalam.
Semuanya terdiam tak bergeming, tidak ada yang bersuara. Mereka yang tadinya ribut kini seketika hening. Dan seketika itu juga mata Jerga mulai mengabur, rasa yang dia tahan sejak kemarin.
Jia mendudukkan dirinya di lantai tepat di sisi ranjang. Tubuhnya mematung, bergetar, seluruh organ di dalam sana seperti berhenti berfungsi. Bibirnya terkatup rapat meskipun air matanya kembali turun ketika dia baru saja menghapusnya tadi.
Kenapa bibirnya terasa sangat kelu untuk sekadar memanggil nama itu?
Tangannya yang gemetar perlahan terangkat untuk menyentuh pigura di hadapannya, dia mengelus pelan foto yang tengah tersenyum sangat manis itu.
"Na ..." panggilnya bergetar.
T-tidak mungkin bukan? Ini tidak benar? Kenapa foto lelaki itu ada disini?
Dan lagi, apa maksud dari bunga-bunga ini? Kemana Nanggala? Kemana lelaki itu? Dia sedang beristirahat bukan di kamarnya?
Tubuhnya seketika terasa lemas seperti tidak ada tulang satu pun.
"Hiks ...."
Jia menggunakan satu tangannya lagi untuk menyentuh dadanya, dia meremas kuat bajunya pada bagian itu. Sesak ... Sangat sakit ... Rasa yang baru di rasakannya lagi setelah meninggalnya sang ibu empat tahun lalu.
"Nala, Na ... hiks, Nala!"
Dadanya terasa sangat sesak memanggil nama itu, tenggorokannya begitu tercekat untuk mengucapkan kata-kata yang lainnya. Hanya memanggil ... Hanya memanggil nama itu yang bahkan jawabannya sudah tidak akan pernah dia dengar lagi.
"Na ...."
Jia sungguh sangat lemas, tempat yang dia duduki terasa berputar dan membuatnya pusing.
Yewina membawa tubuh itu ke dalam pelukannya. Jia sudah menangis lebih keras sekarang, gadis itu sesekali berseru nama sang putra, dan itu tentu saja membuatnya semakin tidak tega.
Sementara Jerga mengepalkan tangannya di sana, tangannya enggan terangkat untuk menghapus air matanya yang baru saja turun. Lelaki itu mengeluarkan air matanya yang dia tahan sejak kemarin mendapat kabar dari Yewina.
Dia masih ingat kata-kata wanita itu yang di ucapkan dengan gemetar kemarin.
"Jerga ... dengerin Bunda. Dengerin Bunda ... Nangga, Nangga udah nggak ada ... Tolong, tolong kamu jangan bilang dulu ke Jia ... Bunda tau kamu kaget, tolong Jerga ... hiks, Nangga pergi, Jer ... anak bunda pergi ...."
Kenapa ... Kenapa dia selalu mendapat kabar seperti ini melalui telepon? Dulu sang ibu, sekarang Nanggala? Kenapa dia tidak ada di sisi orang-orang tersayangnya di hari terakhir mereka?
"Na, hiks ... Nala kemana, Bunda ...?" lirihnya purau.
Gadis itu melirik Yewina di sampingnya, bibirnya bergetar "Nala kemana ...? Nggak bener kan, Bun?" tanyanya sekali lagi.
"Jia ...," Yewina tidak sanggup, dia tidak sanggup mengucapkan itu kepadanya, "Nala udah nggak disini ... Maafin Bunda sayang, maafin Bunda nggak bisa minta sama Nala buat tetap disini ... Nala pergi ...."
Air matanya semakin turun deras mendengar itu, di tatapnya lagi foto Nanggala yang di usapnya tadi, kepalanya lalu menggeleng pelan.
"Nggak ... Hiks, nggak! Jia mau ketemu Nala, Jia mau cari Nala ...."
Yewina sedikit terkejut kala gadis yang berada di pelukannya itu seketika berdiri dan berlari keluar kamar. Bahkan beberapa dari mereka yang sejak tadi hanya terdiam dan berdiri di samping pintu pun sempat tertabrak oleh bahu Jia.
Jerga membulatkan mata dan mengejar kakaknya, sama dengan yang lainnya. Gadis itu akan keluar? Di luar sedang hujan deras.
Sementara Jia tidak peduli dengan orang-orang di belakangnya yang memanggil namanya, dia berlari menuju teras rumah dan menuruninya, bahkan kakinya pun tidak beralaskan apapun.
"Dek!"
__ADS_1
Janan yang masih berada di luar bersamaan dengan Yodhan pun terkejut melihat sang adik berlari keluar dari rumah, tubuhnya lantas ikut berlari keluar mengejar gadis itu, dan seketika tubuhnya basah kuyup oleh air hujan.
"Dek, hujan!" seru Janan sambil melindungi kepala sang adik yang sudah berhasil di cekal olehnya. Entah adiknya itu akan berlari kemana dia sendiri pun bingung.
Matanya memanas ketika melihat kondisi adiknya yang menangis sekarang. Sepertinya dia tahu apa yang membuat adiknya seperti ini, dia sudah di beri tahu Jerga kemarin.
"Na ... hiks, Nala kemana ...." isak gadis itu lalu jatuh terduduk dengan pelan, dia masih ingat jika dia tengah mengandung.
Semuanya menatap Jia dari teras rumah sambil menahan tangis atau bahkan ada yang sudah menangis, termasuk Yora yang tadi baru pulang dari toserba. Rasen dan Haksa kini sama-sama menangis, kedua lelaki itu bahkan sudah menangis sejak dari dalam kamar tadi.
Mereka atau bahkan Jia masih tidak percaya. Nanggala pergi meninggalkan mereka? Tidak ada bendera pertanda orang meninggal disini, pun dengan rumahnya, rumah Nanggala tidak ramai oleh orang.
Atau ... keluarga lelaki itu masih mendapat kebencian hingga sekarang?
"Nanggala, Sa ..." lirih Rasen yang langsung bersembunyi di tubuh Haksa, lantas membuat sang empu yang mengerti langsung memeluk kembarannya dari samping.
Yodhan yang tadinya kebingungan pun sudah tidak bisa menahan tangisnya lagi, ketika tadi dia bertanya kepada anak yang bernama Gasta tentang apa yang membuat Jia seperti itu. Akan seperti apa jika orang tuanya tahu Nanggala sudah pergi? Mereka sangat menyayangi anak itu.
Jerga melangkah menuruni teras rumah dan menembus hujan, lelaki itu berjalan mendekati kakaknya dan berjongkok. Langsung saja dia membawa tubuh itu ke dalam pelukannya.
"Na ...! Hiks, Nala kemana, Jer ...."
Yang di tanya hanya bisa mengusap matanya yang lagi-lagi menangis, meskipun air matanya sudah bercampur dengan air hujan. Pun dengan Janan, melakukan hal yang sama dengan posisi masih berjongkok di depan mereka berdua.
Yora sejak tadi hanya bisa memeluk Yewina dari samping. Melihat Jia yang menangis sambil tidak hentinya memanggil nama Nanggala seperti itu, dia rasanya sungguh tidak tega. Lain halnya dengan Gasta, lelaki itu hanya sesekali mengusap kasar matanya, dia menangis dalam diam. Sama seperti Yunan, entah kenapa dia juga merasa kehilangan sosok Nanggala. Orang yang pernah di sakitinya.
"Nala ... Jer, Nala kemana, Jia mau ketemu Nala ...!" nadanya mengeras lagi dan berusaha untuk berdiri, namun langsung saja di tahan oleh Jerga.
"Kak! Kak ... Jangan gini, Nanggala pasti nggak suka ..." lirihnya.
Jerga semakin mengeratkan pelukannya, membuat Jia lagi-lagi semakin menangis keras di dalam sana. Dia bisa merasakan jaketnya di remas kuat. Tubuh gadis itu bergetar dengan napas yang mulai tersenggal dan sesenggukan.
"Na ... hiks, Nala udah janji bakal sama Jia, Jer ... Di samping Jia ... Nala udah janji ...."
"Kenapa Nala pergi, Jer ...? Kenapa Nala ninggalin Jia ...."
"Nala bohong ...."
"Hiks, Nala bohong ...."
Dadanya terasa sangat sakit, dia hanya bisa memanggil nama itu yang bahkan membuat dadanya berkali lipat sakitnya.
Nanggala sudah pergi? Nala-nya sudah benar-benar pergi ...? Dia kehilangan lelaki itu ....
Dia tidak bodoh menganggap foto di atas ranjang tadi hanya sekadar pajangan atau apapun. Dan lagi, semuanya di benarkan oleh Yewina. Di sekeliling foto itu juga terdapat beberapa bunga, dengan Nanggala yang ternyata tidak sedang beristirahat di atas ranjangnya.
Namun sudah beristirahat dengan tenang. Di tempat lain.
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Hayooo, siapa yg nangis angkat tangan??...
...Oke, saya yg nulis aja mewek'))...
__ADS_1
...Terus dukung author dan boom komen setelah membaca yaa♡...