
Kalian pernah membayangkan visual mereka ngga?
Pasti pada ngebayangin Nanggala orangnya adem baik gitu ya diliat wkwk. Terus juga sosok Jiara yang polos dan baik. Okay jadi mari kita perkenalan satu per satu tokoh dengan visual versiku.
Jadi jangan pada protes yaa kalau visualnya nggak sesuai ekspetasi kalian, hihi. Karena cerita ini memang ada versi *******-nya, udah duluan publis disana dan udah end juga.
Udah siap?
Let's go~!
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Nanggala Aksha Gentala
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Aziel Jiara Abhicandra
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Aziel Jergara Abhicandra
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Maldev Liam
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Rasen Adlano Zhou
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Haksa Adlino Zhou
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Yunan Kaindra Loka
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Ragasta Bintang Gaffi
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Yesha Kheylin Dhira
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Yora Hansa Gilshany
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Janan Gama Abhicandra
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Jihan Elia Abhicandra
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Yodhan Zhafir Luham
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Cleo Aidan Nazhier
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Alji Lingga Pratama
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Arsenno Ghava Haikal
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Alwan Jauzar Randhi
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Yewina Athania
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Wendra Aksha Gentala
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
__ADS_1
Dharma Abhicandra
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Jessika Hanasta
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Thalia Kirana
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Hardi Yafiq
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Shandy Alfan Nazhier
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Iresh Thania Dahayu
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Hariz Adliano
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
Wilsa Zhou
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Happy reading♡...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
"Na ...."
Suara Jia sudah purau karena sejak tadi tidak berhentinya menangis sambil menyalahkan dirinya sendiri.
Dia tidak tega melihat kondisi lelaki itu yang seperti ini, banyak lebam di wajahnya, apalagi bibir itu, kini tidak tersenyum seperti biasanya kepadanya.
"Na, maafin Jia ... Maafin Jia, Nala jadi gini ..." isaknya menggenggam erat telapak tangan si lelaki.
Mengelus punggung tangan itu lembut, dadanya kembali sesak, banyak luka gores di tangan Nanggala.
"Dokter kan udah bilang Nala nggak papa. Nanti pasti Nala bangun, buat Jia, buat Bunda, buat kita semua."
Dia meringis dengan ucapannya sendiri. Nanggala tidak sebaik itu.
Jia beberapa kali mengusap matanya yang sejak tadi cairan bening itu tidak berhentinya turun, mata sembapnya kembali menatap mata Nanggala yang tertutup.
Dia mendengar dari Jerga, jika lelaki itu semalam pergi untuk mencarinya.
Memang, setelah beberapa puluh menit Nanggala mengantar Jia ke rumah, gadis itu berpamitan kepada Jerga untuk pergi ke minimarket.
Tetapi bukan itu, kakinya tidak melangkah ke sana, dia berjalan kaki hingga ke danau yang sering dia kunjungi bersama lelaki itu.
Dia duduk di sana seorang diri dan merenung hingga akhirnya menumpahkan tangisnya lagi di tempat itu. Dia bahkan mengabaikan beberapa telepon dari Jerga dan kakaknya yang lain.
Hingga setelah di rasa dadanya sudah tidak terlalu sakit, Jia berencana pergi ke rumah Yewina dan juga menemui Nanggala, karena lelaki itu sebelum pulang mengantarnya tadi berkata kepadanya jika malam ini akan menginap di kontrakan sang bunda.
Jia akhirnya ke kontrakan Yewina, dan menceritakan semuanya di sana sambil menangis dan memeluk wanita itu.
Namun tidak ada Nanggala, lelaki itu sejak sore tadi belum pulang kesini katanya, dan tentu saja membuat Jia benar-benar khawatir jika terjadi sesuatu dengannya.
Nanggala bilang, cluster headache-nya sering kambuh saat malam.
Dan ... Jia pergi mencari Nanggala dengan berjalan seorang diri malam itu. Tetapi belum jauh langkahnya keluar dari lingkungan kontrakan Yewina, gadis itu lagi-lagi mendapat telepon dari Jerga dan akhirnya dia menerimanya.
Hingga setelahnya tubuhnya lemas saat itu juga mendengar apa yang Jerga sampaikan, air matanya juga sudah tidak dapat di bendung lagi. Ingin sekali dia berteriak sekencang mungkin.
Iya, Jerga memberi tahunya jika Nanggala kecelakaan. Saat mencarinya.
Hingga kini, dia terus menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu.
"Kak, udah mau pagi. Istirahat dulu." Ucap Jerga dari belakang.
Lelaki itu sama sedihnya dengan sang kakak, dia menatap punggung sang empu dari belakang dengan mata yang memanas.
"Iya, sayang, bener kata Jerga. Udah mau pagi ... Istirahat dulu ya di rumah?" senyum Yewina lembut mengelus rambut belakang gadis itu.
"Jia harus sekolah. Nanti kalau udah pulang bisa kesini lagi nemenin Nala."
Gadis itu masih terdiam, rasanya masih berat mengangkat tubuhnya dari kursi yang di dudukinya sekarang ini. Dia tidak ingin meninggalkan Nanggala, dia ingin terus bersama lelaki itu.
"Kak." Panggil Jerga sekali lagi.
"Kakak pengen nemenin Nala ..." gumamnya lirih.
Jerga menghembuskan napasnya lirih, dia lalu menatap Yewina yang tengah tersenyum hangat ke arahnya.
"Yaudah nggak papa, Jerga. Biar Jia disini sama Bunda. Kamu pulang aja, istirahat juga, sarapan yang banyak nanti, ya?" kata wanita itu sambil mengelus lembut rambut belakang anak di sampingnya.
Mata Jerga kembali memanas. Ah, dia merindukan ibunya. Sentuhan lembut Yewina mengingatkannya kepada sang ibu.
Bibirnya terangkat dan membentuk senyuman sendu, "makasih, Bunda. Nanti biar Jerga yang bilang ke papa."
Yewina mengangguk sambil masih tersenyum hangat. Kakinya mengikuti anak itu yang kini sudah akan keluar dari ruang rawat ini.
"Kamu hati-hati, ya? Nggak boleh ngantuk."
Jerga masih diam termenung di depan pintu kala tangan Yewina terangkat dan merapikan jaket yang di kenakannya.
Wanita itu ... wanita yang sangat baik, wanita yang di sakiti oleh ayahnya sendiri, hingga ayahnya melampiaskannya kepada ayah Nanggala.
__ADS_1
Dan juga kepada Nanggala.
Ayahnya iblis.
Jerga merasakan sakit di dadanya, sebelum dia membalas senyuman wanita itu dan menghembuskan napasnya panjang.
Dia mengangguk dan mencium tangan Yewina untuk berpamitan kepada wanita itu. Kakinya melangkah menyusuri lorong rumah sakit yang cukup sepi ini dengan tangan yang sedikit terkepal.
.......
.......
.......
Hari sudah mulai malam, Jerga setelah pulang kelas tambahan malam langsung ke rumah sakit. Tidak, dia pulang terlebih dahulu dan berangkat bersama Janan menggunakan mobil lelaki itu.
Jerga berniat menyuruh Jia untuk pulang bersama kakak lelakinya nanti. Gadis itu pasti kelelahan seharian di rumah sakit, dan besok juga harus sekolah.
Serta ayahnya yang tidak ingin alasan apapun lagi katanya, dia sudah lelah berdebat dengan pria itu.
"Bunda mau pulang sekalian? Biar bareng sama Kak Janan. Bunda harus istirahat juga." Kata Jerga menatap wanita yang duduk di sampingnya.
Yewina menatap kedua anak lelaki itu bergantian dan mendapat anggukan juga senyuman dari Janan. Benar, dia belum membawa apa-apa kesini. Setelah malam kemarin di beritahu oleh polisi jika putranya kecelakaan, dia langsung bergegas ke rumah sakit tanpa membawa apapun saking cemas dan khawatirnya.
"Biar Jerga yang jaga Nanggala disini. Temen-temen yang lain juga sebentar lagi kesini kok." Lanjut Jerga tersenyum.
Kepalanya akhirnya mengangguk menyetujui ucapan Jerga. Hingga kehadiran Jia di hadapan mereka membuat ketiganya langsung mengalihkan perhatian. Yewina tersenyum, dia beranjak dari duduknya dan merangkul lengan anak itu lembut.
"Pulang dulu ya, Nak? Besok kita kesini lagi temenin Nala." Ajaknya.
Jia menatap sayu mata wanita itu, hingga akhirnya kepalanya pun mengangguk. Jujur dia juga lelah, punggungnya sangat lelah. Apalagi dirinya tengah hamil juga.
Mereka bertiga akhirnya pulang dengan mobil Janan. Jerga juga berpesan kepada Janan untuk terus menjaga Jia dari sang ayah di rumah, dia tidak ingin hal yang tidak-tidak terjadi kepada gadis itu.
Sepeninggal mereka, Jerga melangkahkan kakinya mendekati brankar berisi lelaki yang sejak kemarin masih terbaring tak bergerak di sana. Dia mendudukkan dirinya di kursi samping brankar lalu tersenyum tipis sambil menatap wajah itu.
"Maafin gue, Na."
Jerga menghembuskan napasnya yang terasa sesak.
"Maafin gue udah nelepon lo dan bikin lo kayak gini."
Tidak Jia tidak Jerga, keduanya sama-sama menyalahkan dirinya sendiri, sama-sama berasumsi jika Nanggala seperti ini karena mereka.
"Kenapa gue nggak pernah ngertiin keadaan lo ... Selalu berpikiran kalo cuma gue yang ngerasain sakit, dan selalu minta bantuan sama lo." ia terkekeh kecil di akhir kalimatnya.
Jerga memang merasa seperti itu. Di saat ibunya meninggal, dia menghubungi Nanggala karena dirinya yang sangat hancur kala itu, hingga berakhir membencinya karena lelaki itu tidak mengangkat telepon darinya.
Padahal ... Nanggala lebih sakit darinya.
Sekarang ini juga sama, meminta bantuan untuk mencari kakaknya, hingga berakhir seperti ini. Jerga sedang kacau karena kakaknya tidak pulang-pulang, pikirannya pun kemana-mana.
Dia sungguh menyesal.
"Gue bodoh ... Maafin gue." Lirihnya mulai menundukkan kepalanya.
Jerga tidak tega melihat keadaan Nanggala seperti ini, wajahnya benar-benar banyak luka. Ada yang berwarna ungu, dan sebagian berwarna hitam.
Kata polisi, helm Nanggala sudah terlepas saat di temukan, dan posisinya pun cukup jauh dari tubuhnya. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana mengerikannya kecelakaan itu.
Nanggala banyak mengeluarkan darah di bagian kepala, Jerga benar-benar tidak tega. Lelaki itu selalu merasakan sakit seperti ini, dia tidak tega.
"Lo sahabat terbaik gue, Na. Lo selalu ada buat gue. Iya, lo nggak pernah ninggalin gue. Maaf gue pernah bilang gitu dulu."
"Gue seneng ketemu lo."
Senyumnya manis dengan mata yang terus menatap mata tertutup itu.
Kemarin kata dokter, Nanggala koma. Jerga dan Yewina tentu saja sudah di beritahu dokter akibat dari kecelakaan kemarin malam yang menimpa lelaki itu.
Jia tidak tahu. Jerga bilang kepada Yewina agar kakaknya tidak di beri tahu. Dia tidak ingin gadis itu menjadi kepikiran atau stres, kasihan bayi yang di kandungnya.
Meskipun ... Dia pun sangat sakit mendengar berita itu.
"Bangun, Na. Kakak gue nungguin lo."
"Dan, anak lo."
Kepalanya Jerga tolehkan ke belakang ketika pintu ruang rawat ini terbuka, dan langsung menampakan kehadiran dua orang lelaki yang berjalan beriringan memasuki ruangan ini.
"Huhuu, Nanggala sahabat Accaa!" suara Haksa langsung menggema disini.
"Kok bisa sih?" tanya Rasen memandang sedih Nanggala, dan hanya di jawab dengan senyum tipis Jerga.
Luka-lukanya membuat Rasen merinding. Dia masih tidak percaya saja Nanggala begini maka dari itu dia bertanya lagi, meskipun dia juga sudah di ceritakan Jerga bagaimana kejadiannya.
"Udah pada pulang, Jer?"
Lelaki yang di tanya oleh Haksa itu mengangguk, "Iya, Jia udah pulang sama kak Janan. Bunda Yewina juga."
"Yaah, padahal gue pengen ketemu bundanya Nanggala." Sedih Haksa yang langsung di lirik sinis oleh kembarannya.
Jerga terkekeh kecil mendengarnya, sementara Rasen yang tadinya dari masuk langsung mendekat ke brankar Nanggala, kini dia berjalan ke meja yang berada di ruangan ini.
"Kita bawa makanan, Jer. Lo pasti belum makan, 'kan?"
Jerga tersenyum tipis. Ya, dia belum makan dari terakhir dia sarapan pagi. Di sekolah saja lelaki itu tidak ikut makan siang.
Tidak napsu makan rasanya.
"Kita bawa lebih, gue kira bunda Yewina nginep. Yaudah nggak papa." Rasen berjalan lagi mendekati brankar.
"Tenang, Ras. Haksa yang ganteng ini bisa habisin semua kok." Senyumnya manis.
Jika bukan di rumah sakit, ingin sekali Rasen beradu mulut dengan lelaki itu.
Ataukah, Rasen dorong saja lelaki itu dari atas sini lewat jendela? Kebetulan ruang rawat Nanggala berada di lantai lima puluh.
Tidak tidak. Bercanda.
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...Terus dukung author yaaa^^...
__ADS_1
...Like, komen, + favorit. Tunggu kelanjutannya ~...