
Nanggala tersenyum manis menatap wajah itu dari samping. Wajah Jia yang cantik, yang sejak tadi sesekali menunduk karena tengah mengupas apel untuknya.
Sejenak matanya terpejam, meringis menahan sakit dan pusing di kepalanya. Tidak ingin gadis itu tahu dan menyadarinya, Nanggala hanya bisa menahan ringisannya dalam diam. Pandangannya lalu teralihkan ketika wajah yang sejak tadi di pandanginya itu terangkat.
"Na? Nggak papa?"
Dapat pertanyaan seperti itu, Nanggala menggeleng pelan dan tersenyum lembut, "Nala nggak papa."
Jia membalas senyuman itu, di lanjutkan dengan menyuapkan buah apel yang sudah di kupasnya tadi ke mulut Nanggala.
Tidak ada tanda-tanda Yewina disini, wanita itu tengah pulang sebentar. Jerga-pun tidak ada, lelaki itu harus les.
"Jia seneng Nala udah bangun."
Nanggala menatap mata itu yang masih setia menatapnya senang, hingga kemudian terhenti dan mata cantik itu mulai menatapnya sedih.
"Jia kira ... Jia bakal kehilangan Nala ..." gumamnya lirih.
"Jia kira bakal kehilangan orang yang Jia sayang lagi."
Nanggala yang mendengar itu lantas tertegun, iya, gadis itu juga pernah kehilangan seseorang yang paling di sayang di hidupnya.
Sosok ibu, gadis itu sudah kehilangannya sejak remaja.
Nanggala lantas tersenyum lembut lalu meraih telapak tangan gadis itu untuk di genggamnya.
"Nala disini kok. Nala disini sama Jia," Dia mengelus lembut punggung tangan itu, menggenggamnya erat, "udah jangan sedih. Nanti makin cantik." Kekehnya kecil.
"Jia pengen bilang makasih sama bunda Yewina."
Nanggala mengernyit, "kenapa?"
Gadis itu tersenyum, "udah ngelahirin malaikat baik kayak Nala. Dan Jia juga pengen bilang makasih sama Tuhan, karena udah mempertemukan Jia dengan malaikat baik itu."
Nanggala terkekeh kecil lagi dan menatap mata itu dalam, kemudian sedikit mencondongkan tubuhnya untuk mengecup kening itu. Hal itu membuat Jia memejamkan matanya sejenak.
"Na ... Nanti kalo Nala udah sembuh dan pulang dari sini, main ke danau lagi, ya? Jia pengen beli cotton candy lagi." Pintanya senang.
"Hm? Cotton candy?"
Jia mengangguk sambil tersenyum senang.
"Kayak gini?"
Mata Jia seketika membulat saat dengan gerakan cepat Nanggala mendekatkan wajah kepadanya dan langsung mengecup bibirnya, hingga tidak lama kemudian lelaki itu menjauhkan wajahnya lagi sambil tersenyum manis.
Yang di rasakan Jia sekarang ini adalah malu. Dia sangat malu dan tidak menyangka kata-kata tadi akan membawanya ke sana.
Ya, Jia tentu saja ingat, mereka saat itu kan berciuman untuk yang pertama kali di balik cotton candy, di pinggiran danau.
Ah, dia benar-benar merutuki kebodohannya. Lihatlah, Nanggala yang tengah tersenyum manis seperti itu kepadanya malah membuatnya semakin malu.
Sementara Nanggala kembali terkekeh, dia mengacak pucuk kepala gadis yang masih menutupi pipi merahnya saat ini.
"Wah, asik banget nih kalian? Bunda ikut dongg~"
__ADS_1
Suara itu membuat keduanya menoleh, dan mereka langsung mendapati dua orang yang baru saja memasuki ruang rawat ini. Yewina dan juga Jerga. Mereka datang bersamaan.
Jia tersenyum, sesekali masih menutupi senyum malunya, tentu saja membuat sang kembaran menatapnya aneh sambil terkekeh tak bersuara.
"Jia udah makan?"
Gadis itu menggeleng ketika di tanya oleh Yewina. Wanita itu tersenyum dan meletakan tas sedang berisi makanan yang dia bawa dari rumah.
Jia yang melihat pergerakan Yewina itu langsung berjalan mendekat, "eum, Jia pengen kue, Bunda."
Melihat ekspresi gadis itu yang sepertinya tengah menutupi senyumannya sambil merengek seperti tadi, Yewina dapat menebak, pasti ada yang baru saja terjadi disini sebelum dia datang tadi.
Yewina terkekeh dalam hati memikirkannya, kepalanya lantas mengangguk lalu merangkul lengan gadis itu, "yaudah yuk sama Bunda?"
Jia mengangguk senang dan dengan cepat membawa Yewina keluar dari sini. Dia benar-benar malu dengan apa yang terjadi tadi.
Gadis itu tentu saja membuat kedua lelaki yang sejak tadi memperhatikan gerak-geriknya terkekeh bersamaan. Jerga tahu. Ah, kakaknya bisa sesenang ini karena Nanggala, kenapa ayahnya tega memisahkan mereka? Padahal anak itu adalah anak Nanggala.
Sepeninggal Yewina dan juga Jia, Jerga yang tadinya berdiri akhirnya duduk di kursi yang menghadap ke ranjang Nanggala. Lelaki itu menghembuskan napasnya pelan.
"Na."
Lelaki yang tengah bersandar pada kepala brankar itu menoleh ketika suara itu menyebutkan namanya, kemudian mengangkat kedua alisnya seolah bertanya 'apa' kepada lelaki di sampingnya.
"Kepala lo ... beneran—"
Nanggala tersenyum kepada sahabatnya itu. Sedikit terkejut memang Jerga tahu tentang penyakitnya dan akan bertanya seperti ini.
"Gue nggak papa, Jer."
Nanggala kembali tersenyum hangat mendengar itu, "gue tahu, Jer. Emang itu yang gue rasain."
"Tapi lo teratur minum obat, 'kan? Lo pasti sembuh." Tanyanya lagi.
Melihat Nanggala yang menggelengkan kepalanya pelan, membuat Jerga menautkan kedua alisnya bingung, juga ada rasa kesal dan marah yang dia rasakan.
"Minum obat cuma buat sakitnya berkali-kali lipat, Jer."
"Gue udah capek ...."
Jerga menatap lelaki itu sendu. Dari cerita yang dia dengar dari Yewina saja sudah membuat hatinya sakit, lalu sekarang, dia mendengar dari Nanggala-nya langsung. Sahabatnya begitu rapuh.
"Gue capek. Gue capek minum obat, gue capek sakit itu terus muncul, gue capek benturin kepala gue ke tembok, gue capek pukulin diri gue sendiri ..." lirihnya di akhiri dengan menghembuskan napasnya panjang.
Matanya kembali menatap Jerga yang sudah berair di sana, sama dengan dirinya, "sorry, Jer. Gue malah ngeluh sama lo." Kekehnya kecil.
Jerga mengepalkan telapak tangannya yang dia letakan di atas pahanya. Tenggorokannya sangat tercekat menatap mata lelaki itu, apalagi senyum manisnya. Kenapa lelaki itu masih bisa menunjukan senyum manisnya di saat kondisinya yang seperti ini?
"Gue juga tahu ... pembengkakan otak, 'kan?" tanyanya menatap Jerga lagi sambil tersenyum.
Nanggala menghembuskan napasnya panjang lagi dan tersenyum tipis. Dia memandangi lengannya yang masih tersisa luka gores akibat kecelakaan kemarin.
"Mungkin gue bakal pergi, Jer."
Bola mata Jerga sedikit membulat, "pergi kemana?!" sergahnya.
__ADS_1
Hal itu tentu saja membuat Nanggala terkekeh pelan. Bukan itu yang dia maksud, "gue bakal pulang. Ke Bandung. Mungkin nggak akan lama lagi."
Jerga terdiam.
"Kenapa ...?" suaranya melirih.
"Gue udah rencanain ini sama bunda waktu itu. Gue pengen pulang ke Bandung. Gue kangen sama ayah ...."
Jerga bisa merasakan matanya buram lagi sekarang. Mendengar kata-kata itu, dia kembali bersalah lagi.
Nanggala rindu ayahnya, namun jasad ayahnya bahkan tidak pernah di temukan sampai sekarang. Dan itu semua karena ayahnya. Ayahnya yang sangat iblis itu.
"Kak Jia?"
"Besok gue kasih tahu sendiri, Jer. Besok weekend, dia pasti bakal seharian disini." Jawabnya tersenyum hangat.
Jerga menghembuskan napasnya yang di rasa terlalu sesak. Dia tidak bisa melarang lelaki itu agar tidak pergi. Pasti, Nanggala pasti ingin mengunjungi tempat dimana sang ayah menghembuskan napas terakhir kala itu. Meskipun tadi, jasadnya tidak pernah di temukan.
Nanggala memejamkan matanya kala perutnya mulai terasa mual lagi seperti kemarin, kepalanya juga sedikit pusing. Beruntung Cluster-nya tidak kambuh sekarang ini.
"Apa yang sakit?" tanya Jerga khawatir melihat perubahan wajah lelaki itu.
Masih terdiam, Nanggala kembali membuka matanya dan menggeleng, "nggak, Jer. Mual aja."
"Gue anterin ke toilet?"
Nanggala mengangguk menerima tawaran Jerga. Dia turun dari ranjang pasiennya di bantu oleh Jerga pelan-pelan, pun ketika kakinya sudah menapaki lantai, Jerga menuntunnya dengan sabar menuju ke toilet.
Baru beberapa langkah Jerga di kejutkan dengan tubuh Nanggala yang sedikit merosot ke bawah.
"Nggak papa, Na?"
"Kaki gue tiba-tiba lemes banget."
Jerga lagi-lagi terdiam. Apa sudah separah itu?
Setelah mengetahui apa yang di derita sahabatnya itu, selain Cluster Headache, Jerga juga mulai mencari dan membaca gejala pembengkakan otak. Katanya si penderita akan mengalami mual, pusing, kesulitan berjalan atau keseimbangan, bahkan mati rasa.
"Jer."
"Jangan bilang Jia, ya?"
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
...• To be continued •...
...ㅤㅤㅤㅤ...
...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...
__ADS_1
...Like komennya yaaa, terus dukung author♡...