NANGGALA AKSHA

NANGGALA AKSHA
17. Strawberry & Kamu


__ADS_3

Hari ini weekend, Nanggala ingin sekali mengajak Jia pergi bermain keluar, karena sepertinya sejak keadaan mentalnya terganggu, gadis itu tidak pernah keluar rumah. Mungkin inilah alasan gadis itu kadang keluar sendiri ke taman bermain waktu itu, waktu bertemu dengannya.


Dan sekarang ini, dia tengah mengayuh sepedanya dengan gadis itu yang berada di belakangnya sambil memeluknya erat.


Tidak apa-apa, perutnya sudah tidak sesakit kemarin.


Sepeda itu berhenti di depan toko berwarna pink kombinasi putih di depan mereka, bisa Nanggala lihat di dalam sana sudah ada beberapa pengunjung.


Jia yang mengerti langsung turun dari sepeda, dengan Nanggala yang mengikutinya dan memarkirkan sepedanya di samping toko. Lelaki itu mengulurkan tangannya dan membuat Jia langsung menggenggam tangannya, mereka berdua saling melempar senyum manis.


"Pagi, Budhe!"


Suara itu membuat wanita yang mengikat setengah rambut panjangnya menoleh, seketika senyumnya mengembang cerah, "waah, ada Nanggala sama Jia!"


Thalia berjalan mendekat dan menepuk pelan lengan Nanggala, lalu beralih menatap Jia dan melambaikan tangannya sambil tersenyum manis.


"Halo, Jia!"


"Halo, Budhe Thalia!"


Senyum Jia benar-benar cerah dan senang, Nanggala yang menatapnya saja tersenyum hangat. Meskipun baru bertemu satu kali dengan budhe Thalia waktu itu, tetapi Jia dengan cepat juga bisa menerimanya.


Memang, Thalia terlihat lembut kepada siapa pun, wanita itu juga sudah mendengar bahwa Jia terkena gangguan mental. Dan itu membuatnya merasa sedih melihatnya.


Tentu saja Thalia tidak tahu bahwa Jia adalah gadis yang dijaga oleh Nanggala, ataupun Nanggala bekerja untuk menjaga gadis itu, yang wanita itu tahu ya Jia adalah teman Nanggala.


"Yuk, duduk yuk?"


Thalia menarik lembut pundak Jia dan di tuntunnya ke salah satu meja lalu mendudukkannya di sana. Nanggala yang berjalan di belakang mereka hanya tersenyum melihatnya.


"Sebentar yaa?"


Kedua anak itu hanya mengangguk sambil menatap kepergian Thalia ke arah belakang.


Tidak ada tanda-tanda Hardi disini, pun dengan Yodhan, Nanggala juga belum melihatnya. Hingga tidak lama kemudian Thalia datang sambil membawa dua piring kecil yang di atasnya sudah ada dua buah potongan kue juga. Wanita itu meletakkannya di meja, di hadapan keduanya.


"Nah, buat Nanggala sama Jia~"


Melihat kue yang diberi Thalia tadi, Jia semakin tersenyum lebar kala matanya menangkap adanya sebuah strawberry di atas kue miliknya.


"Terima kasih, Budhe Thalia!"


"Iyaa, gih di makan."


Thalia mengelus lembut rambut panjang Jia, kemudian beralih kepada Nanggala dan dirinya tersenyum lagi, lalu menyuruh anak itu untuk segera memakannya juga. Bukan, Nanggala tentu saja tidak memakan apapun olahan strawberry, dia tahu. Jadi untuknya, dia memberinya kue raspberry.


"Pakde dimana, Budhe?"


"Pakde? Dia pergi ke pasar tadi."


Nanggala hanya manggut-manggut saja mendengarnya, tugas ke pasar memang seringnya Hardi yang pergi.


Pernah saat Yodhan tidak ada kelas dulu, wanita itu menyuruh anak lelakinya pergi ke pasar. Tetapi bukannya pergi ke pasar, Yodhan malah pergi ke warnet. Ya sudah, lagi-lagi dia dipukul ibunya menggunakan sapu.


Nanggala terkekeh mengingat Yodhan pernah bercerita itu kepadanya.


"Terus, mas Yodhan?"


"Masih tidur dia," raut wajah Thalia berubah sebal, "libur bukane bantu budhe, malah semalaman dolanan game, dan biasane baru bangun jam tiga sore nanti."


Nanggala terkekeh mendengarnya. Seperti itulah Yodhan, dia itu mirip dengan beruang jika sedang libur atau tidak ada kelas, akan hibernasi seharian di kamar. Sekarang jam saja sudah menunjukan pukul sembilan pagi.


"Nanti Nanggala bangunin." Senyumnya dan melirik Jia di sampingnya, mengusap dagu gadis itu dengan ibu jarinya.


Ya ampun, sangat gemas. Jia yang tengah asik makan kue miliknya, sekarang ini sudah ada beberapa cream yang menempel di dagu dan sekitar bibir gadis itu. Membuat Nanggala terkekeh sendiri.


Sama halnya dengan Thalia, wanita itu menatap lembut kedua anak yang duduk di hadapannya. Menghela napas pendek, kemudian di gantikan dengan senyum haru. Sepertinya, Nanggala sangat perhatian dengan gadis itu. Gadis yang masih Thalia tahu hanya teman sekelas Nanggala saja.


Bukan gadis yang dijaga oleh Nanggala.


Dan juga bukan gadis yang mulai di sayangi oleh Nanggala.


Ya, Nanggala membenarkan itu.


.......


.......


.......


Matahari masih terlihat cerah di atas sana, namun panasnya tidak terlalu menyengat. Lagi-lagi Nanggala senang karena hari ini tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Lelaki itu berjalan memandangi sekelilingnya sambil tangannya yang sejak tadi tidak lepas menggenggam tangan gadis di sampingnya.


"Jia mau makan apa buat nanti malem?" tanyanya menolehkan kepalanya ke samping.


Nanggala lihat gadis itu sepertinya tengah berpikir sejenak, membuatnya terkekeh.


"Jia suka omelet telur."


Nanggala terkekeh lagi, "terus?"


"Ayam tepung!" jawabnya dengan ceria.


Nanggala tertawa kecil dan mengelus puncak kepala gadis itu lembut.


Sekarang ini mereka tengah berada di pasar. Jia yang meminta sebenarnya, dan dia tentu saja menurutinya. Kemarin gadis itu bilang ingin memasak bersamanya, karena katanya masakannya enak.


"Jia juga mau kue yang kayak budhe Thalia tadi ..." gumamnya lirih namun masih bisa Nanggala dengar.


Nanggala tersenyum, "iyaa, nanti kita buat kue yang kayak Jia makan tadi."


Jawaban itu tentu saja langsung membuat si empunya tersenyum lebar. Jia ini sangat menyukai kue yang di berikan Thalia tadi pagi, katanya juga ingin membuat bersama Nanggala di rumah.


Sekarang ini mereka tengah membeli ayam, yang nantinya akan di buat ayam tepung oleh Nanggala, dia juga membeli sayur dan yang lainnya untuk memasak yang lain. Nanggala sudah bilang kepada bibi tadi pagi, jika nanti mereka saja yang berbelanja ke pasar untuk menu makan malam.


"Nala, Jia mau strawberry."


Nanggala memberhentikan langkahnya saat Jia menunjuk sesuatu dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kiri masih saling menggenggam dengan tangannya. Kepalanya menoleh ke arah tunjuk gadis itu, tumpukan buah strawberry tepat di sampingnya dia berdiri. Nanggala terkekeh dan berjalan mendekat.


Banyak sekali, dan semuanya terlihat sangat menggiurkan memang. Ada yang sudah di packing dengan kotak mika, dan ada juga yang masih dalam satu wadah besar.


"Silahkan!"


Nanggala menganggukkan kepalanya sopan, "Jia mau berapa?" tanyanya kemudian.


Gadis yang sejak tadi asik mengamati buah berwarna merah itu menoleh ke arah yang bertanya, dan dengan cepat mengangkat tangannya membentuk jarinya menjadi angka dua.


Sudah yang ke berapa kalinya Nanggala tertawa kecil karena gadis itu, lalu selanjutnya dia memesan dua strawberry yang sudah di dalam mika itu.


"Ini buat kamu anak manis~"


Jia tersenyum dengan lebar kala ibu penjual itu menyodorkan satu buah strawberry berukuran cukup besar tepat di hadapannya, tangannya langsung terangkat dan menerima itu.


"Terima kasih!"


Gadis itu dengan senang langsung melahap buahnya, senyumnya tak pernah luntur sejak tadi.


"Ya ampun, kamu imut banget?" ibu tadi juga ikut tersenyum melihatnya, tangannya terulur dan mencolek lengan anak lelaki di sampingnya, "pacar kamu lucu banget, ya ampun, ibu jadi gemes."

__ADS_1


Nanggala tersenyum kikuk mendengarnya, matanya melirik Jia yang masih asik memakan strawberry yang tadi diberikan ibu itu.


"Ah, terima kasih, Bu."


Dalam batin Nanggala berkata 'bukan cuma ibu, Nanggala-pun juga gemas.'


Jantung Nanggala juga berdegup lebih cepat dari biasanya mendengar kata itu tadi. Pacar? Ah, dia memang ingin sekali terus bersama gadis itu.


Dalam batinnya kira-kira berkata lagi seperti ini 'doain Nanggala ya, Bu.'


Ah, sudahlah. Nanggala jadi ingin tersenyum sendiri.


Setelah membayar strawberry yang dibeli tadi, kini mereka berjalan lagi menyusuri pasar. Masih ada beberapa sayur yang belum Nanggala beli, mungkin setelah itu mereka akan pulang sembari mampir ke minimarket untuk membeli bahan membuat kue.


Mereka berjalan masih sambil bergandengan tangan, Nanggala yang memegang beberapa kantung keresek di tangan kirinya, dan Jia yang tengah memakan buah strawberry di tangan kanannya. Ibu tadi memberi gadis itu satu strawberry lagi sebelum mereka pergi, katanya Jia sangat menggemaskan, jadi memberikannya lagi.


Nanggala tersenyum menatap Jia yang masih lahap memakan buah itu, pandangannya lalu beralih ke depan lagi. Langkahnya sempat terhenti, matanya sedikit melebar, dan jantungnya kembali berdebar seperti kejadian di depan minimarket waktu itu.


"Bun ..." lirihnya dengan mata yang mulai memanas.


Jia yang merasakan Nanggala berhenti hanya menatap lelaki itu bingung. Dan beberapa detik kemudian badannya terasa tertarik sedikit ke depan, lalu terhenti lagi.


Masih di tatapnya dengan bingung, lelaki itu menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan mata sendu. Dia benar-benar bingung kenapa.


"Nala ....?"


Nanggala menghembuskan napasnya berat. Meskipun dia ingin sekali berlari mengejar seseorang yang dilihatnya tadi, namun dia urungkan ketika melihat ada seorang anak kecil yang wanita itu gandeng. Dan tadi dia lihat seperti tengah menyodorkan sesuatu sambil tersenyum manis.


Benar ... Itu bundanya. Bunda yang di carinya. Kenapa dengan seorang anak kecil ....?


Apa bundanya ... Tidak-tidak, bundanya bukanlah orang yang seperti itu. Dia sangat mencintai ayahnya. Sangat. Bundanya tidak mungkin meninggalkannya dan sang ayah. Tidak akan pernah.


Nanggala tersenyum lembut ke arah Jia yang masih menatapnya bingung.


"Kita jalan lagi."


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...───• ~⸙ᰰ~ •───...


"Jia capek?" tanyanya sedikit keras.


Yang Nanggala rasakan hanya gelengan kepala yang sejak tadi memang bersandar pada punggungnya. Dia lagi-lagi tersenyum hangat, meskipun sudah pasti gadis itu tidak akan melihatnya.


Jia memang sejak tadi bersandar pada punggung Nanggala, sambil memejamkan kedua matanya. Bukan mengantuk, dia menikmati angin yang sejuk menabrak kulitnya.


Nyaman, senang, Jia sangat senang hari ini. Hampir seharian dia berjalan-jalan dengan lelaki itu. Rasanya tidak ingin pulang ke rumah dan ingin terus bersamanya.


Jia nyaman bersama Nanggala. Lelaki itu selalu melindunginya, menggenggam tangannya lembut, merapikan dan mengelus rambutnya, memeluknya hangat, menghapus air matanya.


Jia tidak pernah senyaman ini. Nanggala lelaki yang lembut.


Itulah kenapa Jia saat itu bisa dengan cepat menerima Nanggala di pertemuan kedua mereka. Saat ketika lelaki itu terluka karena Janan, dia sudah merasa nyaman sejak pertama menatap mata lembut lelaki itu. Serta senyum manis lelaki itu.


Jia dengan kedatangan Nanggala seperti bertemu lagi dengan sang ibu, tidak pernah marah, selalu lembut dan penuh senyuman.


Jia menyayanginya.


Nanggala.


Jia menyayangi Nanggala.


Lelaki itu yang sering mengajaknya bermain di dunia luar membuat rasa takut dengan sekitar perlahan-lahan hilang. Meski masih beberapa kali takut, namun tidak setakut dulu.


"Tolong ... khh ... jangan ...."


Sama halnya dengan Nanggala, lelaki itu terkejut dan menghentikan kayuhan sepedanya lalu kepalanya sedikit menoleh ke belakang.


"Jia kenapa??"


Hanya gelengan yang Nanggala rasakan kembali di punggungnya. Sebenarnya dia tadi juga sempat mendengar suara terkejut gadis itu.


Ada apa? Gadis itu melihat apa hingga membuatnya sangat terkejut seperti itu?


"Jia?"


"Pulang ...."


Tanpa bertanya apapun lagi, Nanggala perlahan mulai mengayuh sepedanya. Sepertinya bukan waktunya untuknya bertanya, gadis itu seperti tengah ketakutan. Bisa dia rasakan memang tubuhnya sedikit gemetar di belakangnya.


Baiklah tidak jauh lagi mereka akan sampai di rumah, dia bisa menenangkannya dirumah.


Hingga setelah sampai, Nanggala meletakan lagi sepedanya di garasi, mengambil beberapa keresek belanjaannya tadi, lalu menuntun tangan Jia yang sudah menunggunya di depan garasi itu.


"Buat kue dulu?" basa-basi Nanggala karena terlihat gadis itu terus menunduk sejak tadi.


Nanggala kira, akan lama menenangkan dan membujuk gadis itu, tetapi ternyata secepat ini. Karena setelah dia bertanya seperti itu tadi, Jia langsung mendongakkan wajahnya, menatap ke arahnya dan langsung mengangguk dengan cepat sambil tersenyum sangat manis.


Ya ampun, ingin sekali Nanggala mengacak puncak kepala gadis itu, tetapi susah, tangan kanannya dia gunakan untuk membawa barang belanjaan, sementara tangan kirinya menuntun gadis itu. Jia begitu menggemaskan.


Memang benar seperti itu. Apalagi Jia yang kini mengenakan baju yang sedikit kebesaran berwarna soft pink, rambut panjangnya diikat setengah, tak lupa jepit rambut mungil berbentuk strawberry yang tempo lalu pernah gadis itu pakai juga.


Couple dengan Bonny.


Ah, Nanggala sempat merasa iri dengan Bonny yang bisa couple jepit rambut dengan Jia.


Tetapi ya mana mungkin dia pakai jepit rambut berbentuk strawberry juga?


"Bibi?"


Wanita paruh baya yang tengah berada di dapur itu menoleh, "eh, Nak Nanggala? Baru pulang?" tubuhnya mendekat dan langsung mengambil alih beberapa kantong keresek di tangan anak itu.


"Iya, Bibi." Balasnya tersenyum lalu mengambilkan Jia air putih di meja sampingnya.


Nanggala masih tersenyum dan menyodorkan gelas berisi air putih kepada Jia, gadis itu pun menerimanya dan langsung meneguknya.


"Oh iya, Bi. Nanggala sama Jia mau bikin kue dulu. Nggak apa-apa, 'kan?"


"Tidak apa-apa, Nak Nanggala. Dulu nona Jia juga suka sekali membuat kue dengan nyonya saat masih ada."


Nanggala tersenyum tipis mendengar itu, di tatapnya Jia yang masih berada di sampingnya. Tetapi terlihat gadis itu masih dengan ekspresi wajahnya yang tadi, itu berarti dia tidak mendengarnya.


Dia pun melempar senyum lagi kepada bibi, "ya sudah, kita mau buat kue dulu ya, Bi?"


Bibi mengangguk dengan senyuman di wajah yang sudah ada beberapa kerutan itu, mulai melangkah pergi sambil membawa kopi yang dibuatnya tadi. Nanggala langsung tahu pasti minuman itu untuk sang tuan rumah.


Namun sebelum itu langkahnya terhenti lagi ketika anak lelaki itu memanggilnya.


"Jerga kemana ya, Bi?"


"Aah, tuan Jerga tadi keluar sama motornya, dia nggak bilang ke Bibi mau kemana."


Nanggala menganggukkan kepalanya mendengar itu dan selanjutnya bibi yang benar-benar meninggalkan dapur.


"Ayo, Jia?"


Gadis itu mengangguk senang ketika melihat Nanggala mulai mengeluarkan bahan-bahan kue itu dari dalam kantong belanjaan mereka tadi.

__ADS_1


"Jia, boleh bantu aduk ini?"


Yang di beri perintah pun mengangguk senang dan menerima sebuah wadah putih dari Nanggala, dia pun lalu mulai mengaduk seperti apa yang lelaki itu perintahkan.


"Nala? Nanti taruh ini di atasnya, 'kan?"


Nanggala yang tengah sibuk dengan bahan lain pun langsung melihat tangan Jia yang menunjuk buah strawberry yang mereka beli tadi dipasar.


"Iya dongg. Nanti Jia yang taruh, hm?"


"Yeyyyy!!"


Lelaki itu terkekeh mendengarnya, Jia terlihat sangat semangat membantunya membuat kue. Bahkan sepertinya gadis itu tidak merasa lelah sedikit pun, padahal mereka hampir seharian diluar rumah.


Kegiatan mereka sempat terhenti ketika sosok Janan mendatangi dapur. Nanggala melirik Jia, gadis itu sudah menundukkan kepalanya dan melunturkan senyumannya. Ekspresi senang tadi kini hilang seketika.


Janan hanya menatap mereka tanpa ekspresi, kakinya masih terus melangkah, dan berhenti di depan kulkas, lalu mengambil sebuah kaleng dari dalam sana.


Nanggala juga masih terdiam, dia bingung harus menyapa yang bagaimana. Jujur dia sendiri takut dengan lelaki itu, auranya berbeda. Dingin. Sementara yang di tatap masih berdiri di depan kulkas yang pintunya sudah tertutup, membuka tutup kalengnya dan meminumnya seteguk, lalu melangkah lagi.


Tidak ada sepatah kata pun juga yang lelaki bertubuh tinggi tegap itu keluarkan, hanya saja memang sebelum pergi dari dapur lelaki itu sempat melirik Nanggala di sana. Sementara Nanggala yang di tatap seperti itu hanya membungkukan kepalanya dan tersenyum tipis.


Janan tidak membalas itu, tatapannya beralih kepada adik perempuannya yang posisinya memang berada tak jauh di sampingnya berdiri. Tangannya terulur untuk menyentuh lengan gadis itu namun hanya nyaris, karena Jia langsung memundurkan sedikit tubuhnya, kepalanya juga semakin menunduk.


Janan menghela napasnya.


Nanggala tahu Jia takut sekarang. Dan yang selanjutnya yang dia lihat adalah, Janan meraih tissue yang tak jauh darinya, dan meletakkannya di meja samping gadis itu.


"Lengannya kotor." Lirihnya dengan suara beratnya.


Jia masih diam tak bergeming, kepalanya masih menunduk. Nanggala juga masih terdiam dengan rasa bingungnya. Hanya itu yang Janan katakan sebelum lelaki itu benar-benar pergi meninggalkan dapur.


Apa hanya dia yang merasa kalau Janan mulai sedikit berbeda?


"Jiaaaa~!!"


"Halo, Jia? Na?"


Lamunan Nanggala buyar dengan suara keras yang baru saja datang itu, dia pun menoleh menatap kedua lelaki yang baru saja memasuki dapur dan langsung saja dia terkekeh melihatnya. Sementara Jia juga yang tadinya menunduk langsung mendongakkan wajahnya, seketika tersenyum senang melihat kedatangan dua anak kembar itu.


"Waah, Jia lagi buat kue ya?? Acca boleh bantu??" tanyanya semangat sambil tubuhnya lebih mendekat ke arah Jia.


"Boleh!" jawabnya mengangguk senang.


"Bantu makan iya kan lo!" sinis Rasen mendorong kening kembarannya dengan jari telunjuknya.


"Ihh, Accen!!" sungutnya kesal sambil mengusap keningnya, "tau ajaa!" sambungnya dengan senyuman lebar.


"Najis."


Rasen masih menatap lelaki itu sinis, tubuhnya berjalan dan mendekat ke arah Nanggala berada.


"Dari mamah." Rasen meletakan paper bag cukup besar di samping Nanggala, membuat lelaki itu juga menatap benda yang dibawanya.


"Masakan China, tadi sodara ada yang ke rumah gitu, masak-masak deh makanan China." Lanjutnya yang melihat ekspresi Nanggala sepertinya masih bingung.


"Dan ini juga buat lo, bawa pulang ya?"


Ya, Rasen mengeluarkan paper bag sedang dari wadah besar tadi, dan dia memberikannya pada Nanggala. Satu untuk keluarga Abhicandra, dan satu untuk Nanggala. Dia tahu Nanggala disini ya karena sudah mengirim pesan sebelumnya.


"Aaah, makasih banyak, Sen."


Rasen tersenyum dan mengangguk, dia lebih mendekat ke meja dan tangannya terulur untuk membantu Nanggala juga. Karena yang dia lihat tadi Haksa juga tengah membantu Jia disana.


Membantu merusak.


Sedang asik membantu Nanggala, Rasen memejamkan matanya ketika dia merasakan sesuatu putih itu terlempar dari samping dan mengenai wajah bagian kirinya.


Tepung.


Matanya hampir saja terkena juga, tetapi sudah lebih dulu Rasen pejamkan kuat.


Lelaki itu menggeram tertahan, giginya bergemeletuk, kepalanya menoleh ke kiri dan menatap sang pelaku dengan tatapan membunuh, atau lebih tepatnya menatap lelaki peternak tahi lalat itu.


"Gelut lu ama gue, Sa!!"


Puk!


"Aaaaa~!"


Haksa menatap Rasen cemberut disana, karena baru saja kepalanya di hantam dengan ember kecil yang tadi terletak dilantai bawahnya. Entah untuk apa Rasen-pun tidak tahu, yang terpenting ada sesuatu benda yang bisa untuk memukul anak itu.


Nanggala terkekeh namun beberapa kali matanya menyipit, seperti menghindari mereka yang mulai bertengkar. Tangannya dengan cepat menarik Jia dan berposisi memeluknya dari samping.


Takut saja mereka tak sengaja mengenai gadis itu.


"Kok Accen pukul kepala Acca sih!" seru Haksa tak terima.


"Kenapa? Nggak boleh? Itu otak isinya game doang! Sama maksiat!" balas Rasen tak kalah keras.


Tuk!


"Aaaaaa, Accen!!"


Lagi-lagi Haksa kesal saat Rasen memukul kepalanya dengan sutil kayu yang baru saja di ambilnya. Percayalah, itu lebih menyakitkan dari sutil berbahan stainless.


Tuk!!


"Biar pinter dikit."


Tuk! Tuk!!


"Biar putih."


Rasen tersenyum senang.


"Aaaaa, mamaaah!!!"


Haksa-pun menangis.


Nanggala dan Jia yang berada di belakang mereka hanya meringis menontonnya sambil sesekali tertawa kecil.


Setidaknya kehadiran mereka sekarang ini membuat Jia tidak merasa sedih lagi seperti tadi. Nyatanya Jia tidak pernah takut menonton kedua anak itu yang selalu bertengkar, tetapi malah terkadang ikut tersenyum dan tertawa kecil.


Meskipun setelah ini, dapur sudah pasti akan hancur oleh kedua Tom & Jerry versi Indo-China itu.


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ


...• To be continued •...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...


...ㅤㅤㅤㅤㅤㅤ...

__ADS_1


...Jangan lupa vote dan komen buat penyemangat author yaaa...


__ADS_2