OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
21.Bagaimana?


__ADS_3

Leon memandang Naomi dari kejauhan. Wanita yang sedang asyik menari bersama seorang laki-laki yang bisa di lihat jika lelaki tersebut berusia sekitar tiga puluh lima tahun ke atas itu terus memeluk Naomi dari belakang bahkan tangannya nakal meraba.


Leon menyunggingkan senyumnya, melipat kedua tangannya menatap jijik pada wanita itu.


"Aku tidak akan pernah lupa apa yang kau lontarkan pada ku beberapa hari yang lalu. Kita lihat saja nanti," ucap Leon dengan sorot mata tajam.


Tak berapa lama, Naomi dan pria tersebut pergi dengan tergesa-gesa. Leon mengikuti mereka dan ternyata Naomi dan pria tersebut masuk kedalam sebuah kamar yang barada dalam club malam tersebut.


"Sedang apa kau di sini?" tanya seorang pria bertubuh besar.


Leon sama sekali tidak takut, hanya tersenyum tipis lalu berkata. "Kakak ipar ku ada di dalam bersama perempuan lain. Aku hanya ingin mencari bukti agar kakak ku tahu kebejatan suaminya. Bisakah aku meminta tolong pada mu?"


"Bukan urusan ku!" ucap pria tersebut, "pergi sana, jangan membuat keributan di sini...!" usirnya sambil mendorong tubuh Leon.


"Isi sesuka hati mu...!" ujar Leon sambil menyodorkan selembar cek kosong yang sudah bertanda tangan.


Pria tersebut tersenyum, tanpa rasa malu mengambil cek tersebut.


"Apa yang tuan inginkan?" tanya pria tersebut langsung hormat pada Leon.


Leon kemudian membisikan sesuatu pada pria tersebut.

__ADS_1


"Baik tuan...!" ucap pria tersebut sambil mengangguk.


"Aku menunggu mu di depan...!" kata Leon sambil menepuk pundak pria tersebut kemudian pergi.


Leon tipe lelaki yang tidak merokok atau pun minuman keras. Leon hanya duduk santai sambil menonton manusia-manusia yang haus akan dunia. Sebenarnya Leon merasa risih datang ketempat ini, namun demi dendam dan membalas sakit hati Vanya dia rela pergi ke tempat seperti ini.


Tak berapa lama pria tersebut keluar dan langsung menghampiri Leon.


"Bagaimana?" tanya Leon.


"Tuan bisa melihatnya sendiri...!" jawab pria tersebut.


"Terimakasih!" ucap Leon.


"Kalau ada pekerjaan lagi jangan sungkan hubungi aku. Asal bayarannya cocok!" ucap pria tersebut.


"Kau hubungi saja nomor ku. Sepertinya akan ada pekerjaan nanti...!" ujar Leon membuat pria tersebut senang.


Leon kemudian pergi, senyum pria ini melebar karena sebentar lagi dia akan membuat suatu kehebohan.


Setibanya di rumah, Leon kembali melihat rekaman yang menjijikan tersebut.

__ADS_1


"Seharusnya sudah dari dulu aku melakukan ini. Tapi, aku saja yang bodoh tidak mau melakukannya!" ucap Leon sambil meletakan ponselnya sembarangan.


Malam telah berganti pagi, akhir pekan adalah hari yang paling di nanti kan banyak orang. Leon bangun pukul tujuh pagi langsung mandi kemudian pergi ke rumah Vanya.


Vanya cemberut, Leon sudah bisa menebak apa yang sedang di marahkan wanita ini. Leon mencolek dagu Vanya, menggoda wanita ini.


"Aku benar-benar ada pekerjaan tadi malam. Maaf tidak sempat menghubungi mu," ucap Leon.


"Bilang saja kau lupa pada ku!" seru Vanya.


"Aku tidak pernah melupakan mu. Mana mungkin aku melupakan calon istri ku ini," ujar Leon lagi-lagi mencolek dagu Vanya.


"Ya ampun, kak Vanya bisa marah juga ya....!" cibir Bagas yang baru keluar bersama maminya.


"Udah Leon, kalau Vanya masih marah juga, tinggal pergi aja!" ujar Liana malah berpihak pada Leon.


"Mami,.....!"


"Udah ah, ayo Bagas pergi....!" Liana menarik tangan anak lelakinya.


Leon dan Vanya pergi juga, tapi kali ini mereka sengaja pergi naik mobil karena jika di lihat cuaca sedang tidak mendukung. Masih sama, Leon suka sekali menggoda Vanya, membuat Vanya sebenarnya meleleh namun tidak mau menunjukan sikapnya yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2