OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
65.Yang Sabar Leon


__ADS_3

Semakin besar kandungan Vanya, membuat wanita tidak bisa melakukan aktivitas yang berlebihan. Setiap harinya wanita ini hanya di layani mami dan suaminya yang sangat perhatian dan memanjakan Vanya.


Hampir setiap malam juga Vanya susah untuk tidur. Dengan sabar Leon menghadapi istrinya yang terkadang suka rewel dan mengeluh ini.


"Jangan marah lagi, ayo tidur. Aku akan mengusap perut mu."


Kata-kata seperti ini sudah biasa di dengar Vanya.


"Anak kita sangat aktif, aku suka merasakan gerakannya," kata Leon yang masih sibuk mengusap perut istrinya.


"Sejak hamil, aku mengerti kenapa mami tidak pernah menikah lagi setelah bercerai dari papi. Hmm,.....hamil itu berat apa lagi melahirkan. Mami pasti ingin aku dan Bagas bahagia."


"Mami perempuan baik. Kau harus banyak belajar darinya."


"Mami tidak pernah membalas siapapun yang menyakitinya. Karena bagi mami, semua perbuatan ada imbal baliknya!"


"Sudahlah, jangan banyak bicara. Sekarang tidurlah!"


"Suami ku,....!"


"Hmm,....!"


"Aku merasa berdosa pada mu!" ucap Vanya membuat Leon heran.


"Loh, kenapa?"


"Aku pernah menjadikan mu Ob. Lagian, itu bukan salah ku. Salah mu yang melamar pekerjaan dengan menyembunyikan semua gelar mu!"


"Ya asal kau tahu saja, sebenarnya aku masuk ke perusahaan mu hanya untuk mencari tahu tentang keluarga mu. Eh, malah kecantol sama bu bos!"

__ADS_1


"Ini kisah cinta kita, setelah anak-anak dewasa kita bisa menceritakan kenangan kita ini pada mereka," ujar Vanya langsung di benarkan Leon.


Beginilah kalau malam hari, Leon akan menemani istrinya mengobrol apa saja sampai Vanya terlelap dengan sendirinya.


Sampai hari ini, Leon tidak ingin memanfaatkan kekayaan istrinya. Leon lebih memilih mengembangkan usahanya sambil membantu Bagas dalam mengurus perusahaan.


Jam menunjukan pukul tiga dini hari, tiba-tiba saja Vanya terbangun dengan rasa nyeri di perutnya.


"Sayang bangun,....!" Vanya membangun suaminya.


Leon yang selalu sigap langsung bangun.


"Ada apa sayang?"


"Perut ku nyeri sejak tadi. Kenapa ya...?"


Leon langsung khawatir.


"Em, sakitnya datang beberapa menit sekali."


"Aku akan membangunkan mami. Tunggu sebentar!"


Leon bergegas pergi ke kamar Liana, membangunkan ibu mertuanya itu. Liana yang panik langsung keluar dari kamarnya.


"Ada apa Leon?" tanya Liana ikutan panik ketika melihat wajah Leon.


"Anu mah, perut Vanya sakit."


Tidak membuang waktu lagi, takut terjadi hal yang tidak di inginkan Liana langsung pergi ke kamar Anaknya.

__ADS_1


"Kita pergi ke rumah sakit sekarang!" ujar Liana bergegas mengambil koper yang sudah di siapkan jauh hari.


Malam itu juga mereka langsung pergi ke rumah sakit. Vanya terus merintih kesakitan, Membuat tangan Leon yang sedang mengemudi terus bergetar.


"Mi, sakit mi...!" keluh Vanya, Liana terus mengusap perut anaknya.


"Sabar, sebentar lagi. Ayo cepat Leon,...!"


Tak butuh waktu lama, mereka tiba di rumah sakit. Vanya langsung mendapatkan penanganan dari Dokter.


"Yang sabar Leon, tidak usah khawatir. Baru pembukaan Lima, masih ada beberapa pembukaan lagi," ujar Liana menepuk pundak menantunya.


"Tapi, kenapa lahirnya secepat ini? Bukannya masih sepuluh hari lagi?"


"Itu tandanya anak kalian sudah tidak sabar untuk melihat dunia ini."


Begini rasanya menemani istri melahirkan, tubuh Leon di buat lemas ketika melihat perjuangan sang istri dengan rasa sakitnya. Tangan mereka saling menggenggam, Leon terus mengeluarkan kata-kata semangat untuk istrinya.


Sedangkan Liana sejak tadi terus mengomel karena Bagas dan Dalia sama sekali tidak mengangkat telpon mereka.


"Mereka ini tidur apa pingsan?" gerutunya kesal.


"Lagi mengadon cucu untuk mami mungkin!" sahur Vanya yang masih sempatnya bercanda.


Sudahlah, Liana meletakan ponselnya dan kembali fokus pada Vanya yang sedang menahan rasa sakit di perutnya. Keringat panas dingin terus mengalir di wajah Vanya.


"Melihat Vanya yang begitu kesakitan sekarang. Aku jadi berpikir,kenapa ada laki-laki yang tega menyakiti anak dan istri mereka?"


Leon kembali mengingat perlakuan almarhum Yoman pada Vanya dan Bagas. Sedangkan Liana dan Vanya hanya diam saja karena tidak bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Leon.

__ADS_1


__ADS_2