OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
57.Kau Kenapa?


__ADS_3

"Kak, kenapa jalannya seperti ini?" tanya Bagas heran tanpa sengaja mereka bertemu di loby kantor.


Vanya langsung melirik suaminya yang terlihat sangat tenang.


"Kakak mu habis main kuda-kudaan tadi malam!" ucap Leon dengan entengnya sambil berjalan masuk ke dalam kantor.


Mata Vanya langsung melotot lebar, wajah wanita ini merah menahan malu.


"Kak serius?" Dalia bertanya dengan berbisik.


"Kerja sana, jangan bergosip!" Vanya malah menendang kaki adiknya.


Bagas tidak sepolos yang di kira, pria ini paham betul maksud dari ucapan kakak iparnya.


Buru-buru Vanya menyusul Leon yang sekarang sedang membersihkan ruangan kerja sang istri.


"Bisa-bisanya kau membuat ku malu di depan Bagas dan Dalia. Itu privasi kita suami ku!"


Vanya geram sendiri.


"Aku hanya bercanda, kalau pun mereka menganggapnya berlebih. Itu hak mereka! Lagian, aku suka kau yang tadi malam!"

__ADS_1


"Sayang,....!" Vanya menekan semua giginya menahan kesal.


"Apa, mau lagi?" Leon malah menggoda istrinya.


"Untung saja kau kesayangan ku. Jika tidak, akan ku remas kau!"


"Aku lebih suka jika kau meremas terong ku. Ngomong-ngomong, aku jadi ingin...!"


"Leon,.....!!"


Leon hanya tertawa kemudian keluar dari ruangan sang istri. Sejak menikah, pembahasan mereka suka ke arah yang lebih vulgar.


Hari ini, Vanya dan Dalia ada janji meeting di luar. Mereka hanya pergi berdua, sedangkan Leon seperti biasa hanya akan tiduran di ruangan sang istri karena semua pekerjanya sudah beres.


"Ibu Vanya, ternyata masih sangat muda ya. Ku dengar, anda menikah dengan bawahan anda sendiri, apa itu benar?" tanya klien pria, yang sudah berusia empat puluh tahunan itu.


Vanya tersenyum lalu berkata, "bisakah kita membahas pekerjaan?"


"Santai nona Vanya, saya memiliki waktu yang panjang. Jadi, kita bisa mengobrol membahas apa pun itu," ujar pria yang bernama Hamdan itu.


"Maaf pak, saya tidak tertarik membahas masalah selain pekerjaan!" tegas Vanya.

__ADS_1


"Ehem, sebenarnya apa kelebihan OB itu? kenapa nona Vanya tidak mencari suami yang perkasa dan mapan. Contohnya duda seperti saya ini?"


Vanya memutar bola matanya jengah, wanita ini bangkit dari duduknya.


"Maaf pak, kerjasama ini saya batalkan!" ucap Vanya berlalu begitu saja.


"Dasar sombong. Awas saja kau!" teriak Hamdan terima.


Vanya langsung kembali ke kantor, sebenarnya wanita ini merasa terbebani dengan posisinya yang sebagai pemilik perusahaan. Terkadang Vanya suka bertemu dengan klien yang seperti Hamdan ini.


"Jangan bicara apa pun pada Leon tentang apa yang kau lihat hari ini," pinta Vanya pada Dalia.


"Tapi kenapa kak?"


"Leon pasti tidak akan melepaskan pak Hamdan. Aku tahu begitu bagaimana sifat Leon. Aku tidak ingin membuat keributan."


Dalia hanya menurut, sebenarnya Dalia memiliki pemikiran jika Leon itu adalah jenis laki-laki yang tidak bisa di tebak.


Setibanya di kantor, kepala Vanya mulai pusing dan perutnya terasa mual. Wanita ini terduduk lemas di kursi kebesarannya.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Leon heran.

__ADS_1


"Kepala ku pusing dan perut ku mual. Sebaiknya kita pulang sekarang, aku ingin istirahat."


Tidak mau terjadi apa-apa pada sang istri, Leon langsung menuntun Vanya menuju mobil. Leon sebenarnya ingin menggendong Vanya namun wanita itu menolak karena tidak enak jika di lihat karyawan yang lain.


__ADS_2