OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
58.Bukalah


__ADS_3

Di rumah, bukannya membaik keadaan Vanya semakin membuat Leon khawatir. Melihat istrinya tertidur lelap, Leon bisa bernafas lega sekarang.


Leon keluar sebentar untuk membelikan makanan untuk sang istri. Sekitar setengah jam kemudian, Leon pulang ke rumah dan mendapati Vanya sudah bangun dan tersenyum-Senyum sendiri.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Leon heran.


"Aku punya sesuatu untuk mu," kata Vanya dengan wajah berbinar.


"Apa sih? em, kau ingin mengerjai ku kah?"


"Gak, aku serius. Aku ada hadiah untuk mu. Tapi, pejamkan mata mu dulu!" pinta Vanya membuat Leon curiga.


"Sayang, ayolah. Jangan bercanda ya...!"


"Aku serius, tutup mata mu!"


Mau tidak mau Leon menurut karena Vanya terus memaksa. Setelah Leon menutup mata, wanita ini meletakan kotak kecil di atas tangan suaminya.


Leon yang penasaran langsung membuka mata, dahinya berkerut bingung ketika sang istri memberinya hadiah.


"Sayang, apa ini?" tanya Leon penasaran.


"Bukalah,....!"


Tidak membuang waktu lagi, Leon langsung membuka kotak tersebut. Matanya berbelalak ketika melihat isi dari kotak tersebut.

__ADS_1


"Sayang, kau serius?" tanya Leon tidak percaya.


"Iya, aku juga tidak percaya ini."


"Kau hamil, kau benar hamil? apa kita akan menjadi orang tua?"


Leon langsung memeluk istrinya, menggendong Vanya lalu menari di kamar. Leon terus melihat ke tespek, rasanya tidak percaya jika sebentar lagi mereka akan menjadi orangtua.


"Kita akan pergi ke rumah sakit untuk memastikannya. Hubungi mami, suruh dia ke rumah sakit tapi jangan beritahu dia kalau kau hamil."


Leon ingin memberi kejutan pada mertuanya.


"Iya, sebentar aku akan menelpon mami....!"


Sementara itu, Liana yang panik ketika di beritahu Vanya ada di rumah sakit langsung pergi ke sana begitu juga dengan Bagas yang di beritahu maminya.


Leon menggenggam tangan istrinya, pria ini terharu ketika melihat layar monitor yang menunjukan perkembangan anak mereka yang masih seukuran biji jagung.


Hamil lima minggu, Vanya benar-benar lupa jika bulan ini dirinya belum datang bulan.


"Bagaimana Dok?" tanya Leon yang sudah tidak bisa mengungkapkan kata-kata.


"Perkembangan janin sehat, jangan lupa perbanyak istirahat dan makan makanan yang sehat."


Untuk beberapa waktu, Leon dan Vanya melakukan konsultasi atas kehamilan Vanya. Sementara itu, Liana dan Bagas kebingungan mencari Vanya dan Leon karena mereka tidak memberitahukan di mana mereka sekarang.

__ADS_1


"Bagas, coba telpon kakak mu. Apa mereka mengerjai kita?"


"Baik mi...!"


Bagas menelpon kakaknya, setelah di beritahu Liana dan Bagas langsung menyusul Vanya.


"Kalian kenapa di ruangan ini?" tanya Liana heran.


"Mi, sebentar lagi mami akan jadi oma," ujar Vanya memberitahu maminya.


"Hah, eh kamu serius?" Liana tidak percaya.


"Vanya benar mi, sekarang Vanya sedang mengandung anak kami," kata Leon memperjelas.


"Itu Artinya, sebentar lagi aku akan memiliki keponakan dong?"


Bagas langsung tersenyum lebar.


"Mami akan di panggil oma gitu maksudnya?"


"Iya mi....!"


Liana langsung memeluk anak perempuannya. Tanpa terasa air mata Liana menetes, ini adalah satu pencapaian yang sangat luar biasa karena sejak bercerai dari almarhum Yoman, Liana membesarkan kedua anaknya seorang diri.


Kebahagiaan ini tidak bisa di jelaskan lagi, Liana terharu atas kehamilan sang anak. Dari ini, Liana bisa membuktikan jika dirinya bisa membuat kedua anaknya bahagia tanpa seorang suami.

__ADS_1


__ADS_2