
"Siapa yang kau bawa ini?" tanya seorang perempuan seumuran Lucas.
"Anak ku!" jawab Lucas singkat, membuat perempuan yang bernama Lucy itu terkejut.
"Apa maksud mu Lucas, anak? anak apa yang kau maksud ini?"
"Antar Naura ke kamar tamu terlebih dahulu. Setelah itu kalian siapkan kamar yang bagus untuk anakku!" titah Lucas pada pembantunya, "kita bicara sekarang!" ajak Lucas pada istrinya.
Lucas dan Lucy pergi ke kamar mereka sedangkan Naura yang nampak acuh ikut bersama pembantu mereka.
"Anakku, anak siapa yang kau maksud? jelaskan pada ku!" pinta Lucy sekali lagi.
"Namanya Naura, perempuan ****** itu ternyata sudah menyembunyikan kehamilannya dari ku," jawab Lucas membuat Lucy tidak mengerti.
"Perempuan ****** siapa lagi yang kau maksud?"
"Mira, ****** itu ternyata sudah menyembunyikannya selama ini."
"Apa kau yakin jika gadis itu anak mu? apa kau tidak takut jika Mira membohongi mu lagi?" tanya Lucy yang ternyata mengenal Mira.
"Apa aku harus melakukan tes DNA untuk membuktikannya?" tanya Lucas menatap mata istrinya.
"Tidak usah, wajah kalian nampak mirip," jawab Lucy.
__ADS_1
"Apa kau tidak suka jika aku memiliki anak?" tanya Lucas lagi.
Lucy tersenyum, menatap wajah suaminya. "Aku senang, aku bahagia. Lucas, selama ini aku tidak bisa memberi mu keturunan. Jika kau yakin gadis itu anak kandung mu, aku akan menerima dia sebagai anak ku juga. Kita sudah tua, di usia kita yang seperti ini seharusnya kita bersyukur karena Tuhan tiba-tiba saja mempertemukan kau dan anak mu," tutur Lucy panjang lebar.
"Kau serius dengan kata-kata mu?" Lucas masih tidak percaya dengan istrinya.
"Pertahankan dia untuk tinggal di sini. Lucas, aku kesepian!" ucap Lucy dengan wajah sedih. Bagaimana tidak kesepian, selama ini Lucy hanya menghabiskan waktu di rumah dan sesekali keluar untuk shopping saja sedangkan Lucas lebih memilih menghabiskan waktu di luar bersama pekerjaannya.
Kantor Vanya, Dalia nampak terburu-buru mencari Leon untuk memberitahukan jika Vanya tiba-tiba saja pulang mendadak tanpa memberitahu Dalia ada masalah apa di rumah.
"Leon,....!" panggil Dalia.
Leon beranjak dari tempat peristirahatannya yang berada di samping ruangan Vanya.
"Ada apa Dal?" Leon bertanya dengan wajah penasaran.
"Pulang? kenapa?"
"Aku tidak tahu, kak Vanya hanya menitipkan pekerjaannya pada ku!"
Tidak berpikir panjang lagi, Leon langsung pergi menyusul Vanya karena lelaki ini takut terjadi apa-apa dengan Vanya.
Menggunakan sepeda motornya, Leon melajukan kendaraannya dengan sangat kencang. Butuh waktu kurang lebih lima belas menit bagi Leon untuk sampai ke rumah Vanya.
__ADS_1
"Nyonya masuk rumah sakit!" ujar security memberitahu Leon.
"Rumah sakit mana?" tanya Leon.
"Rumah sakit xxxxx!"
Leon tidak mengucapkan apa pun, lelaki ini langsung memutar kendaraannya menuju rumah sakit. Aneh sekali, baru beberapa hari yang lalu bertemu dengan Liana yang terlihat sehat tapi kenapa sekarang malah masuk rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Leon langsung mencari Vanya. Leon menghela nafas lega ketika membuka pintu ruangan dan mendapati Vanya.
"Bagaimana keadaan mami?" tanya Leon.
"Dari mana tahu jika mami masuk rumah sakit?" Vanya malah bertanya balik.
"Dari penjaga rumah mu. Ada apa sebenarnya?"
"Papi mengusik mami, tekanan darah mami naik dan sekarang seperti ini," ujar Bagas memberitahu.
"Aku sudah pusing dengan kelakuan mereka. Perasaan selama ini mami tidak pernah berbuat apa-apa. Tapi kenapa mereka malah menyalahkan mami atas kejadian yang menimpa Naomi." Vanya memijat kepalanya yang berdenyut nyeri.
"Ada apa dengan perempuan itu?" tanya Leon pura-pura tidak mengerti lalu Bagas menjelaskan apa yang sudah terjadi.
"Mereka tidak bisa di biarkan. Aku akan segera membuka semuanya!" ucap Leon pada Vanya.
__ADS_1
"Apa kau sudah memiliki bukti yang cukup?" tanya Vanya khawatir jika Leon akan kalah.
"Kita lihat saja nanti...!" seru Leon.