OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
43.Tidak Masalah


__ADS_3

Semua karyawan Vanya terkejut ketika mendapatkan undangan resepsi pernikahan Vanya dan Leon. Bukan pernikahannya yang membuat mereka terkejut, melainkan gelar yang yang tertulis di belakang Leon.


Siapa pun tidak pernah menyangka jika Leon memiliki pendidikan yang tinggi bahkan Dalia dan Bagas saja tidak percaya meskipun mereka pernah di beritahu sebelumnya.


Sebenarnya Leon tidak ingin mencantumkan gelarnya, namun Vanya tidak ingin calon suaminya ini selalu di rendahkan orang lain.


Dengan waktu yang mepet seperti ini, Liana sangat antusias mempersiapkan pernikahan anaknya dari mulai gereja dan gedung resepsi.


Hari ini, Liana sibuk mengarahkan semua perlengkapan di gedung. Vanya dan Leon hanya bisa melihat dari sudut ruangan.


"Kau kenapa?" tanya Vanya membuyarkan lamunan Leon.


"Jika mamah ku masih hidup, aku yakin jika mereka berdua adalah orang yang paling sibuk sekarang!" ucap Leon yang sebenarnya merasa sedih, bukan sedih atas pernikahannya melainkan tidak adanya keluarga terutama orangtua di hari bahagianya.


"Sudahlah, jangan sedih lagi. Meskipun kita di besarkan dari keluarga yang tidak sempurna, semoga kita akan menjadi orangtua yang sempurna untuk anak-anak kita kelak!"


Leon tersenyum menatap wajah Vanya. Kata-kata yang baru saja di lontarkan Vanya akan menjadi motivasi dalam hidup Leon.


"Maaf, aku harus pergi. Tidak apa-apa kan jika kau dan mami ku tinggal?"

__ADS_1


"Tidak masalah, nanti Bagas dan Dalia akan menjemput kami,"


Leon berpamitan pada Liana, pria itu ada urusan di kantor polisi sebentar. Dengan wajah dingin tak bersahabat, Leon duduk di ruang besuk menunggu Mira dan Yoman yang sekarang sudah mendekam di penjara.


"Brengsek!" umpat Yoman, "siapa kau sebenarnya.


Leon menoleh ke arah Mira, menatap tajam pada wanita yang nampak kurus tak urus itu.


"Lihat aku, maka kau akan mengenali aku!" ucap Leon sebenarnya membuat Mira bingung.


"Jangan bertele-tele, katakan saja siapa kau sebenarnya?" sekali lagi Yoman menekan.


Leon tertawa kecil, lalu berkata. "Ini adalah anak yang sudah kau renggut keluarga dan kebahagiaannya. Menurut mu, hukuman apa yang pantas untuk membalas semua kejahatan mu?"


"Anak Zain?" Yoman masih mengingat, "bukankah anak Zain juga ikut mati di saat kecelakaan itu?"


Leon kembali tertawa.


"Perempuan ini membuang ku ke panti asuhan. Lucas lah yang sudah memungut ku kembali,"

__ADS_1


Mata Mira melebar, bagaimana bisa dia seceroboh ini.


"Bajingan, kurang impas apa kau yang sudah merampas kehidupan anak ku hah?" Mira keras kepala.


"Aku hanya membuat anak mu cacat, tapi kau sudah membuat ku menjadi yatim piatu bahkan semua harta keluarga ku kau kuras dan kau nikmati bersama lelaki ini. Menurut mu, apa yang membuat semua ini impas?"


"Tidak ada yang impas Leon. Dua bedebah ini pantas untuk di musnahkan!" ucap suara berat yang baru saja masuk kedalam ruangan.


Plak.....


Dengan perasaan emosi Lucas menampar wajah Mira.Yoman tidak berani melawan, karena dia tahu pasti akan kalah. Yoman membiarkan Mira di pukul Lucas.


"Membohongi ku, menipu ku, dan memisahkan aku dari anak ku bahkan kau membuatnya menderita sepanjang hidupnya. Ibu macam apa kau ini hah?"


Plak....


sekali lagi Lucas memukul Mira. Leon hanya duduk diam saja menikmati pemandangan ini. Yoman juga hanya bisa tertunduk.


"Aku minta maaf Lucas!" ucap Mira sambil menangkupkan kedua tangannya memohon di bawah kaki Lucas.

__ADS_1


__ADS_2