
Bulan telah berganti, kehidupan rumah tangga Vanya dan Leon semakin bahagia. Peran menjadi orangtua sangat di nikmati oleh keduanya. Kehidupan sederhana, Vanya sudah terbiasa dengan kehidupan sederhana suaminya yang tidak pernah memamerkan apa pun.
Kebiasaan yang suka mengoleksi barang-barang mewah juga sudah lama di tinggalkan Vanya, wanita ini lebih suka menabung demi masa depan sang anak.
Hanya sesekali pergi ke kantor itu pun hanya untuk memantau dan pekerjaan mendesak saja. Sedangkan Leon semakin memperluas tempat usahanya.
Masih tetap sama, sampai hari ini Leon dan Vanya tidak mengambil seorang pembantu. Semua pekerjaan rumah mereka kerjakan berdua. Apa lagi sang mami sudah kembali pulang ke rumahnya untuk bergantian mengurus Dalia yang saat sedang hamil muda.
"Sayang, apa kau lelah?" Leon menghampiri istrinya yang sedang menjemur pakaian.
"Tidak, sudah biasa lah!"
"Kau duduk saja menemani anak kita. Biar aku lanjutkan!" ujar Leon.
"Tidak apa-apa suami ku, biar aku yang selesaikan!"
"Tapi keringat mu sudah membanjiri rumah kita."
Vanya tertawa, gurauan dari sang suami adalah obat lelah yang paling ampuh.
"Istirahat sana, aku sudah membuatkan mu jus apel tadi...!"
__ADS_1
Menurut saja, Vanya kemudian menghampiri sang anak yang duduk di kereta bayinya. Menikmati segelas jus apel buatan sang suami, sungguh penghilang dahaga yang paling ampuh.
Dengan cekatan Leon menyelesaikan jemuran yang tersisa beberapa lembar itu. Setelah selesai Leon langsung menghampiri anak dan istrinya.
"Apa lagi pekerjaan mu yang belum selesai?" tanya Leon seperti biasa.
"Tidak ada, sudah beres semua. Menjemur pakaian adalah pekerjaan yang paling akhir aku lakukan!"
"Masih kuat?" tanya Leon, "apa gak sebaiknya kita cari pembantu aja?"
"Gak usah lah, aku masih bisa mengerjakan semua ini." Vanya menolak lagi.
"Sayang kenapa?" tanya Vanya heran melihat wajah suaminya.
"Aku merasa bersalah saja sama kamu. Masih gadis kamu selalu berpakaian rapi bertemu dengan banyak rekan bisnis. Setelah menikah dengan ku, kehidupan mu tidak jauh dari pekerjaan rumah tangga."
Vanya tersenyum, menatap wajah tampan suaminya yang selalu membuatnya terpikat.
"Di banding bekerja, aku lebih suka dengan kehidupan ku yang sekarang. Kau banyak mengajarkan ku tentang satu hal, bahwa keluarga adalah nomor satu!"
"Jawaban yang bijak, aku akan membuat mu enak nanti malam!"
__ADS_1
"Kamu ini, lihat anak mu tuh. Gak malu apa ngomong gitu...?"
"Dia belum mengerti apa-apa!"
"Tetap saja kau mengajarkannya hal yang kurang baik!"
"Gitu aja marah, mandi dulu sana. Baunya sudah tercium sampai Afrika....!" gurau Leon.
"Bau-bau gini bisa buat kamu kecanduan!" sahut Vanya tak mau kalah.
"Nanti di dengar anak mu loh. Gak malu apa?"
Leon membalikan perkataan istrinya tadi.
"Udah ah, kalau bicara sama kamu pasti aku kalah. Jagain Joe, aku mau mandi dulu...!"
Leon hanya mengiyakan, sudah biasa seperti ini. Vanya juga suka bercanda sekarang, hidupnya tidak seserius dulu.
Keadaan kantor juga sudah banyak yang berubah, di bawah kepemimpinan Bagas semakin berkembang pesat. Vanya bangga pada adiknya, meskipun tidak pernah mendapatkan didikan dari almarhum papinya setidaknya mereka bisa membuktikan jika mereka bisa berhasil sekarang.
Di masa tuanya Liana juga merasa sangat bahagia, hidup bersama dengan kedua anak dan cucunya. Menjanda dengan waktu yang sangat lama, tidak membuat hatinya merasa kesepian. Pengkhianatan yang lakukan almarhum Yoman telah membuat luka yang teramat dalam. Jujur saja, Liana tidak percaya lagi pada sosok laki-laki.
__ADS_1