
Tok...tok....tok....
Bunyi ketukan pintu kamar yang sejak tadi mengganggu pendengaran membuat Leon terbangun. Nyawanya belum terkumpul, Leon turun dari atas tempat tidur lalu berjalan menuju pintu.
Klek,...hoam,....
"Ada apa?" tanya Leon setengah mengantuk.
"Kak, apa kak Vanya sudah bangun?" tanya Bagas dengan wajah khawatir.
Melihat ekspresi wajah Bagas, Leon mengerutkan dahinya heran.
"Belum, kenapa memangnya?"
"Papi,....!"
"Papi kenapa?" semakin penasaran Leon.
"Papi terkena serangan jantung dan meninggal pagi ini. Tolong beritahu kak Vanya!"
Mendengar hal tersebut, mata Leon langsung melebar. Lelaki ini kembali masuk kedalam kamar dan langsung membangunkan Vanya.
"Sayang bangun...!" Leon membangunkan istrinya yang masih tertidur sangat pulas itu.
Dua kali Leon membangunkan istrinya namun wanita itu tidak bangun juga.
__ADS_1
"Sayang bangun,...cepat bangun...!"
"Aku masih mengantuk, ada apa sih?" Vanya bertanya dengan suara seraknya.
"Cepat bangun, papi mu meninggal!" kata Leon memberitahu.
Mata Vanya langsung terang, mengubah posisinya menjadi duduk.
"Apa kau serius?" tanya Vanya tidak percaya.
"Aku serius, Bagas baru saja memberitahu ku. Bangun dan mandilah, kita akan menghadiri acara pemakamannya!"
"Tidak, aku tidak mau!" Vanya malah menolak, membuat Leon terkejut.
Leon menghela nafas lalu duduk di samping istrinya sambil membenarkan selimut yang menutup setengah badan sang istri.
"Bagi ku yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah, dia telah lama mati...!"
Leon terdiam, pria ini tidak mau menghakimi istrinya karena dirinya saja merasakan hal yang sama.
"Sudahlah, buang rasa benci mu. Ini untuk yang terakhir kalinya,"
Leon terus membujuk Vanya, pada akhirnya wanita ini menurut dengan omongan suaminya.
Hari ini seharusnya menjadi hari yang paling bahagia karena malah mendapatkan kabar duka.
__ADS_1
Mira sangat bersedih atas kepergian Yoman, dengan tangan yang terborgol Mira menangis di samping peti mati suaminya.
Ada Liana di sana, wanita ini terlihat biasa saja. Begitu juga dengan Vanya dan Bagas yang sama sekali tidak mengeluarkan air mata mereka.
"Maaf nyonya, ada kabar duka untuk nyonya," ucap salah seorang polisi langsung membuat tangis Mira berhenti.
"Kabar duka apa? apa kau tidak lihat jika aku sekarang sedang berduka hah?" sentak Mira.
"Anak anda yang bernama Naomi baru saja menghembuskan nafas terakhir di panti sosial," ucap polisi tersebut langsung membuat Mira syok.
Mira tidak percaya, wanita ini mencengkram lengan polisi tersebut.
"Jangan bohong kau. Kalian semua di bayar hanya untuk menyiksa kami. Jangan coba-coba menjatuhkan mental ku. Aku sama sekali tidak takut!"
Polisi tersebut mendorong Mira hingga membuat wanita itu terjerembab ke lantai.
"Mayat anak mu sedang dalam perjalanan ke sini, anak dan suami mu akan di makamkan secara bersamaan!" ujar polisi tersebut kemudian pergi.
Tidak ada yang peduli dengan kesedihan Mira, semua orang hanya melihat dan mendengar dengan acuh.
"Lihatlah Mira, tangan Tuhan telah bekerja. Apa yang kau perbuat di masa lalu telah kau terima akibatnya sekarang. Bertobatlah!" ucap Liana mengingatkan.
"Diam kau wanita ******!" umpat Mira.
"Kata sampah itu lebih cocok untuk mu di banding mami ku. Aku sebagai seorang anak sama sekali tidak merasa sedih atas kematian papi ku. Cukup kau saja!" ujar Vanya menambah panas hati Mira.
__ADS_1
Mira ingin menyerang Vanya, dengan cepat Leon melindungi istrinya. Beberapa orang polisi langsung mengamankan Mira. Pada akhirnya, Liana dan kedua anak-anaknya memutuskan untuk pergi.