
Mira histeris ketika melihat jasad anak dan suaminya yang sekarang berada di depannya. Mira tidak pernah menyangka jika akhir kehidupannya akan seperti ini.
Tidak ada saudara atau keluarga yang menghadiri acara pemakaman Yoman dan Naomi. Bahkan setelah acara tersebut Mira langsung di giring kembali ke tahanan.
Mira benar-benar hancur, hanya Naura satu-satunya anak yang dia harapkan sekarang. Namun, Lucas telah melarang Naura untuk bertemu dengan Mira apa pun itu alasannya.
Sesekali Mira tertawa seperti orang tidak waras, sesekali juga menangis. Tidak ada yang peduli, apa lagi dirinya hanya seorang diri di dalam sel ini.
Berbeda lagi dengan Liana dan kedua anaknya, entah kenapa mereka sama sekali tidak merasakan kehilangan atas kepergian Yoman. Mungkin saja karena luka yang di torehkan Yoman begitu dalam.
"Kalian pasti lelah. Vanya, ajak suami mu ke kamar. Mami akan istirahat!"
Bagas mengantar maminya ke kamar, sejak pagi Bagas tidak banyak berkomentar. Wajahnya saja terlihat biasa saja.
Vanya mengajak Leon masuk ke kamarnya, untuk pertama kalinya Leon masuk ke kamar wanita. Nampak takjub, ternyata kamar Vanya sangat rapi dan wangi.
"Sekarang, kamar ku kamar mu!" ucap Vanya tanpa malu lagi memeluk suaminya.
__ADS_1
Leon membalas pelukan istrinya.
"Bagaimana perasaan mu hari ini?" tanya Leon.
"Biasa saja, bagaimana dengan mu?" Vanya bertanya balik.
"Entahlah, aku turut berduka atas meninggalnya papi mu yang sekarang sudah menjadi mertua ku. Aku sebenarnya sedih karena sampai akhir hayatnya dia lebih memilih Mira di banding kalian anak-anaknya. Tapi, aku sangat puas ketika melihat Mira menderita dan tersiksa," tutur Leon dengan jujurnya.
"Sudahlah, jangan bahas mereka. Lebih baik kita bahas masa depan kita saja!"
Vanya dan Leon duduk di tempat tidur. Mereka sudah sepakat tidak akan membahas tentang Mira lagi.
"Bicara apa?" tanyanya dengan wajah serius.
"Aku tidak ingin tinggal di rumah ini. Maaf, bukan maksud ku untuk memisahkan mu dengan mami. Hanya saja aku ingin mengajak mu mandiri, kita bisa tinggal di rumah yang lain. Selama ini orang-orang beranggapan jika aku si miskin yang memanfaatkan mu, jadi aku ingin kita tinggal di rumah sendiri. Bagaimana menurut mu?"
Vanya langsung menghembuskan nafas lega, di pikir Leon akan bicara yang aneh-aneh.
__ADS_1
"Seorang istri harus menurut dengan suaminya. Jadi, apa pun keputusan mu aku mengikut!" jawab Vanya melegakan hati Leon.
Leon menyelipkan rambut istrinya ke telinga, "terimakasih istri ku. Kau sangat pengertian!"
"Nanti setelah makan malam kita akan membicarakan ini dengan mami dan Bagas."
"Ngomong-ngomong, kau mau pergi bulan madu ke mana? pilih lah...!" ujar Leon yang sangat ingin membahagiakan istrinya.
"Tidak usah, cukup bulan madu di atas tempat tidur saja sudah cukup!"
"Wah, sepertinya kau ini benar-benar ketagihan atas apa yang kita lakukan tadi malam!"
Wajah Vanya langsung merona malu, wanita ini membuang pandangannya dan berusaha mengubah arah pembicaraan mereka.
"Pergi mandi, aku akan menyiapkan pakaian mu," titah Vanya pada suaminya. Bukannya menurut, Leon malah asyik menggoda istrinya.
"Ayo mandi berdua!" ajak Leon langsung di tolak Vanya, "sayang, untuk mempersingkat waktu."
__ADS_1
"Tidak mau. Sana pergi mandi, aku akan turun sebentar!"
Vanya bergegas melarikan diri dari ajakan suaminya. Leon tertawa ketika melihat tingkah gugup sang istri.