OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
46.Panggil Mami


__ADS_3

"Aku tahu ini pasti kau yang membuat Naomi menjadi seperti ini. Jadi, izinkan aku untuk menempatkan dia di panti sosial." Vanya berkata dengan sorot mata memohon.


"Dari mana kau tahu?" tanya Leon dengan wajah dinginnya.


"Aku kan pernah bilang pada mu ingin merobek mulut Naomi. Tapi, malah kau yang melakukannya. Leon, aku tahu itu...!"


"Bertahun lamanya dia sudah menyakiti perasaan mu dan mami juga Bagas. Bagaimana bisa kau masih bersikap baik padanya?"


"Anggap saja ini hukuman untuknya. Aku tidak pernah menyimpan dendam pada orang yang sudah menyakiti ku. Ketahuilah, karma tahu jalan untuk pulang. Aku yakin akan hal itu,"


"Ya sudah, nanti aku akan menyuruh orang untuk mengantar dia...!"


"Terimakasih Leon," ucap Vanya lalu menoleh ke arah Naomi yang nampak tertunduk malu dan juga trauma melihat wajah Leon.


Leon sangat membenci Naomi karena wanita ini anak dari Mira, wanita yang sudah merebut sang papah dan membuat dirinya harus kehilangan orangtua dan adiknya.


Besok adalah hari pernikahan, Leon pergi ke makam mamahnya seorang diri setelah mengantar Vanya pulang.


Leon melepas kacamatanya lalu meletakan sebuket bunga mawar merah di atas makam mamahnya.

__ADS_1


"Restui pernikahan ku mah. Aku yakin jika mamah sekarang sudah tenang karena wanita itu sudah di hukum!" ucap Leon.


Entahlah, yang namanya anak pasti akan memiliki rasa tidak suka pada orangtuanya meski hanya secuil. Begitu juga dengan Leon, meskipun papahnya sudah meninggal pria ini masih menyimpan kebencian dalam hatinya. Luka yang di tanamkan sang papahlah membuat Leon tumbuh menjadi seperti ini.


Tidak mau berlama-lama karena sebentar lagi hari mulai malam. Leon memutuskan untuk pulang. Tidak, meskipun semua harta yang di rampas Mira sudah kembali ke tangannya, Leon hanya ingin menjalani kehidupan seperti biasanya. Pria ini tidak tertarik menjalankan perusahaan yang di jalankan oleh Yoman.


Malam ini, keluarga Vanya sudah berkumpul di hotel begitu juga dengan Leon. Keluarga ini hangat, saling bercanda dan bertukar cerita. Jauh dalam hati Leon, pria ini sangat iri.


"Tante,....!"


"Jangan panggil tante,...panggil mami...!" potong Liana.


Leon tersenyum, "terimakasih mami. Aku seperti menemukan kembali kasih sayang seorang ibu."


"Kau anak ku sekarang. Jadi, jangan sungkan jika ingin bicara," ucap Liana membuat hati Leon tenang.


"Sekali lagi terimakasih mi,"


Vanya terharu melihatnya, wanita ini tahu betul jika sejak kecil Leon tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.

__ADS_1


"Yang penting martabak manisnya lancar kak!" seru Bagas memecah keharuan. Semua orang tertawa Vanya langsung menoyor mulut adiknya.


"Selama ini mami kesepian jika Vanya dan Bagas bekerja. Jadi, buatkan mami cucu yang banyak!" pinta Liana langsung di iyakan Leon namun tidak dengan Vanya yang merasa malu.


"Nikah aja belum, udah minta cucu aja!" gerutu Vanya.


Leon mencubit kedua pipi Vanya, "Jangan suka marah-marah. Mami hanya bercanda!" kata Leon.


"Aku sudah tidak sabar menunggu besok!" ujar Bagas membuat kening semua orang berkerut.


"Kami yang menikah, kenapa kamu yang tidak sabaran?" ujar Vanya yang merasa lucu dengan adiknya ini.


"Kenapa memangnya? apa salah?" Bagas bertanya balik.


"Bagas, jangan suka menggoda kakak mu!" tegur Liana.


"Kak Leon, kalau sudah menikah, apa kakak akan tetap menjadi OB di kantor?" tanya Bagas yang penasaran.


Leon menoleh ke arah Vanya, lalu menjawab dengan santainya. "Ya, menjadi seorang OB pribadi itu menyenangkan. Kerja santai gaji tinggi."

__ADS_1


"Aku akan memecat mu!" seru Vanya.


Liana dan Bagas tertawa, sifat Vanya yang dulu masih tertinggal sedikit. Wanita ini masih suka menganggap sesuatu dengan serius. Terkadang Leon suka menggodanya.


__ADS_2