
Plak.....plak....
Frans memukul wajah Naomi berulang kali membuat darah segar langsung mengalir dari sudut bibir dan hidung Naomi. Geram, wajah bringas yang biasanya liar di atas ranjang tiba-tiba sangat ganas sekarang.
"Frans, kenapa kau menculik dan memukuli ku seperti ini hah?" tanya Naomi tidak terima.
"Kau masih bertanya kenapa?" teriak Frans, "aku di ceraikan istri ku dan di tendang dari keluarga mereka. Aku menjadi miskin gara-gara kau perempuan ******!"
"Kau pikir aku tidak di rugikan dalam masalah ini hah? tunangan ku membatalkan pernikahan ku. Frans, jangan gila kau, jika bukan karena bujuk rayu mu tidak mungkin aku terpikat pada mu!" ucap Naomi malah menyalahkan Frans.
Plak....
Sekali lagi Frans memukul Naomi, menginjak dan menendang tubuh wanita ini.
"Frans, sakit...!" lirih Naomi.
"Kau harus bertanggung jawab bodoh!" umpat Frans.
Naomi memegang perutnya, wanita ini sudah terkapar di lantai dingin.
__ADS_1
"Seharusnya kita mencari orang yang sudah menyebar video tersebut. Kenapa kau malah menyalahkan ku?"
"Bodoh! aku sudah mencaritahu tapi orang itu terlalu pintar," ujar Frans semakin emosi.
Frans mencengkram wajah Naomi dengan sangat kasar. "Sekarang aku sudah kehilangan pekerjaan. Kau harus memberi ku uang, kau harus mengganti apa yang sudah aku berikan pada mu!" ucap Frans, dengan keras kepala Naomi menolak hingga membuat emosi Frans naik kembali.
Frans kembali memukuli Naomi, menyeret wanita yang tak berdaya itu ke dalam kamar lalu melucuti semua pakaiannya. Frans mengatur kamera, pria gila ini menggagahi Naomi dan sengaja merekamnya sebagai alat untuk mengancam Naomi.
"Lepaskan aku Frans...!" lirih Naomi yang sudah tak berdaya namun Frans yang sudah berada di puncak nafsu itu tidak peduli dengan keadaan Naomi yang sudah lemas.
Setelah puas menghajar Naomi, Frans mengantar wanita itu pulang. Frans membiarkan Naomi tergeletak begitu saja di depan gerbang rumahnya. Untung saja ada pembantu yang melihat Naomi dan langsung membawa anak majikannya masuk kedalam rumah.
"Jangan bilang mamah apa lagi papi. Jika tidak, akan ku pecat kau!" Ancam Naomi pada pembantunya.
Apa pun yang di omongkan orang lain di luar sana Leon sama sekali tidak peduli. Karena perasaannya pada Vanya itu benar adanya meskipun Vanya yang terlebih dahulu mengungkapkan perasaannya.
"Yang satu cantik, yang satu tampan. Mami gak sabar melihat keturunan kalian!" ucap Liana membuat Vanya langsung tersedak makanannya.
Buru-buru Leon mengambilkan air putih untuk Vanya.
__ADS_1
"Bibitnya unggul sekali tante, Dalia jadi ingin...!"
Husss....
Bagas menyentil Dalia.
"Bagas juga tampan, tapi Leon jauh lebih tampan. Mami suka melihatnya!"
"Mami,......!!!" Vanya merasa tidak enak hati pada Leon.
"Terimakasih atas pujiannya tante!" ucap Leon.
"Jadi, kapan dong kalian akan menikah?" tanya Liana.
"Secepatnya mi...!" jawab Vanya tanpa sadar membuat senyum Leon mengembang.
"Ehem,....!" Leon berdehem, Vanya langsung menutup wajahnya. Sedangkan Bagas dan Dalia hanya bisa tertawa.
"Vanya udah gak sabaran tuh!" seru Liana.
__ADS_1
"Mami,.....!"
Sejak Vanya kenal dengan Leon, Liana lebih senang menggoda anak perempuannya itu. Bagas juga sama, kakaknya yang sekarang di rasa jauh lebih berbeda dari dulu. Sekarang Vanya bisa di ajak bercanda, Leon sudah membawa banyak perubahan dalam hidup Vanya.