
Kaki Leon hampir saja lepas dari persendiannya ketika tangan Vanya menggenggam erat sekuat tenaga di saat wanita ini hendak melahirkan anaknya.
Tangis bayi pecah memenuhi ruangan, Leon langsung terduduk lemas di lantai dengan tangan yang masih menggenggam tangan istrinya. Beginikah rasanya perjuangan menemani istri melahirkan, Leon tidak bisa membayangkan rasa sakit istrinya.
"Sayang, kenapa kau menangis?" tanya Vanya merasa heran namun tidak dengan Dokter dan perawat yang sudah biasa dengan pemandangan seperti ini.
"Kau pasti sangat kesakitan, kenapa tidak kau limpahkan saja rasa sakit mu pada diriku?"
Dengan nafas yang masih tak beraturan, Vanya malah menertawakan suaminya.
"Kenapa kau malah tertawa hah?"
Bukan hanya Vanya, Dokter dan perawat yang melihat Leon masih terduduk lemas dengan air mata berurai juga ikut tertawa.
"Maaf pak, anaknya sudah siap untuk di gendong," ujar salah seorang perawat.
Leon menoleh ke arah istrinya, dengan sekuat tenaga pria ini mencoba berdiri namun tubuhnya masih bergetar.
"Duh, sus. Jangan berikan pada suami ku, lihat dia berdiri saja tidak kuat," ujar Vanya yang khawatir jika nanti anaknya jatuh.
__ADS_1
Jadilah perawat tersebut memberikan bayi mungil tersebut pada Vanya. Untuk pertama kalinya Vanya melihat anaknya, wanita ini yang semula tertawa mendadak menangis haru.
Leon yang sudah bisa berdiri hanya bisa terdiam melihat pemandangan seperti ini. Lelaki ini mencium bergantian pada dua orang yang dia sayangi.
"Hentikan tangis mu sayang. Jangan membuat hati ku sedih!" ucap Leon mengusap air mata istrinya.
"Aku sedih, sangat sedih. Kenapa wajah anak ku lebih mirip dengan wajah mu di banding diri ku?"
Jleb,....
Orang-orang yang ada di ruangan tersebut hanya bisa tertawa mendengar ucapan Vanya.
"Aku ayahnya, wajar saja jika dia mirip dengan ku. Lagian, aku tampan. Kau saja terpikat pada ku makanya anak kita ingin menyaingi ku!" sahut Leon yang benar-benar bangga dengan ketampanan yang dia miliki.
"Mau apa kamu?" tanya Liana dengan alis mengkerut ketika melihat Bagas yang hendak menggendong keponakannya.
"Ya mau gendong lah mi, biar cepat ketularan!"
"Minggir, mami adalah oma. Jadi, mami harus menjadi orang pertama yang menggendongnya."
__ADS_1
Mau tidak mau Bagas mengalah, Liana langsung mengambil bayi mungil tersebut dalam box bayi.
"Ya ampun, ganteng banget. Ini adalah perpaduan yang sangat sempurna!" ucap Liana.
Bagas dan Dalia hanya bisa melihat keponakan mereka dari belakang maminya.
"Mami tenang saja, aku dan Vanya tidak akan mengecewakan mami. Kami akan membuat produk yang berkualitas tinggi," ujar Leon langsung mendapatkan cubitan dari istrinya.
"Siapa namanya kak?" tanya Bagas penasaran.
"Panggil saja dia Joe, si tampan hasil pembibitan dari Leon dan Vanya," jawab Leon dengan bangganya.
"Aku jadi ingin, kapan aku hamil. Hiks...hiks....!" Dalia merasa sedih sekarang.
"Sabar sayang, setelah ini kita akan bekerja lebih keras lagi." Bagas memeluk istrinya.
"Berhenti menggoda mereka. Apa kau tidak lihat Dalia begitu sedih?" Vanya berbisik pada suaminya.
Vanya dan Leon hanya bisa melihat kebahagiaan Liana yang sejak tadi tidak mau melepas cucunya.
__ADS_1
Liana tersenyum pada baby Joe yang terlelap dalam gendongannya. Kebahagian di masa tua wanita ini telah lengkap sekarang.
"Lihatlah Yoman, aku sedang berbahagia menggendong cucu ku sekarang. Apa kabar kau yang di atas sana?" Liana berbicara di dalam hatinya.