
Kembali pulang ke rumah, rumah yang biasanya sepi kini ramai dengan tangis bayi. Leon merasa jika rumah ini kembali bangun setelah sekian lama tertidur.
Mendengar suara gaduh sang istri dan mertua yang sibuk mengurus baby Joe, membuat Leon bahagia.
"Begini rasanya memiliki keluarga. Selama ini aku sendiri, tapi sekarang aku sudah memiliki keluarga ku sendiri," batin Leon yang sebenarnya menahan air matanya.
"Sayang, kenapa kau berdiri di sana? sini dong....!!" panggil Vanya lalu Leon yang sejak tadi berdiri di pintu langsung masuk kedalam kamar.
Dulu, Leon selalu melihat istrinya berpakaian rapi dan elegan. Namun, setelah memiliki anak Leon lebih senang melihat istrinya berpakaian ala rumahan dengan rambut yang sedikit berantakan.
"Berhubung kamu sudah sarapan. Sekarang kamu jaga Joe, aku dan mami akan sarapan sebentar."
"Oh, tentu saja. Serahkan pada ku si tampan ini," ujar Leon.
"Hati-hati,....!!" Liana menyerahkan baby Joe ke Leon.
Leon menggendong bayi mungil yang masih merah itu. Menunggu sang istri dan mertuanya sarapan. Mereka saling mengobrol, Liana senang dengan aktifitas seperti ini.
"Kalau mami pulang, aduh. Mami bakal rindu sama Joe....!"
"Gak usah pulang mi, tinggal di sini saja!" ujar Leon.
"Iya, mami boleh pulang kecuali Bagas sudah punya anak," timpal Vanya.
__ADS_1
"Demi baby Joe, apa sih yang gak?" ujar Liana yang tidak berniat pulang ke rumahnya sendiri.
Leon juga tidak masalah jika Liana tinggal di rumahnya. Lagian, sejak ada Liana dirinya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah dia dapat sebelumnya.
"Rumah tangga itu yang rukun, jangan ada kebohongan meskipun itu hal kecil. Jika ada masalah, duduk bersama dan bicarakan. Jangan menekan ego masing-masing apa lagi sekarang kalian sudah memiliki anak. Masa lalu biarkan saja, yang terpenting sekarang masa depan kalian bertiga," nasihat Liana pada anak menantunya.
Leon juga tidak marah jika Liana menasehati mereka, lagian semua itu ada benar juga.
Hari ke hari telah berlalu, tak terasa sudah dua minggu Vanya dan Leon menjadi orangtua. Mereka merasakan bagaimana nikmatnya menjadi orangtua. Untung saja Vanya mendapatkan suami yang baik yang mau membantu dalam segala hal.
"Sayang,....!!"
Leon memeluk istrinya dari belakang.
"Sudah lama kita tidak kikuk-kikuk, aku sungguh tersiksa. Hiks,...hiks,....!!'' ujar Leon lalu bergaya seperti orang menangis.
"Ya ampun, ku pikir kenapa coba?"
"Layu, terong ku sudah layu. Aku butuh pupuk untuk menyuburkannya!"
"Huss,...kalau bicara asal ceplos saja. Kalau ada mami dengar malu ah!"
"Kamu gak rindu sama aku?" tanya Leon menggoda istrinya.
__ADS_1
"Ya rindu, tapi mau bagaimana lagi?"
"Ya sabar. Kamu kan belum selesai!"
"Em, sayang."
Vanya memanggil suaminya seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Iya, ada apa?"
"Nanti, setelah anak kita berumur satu bulan. Aku ingin pergi ke makam papi. Mau kah kau mengantar ku?"
"Tentu saja, kita akan pergi ke makam orangtua kita. Sayang, apa kau sudah memaafkan papi mu?"
Vanya menarik nafas panjang, lalu berkata.
"Yang sudah ya sudah. Toh mereka sudah menerima balasannya. Sekarang tugas ku sebagai seorang anak hanya bisa mendoakan mereka yang terbaik."
"Aku sebenarnya sudah lama berdamai dengan keadaan. Tapi, ketika melihat orang yang menyakiti keluarga ku berbahagia, itu lah menjadi alasan ku untuk membalas dendam kemarin."
"Mari kita buang dendam ini, sekarang kita sudah memiliki keluarga kecil.Jika kita tidak bisa mendapatkan kehangatan dari keluarga kita yang dulu, kita bisa membuat kehangatan dalam keluarga kecil kita sekarang."
Leon memeluk Vanya, tidak salah jika dirinya jatuh cinta pada wanita yang di kenal dingin ini. Sementara itu, Liana yang hendak masuk ke dalam kamar baby Joe langsung mengurungkan niatnya karena mendengar percakapan anak dan menantunya. Membiarkan sepasang suami istri itu saling bertukar pikiran.
__ADS_1