
"Sudah, jangan marah-marah lagi. Nanti cepat tua!" gurau Leon.
"Entah kenapa aku sangat tidak suka jika ada orang yang merendahkan mu," ucap Vanya yang masih kesal.
"Biarkan saja orang mau berkata apa. Sekali orang itu membenci kita, maka mereka akan selalu membenci kita!"
"Ciiih,...awas saja!" geram Vanya.
"Lagian, kamu juga aneh. Kenapa bisa suka sama aku yang hanya pegawai rendahan ini?"
"Leon....!" Vanya mencubit lengan pria itu.
"Bercanda....!" seru Leon.
Sudah tidak bersemangat lagi untuk kembali bekerja, Vanya meminta Leon untuk mengantarnya pulang.
Setelah mengantar Vanya pulang, Leon tidak langsung pulang ke rumahnya melainkan pergi ke kompleks perumahan Yoman.
Leon tersenyum sinis ketika mengintip halaman rumah Yoman yang ternyata ada beberapa orang sedang memasang cctv.Hanya melihat-lihat saja, Leon kemudian pergi.
Di rumahnya, Leon sedang melakukan sesuatu untuk menghancurkan keluarga Yoman dan Mira. Entah apa yang di lakukan pria ini, namun sekarang Leon bisa beristirahat dengan tenang.
Sejak kejadian di mana Naomi di culik Frans dan di hajar habis-habisan, wanita ini lebih betah berdiam diri di rumah.
"Apa ini, kenapa akun ini tiba-tiba saja menyudutkan mami dan papi?"
Naomi buru-buru menemui mamahnya yang sedang duduk santai di halaman samping rumah mereka.
"Mamah, lihat ini....!" ujar Naomi menyodorkan ponselnya.
__ADS_1
"Astaga, suami ku. Lihat ini,...!" Mira memperlihatkan berita yang sedang panas beredar, "Mira Asnia, seorang wanita kejam yang tega menjadi dalang dari kematian suaminya dan pengacara suaminya juga perebut suami orang!" Mira membacakan isi berita tersebut.
"Naomi, siapa orang yang sudah menyebarkan hal fitnah semacam ini?" tanya Yoman mulai panik.
"Ini akun baru, namanya pun seperti nama samaran. Naomi yakin jika orang ini memegang semua bukti tentang keluarga kita."
"Siapa yang sudah melakukan ini?" Mira yang mulai ketakutan menggigiti kuku jarinya.
"Jangan-jangan Naura!" tebak Naomi, "selama ini kan Naura yang paling memberontak di rumah ini."
"Jangan fitnah kamu, mamah tahu siapa Naura. Semarah apa pun Naura pada kita, tidak mungkin dia melakukan ini semua!" Mira masih membela anak bungsunya itu.
"Jadi, menurut mu siapa?" Yoman balik bertanya.
Mereka bertiga mulai sibuk menebak-nebak, bahkan Naomi tidak segan menuduh Vanya dalang di balik teror yang mereka alami selama beberapa hari terakhir.
Bagas, lelaki ini bergegas pulang untuk memberitahu berita yang tengah beredar pada mami dan kakaknya. Bukan masalah Mira sebagai perusak rumah tangga orang yang menjadi permasalahan dia, tetapi berita yang mengatakan Mira adalah dalang dari kematian suaminya sendiri.
"Mi, apa iya sih tante Mira sejahat ini?" Bagas masih tidak percaya.
"Mami juga tidak tahu, sebaiknya kalian berdua jangan ikut campur dalam masalah ini. Mami tidak mau kalian ikut terlibat!" pesan Liana pada kedua anaknya.
"Vanya pergi dulu mi,...!" buru-buru Vanya pergi, bahkan wanita ini tidak peduli dengan pertanyaan sang mami.
Vanya melajukan mobilnya ke rumah Leon. Vanya sangat yakin jika berita yang di turunkan ini ada kaitannya dengan Leon.
"Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan. Masuklah!" ujar Leon lalu menarik tangan Vanya masuk kedalam rumahnya.
"Semua ini kau yang buat kah?" tanya Vanya memastikannya.
__ADS_1
"Em, aku hanya ingin membuat mereka gelisah saja."
"Jika mereka tahu ini kau bagaimana?"
"Mereka tidak akan pernah tahu siapa aku sampai aku sendiri yang muncul di hadapan mereka,"
"Aku takut kau kenapa-kenapa!" ucap Vanya dengan sorot mata khawatir.
Leon menarik Vanya kedalam pelukannya, mengusap lembut rambut kekasihnya ini.
"Jangan khawatir, mereka tidak akan bisa menyentuh ku. Mereka harus membayar apa yang sudah mereka perbuat termasuk papi mu!"
"Aku tidak masalah jika kau menghukum papi. Yang salah harus tetap di hukum, tapi.....!" Vanya tidak sampai hati melanjutkan perkataannya.
"Tapi apa? apa kau takut jika aku mendekati mu hanya untuk membalas dendam saja?" tanya Leon, "tidak Vanya, kau tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Aku mencintaimu sama seperti kau mencintai ku. Beri aku waktu sebentar untuk menyelesaikan ini semua barulah aku akan menikahi mu!" tutur Leon panjang lebar.
Semakin erat Vanya memeluk, ada rasa takut di hatinya jika Leon hanya ingin mempermainkan perasaannya. Jika itu benar terjadi, Vanya akan memastikan menutup hatinya untuk laki-laki mana pun.
"Ku mohon jangan hancurkan harapan ku Leon!" lirih Vanya dalam pelukan Leon.
"Tidak akan, aku benar mencintaimu."
"Tapi aku tidak percaya. Aku takut," ucap Vanya lagi.
"Buang rasa takut mu. Jika kau masih tidak percaya pada ku, menurut mu aku harus melakukan apa untuk menyakinkan mu?" tanya Leon melepaskan pelukannya. Mata elang lelaki ini lekat menatap kedua netra yang nampak gelisah.
"Aku tidak tahu, yang ku tahu aku percaya pada mu dan aku sudah benar-benar menempatkan hati ku pada mu. Leon, aku mencintaimu. Sungguh, aku mencintaimu!" Vanya kembali mengungkapkan perasaannya.
"Aku juga mencintaimu Vanya!" balas Leon kembali memeluk Vanya.
__ADS_1
***Mampir yuk di novel baru***