
"Apa kalian sudah selesai?" tanya Liana, "jika sudah, silahkan kalian pergi dari rumah ku!" usir Liana.
"Ibu dan anak sama-sama jahat!" seru Naomi.
"Wah, jaga bicara mu Naomi. Seharusnya kata-kata seperti itu pantas untuk diri mu sendiri dan mamah mu!" ucap Bagas yang tidak terima.
"Bagas, diam kau!" bentak Yoman.
"Kenapa aku harus diam?" tanya Bagas lagi, "aku atau dia anak kandung papi?"
Yoman terdiam, tidak dapat menjawab pertanyaan anaknya.
"Jika kalian sudah memiliki bukti atas tuduhan itu, silahkan bawa aku ke kantor polisi...!" tantang Liana dengan beraninya.
"Lihat saja, jangan harap kalian akan hidup dengan tenang!" ancam Mira semakin membuat darah Vanya mendidih namun apa daya wanita ini tidak bisa melawan karena sejak tadi Leon terus menahan.
"Aku tidak takut!" sahut Liana.
"Pergi kalian semua!" usir Bagas, "ingat ya pi, jika papi susah atau sakit jangan pernah mencari kami sebagai anak!" ucap Bagas yang sudah sakit hati.
__ADS_1
"Ciih,....!" Yoman membuang ludahnya mengejek, "tidak akan terjadi...!" ucapnya sombong.
Yoman kemudian mengajak anak dan istrinya pulang.
"Sudah, jangan di pikirkan lagi. Ayo lanjut...!" Liana mengajak anak-anaknya masuk kedalam rumah begitu juga dengan Dalia dan Leon.
Mereka kemudian melanjutkan acara makan bersama yang belum sempat di mulai tadi. Sesekali Leon menoleh ke arah Liana yang nampak tegar atas perlakuan mantan suaminya.
Vanya, meskipun sudah kehilangan selera makan namun wanita ini tidak mau terlihat sedih di depan maminya.
"Aduh, maafkan atas kejadian tadi ya. Tante merasa gak enak pada Dalia dan Leon," ucap Liana nampak serba salah.
"Terkadang diam adalah balas dendam yang paling menyakitkan. Sabar aja tante, semua ada masanya!" ucap Leon membuat Vanya langsung menoleh ke arah pria itu.
"Leon,....!" panggil Vanya pelan.
"Mau udang?" Leon malah menawari Vanya udang goreng.
"Cepat menikah kak, biar aku dan Dalia juga menikah!" kata Bagas yang sudah tidak tahan lagi melihat kemesraan Leon terhadap Vanya.
__ADS_1
"Kapan dong Leon mau melamar Vanya?" Liana mendesak lagi.
"Tunggu sebentar lagi tante. Leon pasti akan segera menikahi anak tante yang cantik ini," jawab Leon membuat Vanya merona malu.
"Aku kok gak ada yang bilang cantik ya...!" Dalia mengerucutkan bibirnya.
"Dalia cantik, sayangnya Bagas!" canda Bagas sambil mencolek pipi Dalia.
Mereka tertawa bersama, seakan lupa akan kejadian yang tadi. Melihat maminya bahagia seperti ini, Vanya mulai merasa sebagai anak yang tidak bisa membahagiakan maminya.
Selesai acara makan bersama, Dalia dan Leon pamit pulang. Leon langsung pulang ke rumahnya, entah kenapa di otak Leon hanya terbayang wajah Naomi yang sangat angkuh dan sombong.
"Awas saja kau!" ucap Leon penuh penekanan.
Sementara itu, di rumah Yoman dan Mira mulai merasa jengah karena semua orang berkomentar tajam pada mereka berdua. Bahkan, efek dari berita ini sangat mempengaruhi perusahan Yoman sekarang.
Semakin pusing Yoman, di tambah lagi Naomi sibuk mengompori dengan membawa nama Vanya. Naomi ini sebenarnya hanya merasa cemburu dan sakit hati atas kesuksesan Vanya yang bisa menjalankan perusahan dengan baik di tambah lagi Vanya memiliki paras cantik melebihi dirinya.
"Lihat saja kau Vanya, sampai kapan pun kau tidak akan pernah mendapatkan cinta dan kasih sayang dari papi mu," batin Naomi yang penuh dengan kedengkian.
__ADS_1