OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
70.Tamat


__ADS_3

Hari ini, semua orang di sibukkan dengan acara ulang tahun baby Joe yang pertama. Pesta tidak di laksanakan di gedung maupun hotel mewah mana pun. Vanya dan Leon sudah sepakat mengadakan di rumah mereka dengan mengundang teman-teman dan anak dari panti asuhan.


Beberapa orang karyawan dari kantor juga di undang, mereka sangat terkejut melihat rumah Leon yang terlihat sederhana dari luar tapi sangat mewah di dalam. Ada beberapa karyawan yang merasa malu karena dulu pernah merendahkan Leon di belakang.


Sekarang mereka baru tahu siapa Leon yang sebenarnya setelah melihat beberapa foto yang terpajang di dinding rumah. Di tambah lagi dengan beberapa piagam dan piala penghargaan milik Loen yang tertata rapi di salah satu ruang dekat ruang tamu.


Liana juga mengundang beberapa teman arisannya, mereka juga mengajak cucu masing-masing. Sungguh satu kebanggaan bagi Liana, wanita paruh baya ini selalu membanggakan kedua anak dan menantunya.


"Hallo kak, selamat ulang tahun untuk Joe," ucap Naura yang juga hadir bersama Lucas.


Vanya tersenyum, hatinya sudah berdamai dengan keadaan meskipun saat Vanya melihat wajah Naura sedikit banyak mirip dengan mamahnya.


"Terimakasih Naura," balas Vanya.


"Ini ada hadiah kecil untuk Joe. Kak, boleh aku menggendongnya?" Naura meminta izin.


Dengan senang hati Vanya mengizinkan anaknya di gendong oleh Naura. Leon dan Lucas hanya memandang dari jarak yang tidak begitu jauh begitu juga dengan Liana yang merasa lega karena anaknya tidak pernah menyimpan dendam pada anak dari wanita yang sudah merusak kebahagiaannya.


"Istri mu sangat baik Leon, jangan pernah kau sakiti dia...!" Gumam Lucas.


"Hanya laki-laki bodoh yang tega menyakiti perempuan seperti Vanya. Dia terlahir kaya secara materi, rusak secara mental keluarga tapi hebat dalam berlapang dada. Jika orang lain, aku yakin pasti mereka tidak akan mau melihat Naura. Maaf uncle, aku berkata jujur."

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan mu. Semua itu benar, kalian adalah korban dari keegoisan orangtua yang mampu bertahan sampai sejauh ini."


Leon meneguk minumannya, terus memandang ke arah sang istri yang nampak bahagia hari ini. Beda lagi dengan Bagas yang tidak bisa ikut bergabung dengan tamu lainnya karena harus menemani sang istri duduk dengan perut yang sangat besar.


Menjelang sore acara selesai, semua tamu sudah pulang termasuk Liana yang datang bersama Bagas dan Dalia.


Rumah juga sudah kembali bersih dan rapi karena Leon sengaja meminjam pembantu rumah mertuanya untuk membersihkan rumah. Tidak lupa dengan sedikit amplop yang membuat para pembantu Liana merasa senang.


"Banyak juga kadonya, bingung mau buka yang mana?"


Vanya menggaruk kepalanya tak gatal.


"Sama, aku juga!"


"Sayang, apa kau bahagia hari ini?"


Sambil membuka kado, Leon bertanya pada istrinya.


"Tentu saja, pertanyaan mu ini aneh-aneh saja!"


"Aku mencintaimu!" ucap Leon sudah biasa di dengar Vanya.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu suami ku!"


"Kalau begitu setelah ini kita nambah anak lagi ya...!"


Leon mengedipkan sebelah matanya.


"Bukannya hampir setiap hari kita membuat anak? tapi belum selesai aja adonannya!"


"Maka dari itu kita coba lagi...!"


"Ternyata memiliki wajah tampan tidak menjamin kepolosan seseorang. Suami ku ini genit juga ternyata!"


"Genit sama istri gak masalah. Asal jangan sama istri tetangga!"


"Coba saja kalau berani...!"


Mata Vanya langsung melotot tajam.


Leon hanya tertawa sambil mengusap rambut istrinya. Beginilah secuil kebahagiaan di kehidupan rumah tangga Leon dan Vanya. Segala hal mereka lakukan berdua setelah menikah, saling memberi semangat dalam melakukan hal apa pun.


Besar dan tumbuh dari keluarga yang berantakan tidak membuat kehidupan mereka berantakan juga. Vanya dan Leon sudah bertekad membangun sendiri kebahagiaan keluarga mereka. Meskipun mereka tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari keluarga yang lengkap setidaknya mereka bisa membuat anak-anak mereka merasa lengkap tidak kekurangan kasih sayang sama seperti yang mereka rasakan dulu.

__ADS_1


Masa lalu tetaplah masa lalu, sekeras apa pun melupakannya tidak akan pernah bisa di lupakan. Biar lah masa lalu tersebut menjadi penggalan cerita dalam kehidupan yang bisa membuat kita bisa belajar lebih dewasa lagi.


***Tamat***


__ADS_2