OB Tampan Pemikat Hati

OB Tampan Pemikat Hati
41.Jangan Menekannya


__ADS_3

"Aku yang sudah membuat anak mu menjadi cacat!" bisik Leon pada Mira, membuat mata wanita itu langsung melotot tidak terima.


"Jadi, kau pelakunya...!" ujar Mira berusaha mengadu pada polisi atas tindakan Leon.


"Percuma saja kau melapor pada mereka. Mereka tidak akan memperdulikan mu. Untuk calon mertua ku yang sekarang sedang sekarat di rumah sakit, aku akan membuat dia cepat sembuh!" bisik Leon lagi.


Mira ingin menampar wajah Leon, namun tidak bisa.


"Sudah lama aku merencanakan ini semua. Kau harus membayar atas nyawa ibu dan adik ku!" kata Leon dengan senyum liciknya, "oh ya, mengenai kabar anak mu yang bernama Naura, ternyata ayah kandungnya adalah orang yang paling aku kenal!"


Seketika Mira langsung ketakutan. Mira yakin jika Lucas juga akan membalas dendam padanya.


Di rumah sakit, Vanya memberitahu adik dan maminya jika sang papi di tangkap polisi.


"Kak, apa kakak serius?" tanya Bagas tidak percaya.


"Papi juga terlibat dalam kecelakaan yang di alami keluarga Leon secara sengaja. Jadi, sudah sepantasnya mereka menerima hukumannya sekarang!" kata Vanya membuat Bagas tidak mengerti.


"Maksudnya, apa hubungan semua ini kak Leon?"


"Vanya, coba jelaskan!" pinta Liana lalu Vanya menjelaskan semuanya.


Tentu saja hal ini membuat Liana langsung takut jika Vanya akan menikah dengan Leon.

__ADS_1


"Mami tidak usah khawatir, jika Leon berniat jahat. Kenapa dia memberitahu Vanya semuanya?"


"Tapi Kak, jika kak Leon membalas dendam pada kita bagaimana?" Bagas mulai ragu pada Leon.


"Jangan takut, kita tidak ada hubungannya dengan ini semua. Yang di incar Bagas adalah tante Mira."


"Tapi tetap saja mami takut jika kamu kenapa-kenapa!" Liana semakin khawatir pada anak perempuannya.


"Mami jangan khawatir, Vanya percaya sama Leon!"


Vanya berusaha menyakinkan mami dan adiknya. Wanita ini tahu betul resiko apa yang akan terjadi jika dia berkata jujur.


"Mami percaya pada mu. Tapi, mami ingin mendengar langsung penjelasan Leon!" pinta Liana langsung di iya kan Vanya.


"Ehem,....!" Naura berdehem membuat Lucas terkejut, "biasa saja ekspresinya. Aku juga tidak akan peduli...!" ucap gadis itu.


"K-kau sudah tahu jika mamah mu di tangkap polisi?" tanya Lucas gugup.


"Apa pun kesalahannya, baik itu orangtua kandung ku tapi mereka harus mempertanggungjawabkannya!" ujar Naura yang benar-benar tidak peduli keadaan sang mamah. Bukannya apa, sejak kecil gadis ini tidak pernah di berikan kasih sayang atau pun perhatian. Mira hanya sibuk memanjakan Naomi seorang.


"Naura,...nak. Ayo kita pergi,...!" Lucy mengajak Naura, membuat Lucas bengong.


"Kalian mau kemana?" tanya Lucas datar.

__ADS_1


"Mami mengajak ku membeli pakaian. Kenapa? apa tidak boleh?" gadis itu bertanya dengan wajah ketusnya.


"Ah, tidak. Bukan itu maksud daddy. Naura, kau memanggil mami?" Lucas tidak percaya jika Naura akan secepat ini menerima kehadiran Lucy.


"Apa salah aku memanggil dia mami?" tanya Naura.


"Lucas, jangan menekannya!" tegur Lucy.


Buru-buru Lucas membuka dompetnya lalu memberikan satu kartu tanpa batas untuk Naura. Gadis itu termenung sejenak, matanya berkaca-kaca.


"Ambilah, belanja sepuasnya. Beli apa pun yang kau suka!" kata Lucas.


"Naura....!" panggil Lucy namun Naura malah hanyut dalam lamunannya.


Lucy menarik nafas dalam,lalu menghampiri Naura dan mengambil kartu tersebut.


"Ayo pergi, jangan pedulikan lelaki ini," Lucy menarik tangan Naura, membuat gadis itu terkejut.


"Terimakasih!" ucap Naura pelan namun masih bisa di dengar oleh Lucas.


Lucas mengepalkan kedua tangannya marah.


"Mira, apa yang sudah kau lakukan pada anak ku sehingga dia memiliki sifat seperti ini?"

__ADS_1


__ADS_2